Wanderer Song

23 10 2014

Location: Wadi Mujib, Jordan

Location: Wadi Mujib, Jordan

Glad to be on the road again.
Happy to fall in love once again..
With the mountain, with the sky..
With the sea and the wind blows..
See it for the first time.
Hear it for the first time.
Feel it for the first time.
Taste it for the first time.
Like the first love ever.
Oh wanderer..
Get your bag ready.
Open your maps quickly.
Get the train, jump on it.
Let the breeze blow your face softly.
Get lost, talk to strangers.
See the world…
Another story begins….

…… Magic city, 11th October 2014…..





Antrian Panjang di Château de Versailles

24 09 2014

Painting of Chateau de Versailles, FranceHari itu hari Selasa, bertepatan dengan hari di mana hampir semua museum di Paris tutup untuk perawatan. Kecuali istana Versailles. Maka, hari itu saya bulatkan tekad untuk melihat keindahan istana Maria Antoinette itu. Versailles terletak di luar kota Paris. Tempat itu sudah tidak dapat dicapai dengan metro. Begitupun, ada salah satu bus mempunyai tujuan langsung ke istana Versailles. Ongkosnya hanya 2 Euro untuk sekali jalan.

Begitu turun dari bus, saya sudah bisa melihat antrian untuk memasuki istana. Ternyata ada dua jalur antrian. Yang satu untuk membeli tiket, sementara yang satunya lagi untuk masuk ke istana. Oh, ternyata bukan saya saja yang menganggap hari ini adalah hari yang tepat untuk berkunjung ke istana. Karena hampir semua museum di Paris tutup, maka bisa dikatakan turis tumpah ruah ke istana ini.

Statue of King Louis XV, in front of Chateau de Versailles

Statue of King Louis XV, in front of Chateau de Versailles

Chateau de Versailles, France

Saya menyesal tidak mengikuti saraan Coralie untuk membeli tiket in advance. Antriannya benar – benar luar biasa. Untuk membeli tiket, saya mengantri selama satu jam. Sementara untuk masuk ke istana, Oh Tuhan. Antrian serasa tidak pernah berakhir. Jalur antrian bukan merupakan garis lurus lagi. Tapi sudah berkelok – kelok seperti ular naga. Hampir tiga jam saya menunggu untuk bisa masuk ke dalam istana.

Chateau de Versailles

Chateau de Versailles

Di dalam, pengunjung luar biasa banyak. Berbagai macam bangsa. Turis solo, keluarga, rombongan turis dengan agen perjalanan, rombongan anak sekolah. Pokoknya rame sekali. Saya hampir kehabisan tenaga begitu memasuki istana. Syukur, saya langsung disuguhkan dengan pemandangan interior istana yang sangat mewah dan indah. Langit – langit dipenuhi lukisan indah. Dinding juga dipenuhi lukisan dengan pigura – pigura cantik. Lukisan Raja Louis XV, Raja Louis XVI, Maria Antoinette, Lukisan istana secara keseluruhan dan masih banyak lagi.

Saya berjalan mengikuti arus pengunjung yang sedang berjalan. Saya melihat hanya ada satu jalur. Jika sudah masuk, tidak bisa kembali lagi hingga kembali ke jalur masuk utama. Ada juga ruang Hercules. Ruangan ini digunakan sebagai kapel.

Yang paling menarik adalah Hall of Mirrors atau ruang kaca. Langit – langitnya dipenuhi lukisan. Sementara lampu – lampu kristal bergelantungan di langit – langit. Ruangan indah sekali. Saya membayangkan saat itu usaha para pekerja untuk membangun istana yang secantik itu. Tentunya perlu kerja keras, ketekunan dan kesabaran penuh.

Aku di Hall of Mirrors, Chateau de Versailles, France

Aku di Hall of Mirrors, Chateau de Versailles, France

Sebenarnya saya masih ingin berkeliling untuk melihat taman, yang konon terkenal dengan keindahan air mancurnya. Namun, kaki ini rasanya sudah mau putus karena kelamaan berdiri. Telapak kaki saya mulai terasa panas. Saya hanya melihat taman dari balik jendela sebelum memutuskan pulang.

Usai istirahat dan makan siang (saya makan siang pukul 4  sore), saya melanjutkan pesiar ke Montmartre. Tempat ini terkenal dengan pelukis – pelukis jalanan terkenal. Namun, saat ini tempat ini begitu terkenal, sehingga lukisan – lukisan yang dijual menjadi mahal. Ketika saya tiba, waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Langit masih terang benderang, namun toko – toko sudah mulai tutup. Tujuan saya adalah ke Sacre Coeur. Sebuah katedral yang terletak di atas bukit Montmartre.

Sacre Coeur juga dipenuhi turis, baik asing maupun lokal. Banyak juga orang kulit hitam yang menawarkan souvenir. Terkadang mereka agak memaksa. Bersikap tegaslah jika tidak ingin membeli apapun, dan jangan melihat – lihat. Sacre Coeur tempat yang menyenangkan untuk menghabiskan sore. Di atas puncak, saya bisa melihat kota Paris. Jika langit terang, saya mendengar menara Eiffel juga bisa terlihat. Rasanya menyenangkan duduk – duduk di rumput sambil melihat mentari mulai padam.

Saat langit mulai gelap, saya beranjak turun dan menyusuri jalanan kota Paris. Tak jauh dari sini, terletak gedung opera Mouline Rouge yang terkenal itu. Di sepanjang jalan dari Montmartre menuju Mouline Rouge, banyak sekali toko – toko khusus orang dewasa. Jika membawa anak kecil, sebaiknya tidak melewati jalan ini.

Moulin Rouge, Paris, France

Moulin Rouge, Paris, France

I'm at Moulin Rouge

I’m at Moulin Rouge





Bertemu Si Cantik Eiffel

6 09 2014

Saya ingat, ketika sahabat saya Vicky, berkata, “Jangan pergi ke Paris sendirian. Kau akan merasa kesepian dikelilingi turis – turis dengan pasangannya”.

Hal ini membuat saya ingin melewatkan Paris dan melanjutkan perjalanan langsung ke Jerman. Namun, tetap saja. Paris itu begitu menggoda di mata saya. Dengan menara Eiffelnya, dengan istana nya, dengan galeri – geleri nya. Terlalu berharga untuk dilewatkan. Selain itu, Coralie, sahabat Perancis saya juga tengah berada di Paris. Ini satu kesempatan untuk bertemu dengannya, setelah hampir dua tahun tak bertemu. Begitu mendengar saya akan ke Eropa, Coralie langsung menghubungi saya, dan berkata “You must come to Paris to see me and stay at my house”

Karena itu, akhirnya saya membeli tiket kereta api cepat Amsterdam – Paris. Saya cukup beruntung, mendapatkan harga murah, 50 Euro, untuk sekali jalan di gerbong kelas I. Namun, saya harus berangkat pagi sekali dengan harga murah ini. Pukul 6 pagi, saya sudah siap di stasiun Amsterdam Central. Saya membeli tiket secara online. Semakin jauh dari hari perjalanan, maka semakin murah harganya. Untuk membeli tiket online, bisa di sini.

Perjalanan dari Amsterdam menuju Paris, memakan waktu selama tiga jam tiga puluh menit. Sebagian besar waktu saya gunakan untuk tidur. Lagipula, pemadangannya tidak terlalu menarik, menurut saya. Hanya berupa tembok dan gedung – gedung tinggi. Saya mengharapkan pemandangan pedesaan. Saya hanya terbangun saat kereta berhenti di Rotterdam dan Brussels.

Saya tiba di stasiun Paris du Nord saat waktu menunjukkan pukul 10.30 pagi. Saya masih harus ke kantor Coralie untuk mengambil kunci flat nya. Coralie sedang sibuk sekali sehingga tidak bisa menjemput . Saya pun tak mau merepotkannya karena sehari sebelumnya dia baru saja tiba dari Den Haag. Syukurnya, di Perancis sistem transportasinya sudah sangat modern dan teratur. Bahkan ada website khusus jika kita ingin mencari suatu alamat. Tinggal memasukkan alamat asal dan tujuan, maka keterangan pun akan segera muncul. Lengkap dengan peta dan nomor metro/tram/train/bus yang mengantarkan kita sampai tujuan. Websitenya bisa dilihat di sini.

Jalanan di Kota Paris, Perancis

Jalanan di Kota Paris, Perancis

Alhamdulillah, saya tidak mendapatkan kesulitan ketika mencari kantor Coralie. Ada saja orang – orang yang datang membantu ketika saya tengah bingung. Coralie memberikan skets alamat rumahnya, lengkap dengan nomor metro dan kode kunci rumahnya. Flat Coralie berdekatan dengan toko – toko dan restoran. Bahkan banyak restoran halal di sekitarnya, memudahan saya untuk mencari makanan halal.

Usai istirahat, saya berangkat untuk melihat menara Eiffel. Untuk transportasi, saya membeli karcis terusan untuk 3 hari (visitor pass) seharga kurang lebih 24 Euro. Dengan karcis ini, saya bebas turun naik metro, tram dan bus selama tiga hari. Stasiun metro di Paris terlihat kuno. Tangganya pun masih terbuat dari tangga biasa, bukan escalator. Di dalam stasiun, banyak lorong berkelok – kelok. Terkadang di beberapa tempat, tercium bau pesing menyengat.

Paris tak sesempurna yang terlihat di televisi . Semua penjelasan ditulis dalam bahasa Perancis. Saya bersyukur, bahasa Perancis saya yang pas – pasan sangat membantu selama di sana. Di sepanjang lorong – lorong ini banyak pengamen memainkan akordion. Baik peroranga maupun grup. Saya diingatkan oleh Coralie agar berhati – hati selama di Paris. Selain terkenal dengan keindahan kotanya, Paris juga terkenal dengan copetnya.

Tidak sulit menemukan Eiffel, hanya satu kali menggunakan Metro dari flat Coralie. Begitu keluar dari stasiun, banyak penunjuk arah menunjukkan arah si menara cantik ini. Hanya beberapa langkah, saya bisa melihat Eiffel menjulang tinggi. OMG, saya ada di Paris. Akhirnya saya bisa menyaksikan karya sang maestro Gustave Eiffel dengan mata kepala saya sendiri. Saya hanya berjalan – jalan di sekitar taman, sama sekali tidak bermaksud untuk naik ke puncak Eiffel. In my humble opinion, pemandangan seluruh Paris tidak akan spesial jika sang landmark tidak ada di sana.

Saya bersama Eiffel, Paris, Perancis

Saya bersama Eiffel, Paris, Perancis

Eiffel di malam hari, Paris, Perancis

Eiffel di malam hari, Paris, Perancis

Selanjutnya, saya melanjutkan perjalanan untuk melihat Arc de Triomphe. Jaraknya pun sudah dekat dari Eiffel. Hanya satu kali metro saja. Di sana, saya meihat banyak orang – orang Indonesia. Yang berjalan – jalan bersama keluarga, maupun dengan agen perjalanan.

Arc de Triomphe, Paris, Perancis

Arc de Triomphe, Paris, Perancis

Skulptur di Arc de Triomphe, Paris, Perancis

Skulptur di Arc de Triomphe, Paris, Perancis

Paris, Perancis

Paris, Perancis

Paris, Perancis

Paris, Perancis

Ketika hari mulai gelap, saya kembali pulang karena dalam satu jam kemudian, Coralie akan tiba di rumah dan kami akan malam bersama.





Canal Cruise di Amsterdam

22 07 2014

Hari itu sebenarna saya berencana untuk mengunjungi taman bunga tulip terbesar, Keukenhof. Namun, saya terlambat bangun, dan baru tiba di bandara Schiphol, tempat di mana shuttle bus ke Keukenhof mangkal, setelah waktu menunjukkan pukul 11 siang. Begitu tiba, antrian untuk naik bus sudah sangat panjang sekali. Belum lagi antrian untuk membeli tiket masuk ke Keukenhof. Waktu saya bisa habis seharian di sana. Padahal, ini hari terahir saya di Belanda.

Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Amsterdam dan membeli karcis terusan selama sehari. Dengan tiket ini, dengan membayar 7 Euro, saya bisa turun naik tram dan metro kapan saja. Setiba di Amsterdam Centraal, saya melihat banyak sekali agen perjalanan yang menawarkan canal cruise. Saya masuk ke salah satu agen dan membeli tiket untuk satu jam canal cruise.

Canal Cruise itu dimulai dari satu kanal terletak di depan Amsterdam Centraal. Dari sana, kapal kami meluncur ke laut lepas, melewati jembatan dan masuk ke kanal – kanal kecil. Disini, saya dan turis – turis lainnya disuguhkan pemandangan khas Belanda. Rumah – rumah dengan arsitektur kolonial di sepanjang kanal, jembatan – jembatan dengan lengkungan strukturnya, sepeda – sepeda yang terparkir di mana – mana. Oh ya, di Belanda ini sepertinya hampir semua orang memiliki sepeda. Sepeda merupakan salah satu transportasi utama di sana.

Canal Cruise, Amsterdam, the Netherlands. Pelayaran dimulai dari sini.

Canal Cruise, Amsterdam, the Netherlands. Pelayaran dimulai dari sini.

Canal Cruise, Amsterdam, the Netherlands. Stasiun kereta api Amsterdam Centraal

Canal Cruise, Amsterdam, the Netherlands. Stasiun kereta api Amsterdam Centraal

Saya di atas kapal, berpesiar di sepanjang kanal

Saya di atas kapal, berpesiar di sepanjang kanal

Ketika canal cruise usai, waktu sudah menunjukkan waktu untuk makan siang. Tanpa sengaja, saya menemukan satu restoran Indonesia, bernama Kantjil. Menunya, tentu saja menu Indonesia. Saya yang menganggap makanan Indonesia adalah yang terenak di dunia, langsung memilih menu khas Indonesia. Nasi rendang dan siomay bandung. Untuk informasi restoran, bisa dilihat di website.

Usai makan siang, saya pun memanfaatkan karcis terusan saya. Tujuan saya adalah Istana atau Grand Palace. Wuih,rame sekali di sana. Sepertinya ketika saya datang sedang ada demonstrasi tentang Mesir, karena ada bendera Mesir di sana. Saya tidak paham apa yang mereka demonstrasi kan, karena menggunakan bahasa Belanda. Saya juga tidak terlalu berminat memasuki istana. Yang saya lakukan hanyalah mengambil foto di depan istana dan menonton beberapa atraksi yang dilakukan beberapa orang untuk menarik pengunjung.

Grand Palace, Amsterdam, the Netherlands

Grand Palace, Amsterdam, the Netherlands

Saya di depan Grand Palace

Berbagai atraksi di Grand Palace, Asmterdam, the Netherlands.

Berbagai atraksi di Grand Palace, Asmterdam, the Netherlands.

Berbagai atraksi di Grand Palace, Asmterdam, the Netherlands.

Berbagai atraksi di Grand Palace, Asmterdam, the Netherlands.

Berbagai atraksi di Grand Palace, Asmterdam, the Netherlands.

Berbagai atraksi di Grand Palace, Asmterdam, the Netherlands.

Dari sana, saya kembali naik tram untuk melihat Museum Anne Frank. Oh la la. Lagi – lagi saya mengurungkan niat begitu melihat antrian. Panjang sekali. Akhirnya, saya memutuskan untuk berjalan – jalan di daerah permukiman Jordan, yang tak jauh dari sana. Melihat rumah – rumah kapal, yang saat ini sudah dijadikan restoran dan museum. Saya sempat memotret serumpun bunga tulip di sekitar situ.

Nih, antrian di depan rumah Anne Frank, Amsterdam, the Netherlands

Nih, antrian di depan rumah Anne Frank, Amsterdam, the Netherlands

Kanal di area permukiman Jordan, Amsterdam, the Netherlands

Kanal di area permukiman Jordan, Amsterdam, the Netherlands

Sepeda ada di mana - mana, Asmterdam, the Netherlands

Sepeda ada di mana – mana, Asmterdam, the Netherlands

Serumpun bunga tulip, Amsterdam, the Netherlands

Serumpun bunga tulip, Amsterdam, the Netherlands

Westerkerk, gereja di dekat rumah Anne Frank, Amsterdam, the Netherlands

Westerkerk, gereja di dekat rumah Anne Frank, Amsterdam, the Netherlands

Sisa hari hanya saya habiskan dengan turun naik tram, dari tram satu ke tram lainnya. Saya tidak punya tujuan khusus. Saya hanya ingin melihat pemberhentian terakhir tram sambil melihat pemandangan yang saya lewati selama perjalanan. Selama saya tahu, tram itu akan kembali ke Amsterdam Centraal, saya tidak perlu merasa khawatir akan tersasar.

Empat hari di Belanda, sangat tidak cukup untuk menikmati keindahan negeri tulip. Banyak yang saya lewatkan. Tulip di Keukenhof, desa kincir angina Zaanse Schans, museum Van Gogh dan banyak lagi. Rasanya ingin tinggal lebih lama. Belanda membuat saya betah. Mungkin, karena selama di sana saya melihat banyak sekali komunitas Indonesia. Jadi, saya tidak merasa terlalu asing. Saya harap, suatu saat saya bisa kembali ke sana.

 





Sehari di Delft

20 07 2014

Pusat kota Lama Delft, the Netherlands

Pusat kota Lama Delft, the Netherlands

Selain terinspirasi dengan dongeng – dongeng dari majalah Bobo, mengunjungi Delft juga menjadi salah satu tujuan saya mendatangi Belanda. Seorang sahabat lama saya, Aulia, tengah melanjutkan sekolah di sana. Begitu tahu saya mau ke Belanda, Aulia langsung menawarkan flat nya sebagai tempat saya menginap selama di Belanda. Terpaksa saya tolak, karena sebagian besar destinasi saya berada di Amsterdam. Agak repot jika saya harus bolak balik Delft-Amsterdam setiap hari. Belum lagi waktu saya di Belanda juga terbatas.

Dari Amsterdam Centraal, saya naik kereta ke arah Rotterdam atau Den Haag, dan berhenti di stasiun Delft. Biayanya 12 Euro untuk satu kali jalan. Lama perjalanan sekitar satu jam. Stasiun kereta di Delft kelihatan tua. Bahkan kelihatan lebih tua dibandingkan dengan stasiun Amsterdam Centraal. Aulia tiba di stasiun hanya beberapa menit setelah saya turun dari kereta. Senang sekali bisa ketemu sahabat lama. Ini pertemuan pertama kami setelah lima tahun.

Saya yang memang punya niat untuk nyari rumah makan Indonesia selama di Belanda, langsung minta ke Aulia supaya di bawa kesana. Tapi, Aulia menolak dan mengajak saya ke flatnya. Ternyata Aulia sudah masak masakan khusus Indonesia buat saya. Nasi putih plus ayam saus tiram plus sayur tumis cabbage cina dan tempe goreng. OMG, ini pesta. Saya makan lahap sekali.

Delft kota kecil yang menarik. Bahkan sangat turistik. Banyak turis mancanegara yang menyempatkan diri mampir ke kota kecil ini. Flat Aulia dekat dengan centrum (pusat kota lama), sehingga memudahkan untuk mengitari kota dengan berjalan kaki. Di centrum ini terletak Balai Kota dan Gereja Baru atau lebih dikenal sebagai Nieuwe Kerk. Di gereja ini tempat dikebumikan anggota kerajaan yang meninggal, sejak pelopoor kemerdekaan dan kerajaan Belanda, Willem Van Oranye, meninggal. Di centrum juga terdapat banyak cafe – cafe dan bar tempat berkumpul dan menikmati sore. Juga ada toko – toko keju. Belanda terkenal dengan keju nya.

Delft, the Netherlands

Delft, the Netherlands

Balai Kota Delft, the Netherlands

Balai Kota Delft, the Netherlands

Toko keju di Delft, the Netherlands

Toko keju di Delft, the Netherlands

Gereja Baru atau Nieuwe Kerk, Delft, the Netherlands

Gereja Baru atau Nieuwe Kerk, Delft, the Netherlands

Tak jauh dari gereja baru, ada gereja lain yang disebut gereja lama (Oude kerk). Bentuknya yang miring membuat arsitektur gereja ini menjadi unik.

Gereja Lama (Oude Kerk), Delft, the Netherlands

Gereja Lama (Oude Kerk), Delft, the Netherlands

Di Delft juga banyak kanal – kanal. Jika musim dingin, kanal – kanal ini akan dipenuhi salju dan orang – orang akan bermain ice skating di atasnya. Karena saya begitu penasaran dengan kincir angin, Aulia membawa saya ke satu tempat dimana masih ada kincir angin berdiri dengan kokoh. Ya, Belanda memang terkenal sebagai negara kincir angin. Namun, saat ini sulit sekali menemukan kincir angin. Kincir angin ini adalah kincir angin satu – satunya yang masih tersisa di Delft.

Delft dan kanalnya, Delft, the Netherlands

Delft dan kanalnya, Delft, the Netherlands

Delft dan kanalnya, Delft, the Netherlands

Delft dan kanalnya, Delft, the Netherlands

Kincir Angin di Delft, the Netherlands

Kincir Angin di Delft, the Netherlands

Saya menemukan kincir angin ini saat kembali ke Amsterdam

Saya menemukan kincir angin ini saat kembali ke Amsterdam

Delft juga terkenal sebagai hometown si pelukis terkenal asal Belanda, Johannes Vermeer. Saya berharap bisa menemukan lukisannya yang berjudul ‘the Girl with the Pearl Earings” di satu gallery Vermeer di Delft. Namun, gallery itu hanya menjual souvenir dengan tema lukisan – lukisan Vermeer. Setelah itu, saya baru tahu kalau lukisan yang mau saya lihat itu ada di dalam sebuah museum di Den Haag.

Saya dan the Girl with the Pearl Earings. Lukisan aslinya ada di museum Den Haag, Delft, the Netherlands

Saya dan the Girl with the Pearl Earings. Lukisan aslinya ada di museum Den Haag, Delft, the Netherlands

Suatu Sore di Delft, the Netherlands.

Suatu Sore di Delft, the Netherlands.

Delft juga terkenal dengan Royal Delft Blue Factory nya. Keramik – keramik biru buatan tangan yang terkenal dari Belanda. Pasti bisa membayangkan. Biasanya keramik – keramik ini dijadikan oleh – oleh dari Belanda

Liburan sambil bertemu sahabat lama adalah kombinasi sempurna. Seharian, saya dan Aulia tak henti – hentinya mengobrol. Maklum, kami tak bertemu selama lima tahun. Banyak sekali yang terjadi selama lima tahun, dan banyak sekali kenangan yang ingin dikenang dan diceritakan kembali. Mengakhiri hari, kami menghabiskan sore di sebuah cafe bernama Eetcafe de Ruif terletak di pinggir sebuah kanal, sambil menyaksikan bebek – bebek berenang riang.

Aku di Eet cafe de Ruif, Delft, the Netherlands

Aku di Eet cafe de Ruif, Delft, the Netherlands

Bersama Aulia di Eetcafe de Ruif, Delft, the Netherlands

Bersama Aulia di Eetcafe de Ruif, Delft, the Netherlands

Datang ke cafe di pinggir kanal ini, permintaan khusus dari saya. Saya mau mengenang, masa ketika saya, Aulia dan sahabat – sahabat saya yang lain (sayang mereka tidak disini), selalu menghabiskan malam di sebuah warung kopi, di pinggir sungai di Banda Aceh. Ketika itu kami selalu sibuk membicarakan mimpi – mimpi kami. Alhamdulillah, sebagian mimpi bukan lagi mimpi. Salah satunya, bertemu kembali di Belanda ini.





Rijksmuseum, Tempat Bagi Pecinta Seni

20 07 2014

Rijksmuseum

Rijksmuseum, Amsterdam, the Netherlands

Saya suka museum. Tak peduli, apapun kata orang mengenai museum. Kuno, antik, tua, membosankan. Apalah itu. Saya bukan pencinta berat seni. Jangankan melukis, menggambar pun saya susah. Saya masih ingat, saat kuliah di Arsitektur, sahabat saya Amy, selalu membantu saya untuk membuat sketsa desain – desain bangunan yang telah selesai saya rancang. Namun, saya tetap suka museum. Saya suka mengamati lukisan berlama – lama, meskipun saya tak tahu siapa pelukisnya. Saya suka mengamati mangkok – mangkok dan bejana tembikar kuno, meskipun saya tak pernah ingat kapan mereka dibuat. Saya juga menikmati duduk – duduk di dalam museum sambil mengamati orang lalu lalang. Ada sensasi yang tidak bisa saya lukiskan dengan kata – kata ketika saya berada di museum. Seperti saya menyebrang ke dimensi lain, menembus ruang waktu dan mendarat di masa lampau.

Rijksmuseum yang dikenal sebagai museum terbesar di Belanda, tentu ada di list utama saya. Saya membeli tiket online, dibantu oleh seorang pegawai Hostelle. Membeli tiket online akan sangat membantu untuk memotong antrian bak ular naga. Trust me, museum – museum di Eropa penuh dengan pengunjung. Menuju ke sana, dari stasiun Blijmer Arena, saya naik kereta menuju Amsterdam Centraal, stasiun kereta api utama di Amsterdam. Dari sana, saya harus menyambung dengan tram untuk tiba di Museum. Cuaca masih dingin, berkisar 15 derajat Celcius. Meskipun sudah memakai sweater, saya tetap membawa winter jacket karena suhu bisa tiba-tiba turun drastis.

Interior Rijksmuseum, Amsterdam, the Netherlands

Interior Rijksmuseum, Amsterdam, the Netherlands

Interior Rijksmuseum, Amsterdam, the Netherlands

Interior Rijksmuseum, Amsterdam, the Netherlands

Banyak sekali yang bisa dilihat di Rijksmuseum. Namun, karena waktu yang terbatas, saya hanya fokus pada koleksi lukisan. Senangnya bisa melihat lukisan – lukisan para pelukis terkenal. Van Gogh, Johannes Vermeer, Rembrandt, Claude Monet dan pelukis – pelukis lain yang namanya saya tidak ingat lagi. Lukisan – lukisan dengan latar Indonesia juga banyak terpampang. Yah, kan Belanda pernah tinggal di sana selama 350 tahun. Ada lukisan pelukis terkenal asal Indonesia, Raden Saleh. Ada pula perisai Aceh.

Self Portrait by Vincent Van Gogh, Rijksmuseum, Amsterdam, the Netherlands

Self Portrait by Vincent Van Gogh, Rijksmuseum, Amsterdam, the Netherlands

The Milkmaid by Johannes Vermeer

The Milkmaid by Johannes Vermeer

 

Portrait of Raden Syarif Bustaman Saleh

Portrait of Raden Syarif Bustaman Saleh

Perisai Aceh di Rijksmuseum, Amsterdam, the Netherlands

Perisai Aceh di Rijksmuseum, Amsterdam, the Netherlands

Rumah Boneka di Rijksmuseum, Amsterdam, the Netherlands

Rumah Boneka di Rijksmuseum, Amsterdam, the Netherlands

Saya suka sekali dengan lukisan – lukisan karya pelukis Belanda. Selalu menggambarkan pemandangan Belanda di masa lalu. Dengan desa – desanya yang dilengkap kincir angin dan kincir air. Kapal laut dan ombak – ombak menerjang, balai kota lama, dan lukisan orang – orang yang sedang berpesta. Lukisan – lukisan itu begitu hidup, seperti bisa menceritakan kisah di balik gambar – gambar lukisan. Ada juga lukisan – lukisan abstrak, dan saya tidak terlalu mengerti maksud dibalik lukisan tersebut.

Winter Landscape by Jacon Isaacksz, Rijksmuseum, Amsterdam, the Netherlands

Winter Landscape by Jacon Isaacksz, Rijksmuseum, Amsterdam, the Netherlands

Untuk koleksi lukisan, bisa dilihat di blog saya satu lagi. Linknya bisa di klik di sini, di sini dan di sini.

Di dalam museum juga banyak bangku – bangku untuk beristirahat. Tidak terasa, waktu berlalu dengan cepat. Hari sudah sore ketika saya meninggalkan museum. Namun, langit masih terang. Musim semi di Belanda, langit mulai gelap saat waktu menunjukkan waktu pukul 9 malam. Siang yang panjang.





Belanda dan Persiapan Visa Schengen

20 07 2014

Lukisan 'The Wondmill' karya pelukis Jacob Isaacksz van Ruisdael. Diambil dari koleksi lukisan di Rijksmuseum

Lukisan ‘The Windmill’ karya pelukis Jacob Isaacksz van Ruisdael. Diambil dari koleksi lukisan di Rijksmuseum

Belanda adalah negara Eropa yang paling ingin saya kunjungi. Meskipun negeri ini pernah menjajah Indonesia selama 350 tahun, tetap saja saya tidak dapat menghilangkan hasrat untuk melihat si negeri kincir angin. Mungkin, karena ketika saya kecil, saya selalu membaca cerita-cerita dongeng dari Belanda yang ada di majalah Bobo sehingga menginspirasi saya untuk melihat langsung negeri itu.

Proses menuju Belanda tidak terlalu sulit. Saya mendapatkan visa Schengen dari Konsulat Belanda yang ada di Medan. Waktu yang dibutuhkan hanya 7 hari kerja. Jika berdomisili di Jakarta, Anda bisa langsung datang ke kedutaan Belanda setelah membuat ‘ online appointment ’, dan Visa bisa didapatkan di hari yang sama.

Saya banyak mendengar, sulit untuk mendapatkan Visa Schengen. Namun, jika kita mengikuti semua prosedur, prosesnya sama sekali tidak ribet. Pastikan ketika datang untuk membuat visa, Anda sudah melengkapi dokumen – dokumen yang di butuhkan. Dokumen yang saya sertakan adalah sebagai berikut:

  1. Passport dengan masa expired tidak kurang dari 6 bulan.
  2. Pas photo 80% wajah.
  3. Asuransi perjalanan. Untuk asuransi ini, saya menggunakan Axa Schengen . Asuransi perjalanan ini hukumnya, wajib.
  4. Bukti finansial. Bisa menyertakan rekening koran atau slip gaji tiga bulan terakhir. Saya menyertakan dua-duanya ditambah fotokopi kontrak kerja saya.
  5. Reservasi tiket pesawat. Tiket tidak perlu di issued. Hanya butuh reservasi nya saja.
  6. Bukti reservasi hotel selama di Eropa.
  7. Formulir visa Schengen yang sudah diisi dnegan lengkap. Formulirnya bisa diunduh di sini .
  8. Uang sebanyak 60 Euro, dibayar dalam Rupiah.
  9. Itinerary selama di Eropa (tidak wajib, tapi turut saya lampirkan).

Insya Allah, jika semua dokumen ini dipenuhi, maka visa pun akan disetujui.

Dengan menggunakan maskapai Turkish Airlines, saya tiba di Amsterdam di pertengahan April. Sudah masuk musim semi, namun cuaca masih dingin. Angin juga bertiup kencang. Tak heran, Amsterdam terletak di pinggir laut. Syukur saya membawa jacket tebal untuk mengantisipasi dingin. Saya tidak mengalami hambatan apapun selama di imigarasi bandara Schiphol. Petugas imigrasinya pun ramah – ramah. Salah satunya malah menyapa saya dengan bahasa Indonesia. Namun, petugas yang mengecap passport saya, menunjukkan kekhawatiran begitu tahu kalau saya akan berkeliaran di Amsterdam seorang diri saja.

Take care of yourself. Enjoy Amsterdam and be carefull since you’re alone” dia mengecap passport saya.

Selama di Amsterdam, saya menginap di hostel. Ini kedua kalinya saya menginap di hostel. Sebelumnya saya menginap di hostel ketika saya tengah di Sigapura. Dua-duanya dengan alasan yang sama. Berhemat. Saya suka privasi. Ketika rezeki berlebih, saya lebih suka menginap di sebuah kamar mungil sederhana ketimbang beramai – ramai dengan orang asing. Namun, Amsterdam mahal sekali. Sulit menemukan single room dengan harga ekonomis. Minimal, satu single room memakan biaya 80 Euro per malam. Sementara, saya akan tinggal di Eropa selama 18 hari. Mau apalagi, hostel menjadi satu – satunya pilihan jika mau berhemat.

Hostel yang menjadi tempat saya bermukim selama 4 malam ke depan bernama Hostelle. Letaknya tak jauh dari stadion Amsterdam Arena. Dari bandara Schiphol, saya naik train jurusan Eindhoven dan turun di stasiun Blijmer Arena. Membeli tiket kereta, bisa melalui mesin yang banyak terdapat di setiap stasiun. Begitu kereta meluncur ke luar dari stasiun, saya disuguhkan pemandangan khas Belanda. Dengan rumah – rumah kolonial, orang – orang yang bersepeda, serumpun kecil bunga tulip yang mulai merekah. Namun, saya belum melihat kincir angin.

Perjalanan menuju Amsterdam

Perjalanan menuju Amsterdam

Tidak sulit menemukan Hostelle dari stasiun Bijmer Arena. Saya hanya berjalan selama 5 menit dengan mengikuti panduan dari peta yang saya download dari website Hostelle. Seperti namanya, Hostelle ini hostel yang diperuntukkan khusus bagi perempuan saja. Hal ini pula yang membuat saya menjatuhkan pilihan untuk tinggal di hostel ini. Saya bisa bebas berkeliaran tanpa harus mengenakan hijab.

Saya menginap di kamar dorm bersama 5 orang lainnya. Pihak hostel memberikan saya tempat tidur di bawah, seperti permintaan saya. Saya tidak suka ketinggian. Kasurnya cukup empuk, dilengkapi dengan selimut tebal hangat. Di tiap ruangan juga ada pemanas. Shower room dan toilet berada di luar kamar. Satu ruangan shower room diperuntukkan bagi beberapa kamar dorm. Namun, saya tidak pernah mengantri selama di sana. Shower room dan toilet dilengkapi dengan air panas dan selalu dalam kondisi bersih.

Di hostel ini juga disediakan dapur bersama sehingga bisa mengakomodir traaveler yang mau masak sendiri makanannya. Saya tidak pernah menggunakan dapur ini secara khusus. Paling, hanya untuk memanaskan air untuk minum teh atau memanaskan makanan yang saya beli dengan microwave. Hostel ini sangat saya rekomendasikan buat traveler solo perempuan. Info lengkapnya bisa di check di website Hostelle.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 140 other followers

%d bloggers like this: