Trip ke Kuala Lumpur – Singapura (Hari Ketujuh) – Tamat


Sentosa 5Aku bangun dengan malas. Cuaca di luar yang masih gelap dan tak bersahabat membuat keinginan untuk melanjutkan tidur menjadi semakin kuat. Aku melirik tempat tidur lain yang masih terisi oleh masing – masing orang. Tidurku benar – benar nyenyak dan tak bermimpi. Tidak menyangka, tidur di hostels bisa membuatku tertidur lelap. Padahal, awalnya aku ragu bisa memicingkan mata di tempat ini.

Tapi aku harus bangun, pikirku. Jika ingin menyusuri kota Singapura, hari inilah waktunya. Karena besok sudah waktu pulang. It’s now or never. Aku bangkit, menuju shower room untuk mandi dan bersiap – siap untuk berpesiar. Kukira, cuaca akan lebih bersahabat saat aku usai mandi. Ternyata, salah besar. Hujan turun dengan derasnya. Sial, pikirku. Bisa gagal rencana berkeliling. Padahal, hari ini adalah satu-satunya kesempatan.

Aku turun ke lantai satu, bergabung bersama tamu lain di ruang bersama, seperti sebuah lobby. Disana, sudah tersedia roti, toaster, mentega, telur, selai, coklat, kopi dan teh untuk sarapan. Seperti layaknya konsep guest house, para tamu dipersilahkan untuk mengambil sarapan sendiri. Setiap orang harus bertanggung jawab dengan alat dapur yang dipergunakan. Setiap tamu bebas memakai apa saja, dengan catatan jangan lupa mencuci dan mengembalikan alatnya setelah dipergunakan.

Aku duduk di sebuah meja bersama seorang tamu, Santiago. Seorang turis asal Barcelona, Spanyol. Awalnya, kukira si Santiago ini sok banget, karena punya tampang keren. Soalnya, dia punya wajah lebih sering ditekuk daripada tersenyum. Takut ditaksir mungkin. Tapi, tadi malam aku sudah meralat predikat sok untuknya. Dikarenakan sebuah kejadian. Saat itu aku membawa banyak bawaan. Ransel, kamera, tripod dan payung, yang menyulitkanku untuk membuka pintu penginapan. Si payung sampai terlepas dari tanganku saat mencoba memencet kode kunci. Si cowok ini kebetulan ada di dalam. Melihatku begitu kesusahan, dia membukakan pintu dan mengambilkan payung yang tercecer untukku. Satu lagi, dia kasi senyum manis. Sejak itu aku membuang predikat sok darinya.

“Where are you going today?” tanyanya. Ini setelah kami berbasa basi dan saling menanyakan nama dan asal.

“I dont know,” jawabku sambil mengangkat bahu. “I have a plan to go to Esplanade. But, since it’s raining, I think I have to change my plan,”

“Yeah,” sambungnya. “The weather today is not really friendly. Maybe, you can choose another choice. Since it’s your first time in Singapore, I think you will not miss Sentosa Island,”

“Yeah. That’s another alternative for me,”

Dan percakapan terus berlanjut. Dia menanyakan berapa lama waktu penerbangan dari Singapore ke Indonesia, apakah Bali itu di Indonesia (pertanyaan yang sering dilontarkan bule – bule. Untung saja dia tidak mengatakan, Indonesia itu di Bali), apakah sulit mendapatkan akomodasi di Bali, wilayah – wilayah lain di Indonesia yang layak untuk dikunjungi dan masih banyak lagi. Sementara aku bertanya tentang Barcelona dan bangunan – bangunan Antonio Gaudi, sang arsitek kenamaan asal Spanyol, yang banyak terdapat di Barcelona. Santiago pun tak kalah bersemangat menceritakan Sagrada Familia, Cassa Milla dan karya – karya Gaudi yang lain.

Hujan mulai reda. Santiago dan aku berpisah untuk melanjutkan perjalanan kami masing – masing. Aku berkeliling Little India untuk mengambil beberapa foto, dan melanjutkan perjalanan ke China Town. Menuju China Town, aku kembali menggunakan MRT. Ada kejadian menarik. Saat aku membeli karcis MRT, ada seorang bule dengan pakaian necis sedang mencoba membeli karcis MRT. Namun, tampaknya dia mengalami apa yang kualami saat pertama kali membeli karcis. Kebingungan. Dia memasukkan uang 10 dollar nya yang selalu ditolak oleh mesin.

“Sir, you should use 1 dollar or two dollar,” bisikku pelan, karena tak mau dia malu.

“Really?” tanyanya penuh harap

“Yes. Just try it,” jawabku.

“Thanks for teaching me. It’s my first time,” bisiknya

“My pleasure,” jawabku

Tiba di China Town. Jika ingin membeli souvenir dengan harga miring, disinilah tempatya. Kita akan menemuan banyak jenis cendra mata. Seperti gantungan kunci, kipas, tas, hiasan dinding, baju hingga bed cover ada di sana. Satu hal lagi yang kembali membuatku takjub. Tempat ini juga bersih sekali. Tak satupun sampah dapat kutemukan di sepanjang jalan. Berjalan di China Town benar – benar membuat kita serasa di kota – kota tua China. Dikelilingi dengan bangunan – bangunan yang menggunakan arsitektur Cina dan Kolonial. Sepanjang jalan juga dihiasi dengan lampion berwarna merah. Beberapa turis, mengabadikan foto, termasuk aku. Setelah membeli beberapa souvenir, aku melanjutkan perjalanan.

Chinatown - Spore 2

China Town – Singapore

Cuaca tampaknya mulai bersahabat. Hujan telah berhenti. Aku memutuskan pergi ke Sentosa Island. Masih menggunakan MRT dan turun di Harbour Front. Dari Harbour Front, aku menuju Vivo City building yang berada tepat di sebelah Harbour Front Building untuk membeli tiket Sentosa Express yang akan membawaku ke Sentosa Island. Ongkosnya hanya 3 dollar, untuk pulang pergi. Sentosa Express adalah kereta api yang menggunakan satu rel. Seperti monorel di Kuala Lumpur. Dari sini, monorel akan membawa kita ke Imbiah Station.

Tiba di Imbiah Station, ada beberapa wahana yang bisa dinikmati. Aku tidak terlalu banyak menikmati wahana – wahana tersebut, dikarenakan cuaca yang kembali tak bersahabat. Adapun yang kukunjungi adalah patung besar Merlion (Merlion Walk). Untuk masuk ke dalam patung singa raksasa ini aku harus membayar 8 dollar. Oh ya, ada satu kejadian lagi. Saat itu, aku tak menyadari tas ransel milikku terbuka. Aku baru menyadari setelah masuk ke dalam Merlion Walk, dikarenakan seorang petugas berlari – lari mengejarku hanya untuk memberi tahu bahwa tas ku terbuka. Hal yang sangat jarang kutemui di Indonesia.

Di dalam ada patung – patung yang melambangkan sejarah Singapura dan pengunjung juga dapat menyaksikan sejarah terbentuknya Singapura melalui sebuah theater mini. Perjalanan di lanjutkan ke Mouth Galery. Mouth Galery ini adalah ruangan yang merupakan bagian dari mulut singa yang terbuka lebar. Kemudian dilanjutkan ke Head Gallery, yakni puncak kepala Singa. Dari sini kita dapat memandang Sentosa Island, bahkan Singapura dari ketinggian kurang lebih lima puluh meter. Keluar dari Merlion Walk, setiap tamu diberikan sebuah souvenir kenang – kenangan.

Dari sini aku melanjutkan ke Tiger Sky Tower. Dengan masuk ke tower ini, dapat membawa kita pada ketinggian 131 meter di atas permukaan laut. Dari sini kita dapat melihat Sngapura dan perairan di sekitarnya. Bahkan, melihat pembangunan Singapura yang tengah dilakukan sangat pesat. Untuk masuk, kita harus membayar 12 Dollar.

Sentosa 3

Tiger Sky Tower

Yang terakhir adalah Songs of The Sea. Tempatnya ada di Beach Station. Menuju kesini, dapat menggunakan monorel dengan menggunakan tiket yang sudah kita beli sebelumnya. Di Beach Station aku mengelilingi wilayah tersebut dengan menggunakan Palawan-Tanjong Beach Tram & Siloso Beach Tram. Ketika melewati pantai – pantai di sana, aku dapat berkata dengan bangga, “Bali jauh lebih indah dari pantai – pantai disini. Apalagi jika dibandingkan dengan pantai – pantai di Aceh, Nias dan kepulauan Batu yang pernah kukunjungi. Pantai – pantai yang masih asli dengan keindahan luar biasa.”

Sentosa 2

Pembangunan yang Berlangsung Pesat di Sentosa Island

Songs of the Sea merupakan pertunjukan opera spektakuler yang didukung dengan keindahan water jet yang menampilkan pertunjukan air mancur nan memukau, efek laser, serta efek dramatis lainnya. Selain teknologi yang membuatku terpukau, aku juga dikejutkan dengan sebuah nyanyian yang selalu kunyanyikan saat aku masih di bangku taman kanak – kanak.

Saat itu para artis opera berusaha melakukan pendekatan dengan penonton.

“Where do you come from?” tanya sang artis. “Malaysia?” masih dijawab oleh artis yang sama.

Kemudian, artis yang lain berkata, “I will sing this song for Malaysian,” teriaknya. Dan mulailah dia bernyanyi

“Mana di mana. Anak kambing saya. Anak kambing tuan ada di pohon waru”

“Mana di mana. Jantung hati saya. Jantung hati tuan ada di kampung baru”

Hal ini membuatku terhenyak. Lagu ini ditujukan untuk orang Malaysia. Sekali lagi. Orang Malaysia. Bukan orang Indonesia, seperti aku. Padahal, lagu itu sudah jelas berasal Nusa Tenggara Timur. Wilayah yang merupakan wilayah kekuasaan Republik Indonesia. Meskipun aku banyak menyaksikan di berita akan lagu dan kebudayaan tradisonal Indonesia yang telah di klaim oleh negara lain, namun merasakannya sendiri di negeri orang membuatku sedikit terpukul dan merasa kehilangan. Padahal, baru satu lagu yang kudengarkan, tapi sudah membuatku miris. Lalu, bagaimana jika aku menyaksikan secara langsung budaya bangsaku yang jelas – jelas telah dicuri. Seperti lagu ‘Rasa Sayange’, Tari Reog Ponorogo, Batik Jawa, hingga Kopi Gayo dari Aceh yang telah di klaim oleh bangsa lain. Apa yang terjadi jika satu persatu budaya bangsa ini dicuri? Lama kelamaan Indonesia yang kaya akan budaya akan kehilangan identitasnya jika kita sebagai bangsa tidak peduli akan budaya tersebut.

Well, aku tidak menyalahkan siapapun akan hal ini. Tidak pemerintah yang mungkin kurang waspada, tidak pula kita sebagai rakyat yang harusnya ikut membantu kelestarian budaya. Songs of The Sea yang seharusnya menjadi pertunjukan spektakuler menjadi tak menarik lagi untukku. Tiba – tiba saja aku rindu dengan Indonesia. Dengan kemacetannya, dengan sampah – sampahnya, dengan sistem drainasenya yang sering tersumbat, dengan ketidakteraturan infrastrukturnya, dengan ketidakmajuan teknologinya, dengan ketidakdisiplinan orang – orangnya, dan dengan budayanya sendiri. Disini aku baru sadar. Semenarik – menariknya negeri orang, negeri sendiri tetap yang terbaik.

Song of the Sea

Songs of  The Sea

Malam ini adalah malam terakhirku. Besok pagi aku akan kembali ke Kuala Lumpur dengan Bis Aeroline. Yang akan dilanjutkan dengan penerbangan sore ke Medan. Malam itu, aku masih bertemu dengan Santiago yang masih membombardirku tentang seputar pertanyaan mengenai Indonesia. Kesempatan bagus untuk tetap melestarikan budaya Indonesia. Dengan kemampuanku, aku berusaha menjelaskan semaksimal mungkin tentang keindahan alam Indonesia dan kekayaan budayanya. Tentang beragam bahasa dan budaya yang dimilikinya. Tentang 17 ribu pulau yang dimilikinya. Tentang pantai – pantainya yang indah dan eksotis. Pegunungan Leuser yang kaya akan ekosistem dan satwa. Dan masih banyak lagi. Malam itu, aku bertekad untuk lebih mengenal negeriku. Aku cinta Indonesia.

TAMAT

Hari Keenam

14 thoughts on “Trip ke Kuala Lumpur – Singapura (Hari Ketujuh) – Tamat

  1. dewi

    hi…
    catpernya menarik, menggoda untuk dibaca sampai selesai…..berani juga sendirian…sy aja….sampai sekarang masih gak mau jalan sendirian…susah n senang gak bisa dibagi kalo sendiri. tapi salut deh

  2. Nurul Fitri Lubis

    Syukurlah kalau kamu suka.. Semoga bisa memberi inspirasi…
    Jalan2 sendirian ada enak dan tidaknya.. Tidaknya, ya itu susah senang nggak bisa share…. Enaknya, bebas mau kemana2, nggak terikat sama orang lain. Selain itu, pengalaman yang didapat juga lebih berkesan, karena mo ngapa2in mesti sendirian… Serunya, kalo lagi nyari satu tempat.. Puas banget kalo berhasil..

  3. rae

    hallo..
    saya suka sekali dgn petualangan mba.. saya jg mau ke Malaysia & Singapore sendirian (dan saya yakin pasti tersesat). tapi cerita mba membuat saya jadi tau ttg informasi2 disana, termasuk mesin MRT yang harus pakai uang 1 dollar, 2 dollars atau 5 dollars itu. hehe.. setidaknya jd lebih tau biar nanti gak malu2in.. :p thanks for sharing ya..😉

  4. Nurul Fitri Lubis

    Hi juga Rae…
    Jangan khawatir.. Kamu ngga bakal nyasar disana.. Semuanya jelas kok.. Ada penunjuk jalan dimana2. Terlebih2 Singapore… Penduduknya juga ramah kok.. Saya juga ngga nyangka akhirnya bisa menikmati jalan2 di Singapore setelah hampir tidak mendapatkan tempat menginap.. Jangan lupa reserve dulu ya.. Berjaga – jaga dari pengalaman saya… Selamat berpetualang🙂

  5. nunung yuni a

    halo mbak nurul, wah keren sekali cerita perjalanannya.Jadi tau besok musti gimana kalau mau ke kuala lumpur.Aku ibufaris yang ada di backpackers milist.Bisa tau ym nya??barangkali aku bisa nanya2 langsung.Thx a lot.Atau mabk bisa add me aja ya ym ku.Id ku fadevmother.Thanks a lot

    1. Nurul Fitri Lubis

      Halo Mbak Nunung. Thanks alot juga.. Saya sudah add mbak di YM ya… Kalau masih ada yang bingung, tanya aja.. jangan segan2..🙂

  6. Nurul Fitri Lubis

    Hi Apik..
    Biaya tergantung banyak hal, kayak mau nginap di hotel seperti apa, mau kemana aja, berapa lama, dll..
    Semuanya tergantung kamu…

  7. icank

    hai mbak… tulisannya benar2 TOP. Apalagi pengalaman passport “distempel pertama” itu nantinya akan saya lakukan, dan kebetulan lagi…. rutenya juga sama dari medan ke kuala lumpur,hehe…. sepertinya udah lengkap banget tuh info di tulisannya, tp nanti kalo ada pertanyaan saya tanya add ym mbak ya.., thx

  8. reza

    hallo mba..salam kenal ya..

    wah saya senang banget ni bc tulisan mba..
    sangat membantu sekali karena saya mau ke tempat yg sama..
    mba saya mau nanya tentang perjalanan dari KL ke singapura
    teman saya ada yg menyarankan ke johor bahru dl.jauh ga mba dr KL ke johor bahru?
    jarak dari little india ke tempat wisata di spore sprti sentosa island dan esplanade, jauh ga?karena rncana sy cm menginap 1 mlm sj d spore
    mba, blh tau email nya?

  9. Nurul Fitri Lubis

    Hi Reza. salam kenal juga. Syukurlah kalau tulisan saya bisa membantu. saya belum pernah ke Johor Bahru. Jadi, maafkan kalau saya tidak bisa menjawab pertanyaan kamu🙂
    Kalau kamu mau langsung ke Spore, kenapa ngga langsung saja? kecuali kamu mau jalan2 di Johor. Banyak kok bus dan train langsung ke Spore dari KL.

    Dari little India tidak terlalu jauh ke Sentosa Island, dll, apalagi kalau naik MRT. Hanya sekitar 10 – 15 menit saja.
    Dan, stasiun MRT ini tersebar di seluruh kota. Saran saya, jika mencari penginapan, jangan jauh2 dari stasiun MRT. Jadi, ngga terlalu capek kalo mo jalan kaki. MRT ini sangat membantu, karena jauh lebih murah dan cepat ketimbang naik taksi.
    Oh ya. Kalau masih ada yang mau ditanya, japri aja di nurulfitrilubis@hotmail.com..

    cheers,
    N

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s