Fero Si Unicorn


Medan, 16 Oktober 2001 (In the middle of the night when i could not sleep at all)

 

Zaman dahulu kala, di dalam sebuah hutan yang lebat, hiduplah seekor unicorn bernama Fero.  Unicorn adalah kuda putih yang memiliki tanduk di kepalanya. Fero adalah satu-satunya unicorn yang masih hidup di hutan tersebut, dan kemungkinan besar satu-satunya  pada masa itu. Kedua orangtua Fero sudah meningal, dan selama hidupnya Fero hidup bersama binatang-binatang lain.

 

Fero hidup bahagia, bersama teman-temannya. Tidak pernah sekalipun Fero merasa kesepian, meskipun dia satu-satunya binatang yang berbeda dari binatang lain. Semua binatang di hutan itu menyukai dan menyayangi Fero. Hal ini bukan hanya dikarenakan Fero sudah yatim piatu, dan tinggal seorang diri, tapi Fero juga sangat penyayang dan baik hati. Dia selalu membantu teman-temannya, jika salah satu diantara mereka mendapat kesulitan.

 

Suatu hari Fero merasa sangat kesepian. Tidak pernah dia merasa kesepian seperti ini sejak kedua orang tuanya meningal. Winky, monyet kecil yang juga sahabat dekat Fero sangat bingung melihat Fero menjadi murung dan begitu sedih.

 

“Temanku Fero, apa yang membuatmu begitu murung? Apakah kau punya masalah? Katakanlah kepadaku. Siapa tahu, aku bisa membantumu

“Winky, aku tidak apa-apa,” Fero menjawab lemah.

“Tapi, tidak sepertinya kau bertingkah seperti ini. Ayolah katakana kepadaku. Kita kan bersahabat.”

“Aku tidak tahu bagaimana menceritakannya kepadamu Winky,”

 “Ayolah sobat.”

 “Baiklah. Aku merasa sangat kesepian.”

 “Apa yang membuatmu merasa begitu?” tanya Winky heran. Sejauh ini semua binatang di hutan ini selalu memberikan perhatian kepada Fero. 

 “Aku tidak tahu Winky. Padahal, kalian semua yang ada di hutan ini, begitu baik dan sangat menyayangiku. Tapi, aku masih merasa seperti ada yang kurang. Dan semakin aku memikirkan hal ini, aku merasa semakin sedih?”

“Apa itu Fero?”

“Aku membutuhkan seseorang Winky”

“Apa lagi yang kau butuhkan? Kau memiliki kami semua.”

“Seseorang yang sama denganku. Aku sangat ingin bertemu dengan unicorn lain. Kau tahu, sepanjang yang aku tahu, aku adalah satu-satunya unicorn yang tersisa.

“Tapi Fero, buat apa kau mencari unicorn lain? Kau tidak memerlukannya selama kami semua menyayangimu.”

“Winky, aku menginginkan keturunan. Aku tidak mau menjadi unicorn terakhir di dunia ini.”

“Tapi, itu tidak mungkin Fero. Keluargamu adalah unicorn terakhir. Dan kau satu-satunya yang tersisa.”

“Masih ada kemungkinan Winky.”

 

Karena sangat menyayangi Fero, maka Winky mengajak Fero menemui Bimbi, seekor Singa yang juga merupakan pemimpin di hutan itu. Bimbi adalah singa yang cerdik dan bijaksana. Setelah mendengar apa yang disampaikan Winky, maka Bimbi mengadakan rapat akbar. Dia mengumpulkan seluruh binatang di hutan tersebut untuk mencari jalan keluar bagi Fero. Semua binatang sangat bingung. Mereka tidak tahu bagaimana caranya membantu Fero. Mereka sama sekali tidak pernah mendengar bahwa masih ada unicorn yang masih hidup di dunia ini. Sampai akhirnya, datanglah seekor elang hitam.

 

“Aku mendengar dari sekawanan lebah bahwa kalian ingin mencari unicorn,” si elang berkata sewaktu tiba di hadapan Bimbi, si pemimpin. “Bukankah di hutan ini sudah ada seekor?”

“Ya elang yang bijaksana,” jawab bimbi. “Tapi Fero, sang unicorn sangat ingin bertemu dengan unicorn lain. Dia sangat kesepian dan sedih. Apa kau punya ide mengenai hal ini?”

“Aku pernah mendenngar, masih ada dua ekor unicorn lain yang hidup di dunia ini.”

 “dimanakah itu elang yang baik?” tanya Fero dengan penuh semangat. “Bisakah kau memberitahuku?”

“Tapi…” si elang tampak sangat sedih. “Tempatnya jauuuuuuh sekali teman. Dan perjalanan kesana sangatlah berbahaya.”

“Tolonglah aku elang. Beritahu aku, dimana tempatnya. Aku tidak peduli, sejauh apapun dan betapa besar bahaya yang akan kutempuh. Kumohon. Beritahu aku.”

“Letaknnya di seberang pelangi sobat.”

“bagaimana aku bisa kesana?” tanya Fero bersemangat.

“Kau hanya berjalan ke arah matahari terbit. Dan, di ujung dunia ini, kau pasti menemukan pelangi tersebut. “

Aku akan kesana.” Ujar Fero. Matanya berbinar-binar.

“Tidak semudah itu teman. Perjalanan kesana sangatlah sulit. Tidak ada seekor binatangpun yang dapat menempuhnya. Dan, ada seorang pennyihir yang sangat jahaat. Aku mendengar, dia sangat menginginkan darah unicor untuk membuatnya hidup abadi. Jadi, jika dia melihatmu, aku tidak berani memabyangkan apa yang akan terjadi.”

“Aku tidak peduli. Tekadku sudah bulat,” kata Fero mantap. “Meskipun jika aku harus mati, aku akan merasa lebih lega karena sudah melakukan sesuatu untuk menemukan bangsaku.”

 

Semua bintang di hutan sebisa mungkin berusaha untuk menahan Fero. Mereka sangat takut kehilangan Fero,dan mereka juga tidak punya keberanian menghadapi bahaya sedemikian besar. Akhirnya, karena tekad Fero sudah bulat, dan mereka juga ingin Fero berbahagia, maka mereka pun melepas teman yang mereka sayangi. Mereka mengantar Fero sampai di tepi hutan. Dan setelah itu, mulailah Fero memulai perjalanan panjangnya seorang diri..

 

Perjalanan yang dihadapi Fero memang tidak mudah. Dia harus melewati padang rumput yang sangat luas, dimana banyak bahaya mengintai. Dia harus bersembunyi dari serangan srigala lapar. Setelah padang rumput, dia juga harus menghadapi gurun pasir yang sangat panas. Dan tiga kali Fero hampir kehilangan nyawa, hampir saja dipatuk ular kobra berbisa.

 

Sampai akhirnya, di malam yang dingin, Fero tiba di tepi hutan besar.

 

“Aku harus memasuki hutan ini,” piker Fero

 

Hutan tersebut sangat lebat. Dan daun-daunnya sangat rapat sekali. Bahkan, disiang hari sekalipun, hutan tersebut tetap gelap, karena sinar matahari tidak bisa menembusnya. Di hutan itu tidak ada yang bisa dimakan. Fero sangat kelaparan. Bahkan, tak satupun pohon-pohon itu berbuah. Fero berharap bisa menemukan makanan. Fero terus berjalan. Sampai akhirnya tiba di suatu tempat diamana phon-pohonnya tidak terlalu rapat. Sinar matahari, menerobos melalui sela-sela dedaunan. Fero tengah berbaring kelelahan, ketika terdegar suara nyaring. Seorang gadis yang sangat cantik.

“Oooh. Cantiknya. Seekor unicorn. Kemana kau akan pergi?” tanyanya dengan suara selembut madu.

“Aku hendak ke seberang pelangi. Tapi, aku lapar sekali. Kau tidak bisa menemukan apapun yang bisa kumakan. Kurasa, aku sudah tidak sanggup lagi.”

 “Kasihan sekali sayang. Kalau begitu,mari ke tempatku. Aku punya sesuatu yang bisa membuatmu enak.”

“Maka, pergilah Fero bersama si wanita cantik. Mereka tiba di rumah si gadis cantik. Si gadis segera menyiapkan makanan yang sangat banyak untuk Fero. Ada buah apel, anggur, arbei dan buah-buahan yang tidak pernah dilihat Fero sebellumnya. Tapi, anehnya sesudah memakan itu semua, Fero merasa sangat mengantuk, dan dia tertidur setelah selesai memakan buah arbei.

 

Fero merasa sangat tidak enak. Ketika terbangun, dia mendapati kaki-kakinya terikat tali. Dan dia berada di dalam ruangan gelap, dengan  jendela kecil di sudutnya. Fero bisa melihat dia tidak sendirian di ruangan itu.

“Dimana ini?” tanyanya bingung.

“Oh, kau sudah bangun,” jawab satu suara. “Kau si unicorn ya?”

“Iya. Apa yang terjadi. Mengapa kaki-kakiku terikat. Dan kau siapa?”

“Aku Wako, si rusa jantan. kau sudah masuk perngkap penyihir Dan kukira, mungkin sebentar lagi nasib kita akan segera berakhir.”

 “Apa maksudmu? Apa perempuan cantik itu penyihir” tanya Fero panik.

“Dia tidak cantik sama sekali. Itu karena sihinya. Dan kudengar, dia menginginkan darahmu untuk membuatnya hidup abadi?”

“Tak adakah yang bisa kita lakukan. Dan kau mengapa ada disini?”

“Dia menginginkan hatiku, ayng akan dicampur dengan darahmu. Dan itulah yang membuatnya abadi. Dia jahat sekali.” Wako diam sejenak. “Tapi ada satu cara Fero. Kelemahan penyihir itu di jantung. Dan dia hanya bisa mati, jika ditusuk oleh tanduk unicorn.”

“Aku akan melakukannya,” kata Fero

“Bagaimana mungkin? Kau terikat. Dan dia sangat sakti sekali. Aku khawatir, aku sudah menjadi debu sewaktu baru melangkahkan kakimu.”

 “Aku akan berusaha. Setidaknya aku tidak membiarkan diriku menjadi korban begitu saja.”

“Aku akan mencoba membuka ikatanmu. “Aku akan menggigitnya.” Kata Wako. Maka, wako berusaha membuaka ikatan yang membelit kaki-kaki Fero. Tapi, ikatan itu sangat kuat sekali dan Wako juga tidak dapat melakukannya dengan lebih baik, karena dia kakinya juga terikat.

Aku tidak sanggup lagi Fero. Tapi, tungu, aku mendengar sesuatu.”

 

Tiba-tiba Fero melihat seekor tikus, berlari-lari di sekeliling ruangan, mengitari Fero dan Wako.

“Hi tikus yang baik,” tegur Wako. “Tolonglah kami.”

“Bagaimana aku dapat melakukannya? Aku begitu kecil, sedangkan penyihir itu jahat dan kejam sekali.” Jawab si tikus sedih

“Kau bisa membantu dengan membuka ikatan tali, yang mengikat aku dan Fero si unicorn. Dengan begitu, kita bersama-sama bisa menyerang si penyihir.”

“Resikonya sangat besar untuk menyerang penyihir itu. Tapi, baiklah. Aku akan mencoba.”

 

Maka si tikus kecil mulai menggigiti tali yang mengikat di sekeliling kaki-kaki Fero. Seelah beberapa saat, akhirnya usahanya itu berhasil. Beberapa lamanya mereka menunggu. Fero menceritakan maksudnya kepada Wako, akan niatnya untuk  mencari unicorn lain yang masih hidup. Meskipun merasa tidak yakin, Wako berjanji jika mereka bebas, dia akan membawa Fero ke tempatnya. Ayahnya adalah raja rusa, dan mungkin mengetahui keberadaan unicorn lain.

 

Setelah menunggu, tiba-tiba mereka mendengar pintu yang akan dibuka. Keduanya berpura-pura masih dalam keadaan terikat. Si penyihir masuk sambil menggenggam sebilh pisau. Tanpa disadarinya, Wako tiba-tiba menendangnya, dan si penyihir jatuh terlentang. Tapi, dia masih sempat mengacungkan tongkat sihirnya ke arah Wako, sebelum Fero menerjangnya dan menusuk jantung si penyihir dengan tanduknya.  Si penyihir mati, dengan mata terbelalak. Tapi, Wako juga terluka. Fero sedih sekali. Dia tidak tahu, apa yang harus dilakukannya. Maka, dengan sedikit tenaga yang tersisa, dia mencoba mengangkat Wako ke punggungnya dan mulai berjalan, menyusuri hutan kembali. Di tengah hutan, karena terlalu lelah, Fero pingsan tak sadarkan diri.

 

Ketika sadar, Fero melihat dirinya berada di sebuah tempat yang sangat nyaman. Pohon-pohon berjajar rapi, dan di kelilingi oleh sekelompok rusa. Rupanya, saat pingsan, seekor burung melihat mereka, dan memberitahu sang raja rusa. Raja rusa senang sekali, mengetahui, anak satu-satunya Wako, telah kembali. Meskipun terluka, setelah beberapa waktu, luka Wako membaik. Mereka memgadakan pesta untuk menyambut keedatangan Wako dan kematian si penyihir yang telah menghantui hutan mereka selama bertahun-tahun. Sang raja juga mengajak Fero untuk tinggal bersama mereka. Tapi, Fero masih ingat akan niatnya semula.

 

Sang raja sangat sedih, karena tidak bisa membantu Fero. Maka pada saat Fero melanjutkan perjalanannya kembali, mereka melepas Fero dengan berlinang air mata serta memberikan bekal yang banyak untuk dibawa.

 

Perjalanan Fero masih sangat panjang. Setelah melewati hutan, dia harus menyusuri sungai yang sangat curam dan berbatu. Beberapa kali, dia tergelincir ke sungai yang dingin dan deras, saat menginjak batu yang sangat licin. Setelah sungai, Fero harus mengahadapi pegunungan bersalju. Sangat dingin. Fero hampir mati kedinginan, jika seeekor beruang kutub tidak menyelamatkannya, dan memeberi Fero makanan yang cukup hangat.

 

Akhirnya, setelah perjalanan panjang, Fero berada di pantai dengan laut yang sangat biru. Tapi dimana pelangi yang selama ini dicarinya? Fero sangat putus asa. Dia sedang mengis, ketika tiba-tiba melihat seberkas cahaya berwarna-warni jauh, di seberang lautan. Maka Fero berjalan menyusuri pantai, berharap akan mencapai kaki pelangi tersebut. Sampai akhirnya dia berada tepat di bawah kaki pelangi. Fero gembira sekali. Segera saja dia menaiki pelangi dan berjalan diatasnya tanpa kenal lelah. Fero berjalan,mengikuti jalanan pelangi yang menanjak. Terus dan terus, hingga jalanan menurun. Pada kahirnya,  Fero tiba di kak pelangi yang lain, yang berada di hamparan hutan yang sangat indah. Fero berlari dan berlari. Dikala lelah, dia berjalan, dan disaat lelahnya berkurang, dia kembali berlari untuk mencari unicorn yang sangat diinginkannya.

 

Ketika Fero sudah sangat lelah, dia melihat ada sesuatu yang bercahaya, tergeletak di rerumputan. Fero berlari mendekatinya. Dan, alangkah sedihnya Fero, sesuatu yang tergeletak itu adalah seekor unicorn jantan yang sudah mati. Fero sedih sekali dan sangat kecewa. Seandainya saja dia tiba lebih awal. Fero tengah bersedih, memikirkan nasibnya ketka dia mendengar suara tangisan yang menyayat hati. Fero bejalan mengikuti suara tersebut, dan akhirnya menemukan seekor unicorn betina sedang menangis.

 

Fero mendatangi si unicorn dengan perasaan bahagia. “Mengapa kau menangis teman?” tanya Fero pada unicorn betina. Si unicorn betina terkejut melihat Fero “Kakakku baru saja meningal. Dan aku takut sekali, karena kudengar kamilah unicorn terakhir. Dan aku akan sendirian selama sisa hiidupku.”

“Sekarang kau tidak akan sendirian.” Kata Fero senang. “Kita akan bersama-sama sampai akhir.”

 

Begitulah akhirnya, Fero dan si unicorn betina hidup bersama dan punya anak anak yang banyak. Mereka menjadi keluarga bahagia, dan untuk sementara tidak menjadi unicorn terakhir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s