Nias Dalam Selayang Pandang (Bag. 1)


Selama berkarir di bidang humanitarian, bisa aku katakan Nias memberikan kenangan tersendiri bagiku. Bukan hanya karena ini kali pertama aku aku jauh dari rumah, namun persahabatan yang sempat aku jalin dengan teman – teman selama disana sangat berkesan . Ditambah lagi dengan keindahan alam Nias dengan pantai nan biru yang membuat aku betah duduk berlama – lama hanya untuk mendengarkan deru ombak.

Aku tiba di Nias, empat bulan setelah gempa berkekuatan 8,3 SR memporak porandakan pulau ini. Kesempatan bergabung di salah satu organisasi kemanusiaan terbesar di dunia ini kuterima di saat – saat akhir, setelah dengan berbagai pertimbangan aku meninggalkan biro konsultan tempat aku belajar menjadi arsitek selama hampir dua tahun. Sempat ada keraguan dalam hatiku, begitu pesawat Merpati yang membawaku dari Medan menuju Gunung Sitoli lepas landas. Bayangan akan Nias merupakan ‘tempat jin membuang anak’ memenuhi pikiranku. Terbersit dalam fikiran, begitu tiba di Nias, jika memang begitu mengerikan tempat itu, besok pagi aku akan kembali ke Medan, terbang dengan pesawat pertama.

Keraguan akan Nias mulai  mereda begitu pesawat mendarat di Bandara Binaka, Gunung Sitoli. Hamparan laut biru yang jernih, dan sekumpulan hutan kelapa menyambutku. Begitu melangkahkan kaki keluar dari pesawat, aku bisa mencium aroma laut yang harum dan angin laut yang segar menerpa wajahku. Seorang wanita berusia awal tiga puluhan menjemputku di Bandara. Beliau adalah staff administrasi di organisasi tempatku bekerja. Setelah bertegur sapa dan berbasa basi, kami meninggalkan bandara menuju guest house yang telah disediakan untukku.

Perjalanan dari bandara menuju guest house sangat spektakuler. Sepanjang jalan, di sisi sebelah kanan terbentang lautan biru dan ombak yang menderu – deru. Di sebelah kanan menjulang bukit – bukit dengan pepohonan hijau dan masih asri. Wah. Indah sekali. Hingga saat ini aku masih bisa mengingat dengan jelas jalanan yang kulalui. Jalanan yang rusak berat akibat gempa bumi tak menjadi penghalang bagiku untuk menikmati keindahan alam.

Ternyata tempat aku dan staf lain menginap adalah sebuah guest house di kompleks Museum Nias. Dibangun dengan menggunakan konstruksi kayu, guest house tersebut terletak di pinggir pantai. Karena satu – satunya perempuan yang datang paling akhir, aku mendapatkan kamar sendiri. Kamarnya kecil, aku suka menyebutnya kamar liliput. Tetapi, dari kamarku yang mungil, aku masih bisa mendengarkan deru ombak memecah karang. Saat itu, aku langsung tahu bahwa aku telah jatuh cinta pada Nias.

Minggu pertamaku berlalu tanpa masalah yang berarti. Karena prgram yang akan kulakukan adalah program rekonstruksi sekolah, melibatkan profesi engineer dan arsitek, profesi yang banyak dikuasai kaum adam, maka bisa dikatakan aku lebih banyak berteman dengan pria daripada dengan kaumku sendiri. Selain aku dan staff administrasi yang menjemputku, ada satu orang wanita lagi dalam timku. Dia adalah arsitek, sama sepertiku. Tak mampu menghadapi gurauan para pria yang terkadang agak kelewatan, membuat teman wanita satu – satunya dengan profesi yang sama memilih untuk menghabiskan waktu seorang diri ketimbang bersama staf lainnya. Dia memilih tinggal di dalam kamarnya ketimbang melakukan aktifitas bercanda dan saling hina di kamar salah seorang teman pria yang menjadi markas tempat kami berkumpul. Kamar yang selalu diisi dengan canda dan tawa.

Nias adalah sebuah pulau kecil di sebelah barat pulau Sumatera. Dengan luas 5.625 km2, dihuni oleh 700 ribu jiwa, pulau ini memiliki potensi wisata laut seperti berselancar dan menyelam. Perjalanan pertamaku adalah Sirombu, sebuah kecamatan di bagian barat pulau Nias, bersama atasanku beserta dua orang teman wanita yang lain. Kondisi jalan yang rusak berat membuat perjalanan seolah tak pernah berakhir. Meskipun sudah menggunakan kendaraan 4WD, lubang di sepanjang jalan membuat kami selalu terlonjak dari tempat duduk.

Setelah hampir empat jam terbanting – banting, kami tiba di Sirombu. Kota mati. Begitu yang ada dalam fikiranku ketika pertama kali melihatnya. Bagaimana tidak. kota ini telah mengalami dua kali bencana tsunami. Pertama kali, saat tsunami menghantam Aceh. Yang kedua, ketika gempa dahsyat melanda Nias, selain mendapatkan gempa, kota ini juga mendapatkan hadiah luapan air laut. Trauma dengan tsunami yang telah menyerang dua kali berturut – turut dalam tiga bulan terakhir, membuat masyarakat jera untuk tinggal disana. Berbondong – bondong mereka menuju tempat yang lebih tinggi. Meninggalkan rumah mereka begitu saja dan rusak dimakan waktu. Rasanya seperti berada di film – film. Tak ada satupun rumah yang dihuni. Sunyi senyap. Hanya ada suara deru mobil kami, angin dan ombak berkejaran di laut lepas.

                              Pantai di Sirombu

Gempa tidak menghilangkan keindahan pantai Sirombu. Pasirnya masih putih besih. Pohon – pohon masih berdiri kokoh, meskipun beberapa roboh tak kuasa menahan guncangan gmpa bumi. Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Kami mulai bingung mencari penginapan. Hotel, tentu tak ada. Rumah saja susah. Pulang ke Gunung Sitoli sudah tak memungkinkan. Perjalanan empat jam dengan kondisi jalan yang buruk. Atas kebaikan hati seorang pastor, kami menginap di sebuah paroki. Meskipun sederhana, kami sangat berterima kasih akan kebaikan hati sang pastor. Hampir seluruh dinding bangunan retak – retak. Lantainya pecah – pecah. Seorang siswa yang belajar untuk menjadi suster menyarankanku untuk tidur di sebuah rumah panggung. Lebih aman katanya. Tidak ada listrik. Paroki menggunakan genset. Untuk menghemat bahan bakar, setelah pukul 9 malam, genset dimatikan. Penerangan hanya menggunakan cahaya rembulan yang mengintip malu – malu.  Semalaman aku tak bisa tidur.

Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s