Bunga Ajaib


Medan, 28 Juni 1996

 

Di sebuah desa, di pedalaman Swiss, tinggallah seorang pemuda bernama Edvard. Dia hidup seorang diri. Kedua orang tuanya sudah meninggal, dan Edvard tidak punya sanak saudara yang lain. Edvard tinggal di sebuah gubuk kecil, hanya terdiri dari  satu ruangan saja. Gubuk itu sangat jelek, tidak ada barang berharga di dalamnya. Hanya berisikan sebuah tempat tidur reyot, sebuah rak untuk menyimpan baju dan piring serta sebuah meja dengan satu kakinya yang hampir tak bisa berdiri lagi.

 

Edvard sangat pemalas. Awalnya orang tuanya meninggalkan cukup harta untuknya. Tapi, karena sehari-hari kerjanya hanya melamun dan bermimpi, maka lama kelamaan Edvard harus menjual satu demi satu hartanya untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Bahkan pada akhirnya Edvard juga harus menjual rumah keluarganya dan pindah ke gubuk reyot.

 

Suatu malam, Edvard sudah kehabisan uang. Dia sudah tidak makan selama dua hari. Malam itu sangat dingin, saat itu musim gugur dan musim dingin akan segera tiba. Edvard sangat kedinginan. Satu-satunya yang menghangatkannya adalah selimut tua ibunya, yang sudah berlubang di sana sini.

 

Akhirnya, setelah kedinginan yang tak terahankan, Edvard pun tertidur dalam lapar. Dalam tidurnya dia bermimpi, bertemu dengan seorang putri cantik. Putri itu berkata, “ Edvard. Kalau kau tidak ingin kelaparan, pergilah ke puncak pegunungan Alpen. Di sana ada bunga edelweiss ajaib. Dia bisa memberikan apapun yang kau minta. Tapi, ada satu syarat yang harus kau penuhi. Kau tahu, ada sebidang tanah di samping gubukmu? Setelah kau mendapatkan edelweiss, kau harus menggarap tanah tersebut dan menanaminya . Dan jika berhasil, berikanlah semua hasilnya kepada orang-orang miskin,”

 

Setelah mendengar penjelasan si putri, Edvard terbangun. “Itu hanya mimpi. Tak mungkin terjadi, “ bisik Edvard. Dia menarik selimut tuanya, mencoba untuk tidur kembali. Tetapi, begitu dia memejamkan matanya, dia mendengar suara putri itu kembali, hanya saja kali ini dia tidak dapat melihat wujudnya.

 

 “Itu bukan mimpi Edvard sayang. Itu benar. Pergilah besok pagi ke puncak pegunungan Alpen. Dan kau akan menemukan edelweiss yang kukatakan.” Dan setelah itu Edvard tak mendengar apa-apa lagi.

 

Paginya, Edvard memtuskan untuk mencari bunga Edelwiss tersebut. “ Karena aku tak punya apapun yang harus kukerjakan, kukira tak apalah kalau aku mencarinya. Lagi pula aku bisa melupakan rasa laparku sejenak,” pikirna.

 

Maka mulailah Edvard mencari bunga edelweiss. Dia mendaki  pegunungan Alpen yang tinggi. Di tengah perjalanan, dia menjumpai segerombolan pohon arbei yang sedang berbuah lebat. Alangkah herannya Edvard mendapati buah arbei di musim gugur seperti ini. Setelah memakan senanyak yang dia sanggup, Edvard melanjutkan perjalanannya untuk mencari edelweiss.

 

Setelah mendaki dan terus mendaki, akhirnya tibalah Edvard di puncak pegunungan. Dia memandang berkeliling. Dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat setangkai bunga edelweiss yang paling aneh yang pernah dilihatnya. Bunga tersebut tidak berwarna putih, tetapi merah. Dan sangat keras, berkilauan seperti kaca. Tetapi, ketika Edvard  memetiknya, terasa sangat rapuh.

 

“Apakah ini edelweiss yang dikatakan sang putri kepadaku?” pikirnya takjub. “ Kalau ini memang edelweiss ajaib, maka saat ini tolong berikan aku mantel tebal, karena aku sangat kedinginan.”Dengan segera mantel tebal dengan bulu binatang muncul di pelukan Edvard. Edvard bahagia sekali. Dengan segera dia mengucapkan terima kasihnya kepada sang putri yang tak tampak. Edvard pulang ke gubuknya dengan perasaan bahagia. Sejak saat itu Edvard hidup berkecukupan. Dia bisa mendapatkan apapun yang didinginkannya. Makanan, pakaian, bahkan dia telah membangun gubuknya menjadi rumah yang sangat indah.

 

Edvard tidak melupakan  janjinya kepada sang putri. Dia mulai menggarap tanah yang ada di sebelah gubuknya. Dia menanaminya dengan berbagai tanaman. Wortel, buncis, selada, kacang, kentang, dan segala macam sayuran lainnya. Setiap panen, dia selalu memeberikan hasilnya kepada orang-orang miskin. Bukan itu saja, dia juga memberikan pakaian dan uang kepada orang-orang miskin tesebut.

 

Tapi, lama kelamaan Edvard mulai melupakan janjinya. Dia sudah terbiasa dengan kehidupan yang menyenangkan. Hanya tinggal meminta kepada Edelweiss, maka semua keinginannya langsung terkabul. Dia tidak lagi mengurus kebunnya, dan mulai melupakan orang-orang miskin. Sepanjang hari hanya bermalas-malasan.

 

Sampai di suatu malam di musim dingin, Edvard berniat ingin meminta kayu bakar dan makanan kepada edelweiss. Tetapi, alangkah terkejutnya dia, bunga edelweiss yang semula bercahaya itu telah menjadi layu, dan warnaya tidak lagi merah, melainkan hitam.

 

“Mungkin memang sudah saatnya dia menjadi layu,” pikir Edvard. “Aku akan kembali ke Alpen untuk mengambil yang lainnya.” Maka mulailah Edvard melakukan perjalanan untuk mendapatkan edelweiss  kembali. Tetapi, sesampainya di puncak, dia tidak bisa menemukan edelweiss ajiab. Yang tinggal hanyalah edelweiss-edelweiss berwarna putih. Edvard sangat kecewa. Dia terus mencari dan mencari. Tetapi tetap tidak bisa menemukan edelweiss yang diinginkannya.

 

Karena kelelahan, Edvard tertidur. Dalam tidurnya dia kembali bertemu dengan si putri cantik. Edvard sangat senang bertemu dengnnya dan meminta kepada sang puteri untuk memberikan edelweiss ajaib kepadanya.

 

Tapi sang putri hanya menggeleng dan berkata , “ Tidak Edvard. Kau sudah kuberi kesempatan. Tapi kau meyia-nyiakannya. Setelah merasakan kenikmatan yang diberikan Edelweiss, kau menjadi malas. Tidak mau bekerja, dan mulai melupakan orang-orang miskin di sekitarmu. Keajaiban  yang kuberikan hanya datang sekali Edvard. Dan mulai sekarang, jika kau ingin hidup senang, kau harus bekerja Edvard. Tidak pernah ada kata untuk bermalas-malasan,” dan puteri itu hilang begitu saja

 

Edvard sangat menyesal terhadap apa yang telah dilakukannya selama ini. Seandainya dia diberi  kesempatan, maka dia akan melakukan apapun untuk mendapatan edelweiss itu kembali. Tapi apa bisa dikata. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s