Menikmati Wisata Pulau Weh


Jika kita mendengar kata “Aceh” 10 tahun yang lalu, yang terlintas dalam benak kita tentulah kerusuhan dengan adanya aksi dari Gerakan Aceh Merdeka. Jika kita menyebut “Aceh” lima tahun yang lalu, tentunya kembali mengingatkan kita akan gempa bumi dan tsunami dahsyat yang menghabiskan ratusan ribu nyawa. Namun, jika kita melihat apa yang terjadi pada Aceh sekarang, kedua hal tersebut serasa terjadi jauh bertahun – tahun yang lalu. Pembangunan maju pesat, restoran cepat saji tersedia dimana – mana serta pengembangan objek wisata. Aceh terkenal dengan wisata pantainya.

Daratan pantai di Banda Aceh sekitar serta daratan pantai sepanjang pantai barat memiliki daya tarik wisata pantai yang layak untuk dikunjungi. Namun, yang paling populer, masih kawasan wisata pulau Weh. Akhir pekan kemarin, saya menyempatkan diri mengunjungi Pulau Weh untuk yang ketiga kalinya bersama beberapa teman. Untuk mencapai Sabang (ibu kota Pulau Weh), kami menggunakan kapal cepat yang dapat menempuh waktu perjalanan kurang lebih 45 menit. Kapal cepat ini beroperasi dua kali sehari. Kapal Bahari Express dan Pulo Rondo. Pagi hari, pada pukul 8.00 WIB dan di sore hari pukul 4.00 WIB. Karena hari itu adalah hari Jumat, kami memutuskan berangkat dengan menggunakan kapal cepat di sore hari. Untuk mereka yang ingin membawa kendaraan juga ada pilihan untuk menggunakan kapal lamban. Sesuai dengan namanya, kapal ini bergerak agak lamban. Jika dengan menggunakan kapal cepat, waktu bisa ditempuh dalam jangka waktu 45 menit, maka kapal lamban akan memakan waktu 3 jam. Kapal cepat yang kami tumpangi bernama Bahari Express. Kapal ini menyediakan dua kelas, yakni kelas bisnis dan kelas ekonomi. Kelas bisnis dilengkapi air conditioner, sementara kelas ekonomi memanfaatkan ventilasi alami.

Pukul 4 lebih 45 menit, kami tiba di pelabuhan Balohan Sabang. Disini, sudah menunggu berbagai ‘taksi gelap’ untuk menawarkan jasa angkutan. Di Sabang tidak ada kendaraan umum. Untuk mencapai suatu tempat harus menggunakan kendaraan pribadi, atau menggunakan jasa ‘taksi gelap’ ini. Seorang pria dari penginapan yang telah kami booking di hari sebelumnya menjemput kami di pelabuhan. Jika ingin mengunjungi Pulau Weh, terutama di saat weekend, sebaiknya memesan penginapan jauh – jauh hari. Pulau ini selalu penuh di akhir pekan. Pria yang menjemput kami, membawa kami ke tempat penginapan.

Kami memilih untuk menginap di Sumur Tiga, sekitar 15 menit dari kota Sabang, di sebuah penginapan bernama Casanemo. Penginapan ini benar – benar menggunakan konsep alami. Bangunannya terbuat dari kayu dengan dinding – dinding yang tersusun dari bambu. Setiap kamar dilengkapi dengan ventilasi besar ujntuk memaksimalkan masuknya udara ke dalam ruangan. Selain itu, penginapan ini juga tidak dilengkapi dengan air conditioning. Namun, view nya sangat indah. Dari setiap kamar, kita bisa memandang langsung ke lautan. Bahkan, di saat tidur, kita bisa mendengarkan deru ombak sebagai nyanyian pengantar tidur. Ada dua tipe kamar. Kamar standar dan cottage. Kamar standar dilengkapi tempat tidur ukuran queen, kelambu serta kipas angin. Kamar mandi ada di luar ruangan dan harus berbagi dengan penghuni lainnya. Sementara cottage, terdiri dari tempat tidur ukuran queen, kelambu, kipas angin, dispenser, kamar mandi yang dilengkapi bath up serta balkon yang dilengkapi dengan hammock. The perfect place to relax. Penginapan ini juga menyediakan restoran untuk melayani para tamu. Meskipun pilihannya tidak terlalu banyak, namun cukup mewakili.

       View Dari Balcony

Karena waktu masih menunjukkan pukul 5.30 WIB, dan magrib masih satu jam setengah lagi, teman – temanku memutuskan untuk berenang di laut. Sementara aku, lebih memilih untuk memotret panorama dan menjadikan teman – temanku sebagai objek photoku. Laut nan biru, pantai yang putih berkilau serta langit biru dengan gradasi kemerahan menandakan senja akan segera tiba. Usai berenang, kami makan malam di restoran. Menu yang ditawarkan ada beberapa macam. Nasi goreng, mi goreng, dan beberapa masakan sea food. Yah, memang tidak terlalu spesial. Makanan yang bisa didapatkan dimana saja. Malam itu di akhiri dengan obrolan panjang di restoran sambil mendengarkan deru ombak.

Pantai di Sumur Tiga

Hari ke dua diawali dengan menonton matahari terbit. Aku memanfaatkan momen ini untuk mengabadikan beberapa photo. Pukul 7 pagi, ketika matahari mulai tinggi, aku dan teman – teman berenang menikmati hangatnya air laut di pagi hari. Pantai di Sumur Tiga ini landai. Dengan pasir putih yang lembut. Jadi, jangan terlalu khawatir terinjak karang tajam.

sumur tiga beach 2

                              Pagi Di Pantai Sumur Tiga

Kegiatan hari itu dilanjutkan dengan mengelilingi kota Sabang. Seorang teman berbaik hati meminjamkan mobil, bahkan mengantarkan kami ke beberapa tempat spesial. Tempat pertama yang dituju adalah benteng Jepang. Tempat ini tidak terlalu jauh. Hanya memakan waktu 15 menit dari Sumur Tiga. Benteng ini sudah mengalami renovasi disana sini. Aku curiga, bentuk aslinya hampir tak kelihatan lagi. Satu – satunya yang tersisa adalah meriam yang tertanam di tanah.

Perjalanan berikutnya adalah titik nol indonesia. Cukup jauh juga. Satu jam perjalanan dari kota Sabang. Untuk menuju titik nol, jalanan sudah tertata rapi dilengkapi dengan aspal licin dan mulus. Sangat berbeda ketika aku mengunjungi Sabang untuk pertama kalinya. Saat itu, jalanan masih dilapisi batu – batu kasar. Sepanjang perjalanan, kita akan menjumpai hutan yang masih murni, belum tersentuh tangan – tangan iseng. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan hutan – hutan di daratan Sumatera yang tampak gundul disana – sini.

Tiba di kilometer nol. Disini ada tugu sebagai lambang tempat bermulanya kilometer Indonesia dihitung. Jika kita mengunjungi tugu kilometer nol ini, kita juga bisa mendapatkan sertifikat dari Walikota Sabang yang menyatakan kita adalah pengunjung ke sekian. Saking masih alaminya, tempat ini juga masih dihuni monyet – monyet yang berkeliaran bebas. Monyet – monyet ini tidak mengganggu. Mereka hanya mengamati pengunjung dan segera lari jika didekati. Dalam perjalanan pulang dari kilometer nol kami menuju pantai Ibooh. Tempat ini adalah tempat favorit orang – orang yang menyukai olah raga air, snorkling dan diving. Berbagai binatang laut, bintang laut, ikan – ikan dengan warna – warna eksotis ada disana. Peralatan snorkling dan diving pun disewakan disana. Namun, penginapan disini tidak terlalu bagus (jika menginginkan kenyamanan dan privasi mutlak). Sebagian besar penginapan tidak dilengkapi kamar mandi di dalam ruangan. Begitupun, ada juga satu dua penginapan yang menyediakan kamar mandi di dalam gedung. Jika ingin tempat yang lebih indah, dapat menyewa perahu untuk menyebrang ke pulai Rubiah. Hanya memakan waktu 15 menit jika berangkat dari pantai Ibooh. Disana, binatang lautnya lebih banyak. Selain itu, pulau tersebut juga tidak terlalu ramai. Dilengkapi beberapa cottage kayu dengan konsep natural yang disediakan untuk beberapa tamu yang menginap di sana. Berada di pulau rubiah, serasa berada di pulau pribadi.

 

            Jalan Menuju Kilometer Nol Indonesia

  Monyet – monyet di sekitar tugu kilometer nol

Dari Ibooh, kami menuju Gapang. Tidak jauh. Hanya 5 menit dengan mobil. Jika ingin fasilitas penginapa yang lebih baik, disinilah tempatnya. Penginapan ditawarkan dengan berbagai pilihan. Hampir semuanya dilengkapi kamar mandi dan air conditioner. Pantainya juga indah. Landai dan biru. Jika ingin sekedar berenang, tempat ini perfect. Namun, jika ingin menikmati keindahan bawah laut, Ibooh lah tempatnya.

                                           Pantai Gapang

                   Pantai di Pulau Rubiah

                  Kota Sabang

Pukul dua siang, kami memutuskan kembali ke kota Sabang. Jangan terkejut, jika memasuki kota Sabang di siang hari. Dari pukul 12 siang hingga pukul 4 sore, sebagian besar toko – toko akan tutup. Ini merupakan kebiasaan setempat. Siesta. Atau tidur siang. Jadi, jangan berbelanja di Sabang pada waktu – waktu ini. Begitupun, jangan takut tidak menemukan tempat untuk makan siang. Masih ada beberapa warung nasi yang bersedia menerima pelanggan. Pukul 4 sore, kami tiba di penginapan. Masih terlalu panas untuk berenang.

 

 Menunggu matahari sedikit redup, aku menghabiskan waku di balkon kamar, berayun – ayun di atas hammock, membaca majalah National Geographic yang kupinjam dari restoran hotel sambil menikmati segarnya segelas orrange juice dan mendengarkan deru ombak. Pukul 5 aku turun ke pantai bersama teman – teman untuk menikmati hangatnya air laut. Pada sore hari, biasanya air pasang dan ombak sedikit lebih besar. Jika tidak terlalu familiar dengan air laut, sebaiknya berenang dipinggir saja. Karena, bisa saja secara tiba – tiba dan tak terduga ombak laut datang dan melemparkanmu ke tepi pantai. Cukup lama juga kami berenang. Kami baru berhenti setelah matahari tenggelam dan cahaya sudah sudah semakin redup. Kembali ke penginapan dan bersiap – siap untuk makan malam. Seharian berkeliling dan berenang, makan malam dengan hidangan seafood merupakan penutup yang sempurna. Kalau Anda mengunjungi Aceh, jangan lupa ke pulau Weh. Orang – orang bilang, Anda belum ke Aceh jika tidak mengunjungi pulau Weh.

8 thoughts on “Menikmati Wisata Pulau Weh

    1. Nurul Fitri Lubis

      Hi Shiddieq.. Salam kenal juga ya..
      Thanks… Sempat nyebrang… Naik boat bisa isi 6-8 orang. Biayanya 300 ribu untuk pulang – pergi.. Di antar, trus nanti di jemput lagi sama yang punya boat, sesuai dengan waktu yang udah di sepakati… Mau kesana ya?? Selamat berlibur ya…

  1. Nurul Fitri Lubis

    Halo Amri..
    Salam kenal juga yah..

    Jangan lupa, kalau ke Aceh memang harus ke Sabang. It’s a must… You’ll not regret…🙂

  2. Salam kenal,
    Saya sudah ke Aceh namun ngak kesempatan untuk ke Sabang. Jadinya May akan datang, kami akan ke Sabang. Kiranya punya lebih info tentang sabang, tentunya lagi bagus. Aku benar-benar teruja nih…
    Kira-kiranya berapa ongkos kamar nan indah itu?

    ma kasih ya

  3. Nurul Fitri Lubis

    Salam kenal Anyss..
    Ongkos kamarnya sekitar 270 – 290 rb / malam (pas wiken).. Hari biasa kalo ngga salah sekitar 220 rb..

  4. rojin sabas pitaha

    info yg sangat menarik. hanya sayangnya tdk dilengkapi dng menyertakan brp tarif hotel,harga makanan dan, tiket kapal baik yg ekpress maupun yg lamban,biasa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s