Galau

3 08 2011
Selama ini, Tuhan selalu mengabulkan apapun yang kuinginkan. Bisa dikatakan, hampir semua impianku menjadi nyata. Bukan hanya hayalan semata. Tak terkatakan berapa kali kutuliskan, “Finally. My dream is coming true” Baik di dinding Face Book ku, di blog maupun hanya terucap di dalam hati. Betapa baik dan penyangnya Tuhan. Memberikan segalanya, tanpa mengharapkan imbalan. Namun, setelah begitu banyak kebaikan dan berkah yang kuterima, mengapa kini aku ragu untuk menunjukkan rasa terima kasihku kepada Tuhan.
 
Aku terlahir dari keluarga sederhana. Orang tuaku, hanyalah pegawai biasa. Hidupku tak berlebih, namun aku tak pernah kekurangan. Terutama untuk urusan pendidikan. Orang tuaku is the best. Mereka akan melakukan apa saja demi memberikan pendidikan yang terbaik untukku.
 
Masa kanak – kanakku sangat indah. Seperti yang kukatakan. Orang tuaku bukanlah berasal dari keluarga berada. Bisa dipastikan, mereka tidak akan sanggup membelikanku koleksi boneka barbie ataupun seperangkat permainan video game, seperti atari dan nitendo yang sangat terkenal pada jamannya. Mereka akan langsung mengatakan TIDAK jika aku berusaha merayu untuk mendapatkan permainan yang biasanya dimainkan oleh anak – anak orang berada. Tapi, lain halnya jika aku meminta mereka untuk membelikanku buku atau majalah anak – anak. Bisa dikatakan, koleksi bukuku sama lengkapnya dengan koleksi buku Dina, salah satu murid kaya di sekolahku. Aku tak keberatan sama sekali tak bermain dengan Nitendo asal bisa melahap kisah si Putih Salju, Lima Sekawan, Ramtam tam dan Kierkielli dan banyak kisah menarik lainnya.
 
Ayahku, adalah pencerita paling ulung. Well, sebenarnya dia tak terlalu pintar bercerita. Yang dilakukannya hanyalah membacakan kisah – kisah classik Charles Dickens untukku, yang didapatnya dari British Library. Membuatku tercengang dengan kisah masa kecil Jane Eyre dan mebuatku tertawa lebar saat mengetahui akhir kisah si Olivier Twist. Sering, saat aku melamun sendiri, aku mengharapkan saat itu datang kembali.
 
Sebagai seorang anak dan pelajar, aku dikaruniai otak yang sangat biasa – biasa saja, begitu kata sebagian orang. Aku lamban dalam menghapal pelajaran serta tidak cukup jenius untuk menelan rumus – rumus fisika dan kimia. Aku cukup tau dengan kualitas otakku. Begitupun, tak menyurutkanku untuk tetap memiliki mimpi. Aku ingin sekali bisa masuk universitas negeri. Meskipun bukan yang terbaik di seantero negeri, tapi universitas yang kuinginkan cukup terkenal dan butuh persaingat ketat untuk mendapatkan kursi di dalamnya. Rasanya terdengar naif, ketika aku menghayal bisa menjadi salah satu mahasiswa di sana, mengingat saat itu aku bersekolah di sebuah SMU yang tak terlalu favorit. Namun, nasib berkata lain. Tuhan mendengar doaku. Aku menjadi bagian dari sebuah institusi pendidikan, mengalahkan 900 orang pesaing lainnya.
 
Masuk ke institusi tersebut memberikan pengaruh besar bagiku. Terutama pada pembentukan pola pikirku. Aku bertemu orang – orang pintar. Bisa dikatakan, aku mungkin salah satu yang terbodoh di antara teman – teman seangkatanku. Dengan IP yang selalu pas – pasan di akhir semester, aku hanya bisa berharap tidak mendapatkan surat drop out. Hingga aku menyelesaikan studi, surat itu tak pernah datang. Aku lulus tepat waktu, dengan IPK yang masih sangat pas – pasan.
 
Tampaknya, dengan IPK pas – pasanku, tak satupun perusahaan maupun BUMN yang berniat memberiku pekerjaan. Masih terngiang dengan jelas, salah satu dosenku, saat beliau tak puas melihat project tugas akhirku, dia berkata, “tak bisa kubayangkan bagaimana kau bekerja nantinya”. Sempat terbersit keraguan juga di dalam hati, akankah kelak aku mendapatkan pekerjaan?
 
Terbersit pula kenangan akan gurauan konyol di antara sesama sohib saat kami membicarakan rencana masa depan. Entah mengapa, saat itu obrolan kami tiba – tiba beralih ke perang Iraq yang tengah berkecamuk. Membicarakan betapa banyaknya berkeliaran mobil beserta tank berwarna putih dengan tulisan UN besar terpampang di depannya. Serta apa sebenarnya peran United Nations dalam menciptakan perdamaian. Tiba – tiba, terlontar begitu saja dari mulutku, “Guys. Kalian tahu tidak. Suatu saat aku akan menjadi bagian dari organisasi tersebut. Dan aku akan berada di salah satu mobil putih tersebut,”
 
Guyonan yang sama sekali kedengaran tak masuk akal. Menjadi bagian dari United Nations dan pergi ke wilayah perang? Terdengar bukan aku sama sekali. Jangankan ke negara konflik, ikut kegiatan pecinta alam saja aku tak berminat. Bagaimana mungkin aku akan survive selama disana? Tampaknya aku memang tak perlu berfikir muluk – muluk dengan mimpiku. Begitupun, tampaknya pintu menuju ke sana mulai terbuka. Aku memulai karirku sebagai pekerja humanitarian di salah satu badan PBB. Selangkah lebih maju.
 
Bekerja di salah satu organisasi terbesar di dunia ini memberikan warna hidup dan perubahan baru bagiku. Tidak hanya merubah pola pikir. Namun juga pergaulan dan kehidupan sosial. Disini, aku menemukan satu kehidupan baru yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
 
Saat aku remaja, khususnya waktu aku di bangku SMU, aku tak bisa mengatakan bahwa aku memiliki kehidupan sosial yang menarik. Aku tak punya pacar, terlalu sibuk memikirkan masa depan dan cara untuk meraih satu kursi di universitas favorit. Entah mengapa, terkadang aku juga merasa tidak bisa ‘get along‘ dengan teman – teman sekolahku. Terkadang ada rasa minder dan rendah diri. Jika kupikir – pikir saat ini, rasanya tak perlu aku merasa rendah diri. Tak ada yang salah dengan diriku, selain aku tak punya pacar. Namun, begitulah kehidupan remaja. Mereka rendah diri dan minder untuk sesuatu yang tak penting. Sering aku berharap, suatu saat bisa memiliki sahabat dan teman – teman yang bisa kuandalkan. Yang selalu ada di saat aku butuh. Seperti yang kulihat di serial ‘FRIENDS’ kesukaanku.
 
Saat memasuki bangku di universitas, aku sempat dilanda kekhawatiran. Akankah aku terus merasa rendah diri. Ternyata tidak. Aku punya banyak teman di universitas. Baik perempuan maupun lelaki. Bahkan, salah satu teman baikku adalah mantan model. Aku tak merasa rendah diri bila tengah berjalan bersamanya. Sang teman cukup populer. Bisa kudengar bisik – bisik para wanita dari kampus lain saat aku berjalan bersama sang teman. Kukatakan padanya, “tampaknya mereka iri melihatku berjalan denganmu,” yang diakhiri dengan tawa gelak dari sang teman. Aku bahagia dengan kehidupan sosialku di bangku kuliah.
 
Kukatakan sebelumnya, bekerja di organisasi terbesar di dunia ini juga memberikan perubahan akan kehidupan sosialku. Kenangan itu masih melekat erat di ingatanku. Saat aku menjejakkan kaki pertama kali di Pulau Nias untuk bergabung di salah satu badan PBB. Ini pertama kalinya aku tinggal serumah dengan para pria dan tidak punya hubungan darah denganku. Lagi – lagi aku khawatir, tidak bisa bersosialisasi bersama mereka. Dugaan yang salah sama sekali. Mereka menjadi saudara seperantauan. Enam bulan tinggal bersama mereka seperti satu season ’FRIENDS’ di kehidupan nyata.
 
Itu semua hanyalah permulaan. Kutemukan kehidupan menarik di episode selanjutnya dalam kehidupanku. Aku tidak memperpanjang kontrak kerja bersama mereka untuk bergabung di sebuah organisasi milik pemerintah. Keputusan yang dikemudian hari sering kusesali. Sebenarnya, tak perlu disesali. Itu hanyalah sebuah pelajaran berharga di dalam hidup untuk lebih mencintai apa yang telah kudapatkan. Seperti dalam lirik lagu, “you don’t know what you got till it’s gone” Berulang kali kuucapkan, “ingin sekali aku kembali ke UN”. Dan, lagi – lagi doaku terkabul. Setelah tak memperpanjang kontrak, aku bergabung dengan organisasi internasional, sekelas dengan UN. I really loved when i worked there. Aku tak hanya mendapatkan sahabat – sahabat hebat, namun juga sebuah pengalaman tak ternilai yang menolongku untuk kembali ke UN. Tuhan memang hebat.
 
Ingin sekali aku berterima kasih kepada Allah. Melakukan satu kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap muslim. Kewajiban yang membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Namun, tak ada yang bisa menahanku untuk berterima kasih pada Tuhanku. Tak perduli dengan rintangan. Aku ikhlas untuk menunggu. Niatku sudah kuat, saat itu.
 
Well. Hidup memang indah. Kembali ke UN setelah mengharapkannya sekian lama. Lagi – lagi, aku bertemu dengan teman – teman hebat dan setia. Kusebut mereka dengan sebutan, “serdadu semut”. Bersama mereka, aku merencanakan masa depan. Dan bersama mereka pula, kuulang impian – impian konyolku, “Guys. Aku ingin sekali bekerja di Africa”.
 
Impian yang lagi – lagi menjadi nyata. Bahkan, ini gabungan dengan mimpi di bangku kuliah. Bekerja di Africa. Di organisasi terbesar di dunia. Menjadi bagian dari perdamaian dunia. Sudah kurasakan berada di mobil putih dengan tulisan UN terpampang lebar. Bukan main. Ratusan, bahkan mungkin ribuan orang menginginkan pekerjaan ini. Namun, akulah si pemenang. Allah maha besar.
 
Hidup di dunia berbeda, tentunya memberikan pengalaman tak tergantikan. Betapa beruntungnya aku, begitu yang selalu kudengar dari orang – orang. Aku juga mengakui betapa beruntungnya aku. Apalagi jika melihat prestasi akademikku yang biasa – biasa saja. Tak satupun bisa menyangka aku bisa sejauh ini.
 
Begitupun, selalu ada keraguan ketika aku memulai kehidupan baru. Keraguan tak bisa bersosialisasi, kembali menghantuiku. apalagi dengan orang – orang yang berasal dari culture yang sangat berbeda. Hidupku mulai terasa monoton. Namun, ketika kebosanan itu muncul, Tuhan mengirimkan seorang sahabat baru, yang berasal dari budaya yang berbeda. Sebutlah namanya Leonardo. Aku tak akan bercerita banyak tentang  Leonardo. Namun, aku sangat menghargai persahabatan yang diberikannya. Lagi – lagi hidupku kembali berwarna.
 
Aku begitu menikmati hidup, hingga aku lupa dengan niatku untuk berterima kasih kepada Tuhan. Setelah sekian lama, kesempatan untuk berterima kasih itu akhirnya tiba juga. Namun, mengapa kini aku menjadi ragu? Haruskah aku ragu setelah segala nikmat yang diberikan Allah kepadaku? Haruskah aku ragu dengan adanya kemungkinan kehilangan sebagian nikmat untuk berterima kasih kepada Tuhanku. Saat ini, aku merasa seperti makhluk tak berterima kasih. Aku merasa berada di depan sebuah boarding gate. Keputusan untuk tinggal atau terbang berada di tanganku. Aku galau, segalau – galaunya. Ya Allah. Berikanlah petunjuk dan kekuatan kepadaku. Untuk mengambil satu keputusan penting dalam hidupku sehingga tak ada penyesalan di kemudian hari.
Advertisement

Actions

Information

3 responses

6 08 2011
denyap

Allah memang Baik, dan akan selalu begitu. Kita hanya perlu waktu saja untuk tahu bahwa segala yg terjadi di hidup kita adalah memang baik. Ikuti hati sambil pantau dengan logika. kalo susah, biasanya sih cukup ikuti arus saja dengan bekal keyakinan. Seperti alur hidup yg mba ceritakan, banyak hal yg tidak terplanning dengan jelas, namun justru membuat segalanya menjadi jelas. Hasilnya, sangat luar biasa… salut!

Sukses dengan Leonardo-nya. Wish u dbest ^^ (it’s ur time girl… jgn kerja melulu… hehe ^^) *sotoy mode on

ipul_

6 08 2011
Nurul Fitri Lubis

Thanks for support Ipul..
Mengenai Leonardo, dia bukan seperti apa yang kamu pikirkan. Dia tidak lebih dari seorang sahabat baik :-)

6 08 2011
denyap

hahahaha… baiklah… :) *smangat dlm menentukan tiap pilihan!!! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.