Trip ke Kuala Lumpur – Singapura (Hari Pertama)


Akhirnya kesampaian juga cita – citaku ke luar negeri. Setelah menyelesaikan kontrak kerja di organisasi tempat aku bekerja, aku memutuskan untuk sedikit melihat dunia luar. Setelah dua tahun memiliki paspor dan hanya dibawa bolak – balik Medan – Aceh. Padahal, Aceh kan masih bagian dari Indonesia. Nggak perlu bawa – bawa paspor untuk masuk ke tanah rencong itu. Tak pikir – pikir lagi, begitu menyelesaikan pekerjaanku, segera kupesan tiket dari maskapai paling murah, Air Asia yang menyediakan tiket terjangkau untuk orang yang suka jalan – jalan namun tak punya budget lebih seperti aku yang sedang menanggur.

Aku berangkat dengan persiapan penuh. Aku mengecek sekali lagi daftar check list yang sudah kupersiapkan sebelum berangkat. Karena budget yang juga terbatas, aku memutuskan hanya mengunjungi dua negara saja. Malaysia dan Singapura. Mulailah aku mengecek daftar di detik – detik sebelum keberangkatan. Tiket, Ok. Paspor, Ok. Daftar tempat yang akan dikunjungi, Ok. Daftar penginapan di Kuala Lumpur, Ok. Daftar penginapan di Singapura, Ok. Obat – obatan, Ok. Peta (ini yang paling penting. Apalagi jika melakukan perjalanan untuk pertama kali dan pergi sendirian), Ok. Sudah lengkap semua. Sekarang, tinggal berangkat.

Tiba di airport. Setelahmemperlihatkan paspor dan tiket, aku masuk untuk check in dan pemeriksaan viskal. Untung punya NPWP, jadi tak perlu merogoh kocek sebesar 2,5 juta untuk meninggalkan Indonesia. Setelah mengisi dokumen perjalanan, aku melapor ke bagian imigrasi untuk pengecapan paspor. Sang petugas membolak – balik pasporku, seperti mencari – cari bagian yang hilang dikarenakan paspor itu masih bersih tak ternoda.

“Mau apa ke KL bu?” tanyanya. “Ini paspor belum pernah dipakai ya,” Ya jelas dong. Orang dungu sekalipun tahu kalau paspor tersebut belum pernah dipakai. Tak satupun cap imigrasi ada disana.

“Jalan – jalan saja,” jawabku sekenanya.

“Sendiri?” tanyanya mulai curiga.

“Iya,” jawabku sok pede. Memangnya ada masalah kalau aku pergi sendirian hanya dikarenakan pasporku tak pernah bercap. Akhirnya si petugas mengambil pasporku dan memberi cap pertama di atasnya. Aku ternyum senang. Rasanya seperti dapat tanda tangan dari pemain sepak bola favoritku.

Tiba di bandara LCCT. Mulai bingung. Disambut dengan petugas kesehatan yang membagikan kartu keterangan kesehatan sehubungan dengan maraknya kasus flu babi di Malaysia. Dengan bergaya cuek, aku mulai mengisi dan menjawab pertanyaan di kartu tersebut satu demi satu. Did you travel to South America / Africa in the last two months? No. Did you get one of these desease in the last two..

“Mbak.. Ini ngisinya gimana ya?” seorang cowok mendatangiku.

“Iya. Biasanya nggak ada ngisi beginian mbak. Bingung saya. Nyontek punya si mbak ya. Buat apa sih ini mbak?,” satu orang cewek lagi ikut nimbrung.

“O…ini hanya buat data mereka. Sekarang kan lagi heboh flu babi. Jadi ini untuk antisipasi, kalau – kalau ada salah satu dari kita kena flu babi di ruangan ini, jadi mereka bisa gampang menghubungi yang lain untuk di karantina, “ jelasku sok pinter.

“Wah. Mbak ini tau banyak ya. Cepat lagi ngisi kartunya. Sering ke luar negeri ya mbak?” tanya si cowok. Aku hanya cengengesan nggak jelas. Seandainya mereka tahu… He he he.

Urusan di imigrasi tidak memakan waktu lama. Tanpa bertanya – tanya, sang petugas langsung memberikan cap di pasporku. Padahal, sebelumnya aku sempat khawatir akan mengalami nasib seperti temanku Sasa, yang disangka TKI gelap hanya karena Sasa berpenampilan serabutan. Saking gadelnya Sasa, sampe – sampe dia ditanya berapa jumlah uang yang dibawanya ke Malaysia. Karena itu, sebelum berangkat Sasa mewanti – wanti aku agar berpenampilan pantas ketika berpergian ke negeri jiran tersebut.

Keluar dari airport. Bingung juga nih mau kemana. Tapi, tenang. Jalan saja pelan – pelan. Jangan tunjukkan tampang bingung. Menurut Sari, seorang teman yang lain, disini ada bus yang bisa langsung membawa ke KL Sentral, stasiun bus untuk bermacam tujuan. Benar juga. Di ujung bangunan ada sekumpulan bus. Pasti ada yang mau ke KL Sentral. Benar kan. Dan cukup dengan hanya membayar 9 RM untuk sekali jalan.

Wow. Bersih banget. Itu yang pertama muncul di kepalaku saat bus yang membawaku meluncur menuju pusat kota Kuala Lumpur. Tak ada satupun sampah di jalanan. Bahkan, puntung rokokpun tak ada. Terbiasa dengan kesemrawutan di Indonesia, khususnya di medan membatku terheran – heran sepanjang perjalanan.

Tiba di KL Sentral. Wow. Sekarang makin bingung lagi. Kemana aku setelah ini. Agar sedikit aman, aku memutuskan untuk menggunakan jasa taksi untuk menuju Bukit Bintang, nama daerahyang direkomendasikan Sari untuk menginap. Ongkos taksinya sebesar 15 RM. Tidak sulit menemukan penginapan di Bukit Bintang, mengingat wilayah ini adalah kawasan perbelanjaan yang dipenuhi turis mancanegara.

Malam itu kuhabiskan dengan sekedar berjalan – jalan mengelilingi kawasan perbelanjaan Bukit Bintang. Aku mengunjungi Bukit Bintang Plaza yang kebetulan ada di depan hotel tempat aku menginap. Sekedar untuk melihat – lihat. Aku menjumpai banyak turis yang kelihatannya berasal dari Timur Tengah. Sebagian besar wanita mereka menggunakan jubah dan cadar penutup wajah. Beberapa wanita mereka memilih – memilih pakaian wanita yang tengah trendi di dunia mode. Aku penasaran kemana mereka akan memakai pakaian – pakaian ini jika untuk sehari – hari mereka menggunakan jubah dan cadar. Mungkin dikenakanng di rumah. Masya allah. Yang benar saja. T shirt keren DKNY seharga 450 RM itu hanya dijadikan gaun rumah. Kaya benar mereka.

Selanjutnya, aku masuk ke jalan Alor yang katanya pusat jajanan di malam hari. Memang benar. Banyak sekali jenis makanan yang dijual di sepanjang jalan ini. Namun yang paling banyak adalah masakan China. Capek juga berjalan – jalan begini. Apalagi sudah lama aku tidak melakukan aktivitas berjalan kaki. Rasanya, asyik juga kalau malam ini dipijat. Supaya tidur nyenyak dan besok bisa lebih fresh mengelilingi Kuala Lumpur. Kebetulan, di lantai 1 hotel tempatku menginap, ada pusat pemijatan refleksi. Macam – macam jasa yang ditawarkan. Ada pijat refleksi kaki, ada pijat punggung dan pijat seluruh tubuh. Aku memilih pijat pungung. Untuk satu jam sesi pemijatan aku membayar 35 RM.

Wuihhh. Gila juga yang mijat aku. Bukannya makin enak, pungungku rasanya mau remuk. Kuat banget tenaga nih perempuan. Nggak nyangka dia punya tenaga sekuat itu. Apalagi kalau lihat wajah cantik dan tubuh semampainya. “Come again please,” katanya ketika aku meninggalkan ruang pijat.

“See you,” kataku buru – buru. Busyet. Nih badan serasa ditimpa sama buldozer saking sakitnya. Lebih baik sekarang aku tidur saja.

Hari Kedua

8 thoughts on “Trip ke Kuala Lumpur – Singapura (Hari Pertama)

  1. anissa

    mbak, klo boleh tau mbak nginep di hotel apa yah?
    brapaan tarifnya?
    saya sm tmn saya juga rencananya mw travel berdua aja kesana dari medan, nah saya bingung mw nginep dimana..
    ini pertama kalinya juga saya ke sana, modal nekat aja..

  2. Nurul Fitri Lubis

    Hi Annisa…
    Kmren aku nginap di hotel Agora (120 RM/mlm), bisa berdua sekamar dan hotel Putra Bintang (60 RM/malam) untuk Single room,karena aku sendirian. Mungkin kalo yang untuk berdua ini sekitar 80-90 RM/mlm. Hotel Putra Bintang ini lumayan deh, dengan harga yang murah begitu. Bersih juga. Letaknya juga strategis di Bintang Walk. Saranku, kalau nginep ntar di kawasan Bukit Bintang aja. Kawasan ini ngga pernah mati, meskipun udah tengah malam sampe menjelang subuh. Ngga papa kok.. Disana insya Allah aman2 aja. Petunjuk jalannya juga jelas.. selamat berlibur ya…:-)

  3. muna

    mb…mo tanya yaachh
    ni pertama kali saya mo ke malaysia pas bareng dgn situasi skrg yg lagi kisruh..saya kesana ndiri aja mo ketemuan ma temenku tar disananya…trus tar kl ditanyain ma petugas imigrasi gmn??pa mesti minta surat bahwa kita dlm rangka visiting..ato pk alasan traveller kyk mbk aja..
    trus kt mesti tukar uang mending di indo dulu pa di sana aja?? kl seminggu disana minimal harus bw berapa ya?? biar g disangkain sbg TKW..haha..
    n yg mesti disiapin sblm brkt apa aja ya mb???
    thx b4 atas jawabannya…

  4. Nurul Fitri Lubis

    @Muna: menurutku ngga perlu ada surat. itu memang standard orang imigrasi buat nanya tujuan kita ke sana. Kadang2 ada yg sangat strict, kadang2 ada yg bisa lewat gitu aja. Tergantung keberuntungan. Mkn sekitar 3 jta cukuplah, apalagi kalo kamu ada ATM, dan bisa ngambil uang disana. Kmren pas berangkat aku tuker di Indo. Ngga banyak sih, sekitar 300 RM aja, untuk bayar taksi dan deposit hotel. Menurutku bawa rupiah aja. Disana rate nya lbh tinggi. Di sekitar bukit bintang, money changer bertabur..

    yang perlu disiapin: tiket dan passport🙂
    Mengenai situasi, bukannya dari dulu juga Malaysia dan Indonesia suka bersiteru?? Insya Allah ngga akan terjadi apa2..

    Selamat berlibur🙂

  5. shinta

    mbaa…aku mau tanya donk..
    aku mau ke spore januari 2011..
    aku rencananya berempat ke sana..
    aku mau minta tolong ni mba..
    info hotel yang murah disana di daerah mana ya mba??
    oia satu lagi, kalo kita uda punya NPWP kita bener-bener ga kena fiskal kan ya??
    thanks mba..

  6. Nurul Fitri Lubis

    Hi Shinta..
    Kalo yang agak murah, kmren aku nemu di daerah Little India. Disana juga banyak guest house untuk backpackers yang jelas2 lebih murah dibanding hotel.. Kmren hotel yg paling murah yang aku temukan ada di Jl. Kerbau.. Kalau ngga salah namanya Hotel Kerbau.. 1 malam sekitar 60 Dollar Singapore… Ngga jauh dari stasiun MRT Little India.
    Kalo dah ada NPWP, sama sekali BEBAS viskal🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s