Yang Kurindukan dari Tanah Rencong


Dua minggu sudah menjadi warga kota metropolitan. Dengan pola hidup yang benar – benar terstruktur. Bangun pagi – kerja – pulang – tidur. Rutinitas yag terlalu biasa, jika dibandingkan dengan betapa ‘sibuknya’ aku saat berada di Banda Aceh. Kota kecil, namun atmospher kotanya bisa membuatku betah tinggal disana selama dua tahun lebih. Kota, yang saat berlangsungnya konflik, tak terbayangkan untukkku sebelumnya untuk tinggal disana. Dan tidak terbayangkan pula, ketika aku meninggalkannya, begitu banyak hal yang sangat kurindukan.

 IOM dan Seisinya

Banyak banget kenangan disini. Terutama dengan teman – teman dari project TLC.  Nggak tahu apa apa memang sudah ditakdirkan, semua personil TLC memiliki keunikan masing – masing. Sampe – sampe project managernya juga unik. But, here, I found the incredible friendship. Masih ingat ketika hari pertama aku bergabung di project ini, setelah mendapat promosi dari Konrad, managerku di Flood response Project. Usai pengenalan singkat, Nicky, project managerku yang baru membawaku ke ruangan tempat tim ku bekerja. Semua mata memandang penasaran, saat Nicky memperkenalkanku sebagai ‘engineer’ yang akan berkerja bersama mereka. Satu – satunya ‘engineer’ perempuan. Tatapan yang membuatku risih. Bahkan, perkenalan dengan atasan langsungku pun tak berlangsung istimewa. Kami saling memberikan penilaian, untuk saling mencurigai satu sama lain. Padahal, di hari – hari berikut, kami menjadi tim yang solid, bahkan beliau menjadi teman baikku .

Here we are.. The craziest team ever…

Namun, baru berlangsung dua hari aku langsung menemukan fakta, bahwa aku akan bersenang – senang dengan semua anggota tim untuk satu tahun ke depan. Begitulah adanya. Moto kerja kami ‘Work With Fun’. Siang bekerja, dan malamnya dilanjutkan dengan gelak tawa di warung kopi yang banyak tersebar di setiap sudut kota Banda Aceh. Setiap hari, ada saja kejadian – kejadian ‘fun’ yang bisa membuat semuanya tertawa. Dari ‘menganiaya’ Zam – zam, sahabat yang kami sayangi, tingkah – tingkah iseng Gafur, kejadian – kejadian lucu di barak yang bisa membuat kami menertawakannya berulang – ulang tanpa bosan – bosannya, bahkan kenekatan untuk membuat sedikit kenakalan. Untuk kenekatan ini, aku melupakan partner setiaku Harry. Maafkan Harry. Salahkan seluruh anggota tim yang sudah menculikku. Wish the time will come again someday.

Chek Yuke dan Black and White

Dua warung kopi favoritku. Rasanya tidak sah, jika dalam seminggu aku tidak menyempatkan diri untuk mengunjungi warung kopi. Padahal, minum kopi bukan kebiasaanku. Bahkan, alarm tubuhku langsung berbunyi jika aku memasukkan sedikit saja kafein ke dalam tubuhku. Begitupun, rasanya ada sesuatu yang belum komplit jika aku tak mengunjungi tempat itu.  Bukan untuk minum kopi. Sekedar untuk melepas penat, dan bertegur sapa dengan beberapa teman, ditemani sebotol teh botol. Tak perlu khawatir jika pergi sendirian ke tempat ini. Duduklah barang sepuluh menit. Beberapa suara akan berteriak memanggilku. Bukannya sok ngetop, namun karena komunitas yang tidak terlalu besar, para penghuni warung kopi biasanya saling mengenal satu sama lain.

Salah satu malam di Black and White

Pantai

Jika sudah melihat pantai Aceh, rasanya aku bissa duduk berlama – lama, berjam – jam, hanya untuk menikmati hembusan angin sepoi – sepoi yang menerpa wajahku sambil mendengarkan deru ombak.  Aku selalu menyukai laut dan misteri yang ada di dalamnya. Sesuatu yang sangat kusyukuri. Selama empat tahun tinggal di daerah dengan pantai yang sangat indah. Jika boleh memilih untuk tinggal di pengunungan yang damai, atau di pantai nan permai, aku akan memilih pantai. Hampir semua pantai di Aceh masih asri. Belum ternoda sama sekali. Jika diolah secara profesional, bukan tak mungkin pantai – pantai disini akan lebih indah dibanding pantai – pantai di Bali.

Salah satu pantai di Aceh

My Girl Friends

Begitu aku menyebut mereka. Jika ingin membahas ‘girls’ talking’ bersama merekalah aku menghabiskan waktu. Aku mengenal mereka dari Widi, sahabat dan teman serumah saat aku masih tinggal di Nias. Awalnya hanya pertemuan – pertemuan  singkat di kamar Widi yang kecil. Dan berlanjut dengan pertemuan – pertemuan di Canai Mamak (toko canai favorit kami untuk menghabiskan waktu), berkaraoke besama masih di kamar Widi yang kecil, masak – masak di rumah Melfa dan Sari (Melfa memasak, kami menonton dan makan), mengunjungi pantai, dan masih banyak lagi.  Persahabatan  yang hingga kini masih kujalin. Meskipun, ketika Widi meninggalkan Banda Aceh menuju Africa, pertemuan bersama mereka tidak serutin sebelumnya. Hingga aku meninggalkan IOM untuk bekerja di tempat lain, aku masih menjalin komunikasi dengan mereka. Bella, salah satu dari mereka saat ini ada di Africa untuk misi perdamaian di  Darfur. Tak bertemu dengannya selama hampir setahun tak membuat persahabatan itu renggang. Gosip seru yang kulakukan dengannya dan Dona saat dia pulang ke Indonesia, masih seseru sebelum dia pergi meninggalkan Indonesia.

Ini dia.. My girlfriends…

Lubang Semut dan Personil – Personilnya

Ini sebutan yang kuberikan untuk ruanganku saat bekerja di SE. Ruangan itu sangat kecil dan harus diisi oleh enam orang dengan beraneka ragam tingkah laku. Dari yang suka iseng, suka ngomong, suka bernyanyi, suka ngambil makanan orang hingga suka ikut campur urusan orang lain. Komunitasnya kusebut dengan sebutan ‘serdadu semut’. Serdadu karena kami bukan petinggi di program SE. Sebutan semut sendiri sangat cocok dengan keseharian kami di ruangan. Meskipun bermacam tingkah, namun kami saling menyayangi dan gemar bergotong royong. Bahkan, kepindahanku ke Jakrta juga merupakan andil dan bantuan dari teman – teman serdadu semut. Beberappa dari mereka masih bersamaku hingga saat ini, di ruangan besar yang tak bisa kusebut lagi sebagai lubang semut. Namun sayang, dua orang serdadu semut tak bergabung lagi bersama kami, para pasukan semut. Keriuhan dan kebersamaan itu kurang lengkap tanpa mereka.

Aku dan Serdadu Semut

Klub Toastmasters ku

Awalnya, hanya iseng – iseng bergabung bersama mereka. Sekedar untuk mengisi waku luang. Rasanya akan lebih berguna jika waktu bebasku kugunakan untuk hal lain, selain ber haha hihi di warung kopi. Klub ini merupakan klub yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan leadership para anggotanya. Pertemuan setiap minggu bersama mereka, disambung dengan berkaraoke bersama di hotel Hermes, dilanjutkan kembali dengan ritual lainnya ‘minum kopi dan nongkrong di warung kopi’. Setelah beberapa waktu,  mereka menjadi teman – teman baik untuk menghabiskan akhir pekan. Salah satu dari mereka malahan menjadi partner ku untuk menyalurkan hobi memotret.

Aku di beberapa kegiatan Toastmasters

Kamar dan Rumah Kost ku

Tempat ini sudah seperti rumah kedua bagiku. Atmosphere kekeluargaan begitu terasa, begitu aku menjejakkan kaki ke rumah ini. Rumah yang tak sengaja kutemukan di hari keduaku di Banda Aceh. Penghuni kost tidak terlalu banyak. Hanya enam orang saja. Karena bekerja di tempat yang berbeda, tidak memungkinkan bagi kami untuk bertemu sesering mungkin. Begitupun, di malam hari, usai pualng dari berbagai aktifitas, aku menyempatkan diri bergabung bersama penghuni kost yang lain di ruang tivi untuk menonton apa saja yang bisa ditonton. Awalnya, ini hanya salah satu cara untuk bersosialisasi, karena disiang hari rasanya tak mungkin melakukan ini bersama mereka. Lama – kelamaan, aku menikmati kebersamaan menonton televisi ini, meskipun sekedar hanya untuk menonton sinetron yang tidak penting, bersama – sama mengantar cucian ke laundry, atau kalau aku beruntung, para penghuni yang semuanya lelaki (kecuali aku) ini mengajakku untuk menunjukkan kebolehanku yang ‘spektakuler’ di dapur.

Ibu Hajar bersama anak – anak kost Taman Sari Baru

Ibu Hajar, pemilik rumah yang sudah seperti ibu bagi kami, para penghuni kost. Untuk usianya yang sudah tidak muda lagi, beliau sangat moderat. Perhatiannya pada kami, bukan main. Jika sudah memasak seuatu yang spesial, beliau akan memastikan setiap anak kost mendapatkan bagiannya masing – masing. Dan, jika ada yang sakit, si ibu adalah orang pertama yang paling repot. Mulai dari mendesak untuk mengajak ke dokter, memaksa untuk memasakkan bubur bagi si sakit, hingga memastikan si sakit sudah meminum obat sesuai resep dokter. Pokonya ibu kost ku top banget deh. I Miss you Ibu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s