Munculnya Pemukim Liar Sebagai Salah Satu Dampak Pembangunan Paska Tsunami


Empat tahun sudah tsunami berlalu. Pembangunan yang dilakukan di sana sini, telah menimbulkan warna baru bagi arsitektur perkotaan di Banda Aceh. Banda Aceh berkembang pesat. Rumah – rumah telah selesai dibangun, menunggu untuk ditempati, hasil kerja keras pemerintah, lembaga swadaya masyarakat dan lembaga internasional untuk mengembalikan Aceh setelah porak poranda di terjang tsunami.

 

Pembangunan meningkat seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi. Banda Aceh mulai bergerak menuju ke arah perkembangan sebuah kota metropolitan. Seiring dengan perubahan tersebut, banyak pula perubahan yang dirasakan di sana sini. Warung kopi, yang menjadi tradisi (memang, hingga saat ini masih banyak menjamur dan tetap mewarnai kota ini) digantikan dengan adanya coffe shop baru bernuansa modern. Restoran siap saji juga mulai bermunculan mencoba bersaing dengan restoran tradisional yang menyajikan masakan khas Aceh.

 

Kemajuan ini tentulah membawa dampak positif tidak hanya bagi masyarakat Aceh, namun juga terhadap pembangunan Aceh sendiri. Akan tetapi, selain membawa perubahan positif besar – besaran juga akan membawa perubahan negatif jika tidak disikapi dengan baik. Kebijakan dan strategi pembangunan terhadap kota yang mulai  tumbuh untuk menjadi besar harus diamati secara arif dan bijaksana. Lambat laun dampak negatif ini mulai mewarnai kota Banda Aceh seperti munculnya perumahan kumuh, kemacetan lalu lintas, penurunan kualitas hidup, buruknya sistem sanitasi, kriminalitas dan masih banyak lagi.

 

Ada hal yang tidak bisa dihindari seiring dengan meningkatnya pembangunan di Banda Aceh. Meskipun rumah – rumah sudah terbangun, masih ada juga orang yang tinggal di barak – barak. Padahal, rumahnya sendiri telah selesai terbangun dan siap untuk ditempati. Berdasarkan pengalaman saya ketika bekerja di organisasi kemanusiaan untuk mengatasi masalah pengungsi yang masih menempati tempat penampungan sementara, yang biasa disebut dengan TLC (Temporary Living Centers) saya menemukan jawabannya. Dari beberapa interview singkat yang pernah saya lakukan, saya menemukan jawaban terhadap keengganan masyarakat untuk menempati rumah barunya. Kualitas bangunan yang tidak memadai, serta fasilitas infrastruktur yang tidak tersedia seperti septik tank, air minum dan jalan. Fakta ini memang banyak kita temukan di lapangan. Rumah – rumah yang dibangun NGO baik lokal maupun internasional, banyak yang kualitasnya tidak begitu membanggakan. Entah apa yang menyebabkan ini. Apakah ‘load’ yang begitu besar, ataukah SDM yang mengerjakan proyek ini perlu dipertanyakan keahliannya. Beberapa organisasi berusaha menyikapi hal ini dengan memperbaiki rumah bantuan yang masih membutuhkan perbaikan. Beberapa NGO bahkan menyediakan air minum, septik tank, dan pembuatan jalan. Namun, tetap saja, masih saja ada orang – orang yang tidak berkenan untuk menempati rumah mereka.

 

Alasan kedua yang saya temukan adalah, tidak tersedianya mata pencaharian di wilayah relokasi. Para pengungsi lebih memilih tinggal di pusat kota dengan kondisi tempat tinggal tidak memadai, dibandingkan harus tinggal di rumah layak namun tidak memiliki penghasilan.

 

Dan alasan ketiga adalah tidak tersedianya fasilitas umum, seperti pendidikan dan kesehatan. Berbagai macam jawaban dari masyarakat, “Bagaimana mungkin kami pindah ke sana. Bagaimana anak saya akan bersekolah? Kami tidak punya kendaraan untuk mengantarnya ke sekolah” Atau “Saya sudah tua Bu. Jika saya sakit, bagaimana saya akan ke rumah sakit. Disana, puskesmas saja tidak ada. Lebih baik saya tinggal di gubuk seperti ini,”

 

Ironis bukan. Tidak ada sekolah. Tidak ada puskesmas. Padahal, di beberapa tempat saya menemukan fasilitas – fasilitas tersebut tersedia, namun tidak dipergunakan. Entah apa sebabnya. Tidak ada SDM yang menjalankan atau tidak ada biaya untuk perawatan. Begitu juga dengan sekolah. Di satu tempat, sekolah tersebut bisa dikatakan tidak layak untuk menampung seluruh murid – muridnya. Namun, di tempat lain ada sekolah yang hanya memiliki 50 orang murid. Hal ini terjadi dikarenakan pembangunan dilakukan tidak berdasarkan kebutuhan, namun lebih kepada keinginan pemangku kepentingan. Hal inilah yang memicu masyarakat untuk tetap tinggal di Banda Aceh, menikmati fasilitas kota yang serba tersedia daripada pindah ke rumah bantuan.

 

Lambat laun hal ini akan menimbulkan suatu fenomena baru di Banda Aceh. Munculnya pemukim liar yang disebut ‘squatter’. Di Aceh, masalah squatter mulai muncul ke permukaan paska bencana. Mereka mulai menempati titik – titik tertentu yang pada akhirnya akan menimbulkan permukiman kumuh, seperti di barak yang seharusnya sudah diprivatisasi. Ironis sekali. Di satu tempat dipenuhi oleh pemukim liar. Sementara di berbagai tempat kita menjumpai banyak rumah bantuan yang tidak terhuni. Fenomena ini semakin sering terlihat seiring dengan akan segera berakhirnya proses rekonstruksi – rehabilitasi untuk Aceh – Nias. Pemerintah Daerah hendaknya mengambil tindak lanjut untuk masalah pemukiman kumuh ini. Jika tidak, dapat dipastikan beberapa tahun ke depan kota Banda Aceh akan kehilangan citranya. Bukan tidak mungkin, bantaran sungai yang masih bersih dan terawat beberapa tahun ke depan akan menjadi tempat bermukim sekelompok pemukim liar. Serta ruang – ruang yang seharusnya diperuntukkan untuk ruang kota diambil alih oleh ‘squatter’ untuk menjadi tempat tinggal. Jika tidak segera ditanggapi, masalah pemukim liar ini akan semakin berkembang. Dan akan semakin sulit pula bagi pemerintah untuk mengatasinya.

 

Hal ini menjadi suatu pembelajaran bagi kita semua. Banyak pendekatan yag dapat dilakukan sehubungan dengan issue ini. Dari melakukan pemeriksaan identitas para penghuni yang bukan masyarakat Banda Aceh, hingga bantuan untuk meningkatkan kualitas rumah dan infrastruktur bagi masyarakat.

 

Peran perencana wilayah juga sangat krusial. Dalam upaya pembangunan regional, masalah pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan menjadi masalah penting dan layak mendapat perhatian khusus dari perencana wilayah. Sebelum melakukan pembangunan suatu wilayah, hendaknya dilakukan analisis yang lebih tajam terhadap wilayah tersebut. Apakah wilayah tersebut memang memerlukan fasilitas tersebut? Jika tidak, atau masih bisa ditutupi dengan fasilitas dari wilayah sekitar, tentunya akan menjadi hal yang sia – sia untuk mendirikan bangunan di lokasi tersebut. Selanjutnya jika membangun kawasan perumahan, hendaknya juga memperhatikan infrastruktur pendukung. Seperti jalan, transportasi dan fasilitas umum seperti sekolah dan puskesmas. Sehingga masyarakat merasa nyaman untuk tinggal di kawasan tersebut.

 

Permasalahan ini hendaklah diselesaikan dan dilakukan secara terkoordinasi dan terencana. Penanganan yang terintegrasi dan melibatkan masyarakat dalam perencanaan dan pembangunan merupakan hal yang sebaiknya dilakukan, sehingga masyarakat dapat merasakan ‘perasaan memiliki terhadap suatu wilayah’ . Sistem perencanaan kota dan wilayah yang tradisional menerapkan sistem ‘top – down’ dimana perencana wilayah adalah aktor tunggal yang berperan dalam menciptakan suatu perencanaan. Perlu dilakukan perencanaan pembangunan kota yang lebih terencana dan lebih terkendali serta lebih partisipatif dengan melibatkan masyarakat di seluruh kegiatan, sejak perencanaan hingga pengawasan dan perawatan. Implementasi dari konsep pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan penyelenggaraan pembangunan yang bertumpu kepada masyarakat yaitu suatu proses peningkatan peluang kesempatan mandiri dan bermitra dengan pelaku pembangunan yang lain. Dalam hal ini, masyarakat diikutsertakan dalam pengambilan keputusan sehingga hasil yang diputuskan benar – benar berdasrkan kebutuhan masyarakat, bukan keinginan pemangku kepentingan. Pendekatan penyelenggaraan pembangunan yang berorientasi untuk masyarakat perlu diubah menjadi membangun bersama masyarakat. Pembangunan yang partisipatif diharapkan dapat menumbuhkan ‘sense of belonging’ serta optimilisasi dapat diraih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s