<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>An Ongoing Journey</title>
	<atom:link href="http://nurulfitrilubis.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nurulfitrilubis.wordpress.com</link>
	<description>When Writing Becomes A Need</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Jan 2012 08:18:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='nurulfitrilubis.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>An Ongoing Journey</title>
		<link>http://nurulfitrilubis.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://nurulfitrilubis.wordpress.com/osd.xml" title="An Ongoing Journey" />
	<atom:link rel='hub' href='http://nurulfitrilubis.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Being Single and Happy? WHY NOT?</title>
		<link>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/12/05/being-single-and-happy-why-not/</link>
		<comments>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/12/05/being-single-and-happy-why-not/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 21:15:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nurul Fitri Lubis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Journals]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurulfitrilubis.wordpress.com/?p=977</guid>
		<description><![CDATA[Di satu perjalanan menuju satu tempat, bertemulah saya dengan seorang ibu. Di pertemuan tersebut, sang Ibu menanyakan nama saya, umur saya, pekerjaan, dan pertanyaan tetek bengek lainnya. Pertanyaan yang menurut saya tak perlu ditanyakan di pertemuan pertama dengan seseorang yang tak pernah Anda temui sebelumnya. Biasanya jika saya digerecokin dengan pertanyaan – pertanyaan seperti ini, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurulfitrilubis.wordpress.com&amp;blog=7367937&amp;post=977&amp;subd=nurulfitrilubis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/12/single-copy.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-979" title="SINGLE copy" src="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/12/single-copy.jpg?w=300&#038;h=150" alt="" width="300" height="150" /></a>Di satu perjalanan menuju satu tempat, bertemulah saya dengan seorang ibu. Di pertemuan tersebut, sang Ibu menanyakan nama saya, umur saya, pekerjaan, dan pertanyaan tetek bengek lainnya. Pertanyaan yang menurut saya tak perlu ditanyakan di pertemuan pertama dengan seseorang yang tak pernah Anda temui sebelumnya.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Biasanya jika saya digerecokin dengan pertanyaan – pertanyaan seperti ini, pada satu titik, saya pada akhirnya akan menjawab, “<em>Sorry. It’s privacy. I can’t answer your question</em>,”. Namun, berhubung saya di Indonesia, dan saya masih menghormati adat – adat ketimuran, yang selalu menekankan untuk selalu sopan dan menghormati orang yang lebih tua (penekanan yang terkadang selalu membuat saya bertanya – tanya, “Bagaimana kalau si orang tua ini kurang ajar? Apakah saya hanya diam saja?”).  Akhirnya saya hanya menjawab pertanyaan – pertanyaan tersebut dengan sesingkat mungkin (sambil berusaha untuk tetap menahan mulut saya, yang saya yakin benar. Sekali mulut itu terbuka untuk memprotes, maka akan sangat sulit untuk menghentikannya) ditambah sesekali mencoba untuk tetap tersenyum.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hingga tibalah, di pertanyaan – pertanyaan yang membuat lidah saya tak tahan untuk tidak menjawab.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibu tua:  Jadi, Kamu ke sini sama siapa?</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong></strong><strong>Saya: Sendiri, Bu.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibu Tua: Ihh. Berani amat. Ngga takut hilang, atau nyasar kamu?</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya : Insya Allah, dijaga sama Allah Bu (sudah mulai bosan dan berusaha untuk kabur dari si Ibu ini</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong></strong><strong>Ibu tua : Memangnya, kemana orang tua kamu? Ngga ikut sama kamu?</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya: Ngga, Bu.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibu tua: Terus, suami kamu mana?</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya: Saya belum menikah</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibu  tua: Memang tidak pernah menikah atau sudah pernah ditinggalin?</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya: Belum pernah menikah (dengan suara mulai tinggi sambil mikir, “emang gue punya tampang kayak janda baru ditinggal mati atau baru dicerai?&#8221;)</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibu tua : Kenapa tidak menikah? Tidak mau menikah ya? Atau kebanyakan pilih – pilih?</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya: Belum dipertemukan Allah dengan Jodoh saya.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Satu orang bapak ikutan ngomong,</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Makanya. Kamu kurusan dikit. Biar makin cantik, dan jodohnya cepat datang,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Akhirnya, mulut lancip saya tak bisa menahan diri,</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Sebagai orang yang katanya sangat TAAT kepada Allah, seharusnya kita semua sangat memahami satu hal. Langkah, Rezeki, Pertemuan dan Maut adalah rahasia Allah SWT. Anyway, Pernikahan tidak ada hubungan antara gendut dan kurus. Dan menurut saya, jika saya harus kurus karena saya ingin menikah, itu KONYOL sekali. Karena menurut saya, saat ini saya sudah sangat SEXY dan CANTIK. Dan saya yakin, jodoh saya akan datang, pada tempat dan waktu yang tepat,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Astaghfirullah Aladzim. Ya Allah, maafkan saya karena sudah bersikap sangat “terus terang” kepada dua orang tua ini.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya yakin, apa yang saya alami juga dialami oleh teman – teman lain, khususnya wanita  yang masih men jomblo. Kemanapun kaki ini melangkah, saya selalu digerecokin pertanyaan – pertanyaan serupa oleh orang – orang yang katanya sangat ‘perhatian’. Memberikan pandangan penuh belas kasihan karena dengan umur yang sudah kepala tiga namun belum juga menyandang satu status. MENIKAH.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sebenarnya apa tujuan pernikahan?</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Punya pendamping hidup? Atau</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ingin punya anak? Atau</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Merubah status, karena takut dianggap pilih – pilih atau ngga laku – laku? Atau</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bahagia?</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya memilih yang terakhir. Menikah untuk satu alasan. BAHAGIA.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Cepat – cepatlah kamu menikah. Agar ada yang mendampingi dan menjaga kamu,” nasihat seorang kerabat.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tentu saja saya ingin menikah. Namun bukan hanya untuk mencari orang yang bisa menjaga saya. Saya adalah wanita dewasa, yang bisa menjaga diri saya sendiri. Dan saya punya penjaga yang paling baik dan bisa diandalkan seantero jagat raya. TUHAN. Itulah penjaga saya. Jika tujuan saya menikah hanya untuk mencari penjaga, mengapa saya tak menyewa<em> body guard</em> saja?</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ingin punya anak?</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Memiliki anak tentulah memberi kebahagiaan tersendiri. Tidak bisa dipungkiri, makhluk – makhluk kecil tak berdosa itu selalu memberikan kebahagiaan dan rasa sayang bagi siapa pun yang melihatnya. Saya masih ingat pernyataan satu teman saya,</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Cepatlah menikah. Sekarang umur kamu sudah hampir 30 tahun. Kapan lagi kamu mau punya anak?”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Satu lagi pernyataan yang membuat saya bingung. Punya anak memang harapan bagi hampir semua orang, termasuk saya sendiri. Namun, memiliki anak bukanlah satu tujuan akhir. Bagaimana seseorang bisa begitu yakin dia akan bisa langsung memiliki anak begitu dia menikah? Tak terhitung berapa jumlah pasangan yang menikah di usia muda namun masih belum dikaruniai Anak. Anak itu titipan Tuhan. Dia tahu kepada siapa dan kapan akan menitipkan anak tersebut. Tak peduli sekeras apapun usaha seseorang untuk memiliki anak, jika Tuhan belum berkehendak, maka hal itu tidak akan pernah terjadi. So, just leave it to God.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sahabat saya sudah menikah selama 4 tahun. Namun, hingga saat ini belum dikaruniai anak. Padahal dia menikah dalam usia muda dan cukup subur untuk memiliki keturunan. Tak ada yang salah pada dirinya dan suaminya. Namun, tampaknya Tuhan belum mau menitipkan anak untuk mereka. Jika tujuan mereka menikah hanyalah untuk mendapatkan anak, bukan tak mungkin mereka akan berpisah jika sudah mencapai titik jenuh. Saya bersyukur. Sahabat saya menikah karena dia mencintai pria yang menjadi suaminya. Bukan target untuk mendapatkan anak.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sahabat saya yang lain, menikah dengan usia cukup lanjut. Hampir mendekati usia 40 tahun. Sempat dia khawatir untuk masalah keturunan. Namun, Tuhan berkehendak lain. Dia hamil dan melahirkan seorang anak sehat secara normal. Dan saat ini tengah hamil untuk anak kedua. Semoga kehamilannya sehat selalu.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jadi, siapa yang bisa menjamin menikah cepat berarti bisa cepat punya anak?</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Merubah status, karena takut dianggap pilih – pilih dan tidak laku?</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Wahai para wanita lajang. Wajar jika kita ingin memilih. Membeli barang sekalipun, kita perlu memilih agar tidak salah beli. Apalagi untuk pasangan hidup. Tentu kita harus memilih.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kita bukan tidak laku, namun kita selektif. Menjadi jomblo bukan berarti saya harus menerima siapapun yang disodorkan ke depan hidung saya. Atau menanggapi bujuk rayu tentara India yang jelas – jelas sudah menikah itu. Atau memaksakan diri untuk berkencan dengan pria Prancis yang bahasa Inggrisnya payah itu. Hanya untuk menghapus status jomblo dari diri saya.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya masih ingat dengan kejadian yang menimpa satu orang kolega saya. Beliau pernah mengatakan, dia seperti tidak mengenal suaminya. Dalam hati saya sempat berkata, “Astaga. Pacaran begitu lama, dan pada akhirnya menikah. Apa saja yang dilakukan selama berpacaran hingga kalian tidak saling mengenal?”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Lambat laun si kolega mengaku, sejak dulu sebenarnya dia tak terlalu mencintai suaminya. Alasan untuk tetap berpacaran hanya karena tak tahan sendirian. Dan alasan ‘mengejar target karena umur’ membuat keduanya menikah. Keputusan yang pada akhirnya sangat disesalinya ketika keduanya memutuskan untuk bercerai.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya tidak bermaksud sinis untuk sebuah kata, si ‘pernikahan’ ini. Dan saya tidak pula memutuskan untuk terus menjomblo seumur hidup saya. Saya hanya tidak mau terlalu ambil pusing dan memaksakan diri untuk urusan ini karena Kebahagiaanlah yang saya kejar dan yang selalu saya pintakan di sela doa – doa saya kepada Tuhan.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya sangat bahagia dengan hidup saya saat ini. Saya punya keluarga yang mencintai saya. Saya punya pekerjaan. Biarpun bukan pekerjaan tetap dan selalu bikin saya deg – degan di saat kontrak berakhir, namun saya sangat mencintai pekerjaan saya. Saya bisa melihat dunia tanpa ada ikatan dan pelarangan di sana sini. Saya memiliki teman – teman, yang di sela – sela kesibukan mereka selalu bersedia mendengar keluh kesah saya. Saya berhasil meraih mimpi – mimpi saya, meskipun belum semua mimpi. Mimpi yang juga mungkin milik sebagian orang. Saya ingat satu perkataan teman saya saat saya mengabarkan keberangkatan saya ke Congo, “<em>Sis. I’m jealous. You stole my dream. But, I’m so proud of you</em>,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Apalagi yang bisa saya keluhkan? Menangisi diri hanya karena saya belum menikah? Tidak.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sahabat saya Josephine, yang berumur 39 tahun, hingga saat ini belum menikah. Dia selalu berkata, “Aku tak peduli apa kata orang tentang statusku. Aku hanya tak mau asal menikah dengan orang yang tak kucintai. Dan aku yakin, aku akan menemukannya suatu saat nanti. Dan aku akan menikah, tak peduli setua apa pun umurku,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Seorang kolega di kantor, sebutlah namanya Veronica, berumur 42 tahun. Beliau ini seorang <em>Chief</em> dari sebuah departemen di organisasi tempatku bekerja. Jabatan yang sangat wah. Cantik sekali, ramah, baik, selalu ceria dan belum menikah. Dilihat secara kasat mata, tentu kita heran mengapa tak ada lelaki pendamping hidupnya. Di satu perbincangan kami, dia berkata, “Nurul, jangan pernah merasa malang hanya karena kita belum menikah. Aku memang ingin menikah. Namun, jika menurut Tuhan belum saatnya untuk menikah, aku menerima saja. Bukan berarti aku harus menangisi diri,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Seorang sahabat yang lain, Vita, menikah di usia 38 tahun. Dia sangat mencintai suaminya, dan selalu bersyukur. Dia selalu berkata, “Aku tak pernah menyesal menikah terlambat. Aku mendapatkan Kev, pria paling sempurna yang pernah kutemui. Menunggu bertahun – tahun rasanya sepadan dengan kebahagiaan yang kudapatkan saat ini. Bayangkan jika aku tak putus dan jadi menikah dengan si Anu, mantan pacar yang sebenarnya tak terlalu kucintai. Mungkin, aku sudah punya status baru hari ini. Janda.”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Well, Saya tidak menikah dengan pria karena ketampanan wajahnya. Karena kekayaannya. Karena kemapanannya dan segala asetnya.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya ingin menikah dengan lelaki yang saya cintai. Yang bisa menerima kekurangan saya. Yang mengakui kelebihan saya. Yang bisa saya ajak untuk berdebat, bertengkar dan berdiskusi untuk masalah – masalah yang ada di dunia ini. Yang mengerti dengan ide – ide gila di kepala saya. Yang bisa mengingatkan saya jika saya salah. Dan selalu menerima jika saya memberikan kritikan atas kesalahan yang dilakukannya. Seorang yang bisa mengambil keputusan, namun tetap mempertimbangkan saran – saran saya. Yang menganggap saya adalah seorang istri, yang bisa dijadikan sahabat untuk berbagi. Bukan hanya seorang ‘<em>mannequin</em>’ untuk dipertontonkan kepada orang banyak.  </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya memang ingin menikah. Namun, bukan berarti karena saya belum menikah, maka dunia serasa hancur. Dunia tidak kiamat hanya karena saya belum menikah. Untuk urusan ini, saya akan menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bukannya saya tak berusaha. Saya tidak mengurung diri di dalam rumah. Saya berusaha aktif untuk bergaul dan bersosialisasi. Saya menghadiri pesta – pesta dengan harapan akan dipertemukan dengan Mr. Right saat berada disana. Saya bergabung di klub olah raga untuk menambah kolega dan kenalan. Bahkan, saya mengikuti saran teman saya yang sudah berhasil mendapatkan jodoh melalui dunia maya. Namun, memang belum saatnya bagi saya untuk merubah status <em>Single</em> menjadi <em>Married</em>.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Namun saya tidak kecewa. Saya yakin, memang belum saatnya. Saat ini, mungkin sudah digariskan bagi saya untuk menikmati saat – saat menjadi single. Membagi kebahagiaan saya dengan keluarga saya. Menikmati kebahagiaan saya untuk mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Melihat sisi – sisi dunia lain beserta keunikan orang – orangnya. Jika saya memang belum berjodoh, saya juga sudah punya rencana – rencana dalam kepala saya untuk membuat hidup saya lebih berarti daripada menangisi sang jodoh yang tak kunjung datang.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Begitupun, saya yakin, saatnya akan tiba, <em>soon</em> or <em>later</em>. Tuhan akan mempertemukan saya dengan Mr. Right. <em>At the Right Place and at the Right Time</em>. Sambil menunggu saat itu tiba, saya akan menikmati hidup saya. Being Single and Happy.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurulfitrilubis.wordpress.com/977/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurulfitrilubis.wordpress.com/977/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurulfitrilubis.wordpress.com/977/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurulfitrilubis.wordpress.com/977/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurulfitrilubis.wordpress.com/977/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurulfitrilubis.wordpress.com/977/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurulfitrilubis.wordpress.com/977/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurulfitrilubis.wordpress.com/977/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurulfitrilubis.wordpress.com/977/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurulfitrilubis.wordpress.com/977/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurulfitrilubis.wordpress.com/977/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurulfitrilubis.wordpress.com/977/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurulfitrilubis.wordpress.com/977/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurulfitrilubis.wordpress.com/977/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurulfitrilubis.wordpress.com&amp;blog=7367937&amp;post=977&amp;subd=nurulfitrilubis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/12/05/being-single-and-happy-why-not/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f70f3c5fe09a49af430aa6466cfcd329?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nurulfitrilubis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/12/single-copy.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">SINGLE copy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saya Anak Indonesia</title>
		<link>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/11/26/saya-anak-indonesia/</link>
		<comments>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/11/26/saya-anak-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 16:40:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nurul Fitri Lubis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Journals]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurulfitrilubis.wordpress.com/?p=951</guid>
		<description><![CDATA[Di suatu siang, saat saya sedang menghabiskan waktu dengan menyeruput coklat panas di  sebuah coffe shop (saya bukan penggemar kopi), terdengarlah satu percakapan dari meja sebelah. Ada dua orang pemuda yang sibuk membahas hasil akhir pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Malaysia di Sea Games yang lalu. Yah, Indonesia kalah, lagi, seperti biasa.  Dua orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurulfitrilubis.wordpress.com&amp;blog=7367937&amp;post=951&amp;subd=nurulfitrilubis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/11/indonesia.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-952" title="indonesia" src="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/11/indonesia.jpg?w=510" alt=""   /></a>Di suatu siang, saat saya sedang menghabiskan waktu dengan menyeruput coklat panas di  sebuah coffe shop (saya bukan penggemar kopi), terdengarlah satu percakapan dari meja sebelah. Ada dua orang pemuda yang sibuk membahas hasil akhir pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Malaysia di Sea Games yang lalu. Yah, Indonesia kalah, lagi, seperti biasa.  Dua orang ini sibuk mengkritik cara bermain para pemain, hingga wasit yang katanya selalu mengatakan ‘Off Side’. Awalnya, saya tak terlalu ambil peduli dengan pembicaraan mereka, mengingat saya pun bukan penggemar gila bola. Hingga tibalah di satu pernyataan dari salah satu orang tersebut,</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Memang ngga ada betulnya Indonesia ini. Sepak bola aja ngga bisa menang lawan Malaysia. Bisanya cuma ekspor TKI. Aku malu mengaku sebagai orang Indonesia,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kemudian percakapan mereka pun berlanjut kembali. Dan lagi – lagi terdengar pernyataan “Itulah Indonesia. Apa yang bisa kau harapkan. Kalo bisa, aku pun mau pindah warga negara saja,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pernyataan yang benar – benar bikin kuping saya panas. Ingin sekali rasanya saya berteriak lantang dan berkata, “Jika begitu menjijikkannya menjadi orang Indonesia, silahkan sekarang Anda pindah warga negara saja? Saya mau lihat, negara mana yang mau menerima Anda sebagai warganya,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Tetapi, saya masih terlalu takut untuk bersuara. Karena kedua orang tersebut tidak berbicara pada saya. Bisa – bisa saya dianggap orang yang suka ikut campur atau sudah setengah sinting. Bukannya bicara, saya malah menumpahkan unek – unek ke dalam tulisan ngalor ngidul ini.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Indonesia memang bukan negara super power. Bukan pula negara adi kuasa. Indonesia hanyalah sebuah bangsa yang tengah berkembang dan berusaha untuk menjadi lebih baik. Bukan hal mudah untuk dilakukan, mengingat masih banyak dari pemimpin – pemimpin kita yang melakukan hal – hal yang memalukan. Dan saya tidak segan – segan akan mengatakan,</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Saya malu dengan keadaan negara saya. Indonesia masih termasuk dengan negara tingkat korupsi paling tinggi,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Saya malu dengan perlakuan beberapa petugas di bandara, saat menyambut atau melepas para TKW dari atau luar negeri. Tolong, perlakukan mereka sepantasnya. Mereka juga penghasil devisa,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Saya malu mendengar berita dihukum matinya TKW  Ruyati asal Indonesia di Saudi Arabia, dan perwakilan Indonesia yang ada di sana tidak tahu kalau perempuan malang tersebut sudah terpancung,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Begitupun, saya tetap akan menegakkan kepala dan berkata ,”Saya Orang Indonesia,” setiap kali orang menanyakan tentang asal usul saya.  Meskipun tak jarang, saya mendapatkan perlakuan tak mengenakkan disebabkan passport ‘Hijau’ tercinta saya.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya masih ingat benar dengan kunjungan pertama saya ke negara tetangga, Malaysia. Seorang Warga Negara Malaysia keturunan Tionghoa berbicara dalam bahasa Inggris kepada saya. Dan diakhir pembicaraan, dia terperangah ketika mengetahui bahwa saya adalah orang Indonesia, dan berkata,</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Oh. You’re Indonesian. But, you speak English fluently. I thought you’re from Philippines before.  Did you study abroad?”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya hanya tersenyum dan menjawab, “I studied in Indonesia, and this is my first visit abroad. And I’m not the only one. There are thousands Indonesian that never went abroad for school, but they speak English very well,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saat saya berada di Mesir, lain pula kejadiannya. Tanpa alasan yang jelas, saya tertahan di imigrasi, begitu si petugas tahu saya orang Indonesia, serta berpergian seorang diri. Dia mulai membombardir saya dengan pertanyaan – pertanyaan ngga penting. Mulai dari jumlah uang yang saya bawa, tujuan saya ke Mesir, dimana saya akan tinggal selama saya di Mesir, apakah saya mengenal seseorang di Mesir, apa pekerjaan teman saya yang tengah berada di Mesir. Di akhir interogasi, dia meminta semua surat tanda pengenal saya (KTP juga diminta Boooooo…). Akhirnya, dia bungkam setelah saya tunjukkan ‘kartu sakti’ saya.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Di Dubai, lagi – lagi terjadi kejadian tidak mengenakkan. Saat itu saya tengah melakukan transit dan akan melanjutkan perjalanan ke Johannesburg. Ketika <em>boarding</em>, seorang petugas maskapai penerbangan mengecek passport saya. Untuk memasuki Republic of South Africa (RSA), setiap Warga Negara Indonesia memang diharuskan untuk memiliki visa. Sebagai WNI, kita tidak bisa menggunakan visa on arrival. Namun, dikarenakan ada persetujuan antara organisasi tempat saya bekerja dan pemerintah RSA, maka saya dibebaskan sama sekali dari Visa.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Si petugas tak percaya, meskipun dia sudah melihat beberapa <em>stamp</em> RSA terpampang jelas di passport saya. Saya yakin seyakin – yakinnya (maafkan jika saya salah, dan tolong katakan jika saya salah). Jika saya berkulit ‘terang’ saya tidak akan mendapat perlakuan seperti ini. Si petugas kampret ini sibuk nanya sana sini, nelepon sana sini untuk membuktikan adanya perjanjian antara United Nations dan Pemerintah RSA hingga salah satu temannya datang dan mengatakan, “All UN Staffs can enter RSA without Visa,” Pada akhirnya, si Kampret ini terbungkuk – bungkuk meminta maaf kepada saya.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dan masih banyak insiden – insiden tak mengenakkan lainnya yang saya alami. Begitupun, tidak membuat saya malu untuk berkata, “Saya Orang Indonesia”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya selalu akan meralat, jika ada yang merasa yakin hanya dengan melihat wajah Asia saya dan berkata, “Wajah kamu Asia sekali. Apakah kamu orang Malaysia?”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya selalu menjawab dengan sopan, “Jawaban Anda hampir benar. Namun, saya adalah orang Indonesia”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dan saya bangga sekali. Saat itu saya tengah berada di bandara Jomo Kenyatta untuk penerbangan ke Zanzibar. Seorang pria Inggris mendatangi saya dan berkata,</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Hi. Are you Indonesian? You have beautiful country. Next month, I’ll go there for diving in Bunaken,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya memang malu dengan beberapa kondisi di Indonesia. Dan malu dengan kelakuan beberapa pejabat yang tak bertanggung jawab. Namun, saya tetap bangga untuk memngatakan bahwa Saya adalah Anak Indonesia. Dan masih banyak yang bisa dibanggakan dari Indonesia itu sendiri.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya memang malu dengan para aparat pemerintah yang suka korupsi di sana sini. Namun, bukan berarti tak ada aparat yang bersih. Saya masih ingat, ketika saya harus melakukan sebuah perjalanan penting yang diakomodir oleh sebuah kantor kementrian di Indonesia. Kementrian yang mungkin dianggap paling banyak melakukan tindakan korupsi. Namun, saya dibantu sepenuh hati oleh seorang petugas, tanpa mengharapkan balasan apapun dari saya. Tanpa mengharapkan uang sepeser pun dari saya. Beliau orang jujur, dan Beliau adalah Putera Indonesia.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya bangga dengan teman &#8211; teman saya yang mau bekerja di organisasi kemanusiaan, baik di Congo maupun di belahan dunia lainnya.  Tak peduli apapun posisi kita, at least, we do something.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya bangga dengan teman – teman saya yang berhasil mendapatkan beasiswa dan menduduki bangku – bangku universitas terkemuka di dunia. Dan mereka, Putera Indonesia.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya bangga dengan keindahan alam Indonesia. Dengan 17 ribu pulaunya. Dengan keindahan pantainya yang tak tertandingi. Tak terhitung, berapa banyaknya teman – teman saya berkata, “Your country is like heaven. You have soooo many beautiful beaches,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya bangga dengan Kontingen Garuda di Dungu, DR Congo. Mereka mendapatkan penghargaan karena berhasil membangun sebuah jalan, dimana tak satupun kontingen bersedia melakukannya dikarenakan beratnya medan. Mereka anak Indonesia.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya bangga dengan Pramoedya Ananta Toer, penulis favorit saya yang mendapatkan nominiasi nobel sastra untuk buku – bukunya. Penulis Indonesia.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bahkan, untuk alasan positif, saya bangga dengan pencipta virus ‘BRONTOK’ yang bikin para IT di kantor pusing tujuh keliling. Meskipun untuk urusan si virus Brontok, biasanya saat para IT tengah mengoceh tentang virus – virus ini, saya berpura – pura bisu, menghindari datangnya tuduhan bahwa sayalah yang telah menyebarkan virus tersebut. Saya bangga saat salah seorang staff IT mendatangi saya. Dia meminta saya untuk menerjemahkan beberapa perintah yang tertulis dalam bahasa Indonesia untuk menginstal anti virus Smadav yang diciptakan oleh putera Indonesia.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya bangga dengan TKW dan TKI yang rela meninggalkan keluarga tercinta demi mencari nafkah hingga ke ujung dunia. Menjadi TKW / TKI berjuta kali lebih baik dari pada menjadi seorang koruptor.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dan mereka semua adalah ANAK INDONESIA.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Indonesia. Engkau memang tidak sempurna. Tidak pula gemerlap bagai emas. Dan tidak berkilau seperti mutiara. Namun, bukan berarti Engkau tidak punya apa – apa untuk dibanggakan.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Seorang teman saya berkebangsaan Australia, sangat fasih berbahasa Indonesia. Menurut pengakuannya, dia telah jatuh cinta pada Indonesia sejak berada di bangku SMP ketika mengambil pelajaran tentang kebudayaan Indonesia sebagai mata pelajaran tambahan. Sejak saat itu, dia mempelajari segala sesuatu tentang Indonesia. Baik kebudayaan maupun makanannya.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Seorang teman baik saya, berkebangsaan Spanyol juga mengaku sangat menyukai Indonesia, karena pernah tinggal di Indonesia. Di satu perbincangan, dia sempat berkata pada saya,</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Aku akan senang sekali jika bisa mendapatkan pekerjaan jangka panjang di Indonesia. Aku akan punya anak yang akan lahir di Indonesia, dan anakku akan jadi anak Indonesia”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Temanku ini agak kecewa saat kukatakan agak sedikit sulit baginya untuk memiliki seorang anak Indonesia mengingat dia dan istrinya bukan warga negera Indonesia.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sesuatu yang sangat menggugah. Jika orang asing saja bisa begitu mencintai Indonesia, mengapa masih ada orang yang malu untuk mengakui bahwa dia adalah bagian dari bangsa Indonesia. Jadi, jika masih ada yang akan bertanya kepada saya,</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Where are you from?”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“What’s your nationality?”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Quelle est votre nationalite?”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saya akan menjawab dengan bangga,</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Saya dari Indonesia. Saya orang Indonesia. Dan akan selalu bangga untuk menjadi Orang Indonesia”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bagaimana dengan Anda?</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurulfitrilubis.wordpress.com/951/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurulfitrilubis.wordpress.com/951/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurulfitrilubis.wordpress.com/951/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurulfitrilubis.wordpress.com/951/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurulfitrilubis.wordpress.com/951/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurulfitrilubis.wordpress.com/951/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurulfitrilubis.wordpress.com/951/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurulfitrilubis.wordpress.com/951/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurulfitrilubis.wordpress.com/951/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurulfitrilubis.wordpress.com/951/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurulfitrilubis.wordpress.com/951/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurulfitrilubis.wordpress.com/951/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurulfitrilubis.wordpress.com/951/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurulfitrilubis.wordpress.com/951/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurulfitrilubis.wordpress.com&amp;blog=7367937&amp;post=951&amp;subd=nurulfitrilubis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/11/26/saya-anak-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f70f3c5fe09a49af430aa6466cfcd329?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nurulfitrilubis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/11/indonesia.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">indonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Expatriate Tak Seindah Yang Terlihat</title>
		<link>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/08/27/expatriate-tak-seindah-yang-terlihat/</link>
		<comments>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/08/27/expatriate-tak-seindah-yang-terlihat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Aug 2011 10:45:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nurul Fitri Lubis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Africa]]></category>
		<category><![CDATA[Journals]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurulfitrilubis.wordpress.com/?p=941</guid>
		<description><![CDATA[Tinggal dan bekerja secara professional di luar negeri adalah mimpi banyak orang. Bayangan gaji berlipat, kehidupan berkecukupan serta  pergaulan internasional merupakan tujuan banyak orang untuk meninggalkan negeri tercinta menuju satu kata, Expatriate. Secara kasat mata, kehidupan expatriate ini memang terlihat begitu menggoda. Tinggal di kawasan khusus, dengan harga khusus pula. Berbelanja di  super market khusus, ya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurulfitrilubis.wordpress.com&amp;blog=7367937&amp;post=941&amp;subd=nurulfitrilubis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/08/expatriate.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-942" title="expatriate" src="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/08/expatriate.jpg?w=300&#038;h=270" alt="" width="300" height="270" /></a>Tinggal dan bekerja secara professional di luar negeri adalah mimpi banyak orang. Bayangan gaji berlipat, kehidupan berkecukupan serta  pergaulan internasional merupakan tujuan banyak orang untuk meninggalkan negeri tercinta menuju satu kata, <em>Expatriate</em>. Secara kasat mata, kehidupan <em>expatriate</em> ini memang terlihat begitu menggoda. Tinggal di kawasan khusus, dengan harga khusus pula. Berbelanja di  super market khusus, ya, tentu saja dengan harga khusus pula. Berkumpul di café khusus yang menyediakan menu khusus. Sambil membicarakan sejumlah dollar yang telah dihabiskan untuk liburan musim panas. Betapa terlihat <em>exclusive</em> nya mereka. Dan betapa solidnya mereka,  kelihatannya.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sebelum keberangkatanku ke DR Congo, salah seorang sahabatku menginformasikan sebuah website khusus <em>expatriate</em>. Expat Blog. Di website ini terdapat banyak diskusi yang membahas lika liku kehidupan sebagai <em>expatriate</em>. Masalah bagaimana bersosialisasi di lingkungan yang serba baru, selalu menjadi topik hangat. Sahabatku yang tengah bermukim di Zimbabwe, juga pernah mengaku. Selama di Zimbabwe, dia selalu merasa kesepian karena tidak memiliki teman ‘seiman’. Maksud dari seiman disini adalah memiliki selera yang sama. Sesuatu yang terdengar aneh mengingat sahabatku ini sangat supel dan selalu <em>mingle</em> dengan segala jenis orang. Dua minggu lalu, tanpa sengaja aku menemukan blog seseorang. Sebutlah namanya Mbak Nina, sang pemilik blog. Mbak Nina ini juga seorang <em>expatriate</em>. Dalam sebuah tulisannya, aku membaca keluh kesah dengan kehidupan <em>expatriate</em> nya. Menceritakan betapa sulitnya dia bersosialisasi di lingkungan yang baru.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sebagai seorang <em>expatriate</em>, sosialiasi merupakan tantangan tersendiri. Aku cukup beruntung. Ketika aku tiba di DR Congo, aku menemukan komunitas orang – orang Indonesia. Yang kebetulan bekerja di organisasi yang sama denganku. Jumlah kami tak banyak. Bisa dihitung dengan menggunakan jari tangan. Pada dasarnya mereka baik. Baik sekali malah. Sangat perhatian. Kita bagaikan saudara. Namun, sejalan dengan berjalannya waktu, aku mulai merasa bosan, karena hanya melakukan kegiatan yang itu itu saja. Kebosanan yang tiada tara, yang rasanya terkadang bisa membuatku meledak saking bosannya.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Enam bulan pertama, hidup serasa tak tertahankan. Dengan keadaan yang serba terbatas dan situasi yang juga tak bisa dibilang aman, membuat aku juga hidup dengan penuh keterbatasan. Aku yang terbiasa aktif, kini hanya melakukan aktifitas yang tak bervariasi. Kantor – rumah – kantor dan rumah lagi. Sungguh monoton. Aku tidak bisa kemana – mana. Karena aku tidak tahu akan kemana. Aku tidak bisa melakukan apa yang aku suka. Karena aku tidak tahu bisa melakukan apa. Aku kesepian. Karena aku tidak punya teman.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>OK. Aku punya teman. Namun mereka berbeda dengan teman – temanku sebelumnya. Bersama mereka, selalu dengan kegiatan yang sudah bisa ditebak. Berkumpul di rumah salah seorang teman. Makan malam bersama. Usai makan malam, masing – masing orang akan sibuk dengan dunianya sendiri. Ada yang sibuk ber skype, ada pula yang serius menonton pertandingan liga champions. Tanpa berniat melakukan kegiatan lain yang lebih ‘fun’.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Memang, kondisi negara ini juga tidak memungkinkan  untuk berkeliaran terlalu bebas. Begitupun, bukan tidak mungkin untuk melakukan sesuatu yang ‘fun’. Misalnya, ikut gym, menghadiri pesta. Berenang atau jogging bersama para expatriate lain. Tidak perlu menjadi <em>party girl</em>. Tapi, paling tidak menambah kegiatan untuk bersosialisasi.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bukannya aku tidak pernah mengajak. Namun, jawaban mereka selalu sama. “Lebih senang menghabiskan waktu di rumah”.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Aku mulai merindukan teman – temanku di Indonesia. Teman – teman yang bisa aku ajak ‘gila’. Dan mengerti akan ‘kegilaan’ku. Serta bisa mengimbangi ‘kegilaan’ku. Aku sempat merasa iri ketika melihat status Facebook seorang  teman yang berasal dari Australia. Saat itu, si teman tengah bermukim di Afghanistan. Begini bunyinya, “Just had the amazing time with Indonesian people. Karokean Boo,”. Status yang jelas – jelas membuat aku iri. Karaoke? Di Afghanistan? Penasaran, aku mengiriminya email singkat, menanyakan apakah di Kabul ada tempat untuk ber karaoke seperti Inul Vista. Sang teman menjawab, “Kami karaoke di rumah, Nurul. Tak perlu ke Inul Vista. And it was very fun. You should make it.”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Aku berusaha mengimplementasikan ide ini dengan teman – teman yang lain.  Namun, tak ada satupun yang menanggapi. Aku jadi malah terlihat seperti anak autis. Dikarenakan ketika tengah berkumpul bersama mereka, aku sibuk bersenandung sementara mereka sibuk kembali di dunia maya.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kehidupan seperti ini terus berlangsung selama enam bulan. Aku mulai mencari komunitas lain, yang jelas – jelas sangat SULIT. Perbedaan budaya membuatku sedikit sulit untuk memahami karakter mereka. Aku tak bisa memahami, mengapa seseorang selalu berkata “<em>I’ll call you</em>” Tapi nyatanya mereka tidak pernah menelepon. Atau seseorang yang suka sekali berkata, “<em>We should go out together, sometimes</em>,”. Tapi, hal itu tak pernah terjadi. Atau orang – orang yang suka berkata, “<em>He or she’s my best friend</em>,” yang setiap pertemuan selalu dibarengi dengan peluk dan cium hangat. Namun, ketika aku bertanya, “Kemana si Anu?” Mereka menjawab, “<em>I don’t know. I don’t even know she’s still in this country or not</em>,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Lagi – lagi aku bingung. Jika kamu mengatakan seseorang adalah sahabatmu, setidaknya kamu tahu dia masih hidup atau tidak.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/08/img_0335.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-943" title="IMG_0335" src="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/08/img_0335.jpg?w=300&#038;h=197" alt="" width="300" height="197" /></a></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hingga di suatu pagi. Aku menerima email singkat di Facebook dari seorang yang tak dikenal. Seseorang yang mengaku bernama Leonardo (bukan nama sebenarnya), warga negara Spanyol. Si Leo ini mengaku pernah tinggal di Indonesia dan tengah mencari komunitas Indonesia di Kinshasa. Dan dia menemukanku di Facebook. Biasanya, aku tak akan meladeni email –email dari orang yang tak kukenal. Namun, dikarenakan saat ini aku tak punya banyak teman, dan sangat putus asa untuk menemukan teman,  rasanya tak apa meladeni orang yang tak dikenal. Aku pun membalas emailnya. Keputusan yang benar.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Setelah beberapa kali berinteraksi melalui email, akhirnya aku bertemu langsung dengan Leonardo. Dia pribadi yang sangat menyenangkan. Bukan hanya itu, dia juga ‘fun’. Dan ‘gila’. Hidupku sedikit berubah setelah aku bertemu Leo. Kami tak terlalu sering bertemu, dikarenakan dia tinggal di <em>district</em> yang berbeda. Namun, paling tidak seminggu sekali kami pasti bertemu, meskipun itu hanya untuk sebuah diner singkat. Aku bahagia sekali menemukan Leo. Rasanya seperti menemukan air di tengah padang pasir. Leo pun mulai sering membawaku untuk bersosialisasi. Dia mengenalkanku dengan para <em>expatriate</em> lain. Membawaku ke pesta. Mengajakku camping. Bahkan membuat pesta karaoke untukku. Rasanya saat itu hidupku terasa sempurna. Itu pertama kalinya aku bisa mengirim email untuk sahabat – sahabatku di Indonesia dan menulis, “<em>Guys. I’m happy. Life is getting better</em>,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Namun, hal itu hanya sementara. Setelah selang beberapa waktu, Leo menyelesaikan kontrak kerjanya dan harus segera pergi. Well, aku memang sudah mengenal banyak orang melalui Leo. Namun, kebanyakan dari mereka berasal dari negara yang tidak berbahasa Inggris, seperti Spanyol, Prancis dan Belgia. Bahkan, beberapa dari mereka memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang minim. Jadi, bisa dipastikan, mereka lebih sering menggunakan bahasa Prancis untuk bahasa pergaulan, karena hampir semua dari mereka fasih berbahasa ini. Sementara, kemampuan bahasa Prancisku mendekati nol. Bisa dikatakan, aku hampir miss komunikasi ketika bersama mereka.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saat Leo masih ada, hal ini tak terlalu memusingkanku. Bahasa Inggris Leo <em>excellent</em>. Selancar <em>native speaker</em>. Karena itu, dia selalu menjelaskan kepadaku apa yang tengah mereka bicarakan. Namun, lain ceritanya ketika Leo sudah pergi. Aku merasa mereka berusaha terlalu keras untuk berbicara dalam bahasa Inggris hanya untuk menghargaiku. Akhirnya, pertemuan dan kegiatan bersama mereka berkurang drastis.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Well, setelah itu aku mendapatkan teman lain, seperti Leo. Jika Leo seorang pria, temanku yang satu ini adalah seorang wanita, bernama Blanca.  Yang bisa aku anggap teman dan bisa aku ajak untuk ‘fun’.  Namun, sekali lagi. Tidak gampang menemukannya. Bisa di katakan, menemukan  Leo dan Blanca seperti menemukan jarum di dalam setumpuk jerami.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurulfitrilubis.wordpress.com/941/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurulfitrilubis.wordpress.com/941/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurulfitrilubis.wordpress.com/941/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurulfitrilubis.wordpress.com/941/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurulfitrilubis.wordpress.com/941/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurulfitrilubis.wordpress.com/941/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurulfitrilubis.wordpress.com/941/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurulfitrilubis.wordpress.com/941/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurulfitrilubis.wordpress.com/941/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurulfitrilubis.wordpress.com/941/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurulfitrilubis.wordpress.com/941/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurulfitrilubis.wordpress.com/941/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurulfitrilubis.wordpress.com/941/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurulfitrilubis.wordpress.com/941/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurulfitrilubis.wordpress.com&amp;blog=7367937&amp;post=941&amp;subd=nurulfitrilubis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/08/27/expatriate-tak-seindah-yang-terlihat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f70f3c5fe09a49af430aa6466cfcd329?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nurulfitrilubis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/08/expatriate.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">expatriate</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/08/img_0335.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_0335</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ibu Kami Telah Berpulang</title>
		<link>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/08/17/ibu-kami-telah-berpulang/</link>
		<comments>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/08/17/ibu-kami-telah-berpulang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 15:09:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nurul Fitri Lubis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journals]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurulfitrilubis.wordpress.com/?p=928</guid>
		<description><![CDATA[Empat tahun sudah berlalu. Namun, kenangan itu masih cukup jelas terpatri di ingatanku. Hari itu panas terik. Matahari menyengat menusuk kulit. Setelah terbiasa dengan hawa dingin Blangkejeren, Banda Aceh bagaikan gurun pasir. Aku sudah menghabiskan waktu sepanjang siang, ditemani oleh tiga orang temanku. Berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari kamar kost. Namun, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurulfitrilubis.wordpress.com&amp;blog=7367937&amp;post=928&amp;subd=nurulfitrilubis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Empat tahun sudah berlalu. Namun, kenangan itu masih cukup jelas terpatri di ingatanku. Hari itu panas terik. Matahari menyengat menusuk kulit. Setelah terbiasa dengan hawa dingin Blangkejeren, Banda Aceh bagaikan gurun pasir. Aku sudah menghabiskan waktu sepanjang siang, ditemani oleh tiga orang temanku. Berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari kamar kost. Namun, tak ada satu tempat pun yang tersedia. Aku hampir setengah berputus asa, ketika akhirnya kami tiba di sebuah rumah.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Rumah itu terlihat sederhana, namun terlihat sangat nyaman dan teduh. Berbagai macam bunga dan tanaman hias menghiasi halaman rumah membuatnya semakin semerbak. Pintu pagarnya tidak terkunci. Aku memberanikan diri untuk masuk. Menurut temanku, kemungkinan rumah ini menerima kost – kost an. “Ada banyak sandal di luar rumah. Itu ciri rumah kost,” kata temanku dengan penuh keyakinan.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Assalamualaikum,” aku mengucapkan salam. Namun, tidak ada jawaban. Begitupun, aku yakin ada orang di dalam rumah. Setelah mengucapkan salam yang ketiga, seorang ibu datang tergopoh – gopoh menyambut kedatangan kami.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Waalaikumsalam. Cari siapa ya Nak?” tanya sang Ibu ramah.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>”Nyari kamar kost, Bu, ” jawabku langsung ke pokok permasalahan. ”Ibu tahu informasi kamar kost di sekitar sini?”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>”Wah, siapa yang mau kost?” tanya sang Ibu lagi.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>”Saya Bu,” jawabku terang – terangan.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>”Wah. Gimana ya. Sebenarnya Ibu terima kost – kost an. Tapi, Ibu kira, anak yang disana itu yang mau kost,” kata Ibu sambil menunjuk satu orang temanku, yang kebetulan seorang pria. ”Karena kebetulan saat ini, semua anak kost disini laki – laki. Tidak ada yang perempuan,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>”Oh gitu ya Bu,” kataku agak kecewa sambil membayangkan harus melawan terik matahari untuk mencari kamar,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>”Hm…. Tapi, kalau Anak mau, saya tidak keberatan Anak tinggal di rumah saya,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Bener nih Bu?”tanyaku girang. “Saya mau banget,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Kamu tidak keberatan tinggal dengan penghuni kost yang lain? Mereka laki – laki semua?”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Ngga masalah Bu. Lagian, kan ada Ibu juga. Saya bukan satu – satunya perempuan,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dua hari kemudian, aku pindah ke rumah tersebut, di antar oleh teman baik yang sudah menyediakan rumahnya sebagai akomodasi sementara selama aku berada di Banda Aceh. Begitu tiba, aku disambut oleh seorang cowok, yang ternyata juga salah satu penghuni kost. Bang Hiro, begitu aku memanggilnya. Ternyata, Ibu sudah bersiap – siap menyambut kedatanganku. Beliau sudah menyiapkan makan siang istimewa untuk kami semua. Aku langsung jatuh hati pada Beliau.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibu benar – benar sosok yang istimewa. Meskipun sudah berusia lanjut, Beliau masih mengikuti berita terkini. Dari kasus Aulia Pohan hingga kematian sang superstar Michael Jackson. Sering, jika aku tengah malas menonton berita, sepulang kerja, aku cukup bertanya kepada Ibu, “Ibu, apa berita terhangat saat ini?” Ibu akan membeberkan semua berita yang dilihatnya di televisi hari itu.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibulah yang menyatukan kami menjadi sebuah keluarga. Selama tinggal bersama beliau, aku sudah menganggapnya sebagai Ibu dan anak kost yang lain sebagai abang – abangku. Sepulang kerja atau setelah melakukan aktifitas di luar, kami akan menyempatkan diri untuk menonton bersama di ruang keluarga. Tontonan apapun itu. Mulai dari sinetron  (hanya untuk mengomentari betapa bodohnya sang tokoh), Indonesian Idol, hingga berita terkini. Hanya untuk bersosialisasi. Atau jika tak sempat bertatap muka di malam hari, dapur menjadi tempat sosialisasi kami sebelum berangkat ke tempat kerja.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibu juga sangat toleran dengan tingkah anak – anak kost yang sudah menganggap rumah Ibu seperti rumah kami sendiri. Mulai dari menguasai televisi di ruang keluarga, hingga membuat dapur berantakan. Beliau begitu perhatian kepada semua anak kost nya. Jika tengah memasak makanan spesial, Beliau akan memastikan kami semua mendapat bagian yang sama. Tak terhitung jumlahnya, ketika pulang kerja, beberapa piring berisi makanan sudah tersedia di atas meja. Begitu melihatku pulang, Ibu akan langsung berteriak, “Nurul. Ibu bikin kolak pisang dan risoles. Itu yang di atas meja, bagian kamu. Yang lain sudah kebagian. Jangan lupa dimakan ya,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jika ada penghuni kost yang sakit, Ibu menjadi orang yang paling repot. Mulai dari memaksa untuk pergi ke rumah sakit sampai memasak bubur untuk si sakit. Aku ingat kejadian di satu hari. Saat itu aku kena flu berat. Namun, aku tak memberi tahu Ibu, karena tahu pasti, hal ini akan membuatnya repot. Di pagi hari, setelah semalaman menahan hidung yang tersumbat, aku pergi ke rumah sakit, yang tak jauh dari tempat kami tinggal. Ketika kembali dan mengetahui aku sakit, Ibu langsung mengomel karena aku tak memberitahunya. Sudah bisa dipastikan kelanjutannya. Ibu sibuk memasak untukku.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibu tidak hanya perhatian terhadap kebutuhan kami selama di rumah. Namun, juga perhatian terhadap kehidupan sosialku. Meskipun aku sering pulang malam, dikarenakan bekerja atau sekedar berkumpul dengan para sohib, Ibu tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Sangat berbeda dengan ibu – ibu kostku sebelumnya. Di satu malam minggu, Ibu pernah berkata, “Nurul, kok kamu tidak keluar malam ini? Ayo keluar. Supaya tidak suntuk di rumah. Kan ini malam minggu?” Yang kujawab dengan candaan, “Iya Bu. Belum ada ‘panggilan’ nih,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saking perhatiannya Beliau dengan anak – anak kost, salah satu putri nya pernah bercanda, “Wah. Mama benar – benar sayang sama anak – anak kost nya. Kita sekarang bingung. Siapa anak Mama yang sebenarnya,”. Di jawab oleh Beliau, “Kalian semua anak – anakku,”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ibu juga wanita solehah yang taat beribadah. Hampir setiap pagi dan maghrib, Beliau akan sholat di mesjid di depan rumah. Di pagi hari biasanya akan dilanjutkan dengan sholat dhuha. Ketika malam, Ibu selalu membaca ayat suci Al Quran membuat yang mendengarnya merasa tentram.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/08/kenangan-bersama-ibu.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-930" title="kenangan bersama ibu" src="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/08/kenangan-bersama-ibu.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></strong></p>
<p style="text-align:center;"><em>Kenangan Bersama Ibu</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ada pertemuan, dan ada pula perpisahan. Setelah menghabiskan waktu dua setengah tahun di Banda Aceh, kontrak kerjaku selesai. Aku harus meninggalkan Banda Aceh menuju Jakarta sebagai pelabuhanku berikutnya. Hari – hari terakhirku di Banda Aceh tak banyak kuhabiskan bersama Ibu. Aku harus membuat jadwal pertemuan berbeda dengan teman – teman yang sudah menemaniku dalam suka dan duka selama di Aceh. Saat itu bulan Ramdhan. Setiap malam, ada saja acara buka puasa bersama. Di hari terakhirku, aku membatalkan acara buka puasa dengan beberapa teman. Aku ingin berbuka puasa bersama Ibu.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Malam itu hujan deras. Ibu menemaniku makan malam sambil berkata, “Ini akan jadi makan malam terakhir kamu bersama Ibu,”. Dan ternyata benar.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mobil yang menjemputku tiba tak lama kemudian. Semua barang – barang telah selesai di pack. Aku akan meninggalkan rumah yang nyaman ini. Rumah yang benar – benar kuanggap sebagai rumah keduaku. Berbagai kenangan melintas dalam fikiranku saat akan meninggalkan Ibu. Saat pertama kali bertemu Ibu, saat bercanda bersama Ibu, menonton bersama di kamar Ibu, melihat Ibu berkebun, memasak bersama Ibu dan anak – anak kost, bercanda dengan anak – anak kost dan masih banyak lagi. Semuanya akan menjadi memori indah yang akan selalu tersimpan di dalam hati. Kupeluk Ibu, sebelum aku pergi. Ibu menangis dan mengikutiku hingga aku masuk ke dalam mobil. Hujan semakin deras. Aku ingin meminta ibu masuk ke dalam rumah, tak ingin Ibu basah karena hujan. Namun Ibu tak menangkap isyarat yang kuberikan. Kubuka pintu mobil, dan Ibu memelukku dan menangis kembali. Itu adalah pelukan terakhir darinya.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Setelah meninggalkan Banda Aceh, meskipun tak sering, aku masih berkomunikasi dengan Ibu. Sekedar bercerita dan bertukar khabar. Namun, ketika aku meninggalkan Indonesia, komunikasi menjadi semakin jarang. Sambungan telepon jarak jauh yang sering tak menentu juga menjadi kendala. Terakhir kali, empat bulan yang lalu aku menelepon Ibu. Suaranya masih sama. Ceria dan penuh canda. Ternyata, itu adalah obrolan terakhirku bersama Ibu.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pagi ini aku mendapat email singkat dari seorang teman,  salah seorang mantan anak kost Ibu. Ibu telah berpulang dan meninggalkan kami untuk selama – lamanya. Selamat jalan Ibu. Engkau begitu tulus dan penuh kasih kepada kami, anak – anakmu. Pulanglah dengan tenang. Semoga engkau tentram di sisiNya.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurulfitrilubis.wordpress.com/928/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurulfitrilubis.wordpress.com/928/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurulfitrilubis.wordpress.com/928/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurulfitrilubis.wordpress.com/928/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurulfitrilubis.wordpress.com/928/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurulfitrilubis.wordpress.com/928/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurulfitrilubis.wordpress.com/928/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurulfitrilubis.wordpress.com/928/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurulfitrilubis.wordpress.com/928/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurulfitrilubis.wordpress.com/928/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurulfitrilubis.wordpress.com/928/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurulfitrilubis.wordpress.com/928/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurulfitrilubis.wordpress.com/928/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurulfitrilubis.wordpress.com/928/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurulfitrilubis.wordpress.com&amp;blog=7367937&amp;post=928&amp;subd=nurulfitrilubis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/08/17/ibu-kami-telah-berpulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f70f3c5fe09a49af430aa6466cfcd329?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nurulfitrilubis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/08/kenangan-bersama-ibu.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">kenangan bersama ibu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mati</title>
		<link>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/08/17/mati/</link>
		<comments>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/08/17/mati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 14:37:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nurul Fitri Lubis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poems]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurulfitrilubis.wordpress.com/?p=923</guid>
		<description><![CDATA[Adakah yang siap mati? Tak kan ada jawaban terberi Sekuat apapun iman seseorang mengisi hati Tak akan cukup untuk berkata, ‘aku siap untuk mati’   Tak ada yang tahu apa yang menunggu disana Di alam berbeda dimana semua perbuatan akan dipertanggungjawabkan Di alam dimana semua akan kembali dipertunjukkan Tak ada pembelaan. Tak berartinya penyesalan Betapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurulfitrilubis.wordpress.com&amp;blog=7367937&amp;post=923&amp;subd=nurulfitrilubis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/08/grave-stone.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-925" title="grave stone" src="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/08/grave-stone.jpg?w=210&#038;h=300" alt="" width="210" height="300" /></a>Adakah yang siap mati?</strong></p>
<p><strong>Tak kan ada jawaban terberi</strong></p>
<p><strong>Sekuat apapun iman seseorang mengisi hati</strong></p>
<p><strong>Tak akan cukup untuk berkata, ‘aku siap untuk mati’</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tak ada yang tahu apa yang menunggu disana</strong></p>
<p><strong>Di alam berbeda dimana semua perbuatan akan dipertanggungjawabkan</strong></p>
<p><strong>Di alam dimana semua akan kembali dipertunjukkan</strong></p>
<p><strong>Tak ada pembelaan. Tak berartinya penyesalan</strong></p>
<p><strong>Betapa hina dan rendahnya manusia saat berada disana</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tak siap untuk mati</strong></p>
<p><strong>Namun, mengapa kita selalu bersikap seolah – olah tak pernah mati</strong></p>
<p><strong>Sibuk dan terlena dengan nikmat duniawi</strong></p>
<p><strong>Terlalu sombong untuk mengakui suatu saat akan mati</strong></p>
<p><strong>Tak mau mengingat mati</strong></p>
<p><strong>Seakan hidup selama – lamanya tanpa mati</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Tuhan…</strong></p>
<p><strong>Ampunilah kami</strong></p>
<p><strong>Berilah kesempatan untuk memperbaiki diri</strong></p>
<p><strong>Dan terimalah kami di sisiMu saat kami mati</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurulfitrilubis.wordpress.com/923/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurulfitrilubis.wordpress.com/923/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurulfitrilubis.wordpress.com/923/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurulfitrilubis.wordpress.com/923/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurulfitrilubis.wordpress.com/923/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurulfitrilubis.wordpress.com/923/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurulfitrilubis.wordpress.com/923/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurulfitrilubis.wordpress.com/923/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurulfitrilubis.wordpress.com/923/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurulfitrilubis.wordpress.com/923/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurulfitrilubis.wordpress.com/923/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurulfitrilubis.wordpress.com/923/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurulfitrilubis.wordpress.com/923/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurulfitrilubis.wordpress.com/923/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurulfitrilubis.wordpress.com&amp;blog=7367937&amp;post=923&amp;subd=nurulfitrilubis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/08/17/mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f70f3c5fe09a49af430aa6466cfcd329?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nurulfitrilubis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/08/grave-stone.jpg?w=210" medium="image">
			<media:title type="html">grave stone</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>About A Creature Named Triste</title>
		<link>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/08/16/about-a-creature-named-triste/</link>
		<comments>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/08/16/about-a-creature-named-triste/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Aug 2011 12:20:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nurul Fitri Lubis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[BLOG in ENGLISH]]></category>
		<category><![CDATA[Journals]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurulfitrilubis.wordpress.com/?p=915</guid>
		<description><![CDATA[&#160; When everything seems and looks so wrong&#8230;. Once upon a time, there was a creature, called Triste lived on the earth. Basically, she was a nice person, easy going, down to earth and very helpful. She loved travel and always dreamt that someday, she would be a world traveler. One day, her dream became [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurulfitrilubis.wordpress.com&amp;blog=7367937&amp;post=915&amp;subd=nurulfitrilubis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/08/alone-2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-918" title="alone 2" src="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/08/alone-2.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" width="300" height="199" /></a></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>When everything seems and looks so wrong&#8230;.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Once upon a time, there was a creature, called Triste lived on the earth. Basically, she was a nice person, easy going, down to earth and very helpful. She loved travel and always dreamt that someday, she would be a world traveler.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>One day, her dream became true. She got an opportunity to see the other world. Not only to see, but also live to the other world. To get a different experience, know different people and off course to have a new life. However, to have this new life, she must leave her comfort zone, move towards to unpredictable zone. She was so excited about this chance. It was like there was moon dust came from the sky and taaaa daaahh and ABRACADABRA…All expectations became reality. It was miracle.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Triste was arrived to the new place, called Negeri Antah Berantah. It was not a wonderland as she imagined before. She thought that this place was terrible, suck, unfriendly and many more. She was started to complain about everything. She hated the place. She didn’t like its people. She hated the environment. Moreover, she hated her life there.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Some months were passed. After all difficulties, hard life and all complain, the time had come for her to have the ‘fruit’ for all her sacrifice. She had a real chance to have the real travel. It made her happy and forgets about all her sadness for a while. She left Negri Antah Berantah and went towards to Negeri di Balik Awan.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Negeri di Balik Awan was amazing. Everything there was beautiful, with nice people, nice food, nice building, nice weather, and very safe, absolutely. She enjoyed every time she had. Triste felt like she didn’t want to leave. She wanted to stay there forever. Nevertheless, no matter how much she wanted to stay, she knew that she had to come back to the place that she hated a lot.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Triste returned to Negeri Antah Berantah after having a whole fantastic month in Negeri di Balik Awan. She thought that she should be happier after her returning. But she was wrong. She was back to become ‘Ms. Complain about Everything’, again. She felt so suffer and miserable. She wanted to leave that suck place, but she couldn’t since she still wanted to travel to the other world. Once she left Negeri Antah Berantah, the chance for travelling was also gone with it. One thing that made her survive was thinking about the next opportunity to see the other wonder land that would come very soon.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>The second chance had come. She went to the FairyLand. As Negeri di Balik Awan, FairyLand was also beautiful. Once she was arrived there, she forgot about all her sadness in Negeri Antah Berantah. And it was like when she was visiting Negeri di Balik Awan, she didn’t want to leave FairyLand. It was so nice to be left. But still, she must leave. She was back and she felt more terrible than before. And she hated Negeri Antah Berantah more than she should. She was bored because she couldn’t go around by her self. She was lonely because she had no friends to be with.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Actually she had friends, if she wanted to open her heart and eyes more wide. Some of her friends tried to get her know more people by introducing her to others. Some of them tried to ask her to come to the party. And the other friends asked her to hang out after work. But, Triste always found the reason to refuse. She couldn’t get along with the new people since they were so different. She couldn’t come to the party since she didn’t  drink and felt like an alien to become the only person who was not drinking. She didn’t  want to hang out with some people because she felt that she couldn’t follow the conversation among them. She didn’t want to get along with some groups just because she thought most of people in that group couldn’t be trusted, that was she thought. Instead of being around with new people, she choose to stay at her house, being lonely, feel sorry for her self and at the end she thought that she was the unluckiest person in the world.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>She was lucky enough, actually. No, she was not only lucky, but also very lucky. She got what she wanted where million people would die to have what she had. She just forgot some things that she should know</strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>She hated the place. C’mon. Please deal with it. She was not staying in that place forever. Every certain period, she had a chance to visit the real wonderland, as she dreamt before. NO PAIN, NO GAIN.</strong></li>
<li><strong>She didn’t like the people. That’s the reason why those people didn’t like her back.</strong></li>
<li><strong>She hated the environment. It was because she didn’t try enough to find what she liked to kill the time. There were a lot of things outside which could be done. She could take a walk on Sunday, she could go for swimming, she could take the language course or maybe, she could only join a gym for socialization.  </strong></li>
<li><strong>She doesn’t have many friends. Hey, friends will not come to her if she didn’t make any efforts. She expected people come to her without doing anything, even just said ‘hi’ or ‘good morning’ or come to simple dinner to start a new friendship.</strong></li>
<li><strong>She felt that she was different. It was only on her mind. Once she thought that she was different, she would become different creature forever.</strong></li>
<li><strong>She found that nobody could be trusted. Well, once again. Do a little effort to trust people. Don’t make any conclusions based on skin color, religion, nationality or ethnic. She doesn’t want people call that she’s a racist, right?</strong></li>
<li><strong>She hated her life there which she didn’t have to. She always has s choice. Take or leave that place.</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong>There was nothing wrong with the world. It was acceptable if sometimes she was up and down. But, after living in Negeri Antah Berantah for a long time and she’s still complaining for the same things? C’mon. Where has she been?</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>She just needs to be deal with herself. Accepting all lacks in that place and creating the happiness for her self. OR she can leave that place. Fair enough, right? She doesn’t need to blame the situation, or condition or everything. She just need to be adapted and tolerated all differences.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurulfitrilubis.wordpress.com/915/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurulfitrilubis.wordpress.com/915/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurulfitrilubis.wordpress.com/915/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurulfitrilubis.wordpress.com/915/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurulfitrilubis.wordpress.com/915/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurulfitrilubis.wordpress.com/915/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurulfitrilubis.wordpress.com/915/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurulfitrilubis.wordpress.com/915/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurulfitrilubis.wordpress.com/915/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurulfitrilubis.wordpress.com/915/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurulfitrilubis.wordpress.com/915/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurulfitrilubis.wordpress.com/915/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurulfitrilubis.wordpress.com/915/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurulfitrilubis.wordpress.com/915/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurulfitrilubis.wordpress.com&amp;blog=7367937&amp;post=915&amp;subd=nurulfitrilubis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/08/16/about-a-creature-named-triste/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f70f3c5fe09a49af430aa6466cfcd329?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nurulfitrilubis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/08/alone-2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">alone 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Galau</title>
		<link>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/08/03/galau/</link>
		<comments>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/08/03/galau/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Aug 2011 15:42:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nurul Fitri Lubis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Journals]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurulfitrilubis.wordpress.com/?p=896</guid>
		<description><![CDATA[Selama ini, Tuhan selalu mengabulkan apapun yang kuinginkan. Bisa dikatakan, hampir semua impianku menjadi nyata. Bukan hanya hayalan semata. Tak terkatakan berapa kali kutuliskan, &#8220;Finally. My dream is coming true&#8221; Baik di dinding Face Book ku, di blog maupun hanya terucap di dalam hati. Betapa baik dan penyangnya Tuhan. Memberikan segalanya, tanpa mengharapkan imbalan. Namun, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurulfitrilubis.wordpress.com&amp;blog=7367937&amp;post=896&amp;subd=nurulfitrilubis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;"><strong><a href="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/08/waiting.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-899" title="waiting" src="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/08/waiting.jpg?w=300&#038;h=203" alt="" width="300" height="203" /></a>Selama ini, Tuhan selalu mengabulkan apapun yang kuinginkan. Bisa dikatakan, hampir semua impianku menjadi nyata. Bukan hanya hayalan semata. Tak terkatakan berapa kali kutuliskan, &#8220;<em>Finally. My dream is coming true</em>&#8221; Baik di dinding Face Book ku, di blog maupun hanya terucap di dalam hati. Betapa baik dan penyangnya Tuhan. Memberikan segalanya, tanpa mengharapkan imbalan. Namun, setelah begitu banyak kebaikan dan berkah yang kuterima, mengapa kini aku ragu untuk menunjukkan rasa terima kasihku kepada Tuhan.</strong></div>
<div style="text-align:justify;"> </div>
<div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Aku terlahir dari keluarga sederhana. Orang tuaku, hanyalah pegawai biasa. Hidupku tak berlebih, namun aku tak pernah kekurangan. Terutama untuk urusan pendidikan. Orang tuaku <em>is the best</em>. Mereka akan melakukan apa saja demi memberikan pendidikan yang terbaik untukku.</strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong> </strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Masa kanak &#8211; kanakku sangat indah. Seperti yang kukatakan. Orang tuaku bukanlah berasal dari keluarga berada. Bisa dipastikan, mereka tidak akan sanggup membelikanku koleksi boneka barbie ataupun seperangkat permainan video game, seperti atari dan nitendo yang sangat terkenal pada jamannya. Mereka akan langsung mengatakan TIDAK jika aku berusaha merayu untuk mendapatkan permainan yang biasanya dimainkan oleh anak &#8211; anak orang berada. Tapi, lain halnya jika aku meminta mereka untuk membelikanku buku atau majalah anak &#8211; anak. Bisa dikatakan, koleksi bukuku sama lengkapnya dengan koleksi buku Dina, salah satu murid kaya di sekolahku. Aku tak keberatan sama sekali tak bermain dengan Nitendo asal bisa melahap kisah si Putih Salju, Lima Sekawan, Ramtam tam dan Kierkielli dan banyak kisah menarik lainnya.</strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong> </strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Ayahku, adalah pencerita paling ulung. Well, sebenarnya dia tak terlalu pintar bercerita. Yang dilakukannya hanyalah membacakan kisah &#8211; kisah classik Charles Dickens untukku, yang didapatnya dari British Library. Membuatku tercengang dengan kisah masa kecil Jane Eyre dan mebuatku tertawa lebar saat mengetahui akhir kisah si Olivier Twist. Sering, saat aku melamun sendiri, aku mengharapkan saat itu datang kembali.</strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong> </strong></div>
<div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Sebagai seorang anak dan pelajar, aku dikaruniai otak yang sangat biasa &#8211; biasa saja, begitu kata sebagian orang. Aku lamban dalam menghapal pelajaran serta tidak cukup jenius untuk menelan rumus &#8211; rumus fisika dan kimia. Aku cukup tau dengan kualitas otakku. Begitupun, tak menyurutkanku untuk tetap memiliki mimpi. Aku ingin sekali bisa masuk universitas negeri. Meskipun bukan yang terbaik di seantero negeri, tapi universitas yang kuinginkan cukup terkenal dan butuh persaingat ketat untuk mendapatkan kursi di dalamnya. Rasanya terdengar naif, ketika aku menghayal bisa menjadi salah satu mahasiswa di sana, mengingat saat itu aku bersekolah di sebuah SMU yang tak terlalu favorit. Namun, nasib berkata lain. Tuhan mendengar doaku. Aku menjadi bagian dari sebuah institusi pendidikan, mengalahkan 900 orang pesaing lainnya.</strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong> </strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Masuk ke institusi tersebut memberikan pengaruh besar bagiku. Terutama pada pembentukan pola pikirku. Aku bertemu orang &#8211; orang pintar. Bisa dikatakan, aku mungkin salah satu yang terbodoh di antara teman &#8211; teman seangkatanku. Dengan IP yang selalu pas &#8211; pasan di akhir semester, aku hanya bisa berharap tidak mendapatkan surat drop out. Hingga aku menyelesaikan studi, surat itu tak pernah datang. Aku lulus tepat waktu, dengan IPK yang masih sangat pas &#8211; pasan.</strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong> </strong></div>
<div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Tampaknya, dengan IPK pas &#8211; pasanku, tak satupun perusahaan maupun BUMN yang berniat memberiku pekerjaan. Masih terngiang dengan jelas, salah satu dosenku, saat beliau tak puas melihat project tugas akhirku, dia berkata, &#8220;tak bisa kubayangkan bagaimana kau bekerja nantinya&#8221;. Sempat terbersit keraguan juga di dalam hati, akankah kelak aku mendapatkan pekerjaan? </strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong> </div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Terbersit pula kenangan akan gurauan konyol di antara sesama sohib saat kami membicarakan rencana masa depan. Entah mengapa, saat itu obrolan kami tiba &#8211; tiba beralih ke perang Iraq yang tengah berkecamuk. Membicarakan betapa banyaknya berkeliaran mobil beserta tank berwarna putih dengan tulisan UN besar terpampang di depannya. Serta apa sebenarnya peran United Nations dalam menciptakan perdamaian. Tiba &#8211; tiba, terlontar begitu saja dari mulutku, &#8220;Guys. Kalian tahu tidak. Suatu saat aku akan menjadi bagian dari organisasi tersebut. Dan aku akan berada di salah satu mobil putih tersebut,&#8221;</strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong> </strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Guyonan yang sama sekali kedengaran tak masuk akal. Menjadi bagian dari United Nations dan pergi ke wilayah perang? Terdengar bukan aku sama sekali. Jangankan ke negara konflik, ikut kegiatan pecinta alam saja aku tak berminat. Bagaimana mungkin aku akan <em>survive</em> selama disana? Tampaknya aku memang tak perlu berfikir muluk &#8211; muluk dengan mimpiku. Begitupun, tampaknya pintu menuju ke sana mulai terbuka. Aku memulai karirku sebagai pekerja humanitarian di salah satu badan PBB. Selangkah lebih maju.</strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong> </strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Bekerja di salah satu organisasi terbesar di dunia ini memberikan warna hidup dan perubahan baru bagiku. Tidak hanya merubah pola pikir. Namun juga pergaulan dan kehidupan sosial. Disini, aku menemukan satu kehidupan baru yang tak pernah kurasakan sebelumnya.</strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong> </strong></div>
<div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Saat aku remaja, khususnya waktu aku di bangku SMU, aku tak bisa mengatakan bahwa aku memiliki kehidupan sosial yang menarik. Aku tak punya pacar, terlalu sibuk memikirkan masa depan dan cara untuk meraih satu kursi di universitas favorit. Entah mengapa, terkadang aku juga merasa tidak bisa <em>&#8216;get along</em>&#8216; dengan teman &#8211; teman sekolahku. Terkadang ada rasa minder dan rendah diri. Jika kupikir &#8211; pikir saat ini, rasanya tak perlu aku merasa rendah diri. Tak ada yang salah dengan diriku, selain aku tak punya pacar. Namun, begitulah kehidupan remaja. Mereka rendah diri dan minder untuk sesuatu yang tak penting. Sering aku berharap, suatu saat bisa memiliki sahabat dan teman &#8211; teman yang bisa kuandalkan. Yang selalu ada di saat aku butuh. Seperti yang kulihat di serial &#8216;FRIENDS&#8217; kesukaanku.</strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong> </strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Saat memasuki bangku di universitas, aku sempat dilanda kekhawatiran. Akankah aku terus merasa rendah diri. Ternyata tidak. Aku punya banyak teman di universitas. Baik perempuan maupun lelaki. Bahkan, salah satu teman baikku adalah mantan model. Aku tak merasa rendah diri bila tengah berjalan bersamanya. Sang teman cukup populer. Bisa kudengar bisik &#8211; bisik para wanita dari kampus lain saat aku berjalan bersama sang teman. Kukatakan padanya, &#8220;tampaknya mereka iri melihatku berjalan denganmu,&#8221; yang diakhiri dengan tawa gelak dari sang teman. Aku bahagia dengan kehidupan sosialku di bangku kuliah.</strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong> </strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Kukatakan sebelumnya, bekerja di organisasi terbesar di dunia ini juga memberikan perubahan akan kehidupan sosialku. Kenangan itu masih melekat erat di ingatanku. Saat aku menjejakkan kaki pertama kali di Pulau Nias untuk bergabung di salah satu badan PBB. Ini pertama kalinya aku tinggal serumah dengan para pria dan tidak punya hubungan darah denganku. Lagi &#8211; lagi aku khawatir, tidak bisa bersosialisasi bersama mereka. Dugaan yang salah sama sekali. Mereka menjadi saudara seperantauan. Enam bulan tinggal bersama mereka seperti satu <em>season</em> &#8217;FRIENDS&#8217; di kehidupan nyata.</strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong> </strong></div>
<div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Itu semua hanyalah permulaan. Kutemukan kehidupan menarik di episode selanjutnya dalam kehidupanku. Aku tidak memperpanjang kontrak kerja bersama mereka untuk bergabung di sebuah organisasi milik pemerintah. Keputusan yang dikemudian hari sering kusesali. Sebenarnya, tak perlu disesali. Itu hanyalah sebuah pelajaran berharga di dalam hidup untuk lebih mencintai apa yang telah kudapatkan. Seperti dalam lirik lagu, &#8220;<em>you don&#8217;t know what you got till it&#8217;s gone</em>&#8221; Berulang kali kuucapkan, &#8220;ingin sekali aku kembali ke UN&#8221;. Dan, lagi &#8211; lagi doaku terkabul. Setelah tak memperpanjang kontrak, aku bergabung dengan organisasi internasional, sekelas dengan UN. <em>I really loved when i worked there</em>. Aku tak hanya mendapatkan sahabat &#8211; sahabat hebat, namun juga sebuah pengalaman tak ternilai yang menolongku untuk kembali ke UN. Tuhan memang hebat.</strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong> </strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Ingin sekali aku berterima kasih kepada Allah. Melakukan satu kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap muslim. Kewajiban yang membutuhkan kesabaran dan keikhlasan. Namun, tak ada yang bisa menahanku untuk berterima kasih pada Tuhanku. Tak perduli dengan rintangan. Aku ikhlas untuk menunggu. Niatku sudah kuat, saat itu.</strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong> </strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Well. Hidup memang indah. Kembali ke UN setelah mengharapkannya sekian lama. Lagi &#8211; lagi, aku bertemu dengan teman &#8211; teman hebat dan setia. Kusebut mereka dengan sebutan, &#8220;serdadu semut&#8221;. Bersama mereka, aku merencanakan masa depan. Dan bersama mereka pula, kuulang impian &#8211; impian konyolku, &#8220;Guys. Aku ingin sekali bekerja di Africa&#8221;.</strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong> </strong></div>
<div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Impian yang lagi &#8211; lagi menjadi nyata. Bahkan, ini gabungan dengan mimpi di bangku kuliah. Bekerja di Africa. Di organisasi terbesar di dunia. Menjadi bagian dari perdamaian dunia. Sudah kurasakan berada di mobil putih dengan tulisan UN terpampang lebar. Bukan main. Ratusan, bahkan mungkin ribuan orang menginginkan pekerjaan ini. Namun, akulah si pemenang. Allah maha besar.</strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong> </strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Hidup di dunia berbeda, tentunya memberikan pengalaman tak tergantikan. Betapa beruntungnya aku, begitu yang selalu kudengar dari orang &#8211; orang. Aku juga mengakui betapa beruntungnya aku. Apalagi jika melihat prestasi akademikku yang biasa &#8211; biasa saja. Tak satupun bisa menyangka aku bisa sejauh ini. </strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong></strong> </div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Begitupun, selalu ada keraguan ketika aku memulai kehidupan baru. Keraguan tak bisa bersosialisasi, kembali menghantuiku. apalagi dengan orang &#8211; orang yang berasal dari <em>culture</em> yang sangat berbeda. Hidupku mulai terasa monoton. Namun, ketika kebosanan itu muncul, Tuhan mengirimkan seorang sahabat baru, yang berasal dari budaya yang berbeda. Sebutlah namanya Leonardo. Aku tak akan bercerita banyak tentang  Leonardo. Namun, aku sangat menghargai persahabatan yang diberikannya. Lagi &#8211; lagi hidupku kembali berwarna.</strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong> </strong></div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Aku begitu menikmati hidup, hingga aku lupa dengan niatku untuk berterima kasih kepada Tuhan. Setelah sekian lama, kesempatan untuk berterima kasih itu akhirnya tiba juga. Namun, mengapa kini aku menjadi ragu? Haruskah aku ragu setelah segala nikmat yang diberikan Allah kepadaku? Haruskah aku ragu dengan adanya kemungkinan kehilangan sebagian nikmat untuk berterima kasih kepada Tuhanku. Saat ini, aku merasa seperti makhluk tak berterima kasih. Aku merasa berada di depan sebuah <em>boarding gate</em>. Keputusan untuk tinggal atau terbang berada di tanganku. Aku galau, segalau &#8211; galaunya. Ya Allah. Berikanlah petunjuk dan kekuatan kepadaku. Untuk mengambil satu keputusan penting dalam hidupku sehingga tak ada penyesalan di kemudian hari.</strong></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurulfitrilubis.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurulfitrilubis.wordpress.com/896/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurulfitrilubis.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurulfitrilubis.wordpress.com/896/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurulfitrilubis.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurulfitrilubis.wordpress.com/896/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurulfitrilubis.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurulfitrilubis.wordpress.com/896/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurulfitrilubis.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurulfitrilubis.wordpress.com/896/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurulfitrilubis.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurulfitrilubis.wordpress.com/896/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurulfitrilubis.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurulfitrilubis.wordpress.com/896/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurulfitrilubis.wordpress.com&amp;blog=7367937&amp;post=896&amp;subd=nurulfitrilubis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/08/03/galau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f70f3c5fe09a49af430aa6466cfcd329?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nurulfitrilubis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/08/waiting.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">waiting</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selingkuh Yuk!!!!</title>
		<link>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/07/20/selingkuh-yuk/</link>
		<comments>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/07/20/selingkuh-yuk/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jul 2011 11:23:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nurul Fitri Lubis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Africa]]></category>
		<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[DR Congo]]></category>
		<category><![CDATA[Journals]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurulfitrilubis.wordpress.com/?p=890</guid>
		<description><![CDATA[Jauh dari pasangan adalah salah satu konsekuensi jika Anda bekerja di wilayah misi. Karena, bisa dikatakan sebahagian besar wilayah bukanlah family mission. Ini artinya, jika Anda ingin bekerja di wilayah ini, membawa keluarga sangat tidak disarankan. Tak jarang, karena kondisi seperti ini, banyak sekali orang – orang yang merasa kesepian dikarenakan jauh dari keluarga, sanak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurulfitrilubis.wordpress.com&amp;blog=7367937&amp;post=890&amp;subd=nurulfitrilubis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/07/pinguin.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-891" title="pinguin" src="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/07/pinguin.jpg?w=219&#038;h=300" alt="" width="219" height="300" /></a>Jauh dari pasangan adalah salah satu konsekuensi jika Anda bekerja di wilayah misi. Karena, bisa dikatakan sebahagian besar wilayah bukanlah <em>family mission</em>. Ini artinya, jika Anda ingin bekerja di wilayah ini, membawa keluarga sangat tidak disarankan. Tak jarang, karena kondisi seperti ini, banyak sekali orang – orang yang merasa kesepian dikarenakan jauh dari keluarga, sanak saudara maupun pasangan tercinta. Jika sudah begini, maka perselingkuhan pun bisa terjadi. Bisa dikatakan, perselingkuhan adalah sesuatu yang lazim. <em>One night stand</em> adalah hal yang biasa. Selama Anda suka sama suka, Boom. Terjadilah. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Selama penugasanku di daerah misi, aku juga dihadapkan dengan kondisi dimana perselingkuhan sangat mungkin untuk terjadi. Ada – ada saja yang datang secara tak terduga untuk menawarkan cinta sesaat. Tidak bermaksud GR atau merasa popular. Kemungkinan, apa yang terjadi padaku, juga terjadi pada teman – teman perempuan lainnya. Jumlah staff perempuan yang jauh di bawah jumlah staff pria adalah salah satu penyebabnya. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Cara mereka menawarkan cinta sesaat pun beraneka ragam. Ada yang terselubung, dan ada pula yang terang – terangan. Mulai dari meminta email, nomor telepon, mengirim sms, mengajak keluar bareng, mengajak dinner hingga dengan terang – terangan meminta bercinta. Masya Allah. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Salah seorang tentara yang berasal dari negara di Asia Selatan, yang jelas – jelas sudah menikah, mengajakku untuk makan malam di rumahnya (sampai saat dia meninggalkan misi, tak pernah kuterima). Hingga pada akhirnya karena tak berhasil mengajakku untuk menikmati makan malam spesial, dia memberikan souvenir sebuah cincin. Salah satu sobatku berteriak nyaring, ketika kuberi tahu tantang hal ini, “Jangan pakai cincinnya. Siapa tahu ada jampi – jampi ngga jelas.” Hingga saat ini, cincin itu masih tergeletak manis di salah satu laci mejaku. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Salah seorang teman baik (sebelumnya) yang berasal dari negara di Africa Utara pernah mengajakku untuk menghabiskan <em>weekend</em> di sebuah <em>club</em>, bersama teman – teman lain. Tak ada tanda – tanda mencurigakan hingga tiba saatnya dia mengantarku pulang. Tepat di depan pintu apartmenku, dia mengajakku untuk melihat – lihat kebun yang indah di rumahnya. Kebun macam apa yang bisa kusaksikan di tengah malam buta? </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Namun, yang paling parah adalah yang pernah dilakukan oleh seorang tentara perdamaian yang berasal dari salah satu negara di Africa Timur. Di satu pagi, di saat hujan sedang turun dengan derasnya, datanglah si Beliau ini. Kita sebut saja dia dengan sebutan si Kunap. Aku sedang memeriksa beberapa <em>Job Request</em> ketika pintu ruanganku terbuka lebar. Si Kunap ada disana. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Ada yang bisa saya bantu, Mister?” tanyaku sopan. Aku pun tak ingat siapa nama si Kunap ini dikarenakan kami baru bertemu beberapa kali. Itupun hanya berpapasan atau secara tak sengaja berada di dalam lift yang sama. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Oh tidak ada. Aku hanya ingin berkunjung,” jawabnya mesam mesem tak menentu. Ini bukan saat yang tepat untuk berkunjung dikarenakan setumpuk pekerjaan sudah menunggu untuk disentuh. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dan mulailah dia berceloteh… “Blah blah blah blah…. “ Rasanya seperti menunggu berabad – abad menunggu si Kunap menyelesaikan celotehannya. Tak terhitung sudah berapa kali aku menguap. Hingga tibalah di satu pertanyaan, “<em>So, Mam. Are you aware, while you’re here, there’s somebody who tries to give more</em> <em>attention to you</em>?” </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“No,”.. kujawab dengan malas – malasan. Dia kembali berceloteh yang tak kumengerti ujung pangkalnya. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hingga akhirnya tibalah dia di satu pernyataan, “<em>I like you</em>. Selingkuh yuk. <em>Would you like to make love with me</em>?” </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Rasanya seperti disambar petir. Kebetulan memang sedang ada petir karena hujan sedang turun dengan lebatnya. Aku hanya ternganga tak percaya. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“<em>What do you think about it? Give me the answer</em>,” katanya sok malu – malu memuakkan </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“<em>The answer is No</em>,” jawaku mulai gondok. Ternyata si Kunap pantang menyerah. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Well. Mengapa? Apa alasannya? Kau muda, dan aku juga muda. Well, aku memang sudah menikah. <em>But, this is the mission life. Nobody knows</em>. Apakah karena aku berkulit hitam?” </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“<em>You don’t need to know the reason. I just said No</em>,” kataku hilang sabar. “<em>I have a lot of things to do here, and I would appreciate if you leave this office as soon as possible. Or do you want me call the security and report this as harassment</em>?” </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Si Kunap masih mesam mesem. “Yah. Baiklah. <em>And this is my number if you change your mind</em>,”.. Busyet. Masih ngga menyerah juga nih kampret. Tak menunggu lama, kertas berisikan nomor si Kunap nongkrong dengan suksesnya di dalam keranjang sampah. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Well, seperti yang kukatakan, kejadian di atas tidak hanya terjadi padaku. Bahkan, seorang sahabat baikku sempat menjalin cinta terlarang. Karena terjadi <em>feed back</em> dari kedua belah pihak. Dan pada akhirnya, cinta itu kandas di tengah jalan ketika sang pria kembali ke negaranya. Hingga saat ini, sang sahabat masih patah hati. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Well, ini salah satu konsekuensi dari begitu banyak konsekuensi yang harus dipertimbangkan jika ingin bekerja di wilayah misi. Pandai – pandailah melihat situasi dan menentukan sikap. Apapun itu, semuanya tergantung pada diri kita sendiri. Dan apapun yang kita lakukan, semoga kita sadar akan konsekuensi nya di kemudian hari.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurulfitrilubis.wordpress.com/890/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurulfitrilubis.wordpress.com/890/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurulfitrilubis.wordpress.com/890/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurulfitrilubis.wordpress.com/890/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurulfitrilubis.wordpress.com/890/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurulfitrilubis.wordpress.com/890/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurulfitrilubis.wordpress.com/890/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurulfitrilubis.wordpress.com/890/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurulfitrilubis.wordpress.com/890/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurulfitrilubis.wordpress.com/890/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurulfitrilubis.wordpress.com/890/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurulfitrilubis.wordpress.com/890/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurulfitrilubis.wordpress.com/890/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurulfitrilubis.wordpress.com/890/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurulfitrilubis.wordpress.com&amp;blog=7367937&amp;post=890&amp;subd=nurulfitrilubis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/07/20/selingkuh-yuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f70f3c5fe09a49af430aa6466cfcd329?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nurulfitrilubis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/07/pinguin.jpg?w=219" medium="image">
			<media:title type="html">pinguin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Naas Itu Dekat Sekali</title>
		<link>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/06/28/naas-itu-dekat-sekali/</link>
		<comments>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/06/28/naas-itu-dekat-sekali/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jun 2011 16:55:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nurul Fitri Lubis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Africa]]></category>
		<category><![CDATA[DR Congo]]></category>
		<category><![CDATA[Journals]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurulfitrilubis.wordpress.com/?p=881</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, aku mendengar khabar buruk. Salah satu bus UN yang biasa kutumpangi mendapatkan kecelakaan. Bus tersebut tertimpa sebuah container yang dibawa oleh sebuah truk yang kebetulan berdekatan dengan bus tersebut. Container yang tidak dikunci dengan semestinya tersebut jatuh, tepat di depan bus. Aku hanya menarik nafas lega saat tahu tak ada teman – teman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurulfitrilubis.wordpress.com&amp;blog=7367937&amp;post=881&amp;subd=nurulfitrilubis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/06/baiturrahman.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-882" title="baiturrahman" src="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/06/baiturrahman.jpg?w=300&#038;h=199" alt="" width="300" height="199" /></a>Hari ini, aku mendengar khabar buruk. Salah satu bus UN yang biasa kutumpangi mendapatkan kecelakaan. Bus tersebut tertimpa sebuah <em>container</em> yang dibawa oleh sebuah truk yang kebetulan berdekatan dengan bus tersebut. <em>Container</em> yang tidak dikunci dengan semestinya tersebut jatuh, tepat di depan bus. Aku hanya menarik nafas lega saat tahu tak ada teman – teman terdekat berada di dalam bus saat kecelakaan terjadi. Namun, sore ini, aku mendengar khabar bahwa beberapa korban adalah orang – orang yang bekerja di <em>section</em> yang sama dengan tempatku bekerja. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kukira, aku pasti tak mengenal para korban. Meskipun bekerja di bagian yang sama, namun, <em>section</em> ini sangat besar. Ada ratusan orang yang bekerja di dalamnya, dan tersebar di beberapa <em>camp</em> yang terdapat di Kinshasa. Aku hanya bertanya selintas kepada salah satu staf ku, bahkan sambil menandatangani beberapa dokumen para staf yang harus kukirimkan hari itu, siapa nama korban kecelakaan itu. Aku langsung tersentak, ketika mendengar satu nama korban. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Aku mengenal korban terparah. Bahkan mengenal baik. Maman Phylo. Begitu aku memanggilnya. Dia adalah team leader ku saat aku masih bekerja di Head Quarter. Salah satu dari sedikit orang yang bisa kuandalkan. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Rasanya tidak percaya ketika aku mendengar khabar buruk itu. Padahal, masih kulihat beliau kemarin dengan segar bugar. Saat aku mengunjungi satu UN <em>camp</em> tempat beliau bekerja, dia masih memanggilku dengan riang. Hal yang selalu dilakukannya kapan saja dia melihatku. Karena aku terburu – buru, aku hanya menanggapinya dengan melambaikan tangan. Waktu itu, hanya beberapa jam sebelum terjadi kecelakaan. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Berdasarkan informasi yang kudengar, kondisi Maman Phylo lumayan parah. Ada masalah besar dengan kakinya. Saat ini, telah dilakukan evakuasi. Maman Phylo telah diterbangkan ke South Africa untuk mendapatkan pengobatan serius. Semoga Tuhan memberikan kesembuhan baginya. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kecelakaan ini adalah contoh kejadian yang tidak disangka – sangka. Siapapun bisa menjadi korban bus naas tersebut. Kejadian ini mengingatkanku akan satu kecelakaan pesawat UN yang terjadi dua bulan yang lalu, dimana aku hampir saja menjadi korban. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saat itu, aku baru saja menyelesaikan liburan RnR ku. Seperti biasa, untuk menghemat, aku selau terbang dari Entebbe, Uganda, dikarenakan harga tiket yang jauh lebih masuk akal dibandingkan jika aku terbang dari Kinshasa. Menuju dan meninggalkan Entebbe, aku menggunakan UN Flight. Sebuah penerbangan yang diakomodir oleh UN untuk para staf <em>peacekeeping</em> dan para pekerja humanitarian. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Di Senin pagi itu, aku mendapatkan khabar, bahwa namaku berada di barisan <em>waiting list</em> dikarenakan ada sekelompok penumpang yang harus terbang hari itu. Aku masih berusaha menggunakan kemampuanku untuk melobi para kenalan agar aku bisa kembali ke Kinshasa hari itu juga. Hasilnya, gagal total. Permintaanku ditolak mentah – mentah dikarenakan jumlah penumpang memang membludak. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Aku meninggalkan airport, kembali ke hotel dengan uring – uringan. Tiga jam setelah kepulanganku dari airport, aku mendapatkan telepon dari teman baikku. Aku hanya bisa terduduk lesu, saat dia mengatakan, “Nurul. Syukur kamu tidak pulang hari ini. Pesawat yang seharusnya kamu tumpangi, baru saja jatuh di bandara. Landing Failure,” </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kejadian yang membuatku benar- benar shock. 32 orang dari 33 penumpang meninggal. Termasuk pilot dan para <em>cabin crew</em>. Aku hanya bisa menarik nafas berulang – ulang saat beberapa teman yang tahu aku akan kembali ke Kinshasa hari itu menelepon dan mengirimiku email. Semuanya berisikan hal yang sama. Berharap semoga aku bukan salah satu penumpang dari pesawat naas tersebut. Maman Phylo, salah seorang yang mengkhawatirkanku. Dia memelukku saat melihatku di tempat kerja sambil berkata, “Nurul.. Kukira kau ada dalam pesawat. Karena aku ingat kau pulang hari itu. Senang sekali bisa melihatmu hari ini,” </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kecelakaan pesawat ini adalah yang terburuk semenjak UN beroperasi di Congo. Seluruh UN berkabung. Bendera diturunkan setinggi setengah tiang. MONUSCO website penuh dengan ucapan bela sungkawa. Memorial Service untuk mengenang para korban dipersiapkan. Hal terakhir yang bisa dilakukan untuk menghormati para korban yang sudah mendahului kita. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Beberapa kejadian sempat membayangi ingatanku. Saat aku kesal ketika mengetahui bahwa namaku berada di kolom ‘<em>waiting list’</em>. Saat aku menelepon teman – temanku agar aku bisa terbang, saat aku meninggalkan bandara dengan sedikit menggerutu. Ada hikmah besar di balik semua itu. Aku GAGAL jadi korban. Puji syukur kepada Allah. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Selama aku berada di wilayah misi, aku semakin bisa merasakan bahwa naas itu dekat sekali. Kematian bisa datang kapan saja. Selama masa penugasanku di Head Quarter, tak kurang dari sepuluh kali aku mempersiapkan <em>Memorial Service</em> untuk para <em>Peace Keeper</em> yang sudah mendahului kita. Bermacam kasus yang menyertai kepergian mereka. Dari sakit mendadak hingga kerusuhan yang memakan korban nyawa. Jika sudah menerima khabar kehilangan ini, <em>Memorial Service</em> akan segera dilakukan. Melakukan serangkaian <em>ceremony</em> dan memanggil para pemuka agama. Yang diakhiri dengan doa, “<em>May Them Rest in Peace,</em>”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Begitulah. Saat naas itu sudah tiba, tak ada yang bisa dilakukan untuk meolaknya. Tidak bisa bilang tunggu. Diharapkan maupun tidak diharapkan, diundang maupun tidak diundang, siap atau tidak siap, naas dan kematian akan tetap mendatangi. Semoga kita semua siap, ketika waktu itu telah tiba. Aaaamiiin.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurulfitrilubis.wordpress.com/881/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurulfitrilubis.wordpress.com/881/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurulfitrilubis.wordpress.com/881/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurulfitrilubis.wordpress.com/881/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurulfitrilubis.wordpress.com/881/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurulfitrilubis.wordpress.com/881/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurulfitrilubis.wordpress.com/881/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurulfitrilubis.wordpress.com/881/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurulfitrilubis.wordpress.com/881/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurulfitrilubis.wordpress.com/881/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurulfitrilubis.wordpress.com/881/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurulfitrilubis.wordpress.com/881/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurulfitrilubis.wordpress.com/881/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurulfitrilubis.wordpress.com/881/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurulfitrilubis.wordpress.com&amp;blog=7367937&amp;post=881&amp;subd=nurulfitrilubis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/06/28/naas-itu-dekat-sekali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f70f3c5fe09a49af430aa6466cfcd329?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nurulfitrilubis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/06/baiturrahman.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">baiturrahman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dua Puluh Tips Untuk Solo Traveler</title>
		<link>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/06/17/dua-puluh-tips-untuk-solo-traveler/</link>
		<comments>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/06/17/dua-puluh-tips-untuk-solo-traveler/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jun 2011 08:36:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nurul Fitri Lubis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articles]]></category>
		<category><![CDATA[Journals]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nurulfitrilubis.wordpress.com/?p=873</guid>
		<description><![CDATA[ Jalan &#8211; jalan bareng teman tentunya menyenangkan. Saat menjumpai sesuatu yang baru, ada teman yang bisa diajak berkomentar. Saat mau nyari tempat baru, ada teman yang diajak celingak celinguk. Saat ada cowok keren yang asyik dilihat &#8211; lihat, ada teman yang diajak untuk lirik – lirik si cowok. Tapi, ada kalanya saat kita mau liburan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurulfitrilubis.wordpress.com&amp;blog=7367937&amp;post=873&amp;subd=nurulfitrilubis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2010/12/walk-in-tho-clouds.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-635" title="walk in tho clouds" src="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2010/12/walk-in-tho-clouds.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a> Jalan &#8211; jalan bareng teman tentunya menyenangkan. Saat menjumpai sesuatu yang baru, ada teman yang bisa diajak berkomentar. Saat mau nyari tempat baru, ada teman yang diajak celingak celinguk. Saat ada cowok keren yang asyik dilihat &#8211; lihat, ada teman yang diajak untuk lirik – lirik si cowok. Tapi, ada kalanya saat kita mau liburan, tidak ada satupun teman yang bisa kita ajak. Jadwal yang nggak pas lah, si teman lagi bokek lah, si teman nggak mau pergi ke tempat yang kita tuju lah, si teman nggak berani pergi terlalu jauh, dan berbagai alasan lainnya. Jika sudah kepentok situasi seperti ini, solo traveler menjadi pilihan.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Solo Traveler juga tidak kalah menyenangkan. Bebas kemana saja kita mau. Kalau liburan bareng teman, hal ini tidak bisa dilakukan tanpa berkrompomi dengan si teman. Bisa tidur dan bangun sesuka hati. Kalo sama teman, tidak bisa dilakukan juga tanpa kesepakatan. Satu teman sukanya dugem. Mana mungkin diharapkan bangun pukul enam pagi. Sementara teman yang lain sangat suka memulai aktivitas berpelesir sejak matahari terbit. Nah lho, bingungkan.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kemungkinan bertemu orang – orang baru juga lebih besar. Karena kita sendirian, biasanya kita juga nyari solo traveler untuk dijadiin temen celingak celinguk. Kalau liburan bareng teman, kita cenderung merasa tak butuh bantuan orang lain.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Begitupun, tetap aja ada kekurangan jika kita melakukan perjalanan seorang diri. Kalo ada kesulitan, karena sendirian, mau tak mau ya harus diselesaikan seorang diri. Keamanan juga faktor lain yang harus dipertimbangkan. Berikut, beberapa tips kalo Anda mau jadi Solo Traveler (berdasarkan pengalaman pribadi).</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Tentukan tujuan</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ini wajib dilakukan. Dari awal, harus sudah tahu mau kemana dan mau melakukan apa. Jangan hanya mikir, “Ah.. Aku mau ke tempat ini ah..” tanpa tahu <em>interesting places</em> yang layak untuk dikunjungi dan <em>interesting things</em> untuk dilakukan.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Hunting ticket</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sesuaikan harga ticket dengan isi rekening Anda</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Cari informasi semaksimal mungkin tentang tempat / negara yang akan Anda kunjungi. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Regulasi Visa. Apakah bisa mendapatkan <em>Visa on Arrival</em> atau Visa harus di urus di depan. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Vaksinasi. Untuk beberapa negara, ada beberapa vaksinasi yang harus dilakukan. Hindari kejadian Anda dideportasi hanya karena ketidaklengkapan dokumen dan kurangnya informasi.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. Susun itinerary</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hal ini penting sekali. Agar tidak buang – buang waktu ketika tiba di tempat tujuan dan sibuk mikir, “Hari ini mau kemana ya?” Hal ini bisa dilakukan dengan mengecheck beberapa website terpercaya. TripAdvisor, lonelyplanet dan virtual tourist biasanya jadi andalanku, karena ada review dari para traveler.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5. Cari hotel / penginapan</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sesuaikan dengan jadwal itinerary yang telah Anda susun. Jika memungkinkan, carilah hotel di wilayah strategis, yang berdekatan dengan tempat makan serta atraksi menarik.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>6. Bawa peta </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sangat penting jika kita berpelesir seorang diri. Peta ini jadi panduan serta teman selama di perjalanan.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>7. Siapkan perlengkapan yang dibutuhkan sebelum berangkat  liburan</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sesuaikan dengan tempat yang akan di datangi. Cek juga keadaan cuaca dan temperatur udara. Jangan sampai salah kostum, seperti memakai pakaian seadanya saat suhu udara sangat rendah.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>8. Ketika tiba, lihat dan pelajari keadaan sekitar di hari pertama. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jangan terlalu heboh meng <em>exsplore</em> semua tempat. Kenali pos keamanan, rumah sakit, bank, dan beberapa tempat lainnya.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>9. Pake sun cream, biar ngga item dan terbakar.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>10. Jangan malu bertanya kalo ngga mau nyasar dan jalan – jalan tanpa tujuan</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>11. Bawa buku dan <em>music player</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> Kedua benda ini bisa membantu untuk membunuh kebosanan saat tak ada orang yang bisa diajak bercerita.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>12. Ikut tour</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kemungkinan bisa dapat teman seperjalanan dan menambah koleksi teman Anda</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>13. Jangan terlalu mengandalkan kartu kredit</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Bawalah juga uang kontan atau ATM yang bisa dipakai dimana saja. Hindari kejadian ketika kartu kredit Anda terblokir, dan Anda tak memiliki uang kontan sepeser pun.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>14. Gunakan Safety Money Belt untuk menyimpan uang, pasport, dan dokumen – dokumen berharga lainnya</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/06/safe-money-belt.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-877" title="safe-money-belt" src="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/06/safe-money-belt.jpg?w=300&#038;h=175" alt="" width="300" height="175" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><em>Safe Money Belt</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Gambar diambil dari: <a href="http://moneybelt.co.cc/about">http://moneybelt.co.cc/about</a></em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>15. Karena anda sendirian, biasanya ada saja orang – orang yang akan mendatangi Anda. Bertanya apakah Anda perlu ‘teman’ untuk menemani kesendirian Anda. Jika Anda tak berminat, tolaklah dengan sopan.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>16. Hindari daerah – daerah rawan, s</strong><strong>eperti tempat yang terlalu ramai dimana pencopet juga ramai berkeliaran. Jika anda wanita, daerah <em>Red District</em> juga sebaiknya jangan didatangi seorang diri. Karena, bisa – bisa Anda disangka sedang ‘berjualan’.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>17. Sebelum mengambil foto, kenali keadaan sekitar. Jika ingin mengambil foto orang secara terang – terangan, minta izin lah terlebih dahulu pada orang tersebut.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>18. Jangan lupa berterima kasih setelah mengambil foto.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>19. Gunakan Tripod untuk foto narsis</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>20. Jika tidak membawa tripod, namun tetap ingin foto narsis, mintalah bantuan sesama traveler untuk mengambilkan foto Anda. Sebaiknya, minta tolong pada:</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>- Orang tua. Pasti ngga bisa lari kencang. Jadi, kecil kemungkinannya untuk melarikan kamera Anda.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>- Pasangan yang membawa serombongan anak kecil. Mereka tidak akan rela Anda menyandra anaknya hanya untuk sebuah kamera.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>- Pasanga muda yang istrinya sedang hamil gede. Masa tega kabur sama kamera sambil ninggalin istrinya yang udah pasti ngga bakalan bisa lari.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>- Orang yang bawa perlengkapan fotografi seabrek – abrek dan lebih bagus dari yang Anda bawa. Percayalah. Akan sulit membawa kabur kamera anda sambil menenteng – nenteng peralatan fotografi yang harganya bisa bikin tertegun selama berjam – jam.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jika Anda memiliki tips lain, dipersilahkan untuk berbagi <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nurulfitrilubis.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nurulfitrilubis.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nurulfitrilubis.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nurulfitrilubis.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nurulfitrilubis.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nurulfitrilubis.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nurulfitrilubis.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nurulfitrilubis.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nurulfitrilubis.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nurulfitrilubis.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nurulfitrilubis.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nurulfitrilubis.wordpress.com/873/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nurulfitrilubis.wordpress.com/873/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nurulfitrilubis.wordpress.com/873/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nurulfitrilubis.wordpress.com&amp;blog=7367937&amp;post=873&amp;subd=nurulfitrilubis&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nurulfitrilubis.wordpress.com/2011/06/17/dua-puluh-tips-untuk-solo-traveler/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f70f3c5fe09a49af430aa6466cfcd329?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nurulfitrilubis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2010/12/walk-in-tho-clouds.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">walk in tho clouds</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nurulfitrilubis.files.wordpress.com/2011/06/safe-money-belt.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">safe-money-belt</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
