Siapa Suruh Datang Jakarta


Hidup di Jakarta ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Sepertinya, memang benar apa yang dikatakan orang, “Siapa suruh datang Jakarta” benar adanya. Jika terlihat dari luar, Jakarta tampak layaknya sebuah kota metropolitan. Apalagi jika melalui kawasan Jl. Thamrin – Sudirman yang dipenuhi gedung – gedung perkantoran yang tinggi dan mewah. Tak terbayangkan apa yang ada di balik gedung mewah tersebut.

“Lihat.. Itu kantor kita,” seru seorang teman yang menjemputku di airport di hari kedatanganku ke Jakarta. “Kost – kost an kita ada di balik gedung tersebut.”
“Wow. Keren ya,” jawabku sambil tak bosan – bosannya memandang sang gedung. Tentunya rumah – rumah di sekitarnya juga keren, begitu pikirku.

Namun, yang kutemukan jauh dari apa yang kubayangkan. Perumahan yang terdapat di balik gedung – gedung pencakar langit itu bukanlah perumahan mewah. Jika boleh disebut, perumahan sederhana. Bahkan, banyak rumah yang bisa dikatakan jauh sekali dari kondisi sederhana. Rumah tempat aku menyewa kamar bisa dikatakan bagus. Namun, tak banyak rumah seperti itu. Paling hanya ada lima hingga delapan buah saja. Sisanya, rumah – rumah kumuh. Dari selintas pandang, beberapa rumah hanya berukuran 3 x 2 meter. Dan itu dihuni oleh satu keluarga.

Itu, masih segelintir saja. Begitu naik ke jembatan penyebrangan, beragam orang mencari ‘nafkah’ berdatangan. Para pengemis dengan berbagai ragam cara, berusaha menarik perhatian orang – orang yang lewat untuk memberikan sumbangan. Yang paling miris, seorang ibu dengan kondisi sehat walafiat membawa bayinya yang masih merah untuk meminta – minta. Belum lagi para tuna netra yang berdiri di setiap sudut jembatan penyebrangan.

Busnya? Minta ampun. Memang, bus TransJakarta yang disubsidi oleh Pemko Jakarta lumayan bersih. Namun, tetap saja kapasitas penumpang yang begitu banyak membuatnya tak terasa nyaman lagi. Orang – orang bukan hanya berdiri, karena tak dapat menemukan tempat duduk. Namun, harus bergelantungan. Bahkan, ruang antara penumpang pun sudah tak ada lagi.

Ini bukan pertama kalinya aku mengunjungi jakarta. Namun, sekedar berkunjung tidak sama dengan tinggal. Saat berkunjung, biasanya aku menikmati setiap detik kemacetan. Namun, sekarang, aku harus berjuang melewati kemacetan. Jadi, hidup di Jakarta itu enak? Belum tentu. Kalau tak siap, jangan coba – coba datang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s