One

14 03 2014

oneWhen they need you, they will look for you.

When they’re sad, they will look for you.

When they need someone to talk, they will look for you.

When they need to laugh, they will look for you.

When they need a shoulder to cry, they will look for you.

BUT

When they have enough, they leave you

When they’re happy, they leave you.

When they have more space, they leave you.

When the tears are dried replaced by happy laughter, they leave you.

 

That’s they are.

 

Nothing last forever, all are mortal.

Laughter, happiness, tears.

Only ONE which is not replaceable.

Only ONE who is always there.

Only ONE hearing you always.

Only one accepting you always.

No matter in what kind of circumstances.

Ya, only ONE.





The Beauty of Bukavu

9 03 2014

lake kivu 5b

Lake Kivu, South Kivu, Democratic Republic of Congo

Nature is what I like the most from Bukavu. Since the moment I arrived, I didn’t share anything about the place where i’ve been living for 10 months. Bukavu is the capital of South Kivu Province, located on the eastern part of Democratic Republic of Congo. Two months before my arrival, I got redeployment letter from office, stating that I will move to that city in the next two months.

It is not a big city, as Kinshasa, where I lived for three years. It has no boulevard, traffic light, or big super market as Kinshasa does. Most of road has not been asphalted, even if it does, you can find many pot holes everywhere. Motor taxies are available, offering their service to take you wherever you want. I saw, many of them also provide helmets for passengers. It’s a good awareness tough.

I am posted in Kavumu airport. It is 37 kilometers from city center. Every morning, on 7.30, I’ve been on the road when many people just wake up from their dream. It takes one hour, when traffic is not so bad to reach that place. I don’t drive since I didn’t pass my driving exam. Fortunately, I have many friends coming with me. So, I let them drive the car for me.

Bukavu, South Kivu, Democratic Republic of Congo

Bukavu, South Kivu, Democratic Republic of Congo

Lake Kivu dominate most of the area of Bukavu. This fresh water lake, is also well known as a Great African lake, is shared by Congo and its neighbour country, Rwanda. People speak French, of course, and Swahilli as the second language. So, far, I just know some words, such as Jambo, Karibu, Muzuri, Kesyo, Haraka, Pole, and Ndiyo. I will increase number of them soon.

What I like from my daily journey from Bukavu to Kavumu is breathtaking scennary. It is so green, peace, and beautiful. Seeing all those thing, it’s hard to believe that Bukavu is one of conflict areas in DRC. Lake, hills, mountains, trees and wild flowers accompanying my journey everyday. In the morning, it can be very misty, and you can’t see anything after the lake. But when the sun starts to shine, it seems everthing come out from the hidden places.

There is one tradition for every new born baby. When the baby born and ready to be taken home, this baby will be paraded by many women. They will sing and dance for the baby. I never get bored to see them.

Bukavu 2

New baby just came

Here I would like to share some shoots taken by my camera. I wish you enjoy them.





Marrakech, Hari Terakhir (Maroko, Part 12, TAMAT)

4 03 2014

Perjalanan ke Zagora memang bikin badan hampir ambruk. Setelah tidur hampir 10 jam lamanya, aku bangun tidur dengan rasa sakit dan pegal di sekujur badan. Untuk sarapan saja malas, jika saja si Nur, salah satu staff riad tidak heboh menggedor kamarku, mengingatkanku untuk sarapan.

Aku bangun dan berjalan menuju balkon atas dengan terpincang – pincang. Renata ada di sana, merokok, dan mengucapkan selamat pagi ketika melihatku. Kami bercakap – cakap sebentar sambil menunggu sarapanku tiba.  Renata juga bersiap – siap akan check out. Hari itu dia akan kembali ke Belanda.

Rasanya, ingin menghabiskan waktu seharian di tempat tidur saja. Namun, hari itu adalah hari terakhirku di Marrakech. Besok, aku sudah akan kembali ke Casablanca untuk mengejar penerbangan kembali ke Congo. Dan aku tidak pernah tahu kapan akan bisa kembali ke Marrakech. Pukul 10 pagi, aku keluar dari hotel.

Aku tidak punya agenda khusus hari itu. Jadi, kemana aku pergi, hanya tergantung kemana kaki ini akan membawa. Tanpa itinerary. Aku keluar dari riad, berjalan menyusuri souk yang ada di sepanjang jalan. Aku hanya tersenyum ketika para pedagang mencoba menawarkan dagangan. Sama seperti ketika di Turki, Maroko punya banyak hal menarik yang bisa dilihat. Belanja akan menjadi prioritas paling akhir dalam agenda perjalananku. Bahkan, mungkin tidak ada sama sekali.

Di ujung jalan Medina, aku melihat sekumpulan turis tengah berkumpul. Tak jauh dari sana, ada sebuah pos jaga, yang ternyata tempat penjualan tiket untuk masuk ke Istana  El Badi. Secara aku menyukai museum dan hal – hal yang berbau sejarah. Jadi, kulangkahkan saja kakiku masuk ke istana tersebut. Tiketnya juga tidak mahal, 10 Dirham per orang.

Istana El Badi bukanlah bangunan yang utuh. Hanya puing – puing reruntuhan, sisa – sisa kejayaannya di masa lampau. Puing – puing itu malah menjadi tempat tongkrongan burung – burung. Di tengah kompleks istana, ada sebuah kolam besar. Di lantai atas istana, ada balkon. Dimana bisa melihat Old Medina Marrakech. Tempat ini cukup tenang, tidak terlalu banyak turis lalu lalang. Bisa jadi, karena lokasinya juga luas. Jadi, kesannya tidak terlalu sumpek.

Satu jam kemudian aku meinggalkan Istana El Badi. Aku melewati pasar rempah  atau spice market yang menawarkan berbagai jenis bahan rembah. Begitu memasuki kawasan ini, wangi rempah langsung menyerbak hidung. Tak jauh dari sana, ada satu istana lagi. Namanya istana Bahia. Kawasan istana ini luas, lengkap dengan tamannya. Namun, aku merasa sumpek ketika berada disana. Mungkin, dikarenakan istana ini lebih dikenal dari pada tetangganiya El Badi. Atau memang bangunan istana tidak terlalu luas dibanding dengan jumlah turis yang datang. Meskipun bangunan masih utuh, namun istana ini juga kosong. Tidak ada furniture dan benda – benda istana di dalamnya. Begitupun, aku masih sempat mengabadikan beberapa foto.

Lupa ini namanya apa. Letaknya tak jauh dari spice market

Lupa ini namanya apa. Letaknya tak jauh dari spice market

Spice Market, Marrakech

Spice Market, Marrakech

Saat makan siang, aku ingat kalau di Marrakech ada Majorelle Garden. Menurut review yang pernah aku baca, tempat ini salah satu tempat ‘you must visit when you’re in Marrakech”. Usai makan siang, aku menyetop petite taxi menuju ke sana. Letaknya tidak terlalu jauh dari alun – alun Djema El Fna. Namun, tetap saja, tidak bisa jalan kaki karena jaraknya tidak dalam ‘walking distance’.

Jardin Majorelle atau Taman Majorelle ini dirancang oleh seorang artis berasal dari Prancis, bernama Jacques Majorelle. Tahun 1980, taman ini menjadi milik perancang Prancis yang terkenal, Yves Saint Laurent. Ketika Beliau meninggal tahun 2008, abunya di tanam di sini.

Jardin Majorelle, Marrakech, Morocco

Jardin Majorelle, Marrakech, Morocco

Makam abu Yves Saint Laurent di Jardin Majorelle, Marrakech, Morocco

Makam abu Yves Saint Laurent di Jardin Majorelle, Marrakech, Morocco

Biaya masuk ke taman ini cukup mahal, tidak seperti museum – museum lain di Maroko. Aku lupa berapa aku harus membayar, kalau tidak salah sekitar 20 USD. Taman ini tidak seluas yang kubayangkan. Memang, begitu masuk, suasana adem langsung terasa dengan tanaman – tanaman  hijau yang ada di dalamnya. Aku tidak terlalu mengenail jenis – jenis tanamannya. Atau mungkin tidak terlalu serius memperhatikan tanaman – tanamannya. Yang kukenal, hanyalah tanaman – tanaman kaktus saja.

Taman didominasi oleh warna biru dan merah. Sebuah bangunan di tengah – tengah taman juga di cat dengan warna  biru gelap terang. Di dalam bangunan itu, ada museum Berber. Untuk masuk ke dalamnya, harus membayar lagi. Kamera, tidak diperbolehkan di museum ini. Memasuki museum, aku disambut dengan petugas yang berbicara dengan sangat pelan sekali. Aku hampir tidak dengar ketika dia memintaku agar ranselku tidak disandang di punggung belakang. Sayup – sayup terdengar alunan musik tradisional Berber. Suasana memang syahdu sekali.

Di depan pintu masuk ada sebuah televisi yang menunjukkan pertunjukan sejarah suku Berber. Setelah itu, ada ruangan yang memamerkan pakaian dan peralatan hidup tradisional suku Berber. Musik – musik itu masih mengalun dengan lembut.

Ada satu ruangan khusus yang memamerkan perhiasan suku Beber. Ruangan ini indah sekali. Dindingnya di lapisi kaca. Dilengkapi dengan lampu yang berkilau kecil – kecil, mirip bintang – bintang yang bertebaran di langit. Indah sekali. Sayang, aku tidak bisa mengabadikan keindahannya dengan kameraku.

Dua minggu sudah aku berkelana di negeri paling utara di benua Afrika. Laut, gunung dan gurun kulewati. Kusaksikan begitu banyak hal dan keindahan. Aku banyak merenungkan arti perjalananku. Intinya, aku bahagia. Dan bersyukur. Aku diberi kesempatan oleh Allah untuk menyaksikan semuanya. Aku tak tahu, kapan aku bisa kembali ke negeri ini. Namun, aku tahu pasti. Aku akan merindukannya. Kota – kota nya, lautnya, pegunungan Atlas, Gurun Sahara, bahkan azan mesjid yang terdengar unik.  Terima kasih Allah, untuk satu negara yang telah kau izinkan untuk kusaksikan.





Ksar Ait Ben Haddou, Hollywood nya Maroko (Maroko, Part 11)

22 02 2014

 

 Udara di gurun bisa benar – benar dingin di malam hari. Aku terbangun beberapa kali hanya untuk merapatkan jaket musim dingin yang memang sengaja aku bawa. Pukul 6 pagi aku bangun untuk shalat Subuh. Pengelola camp sudah bangun sejak beberapa waktu yang lalu. Mereka sudah mempersiapkan sarapan pagi berupa teh, roti, keju, sellai, mentega dan telur.

Pemandangan pagi hari di gurun sangat indah. Kami tiba ketika hari sudah gelap, dan aku tidak menyadari kalau kami benar – benar berada di tengah – tengah gurun. Seperti berada di tengah – tengah lautan pasir. Gundukan pasir ada di mana – mana. Mentari pagi mulai menunjukkan diri dengan malu – malu. Aku tak bisa mengambil foto sunrise penuh. Saat itu, langit tengah berawan.

Pemandangan pagi hari di gurun sangat indah. Kami tiba ketika hari sudah gelap, dan aku tidak menyadari kalau kami benar – benar berada di tengah – tengah gurun. Seperti berada di tengah – tengah lautan pasir. Gundukan pasir ada di mana – mana. Mentari pagi mulai menunjukkan diri dengan malu – malu. Aku tak bisa mengambil foto sunrise penuh. Saat itu, langit tengah berawan.

Sahara Desert di pagi hari

Sahara Desert di pagi hari

Sahara Desert, di pagi hari

Sahara Desert, di pagi hari

Sahara Desert, di pagi hari

Sahara Desert, di pagi hari

Sahara Desert, di pagi hari

Sahara Desert, di pagi hari

Sahara Desert, di pagi hari

Sahara Desert, di pagi hari

Sahara Desert, di pagi hari

Sahara Desert, di pagi hari

Usai sarapan, kami dipersilahkan untuk memilih unta – unta yang akan membawa kami ke tempat mobil – mobil diparkir. Aku menolak ketika si pemuda Berber memilihkan satu unta untukku. Aku memilih unta yang lebih kecil. Kali ini, naik unta tidak semengerikan sebelumnya. Perutku masih melonjak ketika sang unta berdiri dari duduknya. Tapi, tidak separah sebelumnya.

Unta - unta ini sedang menunggu para anggota karavan

Unta – unta ini sedang menunggu para anggota karavan

Aku dan si Unta

Aku dan si Unta

Camels shadow on the desert

Camels shadow on the desert

Jika hari sebelumnya kami harus mengendarai unta selama hampir dua jam, untuk kembali ke parkiran mobil, hanya dibutuhkan setengah jam perjanan saja. Beberapa orang, memillih untuk jalan kaki. Pak Khalid Sikandar, teman seperjalananku, kebangsaan Brazil keturunan Pakistan, Beliau memilih untuk jalan kaki saja. Beliau berhasil mengabadikan foto rombongan karavan. Beliau juga mengirimkan beberapa fotonya untukku. Terima kasih pak Khalid.

Iringan Karavan.

Iringan Karavan.

Iringan karavan

Iringan karavan

Credit given to Mr. Zarrar Khalid Sikandar for shooting this beautiful picture.

Credit given to Mr. Zarrar Khalid Sikandar for shooting this beautiful picture.

Pak Supir menyambut kami dengan riang gembira. Dia kelihatan begitu fresh. Berbeda dengan kami, yang kelihatan letih. Aku pun merasa mengantuk sekali. Aku tidak tidur dengan nyenyak karena udara dingin, meskipun ada beberapa selimut tebal yang sudah disediakan untuk setiap tenda. Tapi, tetap saja tak bisa menghalau udara gurun yang dingin.

Di Zagora, pak Supir berhenti di sebuah cafe kecil. Disini, kami memesan teh, dan membersihkan diri. Paling tidak, mencuci muka dan menyikat gigi. Kemudian, melanjutkan perjalanan.

Seperti hari sebelumnya, kami makan siang di kota Quarzazate. Oh ya, di kota ini ada sebuah bangunan terkenal yang disebut dengan Ksar Ait Ben Haddou. Dulunya ini adalah sebuah desa yang dilindungi dengan benteng – benteng tinggi terbuat dari tanah. Ksar Ait Ben Haddou adalah contoh arsitektur tradisional Maroko di bagian Selatan. Ksar artinya kumpulan dari rumah tinggal. Rumah – rumah ini berdekatan dan berkelompok. Saat ini, ada 9 keluarga yang masih tinggal di bangunan ini. Untuk info lengkap mengenai sejarah Ksar Ait Ben Haddou bisa dibaca di sini.

Ksar Ait Ben Haddou

Ksar Ait Ben Haddou, tempat shooting film, seperti Prince of Persia, Gladiator, the Mummy, Alexander, etc.

Ksar Ait Ben Haddou

Ksar Ait Ben Haddou

Ksar Ait Ben Haddou. Masih ada 9 keluarga yang tinggal di sini.

Ksar Ait Ben Haddou. Masih ada 9 keluarga yang tinggal di sini.

Ksar Ben Ait Haddou

Ksar Ben Ait Haddou

Selain salah satu site warisan UNESCO, tempat ini juga dikenal sebagai Hollywoodnya Amerika. Beberapa film telah dimainkan disini. Seperti Prince of Persia, Sodom and Gomorrah, Alexander, Gladiator, Babel, the Mummy dan lain – lain. Kami ditemani seorang tour guide untuk melihat – lihat ksar. Tidak semua orang ikut berjalan – jalan melihat Ksar. Hanya aku, pasangan dari Chili, Brazil dan Jerman saja yang mau pergi. Sisanya, mereka memilih untuk duduk dan menunggu di restaurant daripada berpanas – panasan.

Souvenier di Ksar Ait Ben Haddou

Souvenier di Ksar Ait Ben Haddou

Souvenier di Ksar Ait Ben Haddou

Souvenier di Ksar Ait Ben Haddou

Souvenier di Ksar Ait Ben Haddou

Souvenier di Ksar Ait Ben Haddou

Souvenier di Ksar Ait Ben Haddou

Souvenier di Ksar Ait Ben Haddou

Perjalanan kembali ke Marrakech seperti tak pernah berakhir. Aku lelah sekali, karena seharian duduk di dalam mobil. Ngantuk, capek, dan pegal. Tapi, jika dibandingkan dengan pemandangan dan pengalaman selama di gurun, rasanya semuanya setimpal. Kami tiba di Marrakech pukul 7.30 malam. Usai mengucapkan selamat malam dengan Renata, aku masuk kamar, mandi dan langsung tertidur nyenyak.





Sahara (Maroko, Part 10)

16 02 2014

Mengitari dan merasakan sensasi menginap di gurun Sahara adalah salah satu agenda utama dalam kunjungakun ke Maroko ini. Ismail, staff di Riad Maud telah mengatur perjalananku melalui sebuah biro perjalanan yang ada di Marrakech. Aku tidak nekat, berkelana di tengah gurun seorang diri, berpura – pura sebagai Laurence of Arabia. Lagipula, aku tidak pernah mendengar ada traveler yang mengatur perjalanannya sendiri ke Sahara, semuanya menggunakan jasa biro perjalanan. Aku tidak mau mengambil resiko tersasar di gurun dan terdampar di Timbuktu. Untuk perjalanan dua hari ke Sahara, aku membayar sebanyak 50 Euro, sudah termasuk ongkos perjalanan, biaya menginap di tenda, unta, makan malam dan sarapan.

Begitu memasuki van yang akan membawaku ke Sahara, aku langsung tahu bahwa aku adalah satu – satunya solo traveller. Semuanya adalah pasangan. Bahkan dua orang gadis berasal dari Belanda yang juga menginap di Riad Maud mengaku bahwa mereka adalah ‘couple’ ketika Pak supir meminta mereka berpisah tempat duduk. Well, kukira aku akan baik – baik saja. Lagi pula, aku sudah membawa buku dan MP3 player jika rasa bosan mulai menyerang.

Perjalanan sungguh menakjubkan. Pemandangannya, ‘Amaaaaazing’. Pepohonan dan semak – semak hijau semakin menghilang begitu kami meninggalkan Marrakech, digantikan dengan padang pasir luas, seluas – luas mata memandang.

Dalam perjalanan menuju Sahara. Pepohonan dan Semak - semak hijau digantikan dengan padang pasir tandus.

Dalam perjalanan menuju Sahara. Pepohonan dan Semak – semak hijau digantikan dengan padang pasir tandus.

Memasuki kawasan pegunungan Atlas, jalanan mulai berkelok – kelok. Meskipun Pak Supir sudah berusaha menyetir sebaik – baiknya, tetap saja perut terasa dikocok – kocok melewati jalanan yang mirip rel kereta roller coaster itu. Saat kami berhenti untuk mengambil beberapa foto dengan latar pegunungan Atlas, seorang cewek asal Inggris mendapat sakit kepala berat. Pasangan dari Brazil berbaik hati untuk menukar tempat duduk, sehingga si cewek Inggris bisa duduk di samping pak Supir.

Jalan menuju pegunungan Atlas, seperti rel kereta Roller Coaster.

Jalan menuju pegunungan Atlas, seperti rel kereta Roller Coaster.

Pegunungan Atlas

Pegunungan Atlas

Pegunungan Atlas

Pegunungan Atlas

Pegunungan Atlas

Pegunungan Atlas

Pegunungan Atlas

Pegunungan Atlas

Pak Supir memberhentikan mobil saat waktu menunjukkan pukul 1 siang. Saatnya makan siang. Kami makan di restaurant Maroko di sebuah kota bernama Quarzazate.  Sepasang suami istri dari Chili bergabung bersamaku di meja makan. Mereka menjadi teman seperjalanan yang menyenangkan selama di Sahara.

Usai makan siang, kami langsung melanjutkan perjalanan. Pak Supir tidak mau kami berhenti terlalu lama agar bisa tiba di Zagora sesegera mungkin. Zagora adalah kota terakhir yang bisa dicapai sebelum memasuki kawasan gurun Sahara.

Dalam perjalanan menuju Zagora

Dalam perjalanan menuju Zagora

Dalam perjalanan menuju Zagora

Dalam perjalanan menuju Zagora

Dalam perjalanan menuju Zagora

Dalam perjalanan menuju Zagora

Dalam perjalanan menuju Zagora

Dalam perjalanan menuju Zagora

Dalam satu grup, kami terdiri dari banyak bangsa. Aku, dari Indonesia. Ada pasangan dari Brazil, campuran Pakistan – Brazil, Chili, Belanda, Inggris, Jerman dan Swiss. Selama perjalanan, aku tidak pernah berbicara dengan pasangan dari Swiss ini. Mereka cenderung menyendiri, dan aku tak pernah mendengar mereka berbicara dalam bahasa Inggris.

Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore ketika akhirnya kami tiba di Zagora. Pak Supir menminta kami untuk membeli air, karena selama di gurun, mereka tidak menyediakan air minum. Aku membeli 2 botol besar air mineral dan beberapa snack.  Usai berbelanja, Pak Supir membawa kami ke tempat pemberhentian unta. Aku hampir pingsan melihat unta – unta yang begitu besar. Haruskah aku mengendarai unta – unta ini?

Zagora, Morocco

Zagora, Morocco

Zagora, Morocco

Zagora, Morocco

Zagora, Morocco

Zagora, Morocco

Renata, si cewek asal Belanda bertanya, “menurutmu, berapa lama kita harus mengendarai unta – unta itu?” tanyanya.

“Entahlah,” jawabku sangsi. “Mungkin lima belas menit atau satu jam,”

Si Pak Supir mendengar pembicaraan kami. Dia berkata, “satu setengah – 2 jam”. Aku dan Renata hanya bertukar pandang cemas.

Trust me, naik unta itu sama sekali tidak menyenangkan. Di sini, pak Supir akan berbisah dengan kami. Kami akan dipandu oleh pemuda – pemuda Berber menuju lokasi camping. Seorang pemuda Berber membantuku untuk meletakkan perbekalanku di sebuah tongkat yang telah diletakkan sebagai pegangan di atas unta. Dia menendang untanya pelan, dan si unta langsung berlutut. Si pemuda meletakkan tas belanjaan dan ranselku di pundak sang Unta. Dan kemudian menyuruhku naik ke atas unta. Dalam keadaan duduk saja, unta – unta itu masih tinggi. Sekitar 90 cm – 1 meter tingginya. Susah payah, dibantu si pemuda Berber, akhirnya aku berhasil menaiki sang Unta. Setelah memastikan aku duduk dengan nyaman, si pemuda menendang kembali untanya. Si unta berdiri dengan kecepatan super kilat. Isi perutku serasa berteriak – teriak minta dikeluarkan.

Kami berjalan beriringan, seperti layaknya rombongan karavan. Setengah jam pertama sangat terasa menyiksa. Rasanya ingin segera melompat dari punggung Unta. Unta Renata sempat terlepas di tengah perjalanan, dia tertinggal sejauh dua puluh meter ketika kami mendengarnya berteriak – teriak. Langit mulai gelap. Rembulan sabit mulai menampakkan diri dengan malu – malu. Langit gelap pekat, karena tidak ada satu pun lampu dan penerangan buatan. Perlahan, bintang – bintang mulai bermunculan dan sekejab saja, langit menjadi penuh bintang. Menyaksikan keindahan langit, aku sempat lupa kalau aku tengah duduk di punggung unta.

Kami tiba di lokasi camping. Unta – unta mulai duduk. Aku merasa seperti akan terjungkir ketika untaku berlutut. Dibantu si pemuda Berber, aku turun dari unta. Tenda – tenda sudah didirikan, lengkap dengan lampu pijar sebagai penerangan. Aku berbagi tenda dengan Renata dan teman Belandanya. Kamar mandi seadanya juga tersedia, dengan air yang terbatas.

Tenda - tendan di gurun Sahara

Tenda – tendan di gurun Sahara

Setiap tenda terdiri dari 4 tempat tidur, dilengkapi dengan selimut - selimut tebal.

Setiap tenda terdiri dari 4 tempat tidur, dilengkapi dengan selimut – selimut tebal.

Rombongan kami adalah rombongan karavan yang terakhir. Ketika kami tiba, pengelola camp sedang menyiapkan makan malam untuk seluruh rombongan. Kami harus menunggu. Satu rombongan masuk untuk makan malam, karena tenda tempat untuk makan malam tak cukup besar untuk menampung seluruh rombongan.

Selama menunggu, kami tak henti – hentinya disuguhi Maroccan tea. Enak sekali menghirup teh panas ditengah udara gurun yang mulai dingin, sampai akhirnya kami masuk dan dipersilahkan untuk menikmati makan malam. Makanannya, seperti biasa, makanan khas Maroko. Tajin dan cous cous. Usai makan, kami dihibur dengaan lagu – lagu dan tarian tradisional Berber. Aku hanya menonton. Begitu pula anggota rombongan yang lain. Kami terlalu lelah untuk ikut menari.

Moroccan tea yang disajikan terus menerus

Moroccan tea yang disajikan terus menerus

Pemuda Berber yang tengah menghibur turis dengan gendang, lagu dan tarian tradisional Berber

Pemuda Berber yang tengah menghibur turis dengan gendang, lagu dan tarian tradisional Berber

Grup seperjalanan. Sebelum makan malam, menyempatkan berfoto.

Grup seperjalanan. Sebelum makan malam, menyempatkan berfoto.

Aku tak tahu pasti, waktu menunjukkan pukul berapa ketika aku memasuki tenda. Renata sudah masuk dari beberapa waktu yang lalu. Begitu merebahkan badan, aku langsung tertidur pulas.





Marrakech Yang Hectic (Maroko , Part 9)

24 01 2014

Koutoubia Mosque, Marrakech, Morocco

Koutoubia Mosque, Marrakech, Morocco

Aku memilih Marrakech sebagai persinggahan terakhir. Mengutip dari sebuah ungkapan, “save the best for last”. Berdasarkan informasi yang kudapatkan dari banyak orang, dan hasil membaca berbagai travel blog, Marrakech adalah satu kota ‘you shouldn’t miss when you’re in Morocco’.

Tidak salah, memang. Kota itu atraktif, berbudaya, dan unik. Intinya, kota itu menarik. Bahkan terlalu menarik, sehingga mengundang begitu banyak wisatawan yang datang dari berbagai pelosok negeri. Bisa dikatakan, hampir semua turis yang datangke Maroko (aku tak tahu persentasenya), singgah dan tumpah ruah di Marrakech. Bahkan, banyak yang melewati  Casablanca begitu saja, yang terkenal sebagai kota pelabuhan terbesar di Maroko, hanya sebagai tempat  transit saja. Mendarat di Bandara, dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Marrakech dengan menggunakan bis atau kereta api.

“Marrakech memang cantik. Tapi, jangan terkecoh. It’s not the best place in Morocco,” kata Leila, teman seperjalanan di kereta malam. Dia dan Helena akhirnya lelah juga membahas tentang generasi muda (merujuk ke aku), yang suka bertindak spontan dan nekat.

“Saking cantiknya, membuat kota itu jadi tak menarik lagi. Begitu banyak turis. Dan  begitu banyak wisatawan, membuat kota itu kehilangan identitas aslinya. Begitu banyak orang yang berlomba – lomba untuk mendapatkan keuntungan yang sebanyak – banyaknya dari para turis. Harga – harga jadi tak masuk akal.Tak jarang, di beberapa tempat, para pedagang terkesan memaksa turis untuk membeli sesuatu dari toko mereka. Kau harus hati – hati. Kalau memang tak berniat membeli, lebih baik urungkan niat untuk melihat – lihat toko. Camkan ini” jelasnya panjang lebar.

Tiba di stasiun kereta api Marrakech. Helena mengucapkan selamat tinggal. Leila berbaik hati mengantarkanku dengan taxi ke alun – alun “Djema El Fna” yang terkenal. Dia masih meragukan kamampuanku untuk mencapai alun – alun tersebut tanpa tersasar.Aku sangatmenghargai kebaikannya. Taxi menurunkanku di tengah alun – alun, tepatnya di Café de France. Tempat ini cukup popular dan akan memudahkan sang pemilik riad untuk menemukanku di sana.

Setelah menelepon dan menunggu selama limabelas menit, seorang pemuda bernama Abdul, datang menjemputku.  Jarak riad tidak jauh, hanya 7 menit saja, ditempuh dengan berjalan kaki dengan kecepatan normal.

Riad Maud, terletak di dalam Medina, Marrakech. Dari Djema El Fna, kami masuk ke sebuah jalan kecil, di mana banyak toko – toko berjajar di kiri dan kanan, belok kiri, belok kanan, belok kiri lagi, dan tibalah di Riad Maud. Cukup membuatku bingung. Riad itu tidak besar. Kamarnya, kurang dari 10, kukira. Lebih seperti guest house, mirip dengan Riad Nassim yang ada di Fes. Hanya, Riad Maud ini lebih besar dan lebih teratur .Persamaan lain dari riad – riad ini, selalu ada mezanin dan void di dalam bangunan. Beberapa riad, void ini dibiarkan begitu saja, tanpa atap, sehingga bisa menjadi salah satu jalan sirkulasi udara. Tapi, di Riad Nassim, mereka menutupnya dengan atap dari bahan kaca. Void ini menjadi sumber cahaya di siang hari.

Usai istirahat sejenak,  aku meningalkan Riad dengan berbekal peta Medina  yang diberikan Abdul. Djema El Fna mulai ramai, berbeda dengan suasana di pagi hari yang hanya berupa alun – alun kosong.

Siang hari di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Siang hari di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Siang hari di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Menjelang sore di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Karena hari masih siang, aku pergi ke Mesjid Koutoubia yang tak jauh dari Djema El Fna. Aku bisa memotret, sambil menunggu waktu Ashar. Mesjid ini merupakan masjid terbesar di Marrakech. Dihiasi dengan ornament jendela – jendela melengkung, keramik dan ukiran. Menaranya setinggi 77 meter dan dindingnya terbuat dari batu merah. Di sekeliling masjid terdapat taman yang luas dengan bangku – bangku tamannya. Beberapa pedagang menggelar barang dagangan mereka. Cukup nyaman untuk melepas penat di panasnya Marrakech. Tidak seperti Fes, Meknes maupun Tangier, suhu di Marrakech sama sekali tidakdingin. Padahal, sudah mulai masuk musim gugur.Aku tak berani membayangkan suhunya di musim panas.

Koutoubia Mosque, Marrakech, Morocco

Koutoubia Mosque, Marrakech, Morocco

Koutoubia Mosque, Marrakech, Morocco

Koutoubia Mosque, Marrakech, Morocco

Koutoubia Mosque, Marrakech, Morocco

Koutoubia Mosque, Marrakech, Morocco

Usai shalat Ashar, aku kembali ke Djema El Fna. Sekarang, suasana sudah ramai betul. Benar, kata Leila. Djema El Fna, bisa menjadi sangat hectic. Mungkin, ribuan orang tumpah ruah ke sana menjelang malam. Tak hanya turis mancanegara, turis local pun banyak. Aku harus hati – hati saat berjalan. Jika tidak mau tertabrak sesama pejalan kaki, sepeda, sepeda motor, taxi, hingga kereta kuda.

Menjelang sore di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Menjelang sore di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Kereta Kuda di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Kereta Kuda di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Keledai yang berkeliaran bebas di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Keledai yang berkeliaran bebas di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Café – café di sekitar Djema El Fna memanfaatkan lokasi strategis café mereka. Café – café yang memiliki balkon, mengizinkan para turis naik ke atas balkon untuk melihat Djema El Fna secara menyeluruh.  Syaratnya,  setiap tamu harus membeli minuman di café tersebut. Tempat – tempat seperti ini, tempat favorit para photographer dan pembuat film dokumenter.

Saat sore menjelang malam, suasana benar – benar ramai. Beberapa penari dengan pakaian tradisional Maroko mengambil tempat. Mereka mulai memainkan alat musik berupa gendang dan mulai menari. Para pemikat ular pun mulai heboh dengan seruling dan ular – ular mereka. Dibayar pun, aku tak mau berfoto dengan ular – ular itu. Beberapa monyet bertengger di pundak pemiliknya. Sang pemilik menunggu turis yang berniat berfoto dengan monyet mereka. Penjaja tattoo henna juga mulai mengambil tempat. Berharap bisa melukis anggota tubuh turis – turis yang berminat anggota tubuhnya dilukis – lukis. Penjual air dengan pakaian tradisional Berber juga mulai tampak. Penjual air ini, sebenarnya tak menjual air. Mereka hanya model, jika ada wisatawan yang mau mengambil foto mereka dengan membayar beberapa Dirham. Pokoknya, benar – benar ramai. Dentuman musik dan gendang bertalu – talu melantunkan irama musik.

Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Penjual Henna, Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Penjual Henna, Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Penjual air, Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Penjual air, Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Penjual Air, Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Penjual Air, Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Suasana malam harti di Djema El Fna, Marrakech, Morocco. Kafe - kafe tenda mulai berdatangan

Suasana malam harti di Djema El Fna, Marrakech, Morocco. Kafe – kafe tenda mulai berdatangan

Makanan yang ditawarkan di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Makanan yang ditawarkan di Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Penjual makanan dan dagangannya, Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Penjual makanan dan dagangannya, Djema El Fna, Marrakech, Morocco.

Di sudut lain, penjaja makanan mulai membuka warung makan. Setiap warung, dilengkapi tenda, tempat memasak, tempat meletakkan makanan yang sudah dimasak, dan sebuah nomor. Masing – masing warung mengerahkan kemampuan untuk menarik pelanggan. Macam – macam makanan yang dijual. Tajine dan couscous jelas ada.Selain itu, ada juga brochette daging, ayam goreng, udang, calamari bahkan escargot. Kuakhiri hari dengan sepiring calamari dan segelas mint tea.





Di Atas Kereta Api Malam, Dari Tangier Menuju Marrakech (Maroko, Part 8)

16 01 2014

night trainTidak banyak yang bisa kuceritakan mengenai perjalanan ini. Selain, aku melakukan perjalanan di malam hari, tak ada yang bisa terlalu dinikmati. Gelap, dan aku tak bisa melihat apapun di dalam gelap. Fakta lain, aku menghabiskan sebagian besar waktuku untuk tidur selama 12 jam perjalanan.

Menuju Marrakech, ada satu gerbong khusus untuk kelas Couchette. Dalam gerbong ini, tersedia beberapa kompartemen, dimana dalam satu kompartemen terdapat dua buah tempat tidur bertingkat. Jadi, satu kompartemen bisa diisi oleh empat orang. Tempat tidurku berada di bawah (aku tak suka ketinggian. Membuatku gugup). Setiap tempat tidur, disediakan bantal, seprai dan selimut. Setiap orang harus mempersiapkan seprai nya masing – masing.  Di atas tempat tidur, ada rak untuk meletakkan koper dan barang bawaan.

Aku tidak sendirian di dalam kompartemen, melainkan bergabung dengan dua orang wanita lain. Kompartemenku memang khusus untuk wanita. Mereka adalah Helena, seorang wanita berusia pertengahan empat puluhan, yang berasal dari Spanyol, dan Leila, juga wanita berusia pertengahan empat puluhan, yang kebetulan berasal dari Maroko. Mereka berdua menganggapku gila. Helena menganggapku gila karena aku tinggal di Congo. Sementara Leila tak bisa mengerti kenapa aku mau jalan – jalan sendirian. Mereka sepakat, kalau aku bertindak di luar batas kewajaran fikiran mereka. Mereka bilang ketika mereka di usiaku, mereka tak kan pernah berfikir untuk berjalan – jalan seorang diri di tengah sebuah negeri asing. Tidak ada toilet khusus untuk setiap kompartemen. Namun, di ujung gerbong ada sebuah toilet yang dikhususkan untuk penumpang gerbong Couchette. Toiletnya cukup besar, dilengkapi dengan wastafel. Dan cukup bersih. Jadi, aku cukup leluasa untuk melakukan berbagai hal. Mula dari sikat gigi, mencuci muka, mengambil air wudhu hingga berganti pakaian.

Night Train Compartment, from Tangier to Marrakesh. Morocco

Night Train Compartment, from Tangier to Marrakech. Morocco

Tak banyak yang dilakukan selama perjalanan. Leila dan Helena bercakap – cakap dalam bahasa Spanyol. Aku mendengarkan musik sambil membaca buku. Tak lama, Leila mengikuti jejakku, mengambil bukunya untuk dibaca. Kami mematikan lampu karena tak mau Helena terganggu. Leila menggunakan lampu baca kecil, dan aku karena menggunakan tablet, tak memerlukan lampu baca.

Aku hanya membaca kurang dari setengah jam. Selebihnya, aku tak terlalu mengingat apa yang terjadi. Yang kutahu, aku tertidur, menikmati ayunan lembut kereta malam yang tengah berjalan.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 105 other followers

%d bloggers like this: