Saya Anak Indonesia

26 11 2011

Di suatu siang, saat saya sedang menghabiskan waktu dengan menyeruput coklat panas di  sebuah coffe shop (saya bukan penggemar kopi), terdengarlah satu percakapan dari meja sebelah. Ada dua orang pemuda yang sibuk membahas hasil akhir pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Malaysia di Sea Games yang lalu. Yah, Indonesia kalah, lagi, seperti biasa.  Dua orang ini sibuk mengkritik cara bermain para pemain, hingga wasit yang katanya selalu mengatakan ‘Off Side’. Awalnya, saya tak terlalu ambil peduli dengan pembicaraan mereka, mengingat saya pun bukan penggemar gila bola. Hingga tibalah di satu pernyataan dari salah satu orang tersebut,

“Memang ngga ada betulnya Indonesia ini. Sepak bola aja ngga bisa menang lawan Malaysia. Bisanya cuma ekspor TKI. Aku malu mengaku sebagai orang Indonesia,”

Kemudian percakapan mereka pun berlanjut kembali. Dan lagi – lagi terdengar pernyataan “Itulah Indonesia. Apa yang bisa kau harapkan. Kalo bisa, aku pun mau pindah warga negara saja,”

Pernyataan yang benar – benar bikin kuping saya panas. Ingin sekali rasanya saya berteriak lantang dan berkata, “Jika begitu menjijikkannya menjadi orang Indonesia, silahkan sekarang Anda pindah warga negara saja? Saya mau lihat, negara mana yang mau menerima Anda sebagai warganya,”

Tetapi, saya masih terlalu takut untuk bersuara. Karena kedua orang tersebut tidak berbicara pada saya. Bisa – bisa saya dianggap orang yang suka ikut campur atau sudah setengah sinting. Bukannya bicara, saya malah menumpahkan unek – unek ke dalam tulisan ngalor ngidul ini.

Indonesia memang bukan negara super power. Bukan pula negara adi kuasa. Indonesia hanyalah sebuah bangsa yang tengah berkembang dan berusaha untuk menjadi lebih baik. Bukan hal mudah untuk dilakukan, mengingat masih banyak dari pemimpin – pemimpin kita yang melakukan hal – hal yang memalukan. Dan saya tidak segan – segan akan mengatakan,

“Saya malu dengan keadaan negara saya. Indonesia masih termasuk dengan negara tingkat korupsi paling tinggi,”

“Saya malu dengan perlakuan beberapa petugas di bandara, saat menyambut atau melepas para TKW dari atau luar negeri. Tolong, perlakukan mereka sepantasnya. Mereka juga penghasil devisa,”

“Saya malu mendengar berita dihukum matinya TKW  Ruyati asal Indonesia di Saudi Arabia, dan perwakilan Indonesia yang ada di sana tidak tahu kalau perempuan malang tersebut sudah terpancung,”

Begitupun, saya tetap akan menegakkan kepala dan berkata ,”Saya Orang Indonesia,” setiap kali orang menanyakan tentang asal usul saya.  Meskipun tak jarang, saya mendapatkan perlakuan tak mengenakkan disebabkan passport ‘Hijau’ tercinta saya.

Saya masih ingat benar dengan kunjungan pertama saya ke negara tetangga, Malaysia. Seorang Warga Negara Malaysia keturunan Tionghoa berbicara dalam bahasa Inggris kepada saya. Dan diakhir pembicaraan, dia terperangah ketika mengetahui bahwa saya adalah orang Indonesia, dan berkata,

“Oh. You’re Indonesian. But, you speak English fluently. I thought you’re from Philippines before.  Did you study abroad?”

Saya hanya tersenyum dan menjawab, “I studied in Indonesia, and this is my first visit abroad. And I’m not the only one. There are thousands Indonesian that never went abroad for school, but they speak English very well,”

Saat saya berada di Mesir, lain pula kejadiannya. Tanpa alasan yang jelas, saya tertahan di imigrasi, begitu si petugas tahu saya orang Indonesia, serta berpergian seorang diri. Dia mulai membombardir saya dengan pertanyaan – pertanyaan ngga penting. Mulai dari jumlah uang yang saya bawa, tujuan saya ke Mesir, dimana saya akan tinggal selama saya di Mesir, apakah saya mengenal seseorang di Mesir, apa pekerjaan teman saya yang tengah berada di Mesir. Di akhir interogasi, dia meminta semua surat tanda pengenal saya (KTP juga diminta Boooooo…). Akhirnya, dia bungkam setelah saya tunjukkan ‘kartu sakti’ saya.

Di Dubai, lagi – lagi terjadi kejadian tidak mengenakkan. Saat itu saya tengah melakukan transit dan akan melanjutkan perjalanan ke Johannesburg. Ketika boarding, seorang petugas maskapai penerbangan mengecek passport saya. Untuk memasuki Republic of South Africa (RSA), setiap Warga Negara Indonesia memang diharuskan untuk memiliki visa. Sebagai WNI, kita tidak bisa menggunakan visa on arrival. Namun, dikarenakan ada persetujuan antara organisasi tempat saya bekerja dan pemerintah RSA, maka saya dibebaskan sama sekali dari Visa.

Si petugas tak percaya, meskipun dia sudah melihat beberapa stamp RSA terpampang jelas di passport saya. Saya yakin seyakin – yakinnya (maafkan jika saya salah, dan tolong katakan jika saya salah). Jika saya berkulit ‘terang’ saya tidak akan mendapat perlakuan seperti ini. Si petugas kampret ini sibuk nanya sana sini, nelepon sana sini untuk membuktikan adanya perjanjian antara United Nations dan Pemerintah RSA hingga salah satu temannya datang dan mengatakan, “All UN Staffs can enter RSA without Visa,” Pada akhirnya, si Kampret ini terbungkuk – bungkuk meminta maaf kepada saya.

Dan masih banyak insiden – insiden tak mengenakkan lainnya yang saya alami. Begitupun, tidak membuat saya malu untuk berkata, “Saya Orang Indonesia”

Saya selalu akan meralat, jika ada yang merasa yakin hanya dengan melihat wajah Asia saya dan berkata, “Wajah kamu Asia sekali. Apakah kamu orang Malaysia?”

Saya selalu menjawab dengan sopan, “Jawaban Anda hampir benar. Namun, saya adalah orang Indonesia”

Dan saya bangga sekali. Saat itu saya tengah berada di bandara Jomo Kenyatta untuk penerbangan ke Zanzibar. Seorang pria Inggris mendatangi saya dan berkata,

“Hi. Are you Indonesian? You have beautiful country. Next month, I’ll go there for diving in Bunaken,”

Saya memang malu dengan beberapa kondisi di Indonesia. Dan malu dengan kelakuan beberapa pejabat yang tak bertanggung jawab. Namun, saya tetap bangga untuk memngatakan bahwa Saya adalah Anak Indonesia. Dan masih banyak yang bisa dibanggakan dari Indonesia itu sendiri.

Saya memang malu dengan para aparat pemerintah yang suka korupsi di sana sini. Namun, bukan berarti tak ada aparat yang bersih. Saya masih ingat, ketika saya harus melakukan sebuah perjalanan penting yang diakomodir oleh sebuah kantor kementrian di Indonesia. Kementrian yang mungkin dianggap paling banyak melakukan tindakan korupsi. Namun, saya dibantu sepenuh hati oleh seorang petugas, tanpa mengharapkan balasan apapun dari saya. Tanpa mengharapkan uang sepeser pun dari saya. Beliau orang jujur, dan Beliau adalah Putera Indonesia.

Saya bangga dengan teman – teman saya yang mau bekerja di organisasi kemanusiaan, baik di Congo maupun di belahan dunia lainnya.  Tak peduli apapun posisi kita, at least, we do something.

Saya bangga dengan teman – teman saya yang berhasil mendapatkan beasiswa dan menduduki bangku – bangku universitas terkemuka di dunia. Dan mereka, Putera Indonesia.

Saya bangga dengan keindahan alam Indonesia. Dengan 17 ribu pulaunya. Dengan keindahan pantainya yang tak tertandingi. Tak terhitung, berapa banyaknya teman – teman saya berkata, “Your country is like heaven. You have soooo many beautiful beaches,”

Saya bangga dengan Kontingen Garuda di Dungu, DR Congo. Mereka mendapatkan penghargaan karena berhasil membangun sebuah jalan, dimana tak satupun kontingen bersedia melakukannya dikarenakan beratnya medan. Mereka anak Indonesia.

Saya bangga dengan Pramoedya Ananta Toer, penulis favorit saya yang mendapatkan nominiasi nobel sastra untuk buku – bukunya. Penulis Indonesia.

Bahkan, untuk alasan positif, saya bangga dengan pencipta virus ‘BRONTOK’ yang bikin para IT di kantor pusing tujuh keliling. Meskipun untuk urusan si virus Brontok, biasanya saat para IT tengah mengoceh tentang virus – virus ini, saya berpura – pura bisu, menghindari datangnya tuduhan bahwa sayalah yang telah menyebarkan virus tersebut. Saya bangga saat salah seorang staff IT mendatangi saya. Dia meminta saya untuk menerjemahkan beberapa perintah yang tertulis dalam bahasa Indonesia untuk menginstal anti virus Smadav yang diciptakan oleh putera Indonesia.

Saya bangga dengan TKW dan TKI yang rela meninggalkan keluarga tercinta demi mencari nafkah hingga ke ujung dunia. Menjadi TKW / TKI berjuta kali lebih baik dari pada menjadi seorang koruptor.

Dan mereka semua adalah ANAK INDONESIA.

Indonesia. Engkau memang tidak sempurna. Tidak pula gemerlap bagai emas. Dan tidak berkilau seperti mutiara. Namun, bukan berarti Engkau tidak punya apa – apa untuk dibanggakan.

Seorang teman saya berkebangsaan Australia, sangat fasih berbahasa Indonesia. Menurut pengakuannya, dia telah jatuh cinta pada Indonesia sejak berada di bangku SMP ketika mengambil pelajaran tentang kebudayaan Indonesia sebagai mata pelajaran tambahan. Sejak saat itu, dia mempelajari segala sesuatu tentang Indonesia. Baik kebudayaan maupun makanannya.

Seorang teman baik saya, berkebangsaan Spanyol juga mengaku sangat menyukai Indonesia, karena pernah tinggal di Indonesia. Di satu perbincangan, dia sempat berkata pada saya,

“Aku akan senang sekali jika bisa mendapatkan pekerjaan jangka panjang di Indonesia. Aku akan punya anak yang akan lahir di Indonesia, dan anakku akan jadi anak Indonesia”

Temanku ini agak kecewa saat kukatakan agak sedikit sulit baginya untuk memiliki seorang anak Indonesia mengingat dia dan istrinya bukan warga negera Indonesia.

Sesuatu yang sangat menggugah. Jika orang asing saja bisa begitu mencintai Indonesia, mengapa masih ada orang yang malu untuk mengakui bahwa dia adalah bagian dari bangsa Indonesia. Jadi, jika masih ada yang akan bertanya kepada saya,

“Where are you from?”

“What’s your nationality?”

“Quelle est votre nationalite?”

Saya akan menjawab dengan bangga,

“Saya dari Indonesia. Saya orang Indonesia. Dan akan selalu bangga untuk menjadi Orang Indonesia”

Bagaimana dengan Anda?


Actions

Information

5 responses

19 12 2011
Natalie Ranukete

Mereka juga mengkhawatirkan keamanan Karim ketika jauh dari anggota anggota PM.

6 01 2012
nina

Kemudian percakapan mereka pun berlanjut kembali. Dan lagi – lagi terdengar pernyataan “Itulah Indonesia. Apa yang bisa kau harapkan. Kalo bisa, aku pun mau pindah warga negara saja,”
===========================================================
orang-orang itu emang ga pantes hidup di Indonesia, jelas-jelas orang udik yang sok tahu tentang Indonesia, aslinya mereka tuh katak dalam tempurung,,,
http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/12/09/hidup-di-luar-negeri-tidak-seindah-hidup-di-negeri-sendiri-baca-indonesia/

6 01 2012
Nurul Fitri Lubis

Hi Mbak Nina…
Trims sudah mampir ke Blog saya..
Itulah Mbak Nin… Yang ironisnya, orang2 yang berkomentar seperti itu terkadang (mungkin kebanyakan), malah belum pernah mengecap dan merasakan bagaimana tinggal di luar negeri. Baru jalan2 ke negeri tetangga saja, sudah arogan nya minta ampun….

18 01 2012
dini sinulingga

membaca tulisan Nurul yang satu ini, meski sudah berulang2 kali, tetap saja saya suka banget, selalu ada rasa “merinding”, “bergejolak” & “terharu” setiap kali saya membaca yg satu ini…just one words “Whatever People Thought About…I’M Proud to be Indonesian!!!”

18 01 2012
Nurul Fitri Lubis

Halo Mbak Dini…. Trims sudah mampir ke blog saya…
Iya, Mbak Dini….. Saya pun, bangga jadi anak Indonesia… hehehhee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.