Trip ke Kuala Lumpur – Singapura (Hari Keenam)


Tenang. Tenang. Sekarang, sebaiknya tarik nafas panjang – panjang. Keluarkan. Tarik lagi. Lakukan berulang – ulang.

Aku berusaha menenangkan diri. Keringat mulai bercucuran di keningku. Keringat capek, lelah dan panik. Kemana aku harus pergi setelah ini? Aku harus menemukan penginapan. Jangan sampai malam ini aku jadi gembel dan tidak menemukan tempat untuk menginap. Sekarang, sebaiknya duduk dulu, sambil menangkan diri. Lagi pula, capek juga membawa – bawa koper sebesar ini. Meskipun ada rodanya, dengan isi yang tidak sedikit membuatnya terasa berat.

Aku duduk di sebuah halte bis. Berusaha mengingat – ingat. Kenekatan apa yang telah kuperbuat hingga terdampar di tempat ini. Sambil menenangkan diri, aku berusaha mengingat – ingat kejadian sebelumnya.

Pagi tadi, aku meninggalkan Kuala Lumpur. Menggunakan Bus Aeroline yang berhenti tepat di depan Corrius Hotel di jalan Ampang. Saat itu masih pagi benar. Pukul 06.00 waktu Malaysia. Jalanan masih sepi ketika bis bergerak meningglkan Kuala Lumpur. Bus Aeroline ini sangat nyaman. Dua tingkat. Dimana, tingkat pertama tempat toilet, ruang santai dengan dua buah sofa serta tempat driver mengemudikan bus. Sementara tingkat kedua diperuntukkan untuk penumpang. Setiap penumpang diberi selimut dan sarapan pagi. Menunya lumayan. Mie goreng udang dan secangkir teh / kopi.

Di perbatasan Malaysia dan Singapura semua penumpang harus turun untuk menunjukkan paspor dan dokumen perjalanan di kantor imigrasi Malaysia. Disini tidak memakan waktu lama. Hanya pengecapan paspor yang menyatakan bahwa kita telah meninggalkan wilayah Malaysia. Kemudian, ketika memasuki Singapura semua penumpang kembali turun bersama semua barang – barang yang akan mengalami proses scanning.

Terjadi sedikit insiden di imigrasi. Sang petugas moembolak balik pasporku yang baru berisi satu lembar. Melihatku tajam, dan bertanya, “Where do you want to go?”

“Singapore,” jawabku

“I know. But, where is your address in Singapore?”

“Little India,” jawabku sekenanya. Mudah – mudahan tak ada masalah, pikirku

“The exact address,” tanyanya lagi. Wah. Bisa gawat nih. Aku tak tahu alamat jelasnya disana. Temanku Riza hanya mengatakan cukup pergi ke daerah Little India, disana aku akan menemukan banyak penginapan.

“I forget the address,” jawabku mulai panik.

“Forget?” tanyanya seakan tak percaya. “How come?” Beberapa temannya mulai datang mendatangi mejaku.

“Yeah. But i know that name. If i’m not mistaken It’s Incrowded Backpers Hostels,” jawabku asal jawab. Kutemukan nama itu di peta Little India yang telah kupersiapkan.

“Hey man,” panggilnya pada salah seorang temannya, “Do you know Incrowded Backpackers Hostels in Little India?”

“I dunno. But i heard it before,” jawab seseorang.

Setelah membolak – balik pasporku untuk yang kesekian kalinya, seakan – akan ingin membuktikan bahwa paspor itu asli, dia memasukkan pasporku ke mesin scanner, mengecapnya dan membiarkanku pergi. Wuih. Hampir saja, pikirku.

Pukul 10 pagi, bus sudah memasuki kawasan Singapura. Seharusnya, lama perjalanan ditemuh dalam waktu 5 jam. Namun, karena berangkat di pagi hari dan masih bebas dari kemacetan lalu lintas, kami dapat menempuh perjalanan dalam waktu empat jam saja. Singapura sama bersihnya seperti Malaysia. Tak ada sepotong pun sampah yang tampak di jalanan. Rumah – rumah tertata rapi. Jalanan dilengkapi dengan jalur pedestrian yang memudahkan pejalan kaki untuk berjalan kaki. Belum terlihat gedung –  gedung pencakar langit, karena kami masih melalui wilayah suburb.

Bus ku berhenti di Harbour Front. Dari sini aku belum tahu dengan apa aku akan ke Little India. Aku tidak melihat bus, namun banyak taksi yang menawarkan jasa mereka. Aku berjalan perlahan – lahan sambil menarik koper yang lumayan berat ini. Mencoba mencari – cari tanda – tanda angkutan publik yang dapat kugunakan. Tak perlu mencari lebih lama. Aku menemukan tanda MRT (kereta bawah tanah) di Harbour Front Building. Segera saja aku mengikuti tanda tanda tersebut. Stasiunnya tak sulit untuk ditemukan.

Stasiun MRT tersebut canggih betul. Dilengkapi dengan eskalator dan arsitektur yang serba modern. Rasanya, seperti berada di dalam bandara saja. Bandara Soekarno – Hatta saja tak seperti ini, pikirku. Sulit membayangkan ruangan sebesar dan setinggi ini berada di bawah permukaan tanah.

Sekarang, bagaimana cara membeli tiketnya. Aku melihat orang – orang menggunakan sebuah mesin untuk membeli tiket. Bagaimana ini, pikirku. Pasti aku akan kelihatan udik sekali karena tak tahu cara menggunakan mesin tersebut. Sudahlah, cuek saja. Toh aku tak akan bertemu lagi dengan orang – orang yang kutemui hari ini. Siapa ya, yang bisa kutanya. Oh, itu ada pusat informasi. Kesana saja.

“May I help you Mam?” seorang wanita berperawakan China menyapaku ramah.

“ I need one way ticket to Little India,” jawabku

“You can buy it at that machine,” si wanita menunjuk mesin penjual tiket. “But, you have to use one dollar, two dollars or five dollars to buy the ticket. You can change your money over there,” dia menunjuk ke sebuah kounter yang bertuliskan “Customer Service,”

Uang sudah ditukar. Sekarang, bagaimana cara membeli tiketnya. Aku jalan perlahan – lahan, mencoba melihat – lihat pembeli lain yang sedang mengoperasikan mesin. Seorang petugas mendatangiku.

“May i help you Mam?” tanyanya sopan

“I would like to buy the ticket to Little India. But, I don’t know how to buy it,” jawabku malu campur cuek.

“Let me show you. C’mon,” si petugas menunjukkan bagaimana cara menggunakan mesin tiket tersebut. Ternyata tidak sulit. Seperti menggunakan mesin ATM saja. Pilih tujuan yang kita tuju dengan menekan touch screen. Si mesin akan meminta kita memasukkan berapa jumlah uang yang dibutuhkan. Masukkan uang di tempat yang sudah ditentukan, dan tiket akan keluar, lengkap dengan kembaliannya.

Bukan main. Pikirku. Canggih sekali negeri ini. Lagi – lagi terngiang dalam fikiranku, kapan Indonesia bisa seperti ini. Setelah mendapatkan tiket, aku memasuki palang pintu masuk ke ruang tunggu kereta api, seperti palang pintu monorel di Kuala Lumpur. Hanya saja, disini kita tidak perlu memasukkan tiket untuk membuka palang pintu. Cukup gesekkan tiket, palang pintu terbuka secara otomatis. Lagi – lagi aku terheran – heran.

Tidak lama menunggu kereta api. Mereka datang setiap tiga menit. Jika stasiunnya bersih dan rapi, maka kereta apinya pun tak kalah bersih. Tak ada noda dan debu setitik pun. Kursinya disusun berhadapan, sehingga memudahkan penyandang cacat yang menggunakan kursi roda jika ingin menggunakan kereta api. Ini satu hal lagi yang aku kagumi dari Malaysia dan Kuala Lumpur. Fasilitas – fasilitas publik selalu memperhatikan kebutuhan penyandang cacat.

Spore

Salah Satu Bangunan di Harbour Front

Tiba di Little India. Sekarang, cari penginapan. Aku membuka peta Little India yang sebelumnya sudah kupersiapkan. Aku berjalan ke sana – kemari mencoba mencari tanda – tanda penginapan. Itu ada hotel. Kerbau Hotel namanya, karena terletak di jalan Kerbau. Sayang, hotelnya penuh. Aku berjalan, mencoba mencari alternatif penginapan yang lain. Tampaknya, semua penginapan tak berpihak padaku. Semuanya penuh. Mengapa bisa begini? Ya ampun. Ini kan hari Minggu. Pastinya banyak orang yang sedang berlibur ke sini. Salah sendiri, tidak reserve sebelumnya.

Little India 1

Little India, Singapore

Rasa panik mulai melandaku. Bagaimana jika aku tidak menemukan tempat menginap? Di mana aku akan tidur malam ini? Haruskah aku tidur di jalanan? Keringat mulai bercucuran. Di sebuah halte bis yang kutemukan, aku mengatur nafas sambil mencari jalan keluar.

Setelah tenang, dan meneguk air mineral yang kubawa dari Kuala Lumpur, aku memutuskan untuk melanjutkan mencari penginapan. Perlahan, kutarik kembali koperku. Berjalan memasuki jalan – jalan kecil di kawasan Little India. Melewati beberapa pasar tradisional. Jangan bayangkan pasar tradisional di sana seperti di Indonesia. Tak ada satupun sampah disana, apalagi bau – bauan tak sedap. Yang ada hanyalah bau kari yang mengigit.

Keringat mulai bercucuran di dahiku, ketika seorang Bapak menghampiriku.

“Hi Mam. What are you looking for?” tanyanya.

“I’m looking for hostel Sir,” jawabku sambil terengah – engah dan menunjukkan asal saja nama sebuah hostel yang tertera di peta.

“Oh. You got the wrong way. Just pass this street, and at the cross road, you have to turn left,” jelasnya. “You’ll find that hostel easily,”

“Thank you so much Sir,” jawabku penuh terima kasih. Orang Singapura ramah – ramah, pikirku.

Mengikuti petunjuk si Bapak, aku berjalan mencoba menemukan tanda – tanda keberadaan hostel tersebut. Jika tak ada hotel, di hostel pun tak apalah, daripada harus tidur di jalan. Itu dia. Tampaknya itu sebuah hostel. Aku mencoba masuk dengan mendorong pintu kaca, namun terkunci. Apakah aku tak diterima di tempat ini? Pikiran buruk mulai mendatangiku kembali. Ternyata aku salah. Seorang pria bule membuka pintu dan menyambutku.

Aku masuk. Di dalam, tampak sekumpulan bule tengah duduk di beberapa sofa. Ada yang mengobrol, ada yang sibuk dengan laptopnya. Tak satupun wajah Asia kutemukan di antara mereka.

“May I help you Mam,” tanya si bule yang menyambutku

“I’m looking for room,” jawabku. Mudah – mudahan mereka memiliki private room.

“We have no private room, but doormitory. Do you mind with that,” tanyanya. Wah. Bagaimana ini. Masa aku harus tidur di dorm, dengan orang – orang yang tidak kukenal. Tapi, bagaimana lagi. Aku sudah telalu lelah untuk berjalan. Sebaiknya, aku disini saja dulu. Paling tidak untuk satu malam saja. Jika tak betah, besok aku bisa mencari tempat lain.

“Ok. I will stay for one night,” jawabku akhirnya.

Little India 2

InCrowded Backpacker Hostels

Si pria bule membawaku berkeliling. Menunjukkan kamar yang akan kutempati, internet station, serta kamar mandi. Dengan membayar 20 dollar, aku bisa menginap untuk satu malam, dan bisa mendapatkan sarapan gratis serta internet selama 24 jam. Selain  itu, para tamu juga diperbolehkan menggunakan mesin cuci jika ingin mencuci pakaian selama menginap disana. Usai membayar dan mengurus urusan administrasi, seorang petugas wanita yang berperawakan China memberikan kunci loker untukku serta selembar seprai dan sarung bantal. Yah, namanya juga hostel. Untuk memasang seprai pun harus dilakukan sendiri. Serasa berada di rumah sendiri.

Usai memasang seprai, aku menghempaskan tubuh ke tempat tidur. Sambil mengamati kamar yang aku tempati. Ada 6 buah tempat tidur bertingkat di ruangan ini. Berarti satu kamar ini akan dihuni 12 orang tamu. Bisa – bisa aku tak bisa tidur malam ini saking banyaknya manusia di kamar ini. Aku mulai stress memikirkannya. Tapi, aku tak perlu terlalu lama memikirkannya. Rasa capek membuatku tertidur selama dua jam.

Setelah menyegarkan diri, aku mencari makan siang. Memang, di daerah Little India tak sulit menemukan makanan halal, dikarenakan banyak diantara etnis India di Singapura yang memeluk agama Islam. Namun, tak satupun dari makanan – makanan tersebut yang sesuai dengan lidahku. Semuanya terasa sangat berbumbu. Bahkan, nasi briyani yang biasanya jadi favoriteku terasa asing. Ujung – ujungnya, makanan siap saji seperti Mc Donald dan Pizza Hut menjadi pilihanku.

Ion Plaza 6

Ion Plaza di Orchard

Hari pertama tak terlalu banyak mengeksplore Singapura. Rasa capek yang tak berkesudahan membuatku cepat lelah. Hanya berjalan – jalan di sekitar Orchard, aku memutuskan kembali ke hostels. Saat aku tiba, beberapa penghuni kamar yang lain sudah mulai berdatangan. Ternyata, aku bukan satu – satunya orang Asia. Ada yang dari Jepang, China dan Taiwan. Bayanganku tentang kamar dorm yang ribut sama sekali tak terbukti. Para backpackers ternyata saling menghormati satu sama lain. Tidak ada suara – suara bising. Bahkan, ketika aku sudah menunjukkan tanda – tanda ingin tidur, salah seorang penghuni lain yang tengah membaca mematikan lampu untukku. Malam itu, aku tidur nyenyak sekali.

Hari Kelima Hari Ketujuh

2 thoughts on “Trip ke Kuala Lumpur – Singapura (Hari Keenam)

  1. Fovilia

    Mba, makasi atas catatan perjalanan ini. bermanfaat banget sebagai pedoman my upcoming travel (not alone, but along with 3 friends).

    Mba, Incrowded hostel ini exact addressnya dimana? hehe, takut ntar bermasalah sama pihak imigrasi singapura.

    Oya Mba, kami juga berencana mau ke Ikea Mutiara Damansara KL. Apa bus hop & hoff-nya lewat daerah sana?

    Ohya Mba, saya boleh add YM mba? Biar bisa nanya2 langsung (maklum, ini bakalan jadi first time traveling)

  2. Nurul Fitri Lubis

    InCrowded Hostel ada di : 73 Dunlop Street, 73 Dunlop Street, Historic Little India Conservati, Singapore, Singapore

    Kalo ke Ikea, saya kurang tau karena kmren ngga kesana😀
    Boleh kalo mo tanya2.. Ini YM nya: nurulfitri

    Anyway, terima kasih juga kalo tulisan saya bermanfaat🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s