Trip ke Kuala Lumpur – Singapura (Hari Ketiga)


Hari ini aku akan mengunjungi Musium Kuala Lumpur dan Taman Burung. Jatah bus hop on hop off ku masih ada hingga pukul 2 sore nanti. Pukul 9.00 waktu Malaysia aku sudah siap berdiri di depan Hotel Picolo untuk menunggu kedatangan bis. Tak perlu menunggu lama. Hanya 10 menit, bus dengan warna mencolok itu tiba di depan mataku.

Karena hari yang tidak terlalu panas, aku memilih untuk duduk di bagian terbuka. Rasanya asyik bisa menikmati KL secara langsung, bukan melalui perantara kaca bus. Tak lama setelah aku duduk, seorang pria diikuti dua anak lelaki kecil dan empat orang waita bercadar bergabung bersamaku. Mereka sibuk berbincang dalam bahasa Arab. Kelihatannya mereka satu keluarga. Ini kesempatan bagus untuk minta tolong diambilkan foto.

“Mam. Could you please to take my picture?” pintaku pada salah satu wanita bercadar tersebut.

“Ohh.. Sure. No problem,” jawabnya. Untung dia bisa bahasa Inggris, pikirku. “How to operate this camera? It looks so complicated,” tanyanya. Jika dibandingkan dengan kamera poket yang dibawanya, kamera SLR dengan tingkat paling rendah ini memang kelihatan canggih betul.

“Just click this switch,” terangku. Aku memang sudah menyetel kamera ini secara otomatis. Jadi, semua orang bisa menggunakannya. Maka, dimulailah kenarsisanku. Difoto saat duduk menghadap ke depan, menghadap ke samping, melirik sedikit, berdiri. Bahkan si wanita bercadar tak segan – segan untuk mengarahkan gaya. Sampe – sampe dua anak lelaki kecil itu tertawa terkikik – kikik.

Tiba di Museum Nasional. Aku turun, sementara keluarga Arab tadi melanjutkan perjalanan. Untuk masuk ke Museum Nasional Kuala Lumpur ini tidak mahal. Hanya membayar 2 RM saja. Dan kita, juga diizinkan untuk mengambil foto di dalam museum. Di dalam ada berbagai macam benda – benda sejarah yang menggambarkan sejarah Malaysia. Mulai dari zaman pra sejarah hingga Malaysia saat ini. Bagian pertama yang kukunjungi adalah Malaysia di zaman pra sejarah. Menunjukkan manusia gua yang masih menggunakan kayu dan batu sebagai alat bantu untuk bertahan hidup.

Museum KL

Muzium Nasional Kuala Lumpur

KL Bird Park 12

KL Bird Park

Selanjutnya Malaysia di zaman Kerajaan Melayu Melaka. Ada beberapa pahlawan yang ditunjukkan di sana, seperti Hang Tuah. Ada juga Singgasana yang melambangkan kebesaran raja – raja Melayu. Singgasana ini merupakan tempat bersemayamnya raja yang dianggap keramat serta dimuliakan juga tempat berlangsungnya segala majelis adat istiadat atau upacara resmi istana. Disini, aku meminta tolong seorang mahasiswa yang tengah melakukan survey untuk mengambilkan fotoku.

Kemudian aku melanjutkan kunjungan ke bagian yang menunjukan Malaysia pada masa kolonial. Masuk ke wilayah ini, kita langsung disambut dengn interior ruangan dengan design kolonial. Seperti pintu yang beberntuk kubah. Kemudian dilanjutkan ke bagian Malaysia di masa kini. Ada berbagai macam lukisan disana. Termasuk menara Petronas yang menjadi kebanggan Malaysia. Hampir dua jam setengah aku disana, ketika bus hop on hop off menjemputku. Tujuanku berikutnya adalah KL Bird Park. Taman burung ini berdekatan letaknya dengan Lake Garden, Orchird Garden dan Butterfly Garden. Untuk masuk ke dalam Taman Burung ini, kita harus mengeluarkan 43 RM untuk tiket masuk. Banyak sekali jenis burung yang terdapat di Taman Burung Ini. Dari Merak, Flamenco, KakakTua, Burung Unta, Bangau, Pelikan dan masih banyak lagi. Bahkan ayam jago kampung juga ada disana. Ada juga koleksi bulu dan telur. Konon, taman burung ini merupakan taman burung terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Selain menampilkan keindahan para burung, taman burung ini juga memiliki amphi theatre untuk menunjukkan kepiawaian burung – burung dalam melakukan atraksi. Macam – macam atraksi burung – burung yang telah dilatih ini. Membuat tulisan ‘welcome’, mengendarai sepeda, mengendarai mobil, berhitung dan masih banyak lagi. Jika kita ingin berfoto dengan burung – burung bertengger di tubuh kita, maka dapat mendatangi photo galeri. Dengan menggunakan kamera sendiri, kita cukup membayar 5 RM untuk satu kali foto.

Selain burung, banyak pula monyet – monyet yang berkeliaran di taman burung ini. Namun, monyet – monyet ini tidak mengganggu. Mereka hanya bergelantungan dan berlari – lari untuk menarik perhatian pengunjung. Tiga jam berjalan kaki mengelilingi taman burung membuatku lelah. Aku memutuskan kembali ke Bukit Bintang untuk beristirahat.

Usai beristirahat, sorenya aku kembali ke KLCC untuk mengambil foto menara Petronas. Ketika aku tiba, sudah banyak turis berada disana yang dapat dipastikan adalah turis – turis mancanegara. Aku melirik ke kiri ke kanan mencari korban yang bisa dimintain tolong untuk mengambilkan foto untukku. Kalau bisa, yang profesional dalam photografi. Saking tingginya, agak sulit mengambil foto menara Petronas secara keseluruhan. Ada banyak orang disini. Tapi, siapa yang bisa dipercaya untuk tidak melarikan kameraku?

Seorang turis wanita yang kelihatannya berasal dari China sedang sibuk bersama tripod nya, berusaha keras untuk menemukan angel menarik untuk diabadikan. Dengan tertatih – tatih dan high heel yang dikenakannya, tampaknya dia sudah melakukan usaha maksimal, namun belum juga mendapatkan hasil terbaik. Di sebelahnya sepasang suami istri bule tengah mengamatinya. Sang istri tengah hamil. Tampaknya mereka sedang menikmati the second honey moon. Mungkin aku bisa minta tolong pada suaminya. Rasanya dia tidak mungkin melarikan kameraku karena istrinya sedang hamil. Jika dia melakukannya, aku akan menyandera istrinya, yang tengah hamil dan sangat tidak memungkinkan baginya untuk berlari.

Pura – pura mencoba menemukan angel menarik, aku berdiri di depan mereka, sambil menyetel kameraku. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sang suami tiba – tiba berkata, “Miss. Do you want me to take your picture?” Alhamdulillah. Yang tentunya kusambut dengan riang gembira. Aku berpose dengan bermacam pose. Tak tahu malu. Sang istri hanya tertawa melihat gayaku. Usai mengambil foto ku, aku mengambilkan foto untuk mereka berdua. Alhamdulillah. Jadi juga aku berfoto di Petronas. Kesampean juga niatku untuk mengabadikan diri di landmark Kuala Lumpur itu.

Petronas

Petronas Twin Towers

Hampir pukul 10 malam waktu Malaysia ketika aku memutuskan kembali ke hotel. Aku memutuskan untuk mencoba transportasi publik Malaysia yang lain, yakni bis Rapid KL. Bis ini seperti bis pada umunya. Seperti Trans Jakarta di Indonesia. Untuk setiap perjalanan, bis ini hanya membutuhkan 2 RM. Masukkan uang ke tempat yang telah disediakan, dan supir bus akan memberikan tiket nya. Hari yang melelahkan dan membahagiakan.

Hari Kedua Hari Keempat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s