Pembangunan Dengan Sistem Partisipasi Masyarakat Sebagai Salah Satu Usaha Untuk Meningkatkan Dan Memperbaiki Kehidupan Masyarakat Permukiman Kumuh


Dewasa ini angka urbanisasi di kota – kota besar di Indonesia semakin meningkat. Terutama di tiga kota terbesar seperti Jakarta, Surabaya dan Medan. Faktor urbanisasi disebabkan oleh banyak hal. Salah satunya karena tidak seimbangnya peluang pekerjaan yang tersedia di wilayah pedesaan. Hal ini semakin menyebabkan meningkatnya daya tarik kota yang dianggap mampu untuk memberikan kehidupan yang layak bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan maupun luar kota. Pemikiran akan bekerja di kota terdengar lebih bergengsi juga turut mempengaruhi angka urbanisasi. Begitu pula dengan bencana alam yang sering terjadi akhir – akhir ini memaksa orang – orang untuk pindah ke tempat yang lebih aman. Sekali lagi, kota masih menjadi pilihan utama dengan alasan lebih mudah mendapat akses penyelamatan jika terjadi bencana. Masyarakat pun berbondong – bondong meninggalkan tempat asal dan datang ke kota yang sudah penuh dan menjadi semakin penuh. Sayangnya, kapasitas para pendatang ini sangat terbatas. Baik dari segi pendidikan maupun skill. Akibatnya, bukannya mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Para pendatang tanpa keahlian ini menjadi orang pinggiran yang tinggal di kantung – kantung perkotaan yang tak layak huni seperti daerah aliran sungai, sepanjang rel kereta api, dan wilayah sekitar pabrik.

 

Meningkatnya pertumbuhan masyarakat di kota juga menyebabkan meningkatnya kebutuhan infrastruktur, serta sarana dan prasarana sebagai pendukung kehidupan. Namun, masyarakat dan pemerintah sendiri juga belum mampu menyokong dan memfasilitasi kebutuhan akan sarana dan prasarana penunjang ini serta permukiman yang sehat dan layak huni. Hal ini menyebabkan daya dukung sarana dan prasarana di lingkungan tersebut mulai menurun dan pada akhirnya akan mendorong munculnya suatu permukiman kumuh.

 

Isu akan permukiman kumuh merupakan isu yang global. Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) telah memasukkan masalah ini dalam daftar “Pekerjaan Rumah” yang akan mereka lakukan untuk mencapai apa yang disebutkan dalam UN Millenium Development Goals. Dimana pada target ke 11 di fokuskan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat kumuh, setidaknya 100 juta orang di seluruh dunia yang diharapkan tercapai pada tahun 2015.

 

Indonesia sebagai salah satu Negara berkembang di dunia masih memiliki rangking tinggi untuk masalah permukiman kumuh yang terjadi di kota – kota besar Indonesia seperti Jakarta, Surabaya dan Medan. Angka urbanisasi yang tinggi menyebabkan semakin meluasnya permukiman kumuh dan melahirkan permukiman – permukiman kumuh baru di berbagai kantung wilayah perkotaan. Urbanisasi yang terus meningkat tanpa adanya usaha pencegahan serta tidak disertai sarana dan prasarana yang memadai serta utilitas yang cukup, membuat suatu kawasan permukiman menerima beban melebihi kapasitasnya sendiri yang pada akhirnya menimbulkan suatu kawasan kumuh yang baru. Secara umum kota – kota di Indonesia, terutama kota besar memiliki masalah kompleks sehubungan dengan penyediaan sarana dan permukiman layak bagi masyarakat penghuni permukiman kumuh (biasa disebut dengan slum area) yang sebagian besar adalah masyarakat berpenghasilan rendah.

 

Medan sebagai kota ketiga terbesr di Indonesia masih sibuk berkutat dengan masalah permukiman kumuh yang banyak terdapat di sepanjang aliran sungai, rel kereta api dan daerah industri. Pemerintah masih punya banyak ‘PR’ untuk diselesaikan.  Berdasarkan data dari BPS tahun 2004 kota Medan terdiri dari 2.006.142 jiwa. Data SUSENAS tahun 2004, memperkirakan penduduk miskin di kota medan tahun 2004 berjumlah 7,13% atau 32.804 rumah tangga atau 143.037 jiwa. Dilihat dari persebarannya, Medan bagian Utara (Medan Deli, Medan Labuhan, Medan Marelan dan Medan Belawan) merupakan kantong kemiskinan terbesar (37,19%) dari keseluruhan penduduk miskin.

 

Secara umum permasalahan yang sering terjadi di daerah permukiman kumuh  adalah :

  1. ukuran bangunan yang sangat sempit, tidak memenuhi standard untuk bangunan layak huni
  2. rumah yang berhimpitan satu sama lain membuat wilayah permukiman rawan akan bahaya kebakaran
  3. sarana jalan yang sempit dan tidak memadai
  4. tidak tersedianya jaringan drainase
  5. kurangnya suplai air bersih
  6. jaringan listrik  yang semrawut
  7. fasilitas MCK yang tidak memadai

Selain akan menimbulkan penyakit, kondisi di atas juga akan menimbulkan kerawanan dan masalah dalam aspek sosial dan pada akhirnya akan menurunkan kapasitas dan produktivitas warga.

 

Kekumuhan lingkungan merupakan sesuatu yang paradoks. Bagi masyarakat yang tinggal di lingkungan tersebut kekumuhan adalah bagian dari hidup mereka. mereka tidak merasa masalah sama sekali dengan keadaan seperti itu. Sedangkan untuk pihak lain yang ingin menanganinya masalah kekumuhan adalah masalah yang significant dan segera perlu dilakukan penanggulangannya.

 

Perumahan kumuh dapat mengakibatkan berbagai dampak. Dari segi pemerintahan, pemerintah dianggap dan dipandang tidak cakap dan tidak peduli dalam menangani pelayanan terhadap masyarakat. Sementara pada dampak sosial, dimana sebagian masyarakat kumuh adalah masyarakat berpenghasilan rendah dengan kemampuan ekonomi menengah ke bawah dianggap sebagai sumber ketidakteraturan dan ketidakpatuhan terhadap norma – norma sosial.

 

Menghapuskan permukiman kumuh bukan solusi terbaik. Permukiman yang telah dihancurkan akan berpindah ke lokasi lain dan akan mendorong terbentukya kawasan kumuh yang lain. Yang terbaik adalah meningkatkan kualitas dan kapasitas lingkungan permukiman tersebut. Baik dari segi infrastruktur maupun dari segi komunitasnya sendiri. Karena itu perlu dilakukan Penataan Lingkungan Permukiman Kumuh. Untuk ini diharapkan masyarakat sebagai pelaku utama dan pelaksana kegiatan sebagai salah satu usaha untuk pemberdayaan masyarakat kumuh itu sendiri.

 

Implemetasi dari konsep pemberdayan masyarakat disini adalah penyelenggaraan pembangunan yang bertumpu kepada masyarakat yaitu suatu proses peningkatan peluang kesempatan mandiri dan bermitra dengan pelaku pembangunan yang lain. Proses pembangunan yang bertumpu kepada masyarakat merupakan suatu proses yang spesifik sesuai dnegan karakter masyarakatnya, yang meliputi tahapan identifikasi karakter komunitas, identifikasi permasalahan, perencanaan, pemograman mandiri serta pembukaan akses kepada sumber daya dan informasi.

 

Pendekatan penyelenggaraan pembangunan yang beorientasi untuk masyarakat perlu diubah menjadi membangun bersama masyarakat. Masalahnya adalah bagaimana mempersiapkan dan menciptakan kondisi masyarakat sebagai pelaku utama dalam pembangunan.

 

Dalam penerapannya, kegiatan ini menggunakan pemberdayaan masyarakat sebagai inti gerakannya, dengan menempatkan komunitas permukiman sebagai pelaku utama pada setiap tahapan, langkah dan poses kegiatan yang berarti komunitas permukiman adalah pemilik kegiatan. Pelaku pembangunan di luar komunitas permukiman merupakan mitra kerja sekaligus sebagai pelaku pendukung yang berpartisipasi pada kegiatan komunitas permukim.

 

Dengan demikian, strategi program ini menitikberatkan pada transformasi kapasitas manajemen dan teknis kepada komunitas melalui pembelajaran langsung (learning by doing) melalui proses fasilitasi berfungsinya manajemen komunitas. Penerapan strategi ini memungkinkan komunitas untuk mampu membuat rencana yang rasional, membuat keputusan, melaksankan rencana dan keputusan yang diambil, mengelola dan mempertanggungjawabkan hasil – hasil kegiatannya, serta mampu mengembangkan produk yang telah dihasilkan.

 

Program pemberdayaan masyarakat untuk proses pembangunan telah banyak dilakukan di tahun – tahun belakangan ini. Misalnya, Program Pengembangan kecamatan (PPK) yang dibiayai oleh Bank Dunia telah memulai program pembangunan dengan partisipasi masyarakat di desa – desa. Sedangkan program P2KP telah melakukannya di wilayah perkotaan. Sementara itu, pasca tsunami 2004 organisasi- organisasi  internasional maupun NGO lokal  juga mencoba menerapkan program tersbut kepada masayarakat penerima bantuan.

 

Masyarakat memang telah mendapatkan bantuan dengan sistem partisipasi masyarakat. Namun, banyak kendala yang terjadi selama proses berlangsung. Masalah yang sering muncul adalah banyak perkerjaan yang tidak selesai pada waktunya. Timeline yang meleset tentu menambah biaya operasional.

 

Melesetnya timeline disebabkan banyak hal. Skill masyarakat yang tidak memadai dalam pelaksanaan konstruksi. Kurangnya kesadaran memiliki dari masyarakat sendiri akan sesuatu yang dibangun menyebabkan mereka bekerja di bawah tekanan, dan hanya melakukan pekerjaan tersebut hanya karena faktor uang. Bukan karena faktor rasa memiliki yang seharusnya tumbuh dalam diri mereka. Untuk ini diperlukan sistem manajemen konstruksi yang berbasis masyarakan. Sistem ini diharapkan dapat diterapkan oleh mitra kerja sebagai pendamping masyarakat, membantu masyarakat degan mengarahkan masyarakat pelaku kegiatan melakukan pekerjaan dengan sistem manajemen berbasis masyrakat ini. Diharapkan, dengan sistem ini kita bukan hanya mengurangi jumlah masyarakat kumuh perkotaan namun juga meningkatkan kapasitas hidup mereka sendiri. Diharapkan Tujuan UN MDG target 11 ”Improve The Lives of Slum Dweller’ khususnya untuk Indonesia akan tercapai.

 

 

Sumber :

 

website NUSSP… Jum’at, 4 Januari 2008

situs pemerintahan kota medan

semiloka rencana pencananganan gerakan nasional penataan lingkungan perumahan kumuh, palembang 20 -21 agustus 2001, Ir. Djoko Kirmanto, Dipl

 

5 thoughts on “Pembangunan Dengan Sistem Partisipasi Masyarakat Sebagai Salah Satu Usaha Untuk Meningkatkan Dan Memperbaiki Kehidupan Masyarakat Permukiman Kumuh

  1. thanks!You made some good points there. I did a search on the topic and found most people will agree with your blog.It will greatly help me in my activities.
    Thanks though, i’m glad some people share good stuff like this! It will greatly help me in my activities

  2. Maybe you should make changes to the page subject title Pembangunan Dengan Sistem Partisipasi Masyarakat Sebagai Salah Satu Usaha Untuk Meningkatkan Dan Memperbaiki Kehidupan Masyarakat Permukiman Kumuh An Ongoing Journey to more catching for your subject you write. I enjoyed the the writing even sononetheless.

  3. Pingback: Tugas Ilmu Sosial Dasar – Makalah tentang Pemukiman Kumuh dan Cara Mengatsinya | Tifany Gillen N

  4. Pingback: Budaya Permukiman Kumuh | NABILAHWITSQA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s