Belajar Nggak Memandang Status


BA, 22 Nov 2008

 

Hari yang melelahkan. Hari terakhir bekerja di IOM dengan kewajiban penuh. Mulai minggu depan sudah begabung di UN untuk ikut training. Meskipun belum staff resmi, karena kontrak kerja mulai berlaku di awal Desember. Minggu ini cukup berat. Aku harus mengambil keputusan sulit. Antara kenyamanan yang sudah kudapatkan di IOM dan tantangan baru yang lebih menantang dan tentunya lebih berwarna. Thanks to God, KC, bossku sangat kooperatif. Satu hal yang sangat kusuka darinya. Dia tidak segan – segan melepasku, jika tahu aku akan mendapatkan kesempatan yang lebih baik. Bahkan, dia juga bersedia ngisi reference letter dari UN yang tidak sedikit. Thank so much KC. I hope we’ll meet again in the future in the different project. Minggu ini berlalu sempurna. Seluruh tugas sudah diselesaikan. Berakhir lah tugas – tugas design. Aku benar – benar keluar dari dunia design. Gak akan ada lagi concrete, steel, reinforce, piping, and many more.

 

Keanggotaanku di Toastmaster sudah diaktifkan. Oh ya. Toasmater ini klub dimana para member saling membantu dan mendukung untuk menjadi good communicator and leader. Pusatnya sendiri ada di California. Aku resmi sudah menjadi member organisasi tersebut. Hari ini aku menjalankan Project Number 1. Ice breaker. Dimana aku memberikan speech, fokusnya adalah self introduction. Dalam waktu maximal 5 menit aku harus bisa memberikan semua resume mengenai diriku. Mulai dari childhood, hobbies, education, works and many moore. Sempat gugup juga waktu di depan, pas mo ngasi pidato. Nggak kebayang, yang nonton banyak banget. Padahal, meeting minggu sebelumnya hanya dihadiri 15 orang member. Malam ini, wuihh. Member 15 orang, ditambah guest sekitar 10 orang. Astaga. Belum lagi aku dah lama banget nggak ngomong di depan forum kayak gitu. Jadi ingat waktu kerja di konsultan dulu.

 

Pas itu mo presentasi di kantor Dinas Pertanian, ngasi presentasi tentang design Kebun Koleksi Gur Gur yang aku design. Awalnya sih nyantai. Dari informasi yang kuterima,  paling aku presentasi dengan orang yang biasa aku temui. Ternyata, salah besar. Yang hadir banyak kali. Termasuk Kepala Dinas Pertanian. Ketua Balai Penelitian Benih apa…. (lupa namanya. Kantornya di depan Dinas Pertanian), Pim Pro, dan berbagai functionaries lainnya. Gugup banget. Pas udah giliranku ngomong, sempat deh selama 1 menit terdiam nggak tau mo ngomong apa. Pucat juga mungkin. Sampe akhirnya managerku nyenggol kakiku sambil bisik, “Pit. Ayo. Sekarang giliranmu, jangan bengong terus,”

 

Aku pun mulai presentasi dengan sedikit suara bergetar. Sambil ngeliat orang – orang yang nonton aku presentasi, dengan pandangan terkagum – kagum (dari sudut pandangku). Ini yang bikin semangatku meningkat. Aku berfikir saat ini akulah leadernya. Dan mereka semua nggak bakal ada yang ngerti project ini kalo aku nggak ngomong. Mereka semua hanyalah penonton (termasuk Pak Kepala Dinas). Syukurlah, Presentasiku lancar. Entah akunya yang bagus, atau karena mereka nggak ngerti apa yang kumaksud karena ada satu orang bapak – bapak yang kebalik waktu ngebaca gambar. (Dimaklumi, mereka bukan orang teknis). Syukurnya, di akhir presentasi mereka ngerti dengan konsep kebun yang aku rencanakan.

 

Begitu juga malam ini. Walaupun terbata – bata (maklum, pake bahasa Inggris), tadi saking gugup aja pas mo bilang absolute malah kebilang astonished. Jauh banget artinya. Tapi, aku bisa juga buat orang – orang ketawa dengan humor yang aku selipkan di speechku. Dan, aku jadi speaker favorite malam ini. Hore…. Soalnya yang jadi speaker malam ini cuma dua orang, karena 3 orang lagi pada cancel. Tetap aja senang.

 

Oh ya, di antara guest – guest yang datang ke Toastmaster, ada satu orang yang pernah kutemui sebelumnya. Sebutlah namanya Doni. Doni ini pernah aku jumpa waktu aku datang ke English Club di BA. Dia satu kelompok denganku waktu acara table topic session. Kita pas itu lagi kedatangan tamu – tamu bule dari Amerika, dan ngajak ngobrol tamu – tamu ini. Si Doni ini  bahasa Inggrisnya ancurrr abiiisssss. Tapi, dia pede banget orangnya. Gak tau malu ngomong sama si bule. Nanya sana sini sambil kita bantuin translate. Trus tadi malam dia juga gitu. Datang dengan pedenya, meskipun cuma jadi guest. Trus, ngomong cas cis cus nggak jelas. Pas akhir acara, kita ada session dimana guest harus kasi comment. Dipanggillah dia ke depan, ditanya mengenai kesan yang di dapat di club Toastmaster. Si Doni datang dengan cengar cengir pede. Dia bilang, dia suka banget dengan suasana di toastmaster, mungkin akan bergabung kalau waktunya sudah pas. Trus, pas dia di tanya pekerjaannya apa, dia juga dengan pede ngejawab bahwa dia adalah Fisherman. Kami semua sempat terdiam, sampe ada jeda waktu selama beberapa detik. Dan dia, masih tersenyum  dan bilang lagi, “Yes, I am Fisherman,” seakan – akan untuk make sure. Akhirnya, salah seorang teman bilang, “Doni. It’s nice job,” Dan kita kasi applauss untuk dia.

 

Salut banget sama si Doni ini. Seorang nelayan masih memiliki semangat tinggi untuk belajar. Kami semua kagum dan salut padanya. Aku jadi malu pada Doni, dan pada diriku sendiri. Aku yang selama ini selalu ngeluh, kenapa nilai Toefl nggak naik – naik dan cuma jalan di tempat. Kenapa aku nggak mencontoh Doni. Meningkatkan usahaku lebih keras. Aku harus lebih rajin. Jika seorang Doni yang bisa dikatakan punya profesi yang jauh dari urusan intelektual mau berupaya untuk meningkatkan kapasitas dirinya, belajar sesuatu yang tak dipahaminya, datang dengan kepercayaan diri yang luar biasa besar ke lingkungan yang sama sekali asing untuknya dan berbeda latar belakang baik dari segi pendidikan maupun pekerjaan. Tapi tak ada kata menyerah untuknya. Dia mencoba dan berusaha. Kenapa aku nggak mencontoh usahanya?

 

Hari ini aku dapat pelajaran berharga. Yang kudapat bukan dari profesor berpendidikan tinggi, bukan dari boss ataupun rekan kerja yang sudah punya pengalaman kerja di berbagai belahan dunia, atau dari mentorku di Toastmaster yang udah jago banget bahasa Inggris dan kemapuan komunikasinya, melainkan dari seorang nelayan sederhana. Belajar itu tidak memilih orang. Siapapun bisa belajar, dimana saja dan kapan saja. Dimana ada usaha, pasti jalan selalu terbuka. Semoga kamu berhasil Doni. Gud Luck.

2 thoughts on “Belajar Nggak Memandang Status

  1. Ann

    Nurul……..

    wah.. masih betah aja yah.. di Kongo…. , jadi kangen ke Afrika juga nih….
    kamu bagusnya jadi penulis novel loh…, habis cara bercerita kamu sangat2 bagus… dibarengi lagi itu pengalaman real kamu… jadi iri deh…. hehehe (guess who am I ?)… kalo benar ntar ku kirim Toblerone….

  2. Nurul Fitri Lubis

    Hi Ann. Iya nih, masih betah di Congo. Tapi sekarang aku lagi cuti. Ntar December baru balik ke Africa. Pengen sih, jadi penulis beneran dan bikin novel beneran. Cuma, waktunya ngga cukup. Dan lagi, belum ada penerbit yg berminat dengan diriku. Hahahahaha. Btwan kamu siapa sih? Yang jelas, pasti seseorang yg kenal langsung sama aku. Salah satu temen dari Nias kah? Hayo….. Jangan bikin penasaran donk…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s