Mengamati Kecendrungan Menurunnya Minat Baca Anak Dan Remaja


Medan, 19 Agustus 2002

 

Membaca merupakan suatu kegiatan yang dapat menambah wawasan dan memperluas cakrawala kita. Membuka sebuah buku sama ibarat kita membuka jendela. Jika kita membuka jendela, kita dapat melihat semua kejadian yang ada di luar kita. Begitu juga jika kita membuka suatu buku. Kita juga dapat melihat hal-hal nyata yang terjadi di luar.

Kita tidak harus pergi ke  Italia hanya untuk mengetahui dan melihat bagaimana menakjubkannya Menara Pisa atau pergi ke Timur Tengah hanya untuk mengetahui peperangan dan konflik yang sedang berlangsung. Hal tersebut dapat kita lakukan hanya dengan membaca. 

 

Tapi, nyatanya, dewasa ini terlihat adanya kecendrungan menurunnya minat baca pada anak-anak dan remaja di Indonesia. Hal ini terlihat sangat jelas. Kita bisa melihat perbedaan bagaimana antusiasnya anak-anak jika meminta mainan baru atau CD Playstation terkini kepada orang tuanya dibandingakan dengan jika meminta sebuah buku. Atau para remaja yang lebih suka ‘ngeceng’ di mall atau ‘ngerumpi’ di cafe ketimbang meluangkan sedikit waktu untuk mengunjungi perpustakaan.

 

Di negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, Jepang, membaca bukanlah suatu kewajiban sulit bagi para anak-anak dan remaja di sana. Membaca buku sudah merupakan suatu kebiasaan. Mereka melakukan kegiatan membaca dimana saja, tidak hanya di sekolah atau di perpustakaan. Tetapi juga di taman, café  bahkan bis kota. Sebaliknya hal tersebut akan terlihat janggal jika dilakukan disini, karena masyarakat kita masih terlalu peka dalam menangapi sindiran-sindiran seperti ‘sok rajin’ jika terlihat membaca di tempat publik. Memang, kadang-kadang kita bisa melihat para pelajar atau mahasiswa yang membaca buku di bis kota  dalam perjalanan ke sekolah / kampus. Tapi biasanya hal itu dilakukan pada saa musim ujian, untuk mengejar ketinggalan materi bacaan yang selama ini dilupakan.

 

Saya mencoba melihat kilas balik kejadian yang terjadi pada tanggal 21 Juni 2003  lalu, dimana buku seri kelima Harry Potter diterbitkan. Para penggemar Harry Potter di Amerika dan Inggris datang berbondong-bondong beberapa jam, jauh sebelum waktu buku tersebut diluncurkan. Toko-toko buku dipenuhi oleh anak-anak, remaja, orang tua yang sangat berhasrat untuk segera mengetahui nasib penyihir cilik ciptaan JK Rowling tersebut. Dan ada juga orang tua yang mengizinkan anak-anak mereka bolos sekolah keesokan harinya hanya supaya si anak bisa membaca buku tersebut. Begitu antusiasnya anak-anak membaca buku tersebut, sehingga kita sampai mendengar adanya rumor “syndrome Harry Potter” melanda anak-anak di dunia. 

 

Sayang sekali, di negara kita ini, hanya segelintir orang saja yang menanggapi terbitnya buku ini dengan antusias, dibandingkan dengan populasi masyarakat Indonesia. Meskipun, buku ini dibilang sangat laris, tapi jika dibandingkan dengan jumpah populasi di Indonesia, paling-paling hanya segelintir orang saja yang mengetahui kapan tepatnya tanggal dan waktu terbit buku yang sudah menjadi best seller ini, bahkan sebelum buku tersebut selesai ditulis.

 

Tentunya hal ini mengundang pertanyaan bagi kita semua. Mengapa hal ini bisa terjadi?  Mengapa anak-anak di negara maju memiliki minat baca yang lebih besar dibandingkan dengan anak-anak Indonesia? Jawabannya, adalah karena tradisi membaca sudah menjadi darah daging bagi anak-anak yang tinggal di negara maju. Mereka punya kebiasaan setiap minggu pergi ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku, dan memberi target dalam satu bulan berapa banyak buku yang sudah mereka baca. Selain itu, banyaknya jumlah buku yang tersedia, dan dengan adanya perpustakaan dan book club   dimana-mana sehingga memudahkan anak-anak untuk memperoleh buku yang mereka inginkan. Bahkan, pada saat liburan musim panas, terdapat suatu camp yang diperuntukkan bagi anak-anak dengan fokus kegiatan  utama selama camp tersebut adalah membaca.

 

Kondisi sebaliknya malah kita dapati di Indonesia. Perpustakaan sangat jarang, dan buku – buku yang disediakan juga tidak lengkap. Ada kalanya disaat seseorang sangat menginginkan sebuah buku, tetapi dia tidak dapat menemukannya dikarenakan terbatasnya jumlah buku tersebut. Hal ini membuat munculnya rasa enggan untuk  membaca, karena adanya bayangan buku tersebut tak akan mereka dapatkan. Faktor uang juga menjadi masalah. Tingginya harga buku di Indonesia mengakibatkan buku-buku hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang memiliki uang lebih.

 

Keluarga juga memiliki pengaruh besar terhadap minat baca seorang anak. Seperti yang saya katakan diatas, faktor uang adalah masalah. Tetapi itu tidak sepenuhnya menjadi sebab utama rendahnya minat baca. Disekitar kita banyak kita jumpai anak orang-orang berada, dimana di kamarnya terdapat koleksi boneka Barbie yang sangat lengkap atau satu lemari penuh koleksi cd playstation, tetapi tidak mengetahui pengarang-pengarang buku anak terkenal seperti JK Rowling atau penulis legendaris Enid Blyton.

 

Peran serta orang tua  sangat penting dalam membentuk karakteristik dan minat baca anak. Sebagai orang tua, kita tidak dapat mengharapkan anak-anak akan suka membaca jika kita sendiri  tidak pernah membuka buku sama sekali. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan para orang tua untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat baca pada anak.

1.            Tunjukkan kepada anak-anak, bahwa orang dewasa sekalipun masih perlu membaca. Hal ini dapat kita lakukan dengan mengisi material-material bacaan di sekeliling rumah seperti di ruang tidur, ruang makan, ruang keluarga bahkan di dapur sekalipun.

2.            Membiasakan memberi hadiah berupa materi bacaan seperti buku dan majalah. Hal ini tentunya lebih baik ketimbang memberi hadiah pistol-pistolan kepada anak jika mereka membuat suatu prestasi.

3.            Biasakan untuk mengunjungi toko buku  dan perpustakaan setidaknya sebulan sekali.

4.            Sisihkan waktu untuk membaca setiap hari bersama keluarga, meskipun hanya 15 – 30 menit .

5.            Diskusikan apa-apa saja apa yang sudah dibaca anak-anak, dan berikan saran-saran terhadap apa-apa saja yang ingin mereka ketahui.

6.            Tunjukkan antusiasme terhadap apa yang sedang dibaca anak-anak. Reaksi para orang tua akan berpengaruh besar terhadap seberapa keras usaha anak-anak untuk menjadi pembaca yang baik.

Maka dari itu, sebagai generasi muda yang turut menentukan masa depan bangsa, maka mulailah kita dari sekarang untuk mulai menikmati kegiatan membaca. Cobalah dengan mengunjungi toko buku setiap kali pergi ke mall. Menyisihkan sebagian uang jajan untuk membeli buku, dengan catatan buku tersebut harus dibaca, jangan hanya dipajang di lemari buku. Atau meluangkan waktu duduk di perpustakaan. Memang tidak mudah untuk merubah suatu kebiasaan. Tetapi dengan usaha yang sungguh-sungguh, tidak ada hal yang tidak mungkin kita lakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s