Nias Dalam Selayang Pandang (Bag. 2)


Lahewa, adalah tujuanku berikutnya. Kecamatan ini berada di ujung utara pulau Nias. Saat aku tiba disana, kondisi penduduknya masih belum pulih. Sebagian besar penduduk masih tidur di tenda yang dipasang di halaman rumah mereka. Trauma akan gempa membuat mereka lebih memilih menghabiskan malam yang dingin di dalam  tenda ketimbang di dalam rumah mereka sendiri. Sangat jarang dijumpai rumah yang memiliki kamar mandi. Sebagian besar penduduk mandi di pemandian umum. Aku tak sempat menikmati pemandian umum ini. Salah seorang penduduk berbaik hati menawarkan rumahnya sebagai tempatku menginap. Rumah ini adalah satu rumah dari sedikit rumah yang masih memiliki kamar mandi. Tidak ada sinyal telepon seluler di tempat ini. Jika sudah malam, tak ada yang bisa dilakukan. Jika sudah begini, aku dan teman ‘engineer’ku akan duduk berlama – lama di teras rumah tempat kami menginap. Menghitung bintang dan membahas apa saja yang bisa dibahas untuk membunuh waktu.

Satu – satunya hiburan adalah pantai. Usai melakukan survey untuk sekolah yang akan dibangun oleh organisasi kami, kami menghabiskan waktu di pantai. Tanpa sengaja, kami menemukan pantai yang sangat spektakuler. Akibat gempa yang berkekuatan sangat keras, menyebabkan garis pantai menjauh sejauh hampir satu kilometer. Karang – karang bermunculan di pantai. Pemandangan menakjubkan yang tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Karang – karang yang indah dan menimbulkan kesan mistis dan misterius.

                             Aku di Pantai Lahewa

 Ada satu kejadian lucu saat aku menginap di Lahewa ini. Pada suatu malam, aku tengah duduk di teras rumah, menunggu teman ‘engineer’ku sebelum kami pergi untuk makan malam di satu – satunya warung yang masih buka. Tiba –tiba segerombolan remaja perempuan menghampiriku. Berbisik – bisik dan tertawa terkikik – kikik. Akhirnya, salah satu dari mereka berbicara kepadaku dan menyatakan keinginan mereka untuk berkenalan denganku. Perkenalan pun berlangsung sempurna. Satu persatu mereka menanyaiku, lebih tepatnya menginterogasiku. Apa maksud dan tujuanku datang ke Lahewa. Dari mana aku berasal. Apakah teman ‘engineer’ku yang selalu bersamaku adalah suamiku. Hingga keinginan untuk menjodohkanku dengan salah satu kenalan mereka di Lahewa. Syaratnya, jika mereka berhasil menjodohkanku dengan pria Lahewa, maka aku harus membantu menjodohkan mereka dengan pria yang berasal dari kota. Ide yang hanya kutanggapi dengan tersenyum.

Penasaran, aku bertanya mengapa mereka begitu ngotot ingin mendapatkan ‘anak kota’. Jawaban mereka membuatku tersentuh. “hanya dengan mendapatkan orang kota lah satu – satunya kesempatan bagi kami untuk keluar dari tempat ini.” Malam itu kuhabiskan dengan mendengar cerita dan impian gadis –gadis muda itu. Keinginan mereka untuk melihat dunia luar. Jangankan melihat kota besar. Melihat Gunung Sitoli yang hanya berjarak 3 jam perjalanan pun mereka belum pernah. Satu – satunya jalan untuk melihat dunia luar adalah menikah dengan orang asing, yang akan membawa mereka keluar dari tempat dimana selama ini mereka tinggal.

Ada satu tradisi dalam masyarakat Nias dalam melangsungkan pernikahan. Babi adalah syarat mutlak dan keharusan. Anak perempuan yang akan dilamar harus ditukar dengan sejumlah babi, bukan uang. Banyaknya babi tergantung dengan kondisi sosial si anak perempuan. Semakin tinggi kondisi sosialnya, semakin banyak babi yang harus disembelih. Pegawai negeri adalah profesi yang sangat dibanggakan di Nias. Seorang pria yang mempersunting perempuan yang sudah berprofesi pegawai negeri, minimal harus menyerahkan 50 ekor babi. Juru masak di ‘guest house’ tempatku menginap mengaku, suaminya harus menyerahkan 15 ekor babi ketika menikah. Dan sekarang, mereka bekerja keras untuk membayar hutang yang disebabkan untuk membeli babi – babi tersebut.

“Menurut kami, jika kakak menikah dengan orang Nias, kakak bisa dihadiahi 100 ekor babi,” canda para remaja itu sebelum kami berpisah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s