Khasab, Norway of Arabia


Hari masih pagi, dan aku ngantuk abis. Namun, apa daya. Bukannya melanjutkan tidur yang tertunda, aku harus keluar dari pesawat yang sudah mendarat dengan mulus di Muscat untuk melanjutkan perjalanan ke Khasab.

Kesultanan Oman, adalah negara jazirah Arab yang kesekian kalinya, yang aku kunjungi. Bandara di Muscat, biasa aja dan ngga terlalu besaar. Jauh, kalo dibandingkan dengan tetangganya di Dubai. Bagus juga sih, aku ngga perlu pake acara nyasar buat nyari-nyari gate.

Penerbanganku ke Khasab, menggunakan maskapai Oman Air, dipercepat satu jam dari waktu yang ditentukan. Syukur, aku tiba lebih awal, jadi ngga sampe ketinggalan pesawat, dan ngga kelamaan nunggu waktu di ruang tunggu. Setelah duduk selama 30 menit, kamipun dipersilahkan untuk naik ke pesawat. Pesawatnya tidak besar, hanya berisikan kurang lebih 30 penumpang saja. Pesawat pun masih dilengkapi baling – baling, bukannya mesin jet seperti pesawat Boeing.

Aku yang suka paranoid kalo udah urusan terbang mulai cemas, ketika melihat satu baling – baling tidak berputar. Namun, sepertinya hanya aku satu-satunya penumpang yang cemas. Ibu – ibu asal Srilanka di sebelah kelihatannya tenang aja. Si ibu juga udah ngambil posisi enak buat tidur lagi. Penasaran, aku bertanya dengan penumpang yang duduk tepat di depanku.

“Kenapa tuh baling-baling ngga berputar?” tanyaku, setengah mengancam. Seolah-olah penumpang malang ini bertanggung jawab dengan perputaran baling-baling.

“Ngga tau,” katanya datar.

Pesawat mulai jalan. Baling-baling masih belum berputar juga. Keringat mulai bercucuran. Cemas, secemas-cemasnya, sampai aku memutuskan untuk memanggil abang-abang pramugara yang tampangnya Arab banget itu. Tapi, begitu suara mulai sampai di tenggorokan, sang penumpang malang itu berbalik ke arahku, berkata dengan penuh semangat,

“Tuh, lihat. Baling-balingnya udah mutar” kelihatannya dia juga lega. Aku berhasil menularkan kecemasan padanya.

Kami pun terbang menuju Khasab. Khasab ini adalah sebuah kota, bagian dar Kesultanan Oman. Letaknya yang unik, membuatnya tidak bias ditempuh melalui darat tanpa harus melewati negara Uni Emirat Arab. Jalan lain, melalui laut atau udara. Pilihan kedua menjadi pilihanku. Please deh, malas banget  bayar visa UAE hanya untuk bisa melintas saja. By the way, masuk negara Kesultanan Oman, untuk warga negara Indonesia bisa menggunakan visa on arrival saja. Oh ya, aku memutuskan ke Khasab, konon katanya kota ini selain terkenal dengan lumba – lumba dan tempat pelarian warga Dubai untuk menghabiskan weekend, Khasab juga terkenal dengan sebutan sebagai “Norway of Arabia” karena letaknya yang terpencil memiliki celah – celah gunung yang sempit. Mari kita lihat semenarik apakah kotanya.

Khasab, terlihat dari atas pesawat
Khasab, terlihat dari atas pesawat

Aku mendarat di Khasab. Antara ngantuk, bingung dan takjub dengan gunung – gunung pasir yang ada di kanan kiri landasan pacu. Bandara di Khasab, tidak besar sama sekali. Pesawat yang mendarat pun kecil – kecil, dengan ukuran pesawat fokker, twin otter maupun helicopter. Ruang kedatangannya pun sepi karena tidak banyak penumpang. Aku langsung terlihat berbeda di antara para wanita yang menggunakan abaya. Pria-prianya menggunakan baju tradisional terusan panjang. Hanya ada dua kantin kecil di sana. Hotelku, jelas belum menjemput karena aku tiba dua jam sebelum jadwal yang dijanjikan. Mana mungkin aku menunggu selama itu.

Sebuah mesjid di Khasab
Sebuah mesjid di Khasab

Ah, aku pun lupa pula membeli SIM Card Baru. Aku tidak bisa menelepon hotel, dan aku pun tak punya kartu kredit untuk menggunakan telepon umum. Bandara mulai sepi. Tak ada satupun yang bisa kuajak berbicara dalam bahasa Inggris. Penjual di kantin hanya menatapku dengan kosong, ketika aku meminta untuk menggunakan teleponnya, dan akan membayar pulsa yang akan kugunakan. Setengah putus asa, aku mendatangi seorang pria yang tengah berdiri di depan ruang kedatangan. Aku kembali menjelaskan niatku untuk meminjam telepon selulernya.

Kali ini, sang pria sangat kooperatif. Dia menjawab dalam bahasa Arab, hanya dia dan Tuhan yang tahu apa yang dia ucapkan. Dia mengajakku ke satu ruangan, dan ternyata ruangan kepala Bandara. Oh, Alhamdulillah. Allah mengirimkan penolong. Pak Kepala Bandara yang bahasa Inggrisnya sangat lancar,  bukan hanya meminjamkan telepon tapi langsung menelepon hotel tempat aku menginap.

“Tunggulah di depan. Mereka akan segera tiba. Jika dalam lima menit mereka tak datang, kembalilah ke sini. Aku akan menghubungi mereka lagi,” kata pak Kepala bandara. Terima kasih, Bapak. Engkau penlongku.  Tak sampai lima menit, mobil dari hotel tiba untuk menjemputku.

Aku menginap di hotel Diwan Alamir, hotel termurah yang bisa kutemukan di Khasab. Tidak ada hostel maupun budget hotel di kota ini. Khasab memang tak ramah untuk kantong budget traveler seperti aku. Tak ada yang ingin kulakukan selain tidur setiba di hotel. Setelah memesan Dolphin tour (satu – satunya alasanku untuk datang ke Khasab) aku menuju kamar dan langsung tertidur begitu merebahkan badan di tempat tidur. Mandi, urusan belakangan.

Khasab benar – benar sepi. Seperti bandara, kotanya juga dikelilingi bukit pasir. Jalanan aspal nan mulus, namun tak ramai orang. Mungkin, dikarenakan musim panas akan segera tiba bulan depan, membuat orang malas untuk berkeliaran di jalan. Aku menghabiskan sore pertamaku dengan duduk di balkon kamar, mengamati sudut-sudut kota dari kejauhan.

Sebuah benteng di Khasab
Sebuah benteng di Khasab
Jalanan mulus di Khasab. Aspal nya, asli mulus. Ngga berlubang sama sekali
Jalanan mulus di Khasab. Aspal nya, asli mulus. Ngga berlubang sama sekali
Kota Khasab dilihat dari kamar hotel
Kota Khasab dilihat dari kamar hotel

Keesokan harinya, Amir, dari tour company menjemputku. Ahmad, manajer hotel mengucapkan ‘selamat bersenang-senang’ kepadaku. Amir membawaku ke pelabuhan, dimana banyak terdapat perahu – perahu kayu tradisional yang menawarkan paket wisata bagi pengunjung. Aku orang pertama yang tiba di kelompok turku. Sepuluh menit kemudian, satu keluarga asal Perancis tiba dengan dua anak mereka. Tak lama setelahnya sepasang kekasih muncul dan kami siap berangkat.

Pelabuhan di Khasab
Pelabuhan di Khasab

Well, Khasab memang menakjubkan. Buat aku yang lahir dan tinggal di negara tropis, pemandangan bukit dan padang pasir adalah hal yang sangat mengagumkan. Meskipun menurut rekan kerjaku asal Mesir, si Khalid (yang menganggap hujan dan semak belukar hijau sesuatu yang teramat sangat indah) itu adalah sesuatu yang sangat membosankan, aku tak bosan – bosannya memandang bukit pasir yang berjajar di sepanjang laut.

Khasab, the Norway of Arabia
Khasab, the Norway of Arabia
Khasab
Khasab
Khasab
Khasab
Khasab
Khasab
Khasab
Khasab
Nelayan yang tengah memancing di teluk Arab
Nelayan yang tengah memancing di teluk Arab
Khasab
Khasab
Perahu - perahu kayu yang membawa pelancong di Khasab
Perahu – perahu kayu yang membawa pelancong di Khasab

Kapal kami berlayar, mengarungi teluk Arab, melewati selat – selat kecil yang dikepung gunung – gunung tinggi yang besar. Pihak tur membagikan soft drink dan makanan kecil yang tak habis-habisnya kepada kami. Aku bercakap – cakap dengan keluarga Perancis yang ternyata datang khusus dari Dubai untuk melihat Khasab. Tak lama, aku pun sibuk dengan kamera untuk mengabadikan keindahan alam yang tak sering kusaksikan.

Setelah berlayar selama lima belas menit, kami mulai bertemu kawanan lumba – lumba. Baru kali ini kusaksikan lumba – lumba di habitat aslinya. Cepat juga si lumba – lumba ini. Kapal kami sampai menambah kecepatan untuk mengimbangi laju si lumba – lumba. Seru juga kegiatan mencari lumba – lumba ini. Kami terkadang harus berlomba – lomba dengan kapal lain untuk bertemu lumba – lumba, sebelum dia hilang lagi di laut dalam.

Lumba-lumba di Khasab
Lumba-lumba di Khasab
Lumba-lumba di Khasab
Lumba-lumba di Khasab

Sebelum tengah hari, kapal kami berhenti di satu titik. Di sini, kami bisa berenang dan snorkeling untuk melihat keindahan bawah laut, dengan ikan – ikan berwarna warni yang berenang – renang riang. Semua orang turun ke air untuk berenang, selain sepasang kekasih yang tampaknya sang cewek sedang ngambek.

“Ayolah. Masa kau tak mau turun ke air. Kau berenang bersamaku di pantai Jumeirah,” rayu si cowok, yang ternyata seorang pilot maskapai terkenal dari UEA. Si cewek tetap diam. Pak pilot habis sabar.

“Baiklah, aku akan berenang. Aku tak mau menyetir sejauh ini dan tidak memanfaatkan waktu untuk berenang selama di sini” Si cowok ikut nyebur bersama kami.

Tour Khasab
Tour Khasab
Spot snorkeling di Khasab
Spot snorkeling di Khasab
Siapa yang keberatan berenang dengan ikan-ikan cantik ini? Aku, Tidak :-)
Siapa yang keberatan berenang dengan ikan-ikan cantik ini? Aku, Tidak🙂
Siapa yang keberatan berenang dengan ikan-ikan cantik ini? Aku, Tidak :-)
Siapa yang keberatan berenang dengan ikan-ikan cantik ini? Aku, Tidak🙂
Sebelum nyebur ke laut, foto dulu donk
Sebelum nyebur ke laut, foto dulu donk

Usai berenang, kami makan siang di atas kapal. Pihak tur benar – benar sudah memperhitungkan segalanya. Makan siangnya enak. Ada nasi biryani, kari daging, shawarma, salad dan ayam goreng. Nikmat sekali menyantap makan siang di tengah laut sehabis berenang dengan angin sepoi – sepoi. Aku makannya sampai nambah lho🙂

Kapal yang membawa kami berlayar. Penuh dengan makanan juga.
Kapal yang membawa kami berlayar. Penuh dengan makanan juga.

Usai makan, kegiatan mencari lumba – lumba dilanjutkan kembali. Kami pun kembali berkejar – kejaran dengan lumba – lumba dan kapal – kapal lain untuk bisa melihat lumba – lumba lebih jelas. Masih ada satu spot lagi dimana kami bisa berenang. Karena saat itu di laut banyak ubur – ubur, tak satupun dari kami berniat untuk berenang, kecuali Pak Pilot yang tampaknya punya energi tak berkesudahan.  Aku lebih memilih duduk, mengobrol dengan kekasih pak Pilot. Tak lama, Pak Pilot bergabung bersama kami, tampaknya mereka sudah berbaikan karena pak Pilot tersengat ubur – ubur.

50 Things To Know About Professional Photography


The Nomadic Guy

These are some of the important points that must be considered by every photographer :

1 – While shooting in, always set your setting to RAW.
2 – Use Prime lenses if you are a beginner.
3 – Learn Photo editing.
4 – Avoid Macro photography if you are not an expert
5 – UV filters can function as a lens cap.
6 – Less reading and more activity i.e. stop reading forums and start taking more pictures.
7 – Try to capture the beauty behind simple objects.
8 – Digital and films are similar.
9 – No camera can make you a better photographer but regular practise can.
10 – Good lenses don’t necessarily produce great photographs.

Photography Tips & TricksPhotography Tips & Tricks | Image Resource : kelbytv.com

11 – Don’t focus on other people, others world and try to concentrate on your skills.
12 – DSLR are not designed for…

View original post 419 more words

One Day Trip to Princes Islands


Remember when I said that traveling alone doesn’t mean you’re totally alone?

This statement is totally true, especially in my case. Along the way, I always find many people to talk with and even to travel with. At the beginning, I thought that would be difficult to start conversation with strangers I met on the road. But, once it’s started, it flows just like water. My memorable visit to Princes Island can’t be more fun if I didn’t meet these two strangers on the road.

I had been planned to visit this small island in one of my holiday time in Istanbul. In my stupid imagination, I was expecting to meet a prince in the island. It was on early March, and the weather was still cold that I thought. I was waiting for tram went to Kabatas at tram station closed to Sultanahmet area when I saw there were two gentlemen sitting on the bench.

I presumed they’re tourist as me, since they have digital cameras on their hands, after all their faces showed that they’re originally coming from Asia.

Tram came, and I stepped in. Those two gentlemen followed after me. One of them standing next to me suddenly asked me in my mother language,

“Hi. Dari Indonesia kan? Mau ke mana?” which meant “Hi. Are you from Indonesia? Where are you going?”

Surprisingly shock with the question since I didn’t expect that he came from the same country as mine, I answered the question shortly, “Princes island”.

Nonetheless, after those two awkward conversation, we became familiar each, he (Arief) introduced me to his friend (Junaid, Indian South African), and at the end, they decided to join me to Princes Island.

The islands consist of small islands around. Buyukada is the biggest and the most famous island among them. In Istanbul, there are many travel agent offering tour package to go to the island. However, if you don’t to use their service, coming there alone is not a bad idea. From Sultanahmet, you can get in to the tram, get out at the last stop at Kabatas, across the road and you’ll find ticket lockets to the island. There are two options for the tickets, using the speed boats or the slow one. We chose the first one.

The trip through Bosphorus was amazing where I could see the skylines of Istanbul with its special minarets from the sea. It was cold, but I couldn’t resist myself to sit on the deck, enabled me to capture beautiful moments with camera. The journey itself took 90 minutes for one way.

Hagia Sophia seen from the Sea
Hagia Sophia seen from the Sea
Istanbul seen from the Sea
Istanbul seen from the Sea

Princes islands had been a resort for the riches from Istanbul since Byzantine period and continued once Ottoman took over Turkey.  During those times, Princes Islands became the escape places for the royals, to enjoy the privacy, especially in the summer. Vehicles are forbidden which makes the island become specials. The only vehicles we saw are ambulance, fire truck and garbage trucks. If you want to see around, the carts and bicycle rental are available.

Buyukada Port, Princes Island
Buyukada Port, Princes Island
I was in Buyukada, Princes Island
I was in Buyukada, Princes Island

As its name, this island is purposed as villas for the rich. Big houses could be found everywhere, but many of them are empty. I heard that the owners just use them for vacation only. Most of houses are designed using wooden structures as Victorian style houses. It’s lovely to walk in the empty road and listen to ring of bicycle and horses’ steps for sometimes. For more photos, please click here.

Due to its location separated to the main land, the price in the island is more expensive compared to Istanbul. However, we still found sea food restaurant in waterfront area with reasonable prices for the lunch.

Along water front area, there are many restaurants offering delicious sea food.
Along water front area, there are many restaurants offering delicious sea food.

Arief and Junaid left the island earlier since they needed to catch their flight on the afternoon. After having lunch together, we said good bye and they stepped on the boat to bring them back to Istanbul. I still had some hours before catching the last boat. I was renting bicycle and had fun to explore the island by myself.

My travelling mates and I at Buyukada, Princes Island
My travelling mates and I at Buyukada, Princes Island
Ready for Biking
Ready for Biking

Princes island is also famous with its ice cream, and don’t miss them. It took half an hour to finish one big cone of ice cream in the middle of cold weather of Princes Island.

One of Ice Cream shop in Buyukada
One of Ice Cream shop in Buyukada
Enjoying Ice Cream
Enjoying Ice Cream

Wanderer Song


Location: Wadi Mujib, Jordan
Location: Wadi Mujib, Jordan

Glad to be on the road again.
Happy to fall in love once again..
With the mountain, with the sky..
With the sea and the wind blows..
See it for the first time.
Hear it for the first time.
Feel it for the first time.
Taste it for the first time.
Like the first love ever.
Oh wanderer..
Get your bag ready.
Open your maps quickly.
Get the train, jump on it.
Let the breeze blow your face softly.
Get lost, talk to strangers.
See the world…
Another story begins….

…… Magic city, 11th October 2014…..

Antrian Panjang di Château de Versailles


Painting of Chateau de Versailles, FranceHari itu hari Selasa, bertepatan dengan hari di mana hampir semua museum di Paris tutup untuk perawatan. Kecuali istana Versailles. Maka, hari itu saya bulatkan tekad untuk melihat keindahan istana Maria Antoinette itu. Versailles terletak di luar kota Paris. Tempat itu sudah tidak dapat dicapai dengan metro. Begitupun, ada salah satu bus mempunyai tujuan langsung ke istana Versailles. Ongkosnya hanya 2 Euro untuk sekali jalan.

Begitu turun dari bus, saya sudah bisa melihat antrian untuk memasuki istana. Ternyata ada dua jalur antrian. Yang satu untuk membeli tiket, sementara yang satunya lagi untuk masuk ke istana. Oh, ternyata bukan saya saja yang menganggap hari ini adalah hari yang tepat untuk berkunjung ke istana. Karena hampir semua museum di Paris tutup, maka bisa dikatakan turis tumpah ruah ke istana ini.

Statue of King Louis XV, in front of Chateau de Versailles
Statue of King Louis XV, in front of Chateau de Versailles

Chateau de Versailles, France

Saya menyesal tidak mengikuti saraan Coralie untuk membeli tiket in advance. Antriannya benar – benar luar biasa. Untuk membeli tiket, saya mengantri selama satu jam. Sementara untuk masuk ke istana, Oh Tuhan. Antrian serasa tidak pernah berakhir. Jalur antrian bukan merupakan garis lurus lagi. Tapi sudah berkelok – kelok seperti ular naga. Hampir tiga jam saya menunggu untuk bisa masuk ke dalam istana.

Chateau de Versailles
Chateau de Versailles

Di dalam, pengunjung luar biasa banyak. Berbagai macam bangsa. Turis solo, keluarga, rombongan turis dengan agen perjalanan, rombongan anak sekolah. Pokoknya rame sekali. Saya hampir kehabisan tenaga begitu memasuki istana. Syukur, saya langsung disuguhkan dengan pemandangan interior istana yang sangat mewah dan indah. Langit – langit dipenuhi lukisan indah. Dinding juga dipenuhi lukisan dengan pigura – pigura cantik. Lukisan Raja Louis XV, Raja Louis XVI, Maria Antoinette, Lukisan istana secara keseluruhan dan masih banyak lagi.

Saya berjalan mengikuti arus pengunjung yang sedang berjalan. Saya melihat hanya ada satu jalur. Jika sudah masuk, tidak bisa kembali lagi hingga kembali ke jalur masuk utama. Ada juga ruang Hercules. Ruangan ini digunakan sebagai kapel.

Yang paling menarik adalah Hall of Mirrors atau ruang kaca. Langit – langitnya dipenuhi lukisan. Sementara lampu – lampu kristal bergelantungan di langit – langit. Ruangan indah sekali. Saya membayangkan saat itu usaha para pekerja untuk membangun istana yang secantik itu. Tentunya perlu kerja keras, ketekunan dan kesabaran penuh.

Aku di Hall of Mirrors, Chateau de Versailles, France
Aku di Hall of Mirrors, Chateau de Versailles, France

Sebenarnya saya masih ingin berkeliling untuk melihat taman, yang konon terkenal dengan keindahan air mancurnya. Namun, kaki ini rasanya sudah mau putus karena kelamaan berdiri. Telapak kaki saya mulai terasa panas. Saya hanya melihat taman dari balik jendela sebelum memutuskan pulang.

Usai istirahat dan makan siang (saya makan siang pukul 4  sore), saya melanjutkan pesiar ke Montmartre. Tempat ini terkenal dengan pelukis – pelukis jalanan terkenal. Namun, saat ini tempat ini begitu terkenal, sehingga lukisan – lukisan yang dijual menjadi mahal. Ketika saya tiba, waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Langit masih terang benderang, namun toko – toko sudah mulai tutup. Tujuan saya adalah ke Sacre Coeur. Sebuah katedral yang terletak di atas bukit Montmartre.

Sacre Coeur juga dipenuhi turis, baik asing maupun lokal. Banyak juga orang kulit hitam yang menawarkan souvenir. Terkadang mereka agak memaksa. Bersikap tegaslah jika tidak ingin membeli apapun, dan jangan melihat – lihat. Sacre Coeur tempat yang menyenangkan untuk menghabiskan sore. Di atas puncak, saya bisa melihat kota Paris. Jika langit terang, saya mendengar menara Eiffel juga bisa terlihat. Rasanya menyenangkan duduk – duduk di rumput sambil melihat mentari mulai padam.

Saat langit mulai gelap, saya beranjak turun dan menyusuri jalanan kota Paris. Tak jauh dari sini, terletak gedung opera Mouline Rouge yang terkenal itu. Di sepanjang jalan dari Montmartre menuju Mouline Rouge, banyak sekali toko – toko khusus orang dewasa. Jika membawa anak kecil, sebaiknya tidak melewati jalan ini.

Moulin Rouge, Paris, France
Moulin Rouge, Paris, France
I'm at Moulin Rouge
I’m at Moulin Rouge

Bertemu Si Cantik Eiffel


Saya ingat, ketika sahabat saya Vicky, berkata, “Jangan pergi ke Paris sendirian. Kau akan merasa kesepian dikelilingi turis – turis dengan pasangannya”.

Hal ini membuat saya ingin melewatkan Paris dan melanjutkan perjalanan langsung ke Jerman. Namun, tetap saja. Paris itu begitu menggoda di mata saya. Dengan menara Eiffelnya, dengan istana nya, dengan galeri – geleri nya. Terlalu berharga untuk dilewatkan. Selain itu, Coralie, sahabat Perancis saya juga tengah berada di Paris. Ini satu kesempatan untuk bertemu dengannya, setelah hampir dua tahun tak bertemu. Begitu mendengar saya akan ke Eropa, Coralie langsung menghubungi saya, dan berkata “You must come to Paris to see me and stay at my house”

Karena itu, akhirnya saya membeli tiket kereta api cepat Amsterdam – Paris. Saya cukup beruntung, mendapatkan harga murah, 50 Euro, untuk sekali jalan di gerbong kelas I. Namun, saya harus berangkat pagi sekali dengan harga murah ini. Pukul 6 pagi, saya sudah siap di stasiun Amsterdam Central. Saya membeli tiket secara online. Semakin jauh dari hari perjalanan, maka semakin murah harganya. Untuk membeli tiket online, bisa di sini.

Perjalanan dari Amsterdam menuju Paris, memakan waktu selama tiga jam tiga puluh menit. Sebagian besar waktu saya gunakan untuk tidur. Lagipula, pemadangannya tidak terlalu menarik, menurut saya. Hanya berupa tembok dan gedung – gedung tinggi. Saya mengharapkan pemandangan pedesaan. Saya hanya terbangun saat kereta berhenti di Rotterdam dan Brussels.

Saya tiba di stasiun Paris du Nord saat waktu menunjukkan pukul 10.30 pagi. Saya masih harus ke kantor Coralie untuk mengambil kunci flat nya. Coralie sedang sibuk sekali sehingga tidak bisa menjemput . Saya pun tak mau merepotkannya karena sehari sebelumnya dia baru saja tiba dari Den Haag. Syukurnya, di Perancis sistem transportasinya sudah sangat modern dan teratur. Bahkan ada website khusus jika kita ingin mencari suatu alamat. Tinggal memasukkan alamat asal dan tujuan, maka keterangan pun akan segera muncul. Lengkap dengan peta dan nomor metro/tram/train/bus yang mengantarkan kita sampai tujuan. Websitenya bisa dilihat di sini.

Jalanan di Kota Paris, Perancis
Jalanan di Kota Paris, Perancis

Alhamdulillah, saya tidak mendapatkan kesulitan ketika mencari kantor Coralie. Ada saja orang – orang yang datang membantu ketika saya tengah bingung. Coralie memberikan skets alamat rumahnya, lengkap dengan nomor metro dan kode kunci rumahnya. Flat Coralie berdekatan dengan toko – toko dan restoran. Bahkan banyak restoran halal di sekitarnya, memudahan saya untuk mencari makanan halal.

Usai istirahat, saya berangkat untuk melihat menara Eiffel. Untuk transportasi, saya membeli karcis terusan untuk 3 hari (visitor pass) seharga kurang lebih 24 Euro. Dengan karcis ini, saya bebas turun naik metro, tram dan bus selama tiga hari. Stasiun metro di Paris terlihat kuno. Tangganya pun masih terbuat dari tangga biasa, bukan escalator. Di dalam stasiun, banyak lorong berkelok – kelok. Terkadang di beberapa tempat, tercium bau pesing menyengat.

Paris tak sesempurna yang terlihat di televisi . Semua penjelasan ditulis dalam bahasa Perancis. Saya bersyukur, bahasa Perancis saya yang pas – pasan sangat membantu selama di sana. Di sepanjang lorong – lorong ini banyak pengamen memainkan akordion. Baik peroranga maupun grup. Saya diingatkan oleh Coralie agar berhati – hati selama di Paris. Selain terkenal dengan keindahan kotanya, Paris juga terkenal dengan copetnya.

Tidak sulit menemukan Eiffel, hanya satu kali menggunakan Metro dari flat Coralie. Begitu keluar dari stasiun, banyak penunjuk arah menunjukkan arah si menara cantik ini. Hanya beberapa langkah, saya bisa melihat Eiffel menjulang tinggi. OMG, saya ada di Paris. Akhirnya saya bisa menyaksikan karya sang maestro Gustave Eiffel dengan mata kepala saya sendiri. Saya hanya berjalan – jalan di sekitar taman, sama sekali tidak bermaksud untuk naik ke puncak Eiffel. In my humble opinion, pemandangan seluruh Paris tidak akan spesial jika sang landmark tidak ada di sana.

Saya bersama Eiffel, Paris, Perancis
Saya bersama Eiffel, Paris, Perancis
Eiffel di malam hari, Paris, Perancis
Eiffel di malam hari, Paris, Perancis

Selanjutnya, saya melanjutkan perjalanan untuk melihat Arc de Triomphe. Jaraknya pun sudah dekat dari Eiffel. Hanya satu kali metro saja. Di sana, saya meihat banyak orang – orang Indonesia. Yang berjalan – jalan bersama keluarga, maupun dengan agen perjalanan.

Arc de Triomphe, Paris, Perancis
Arc de Triomphe, Paris, Perancis
Skulptur di Arc de Triomphe, Paris, Perancis
Skulptur di Arc de Triomphe, Paris, Perancis
Paris, Perancis
Paris, Perancis
Paris, Perancis
Paris, Perancis

Ketika hari mulai gelap, saya kembali pulang karena dalam satu jam kemudian, Coralie akan tiba di rumah dan kami akan malam bersama.

Canal Cruise di Amsterdam


Hari itu sebenarna saya berencana untuk mengunjungi taman bunga tulip terbesar, Keukenhof. Namun, saya terlambat bangun, dan baru tiba di bandara Schiphol, tempat di mana shuttle bus ke Keukenhof mangkal, setelah waktu menunjukkan pukul 11 siang. Begitu tiba, antrian untuk naik bus sudah sangat panjang sekali. Belum lagi antrian untuk membeli tiket masuk ke Keukenhof. Waktu saya bisa habis seharian di sana. Padahal, ini hari terahir saya di Belanda.

Akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Amsterdam dan membeli karcis terusan selama sehari. Dengan tiket ini, dengan membayar 7 Euro, saya bisa turun naik tram dan metro kapan saja. Setiba di Amsterdam Centraal, saya melihat banyak sekali agen perjalanan yang menawarkan canal cruise. Saya masuk ke salah satu agen dan membeli tiket untuk satu jam canal cruise.

Canal Cruise itu dimulai dari satu kanal terletak di depan Amsterdam Centraal. Dari sana, kapal kami meluncur ke laut lepas, melewati jembatan dan masuk ke kanal – kanal kecil. Disini, saya dan turis – turis lainnya disuguhkan pemandangan khas Belanda. Rumah – rumah dengan arsitektur kolonial di sepanjang kanal, jembatan – jembatan dengan lengkungan strukturnya, sepeda – sepeda yang terparkir di mana – mana. Oh ya, di Belanda ini sepertinya hampir semua orang memiliki sepeda. Sepeda merupakan salah satu transportasi utama di sana.

Canal Cruise, Amsterdam, the Netherlands. Pelayaran dimulai dari sini.
Canal Cruise, Amsterdam, the Netherlands. Pelayaran dimulai dari sini.
Canal Cruise, Amsterdam, the Netherlands. Stasiun kereta api Amsterdam Centraal
Canal Cruise, Amsterdam, the Netherlands. Stasiun kereta api Amsterdam Centraal
Saya di atas kapal, berpesiar di sepanjang kanal
Saya di atas kapal, berpesiar di sepanjang kanal

Ketika canal cruise usai, waktu sudah menunjukkan waktu untuk makan siang. Tanpa sengaja, saya menemukan satu restoran Indonesia, bernama Kantjil. Menunya, tentu saja menu Indonesia. Saya yang menganggap makanan Indonesia adalah yang terenak di dunia, langsung memilih menu khas Indonesia. Nasi rendang dan siomay bandung. Untuk informasi restoran, bisa dilihat di website.

Usai makan siang, saya pun memanfaatkan karcis terusan saya. Tujuan saya adalah Istana atau Grand Palace. Wuih,rame sekali di sana. Sepertinya ketika saya datang sedang ada demonstrasi tentang Mesir, karena ada bendera Mesir di sana. Saya tidak paham apa yang mereka demonstrasi kan, karena menggunakan bahasa Belanda. Saya juga tidak terlalu berminat memasuki istana. Yang saya lakukan hanyalah mengambil foto di depan istana dan menonton beberapa atraksi yang dilakukan beberapa orang untuk menarik pengunjung.

Grand Palace, Amsterdam, the Netherlands
Grand Palace, Amsterdam, the Netherlands
Saya di depan Grand Palace
Berbagai atraksi di Grand Palace, Asmterdam, the Netherlands.
Berbagai atraksi di Grand Palace, Asmterdam, the Netherlands.
Berbagai atraksi di Grand Palace, Asmterdam, the Netherlands.
Berbagai atraksi di Grand Palace, Asmterdam, the Netherlands.
Berbagai atraksi di Grand Palace, Asmterdam, the Netherlands.
Berbagai atraksi di Grand Palace, Asmterdam, the Netherlands.

Dari sana, saya kembali naik tram untuk melihat Museum Anne Frank. Oh la la. Lagi – lagi saya mengurungkan niat begitu melihat antrian. Panjang sekali. Akhirnya, saya memutuskan untuk berjalan – jalan di daerah permukiman Jordan, yang tak jauh dari sana. Melihat rumah – rumah kapal, yang saat ini sudah dijadikan restoran dan museum. Saya sempat memotret serumpun bunga tulip di sekitar situ.

Nih, antrian di depan rumah Anne Frank, Amsterdam, the Netherlands
Nih, antrian di depan rumah Anne Frank, Amsterdam, the Netherlands
Kanal di area permukiman Jordan, Amsterdam, the Netherlands
Kanal di area permukiman Jordan, Amsterdam, the Netherlands
Sepeda ada di mana - mana, Asmterdam, the Netherlands
Sepeda ada di mana – mana, Asmterdam, the Netherlands
Serumpun bunga tulip, Amsterdam, the Netherlands
Serumpun bunga tulip, Amsterdam, the Netherlands
Westerkerk, gereja di dekat rumah Anne Frank, Amsterdam, the Netherlands
Westerkerk, gereja di dekat rumah Anne Frank, Amsterdam, the Netherlands

Sisa hari hanya saya habiskan dengan turun naik tram, dari tram satu ke tram lainnya. Saya tidak punya tujuan khusus. Saya hanya ingin melihat pemberhentian terakhir tram sambil melihat pemandangan yang saya lewati selama perjalanan. Selama saya tahu, tram itu akan kembali ke Amsterdam Centraal, saya tidak perlu merasa khawatir akan tersasar.

Empat hari di Belanda, sangat tidak cukup untuk menikmati keindahan negeri tulip. Banyak yang saya lewatkan. Tulip di Keukenhof, desa kincir angina Zaanse Schans, museum Van Gogh dan banyak lagi. Rasanya ingin tinggal lebih lama. Belanda membuat saya betah. Mungkin, karena selama di sana saya melihat banyak sekali komunitas Indonesia. Jadi, saya tidak merasa terlalu asing. Saya harap, suatu saat saya bisa kembali ke sana.