Nias Dalam Selayang Pandang (Bag. 3)


Untuk mencapai pulau Nias bisa melalui jalur darat dan udara. Ada dua penerbangan yang beroperasi tiga kali dalam seminggu. Merpati Airlines dan SMAC yang berangkat dari Bandara Polonia Medan. Jika melalui jalan darat, akan disambung dengan kapal dari Sibolga menuju Pelabuhan Angin di Gunung Sitoli. Pada saat cuaca buruk, bersiap – siaplah terisolasi. Tidak ada satupun kapal maupun pesawat yang bersedia mengangkut penumpang. Di saat ‘peak season’, transportasi apapun akan diambil. Termasuk pesawat Nomad, milik Angkatan Laut RI.

Pulau Nias terdiri atas dua Kabupaten. Nias Utara dan Nias Selatan. Keduanya memiliki perbedaan. Budaya, bahasa (meskipun tidak terlalu mencolok) hingga bentuk rumah adatnya. Jika bentuk rumah adat Nias Selatan berbentuk segi empat, seperti kebanyakan rumah adat di Indonesia, tidak demikian dengan Nias Utara. Rumah adatnya berbentuk oval, disangga dengan kolom – kolom kokoh yang terbuat dari kayu yang sudah berumur ratusan tahun. Rumah – rumah ini masih berdiri kokoh, tak hancur diterjang gempa. Selama tinggal di Nias, aku sudah terbiasa dengan gempa bumi. Dalam satu minggu, pasti ada satu gempa yang bisa dibilang keras.

Tidak sah mengunjungi Nias jika belum ke Teluk Dalam. Ibukota kabupaten Nias Selatan ini sangat terkenal dengan kehebatan ombaknya. Surga bagi para peselancar. Bahkan, menurut para peselancar yang kutemui saat disana, sebelum gempa bumi, ombak di Nias adalah ombak yang paling diminati oleh para peselancar setelah Hawai. Jarak yang dibutuhkan menuju ke sana adalah dua jam perjalanan dari Gunung Sitoli, ibu kota kabupaten Nias.

Kota Teluk Dalam terkesan lebih ‘crowded’ jika dibandinkan dengan Gunung Sitoli. Saat aku melakukan ‘assignment’ disana di tahun 2006, kondisi belum pulih benar. Pasar yang tidak teratur. Orang – orang berjualan sesuka hati di pinggir jalan. Masih sulit menemukan penginapan yang layak. Akibatnya, aku harus menginap di Sorake, yang berjarak 20 menit naik mobil dari Teluk Dalam. Padahal, lokasi kerjaku berada di Teluk Dalam. Tidak efisien memang. Tapi, tidak ada pilihan lain.

Di sekitar Saroke banyak penginapan sederhana. Bangunan berupa rumah panggung dari kayu yang disokong oleh tiang – tiang dari beton. Dari balkon yang dilengkapi ‘hammock’ bisa mendengarkan deru ombak yang memekakkan telinga. Ombak di Sorake memang lebih keras jika dibandingkan dengan ombak di Gunung Sitoli. Seperti Sirombu, pantainya berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia. Disinilah para peselancar melakukan aksinya.

Jika ingin berenang bisa ke Pantai Lagundri. Jika naik mobil, sekitar 5 menit perjalanan menuju kota Teluk Dalam dari Pantai Sorake. Disini ombaknya lebih tenang, karena pantainya berupa teluk. Di sekitar pantai juga ada penginapan dan restoran yang menyajikan makanan sederhana. Mau berselancar juga bisa. Penginapan disana juga menyediakan jasa penyewaan papan selancar. Tetapi, tentu saja adrenalin yang dihasilkan berbeda jika dibandingkan dengan berselancar di Sorake.

Ada satu kampung tradisional yang wajib dikunjungi jika berkunjung ke Nias Selatan. Namanya Bawomataluo. Artinya negeri matahari. Letaknya di antara Teluk Dalam dan Sorake. Kampung ini berada di atas bukit. Untuk memasukinya, aku harus menaiki kurang lebih sekitar 80 an anak tangga. Begitu memasuki gerbang kampung, aku disambut oleh sederetan rumah tradisonal Nias Selatan yang berbentuk segi empat yang memanjang ke belakang. Disokong oleh kayu – kayu berbentuk bulat dan dalam keadaan utuh. Pola perkampungan Nias Selatan selalu sama, dengan sirkulasi linier. Jalanan berada di tengah dengan rumah penduduk di kiri dan kanan. Tidak ada satupun pohon. Saranku, bawalah topi atau payung jika berniat berpesiar ke kampung ini. 

Di setiap ujung jalan ada pintu masuk. Menurut masyarakatnya, berdasarkan wawancara singkat yang aku lakukan, mereka sengaja membangun kampung di atas bukit, sebagai benteng pertahanan jika ada yang menyerang kampung mereka. Di setiap kampung, ada satu rumah tradisional yang paling besar. Begitu juga di Bawomataluo. Rumah tersebut milik Raja atau kepala kampung.  Rumah ini berbeda dari rumah – rumah lainnya. Lebih besar, dan lebih banyak ornament terdapat di dalamnya. Menunjukkan tempat tinggal dari seorang yang sangat dihargai dan berwibawa. Di depan rumah, ada lempengan batu yang dipahat halus, yang diperuntukkan sebagai tempat tidur raja jika ingin menonton atraksi. Melihat rumah raja mengingatkanku akan mata kuliah Arsitektur Vernakular saat masih di universitas.

Tepat di rumah kepala desa, berdiri batu setinggi kurang lebih dua meter. Batu ini merupakan kebanggan masyarakat Nias, yang terkenal dengan olah raga lompat batu. Beberapa pemuda menawarkan jasanya menghibur kami, dengan melompati batu tersebut. Jika ingin melihat mereka beraksi, kita harus membayar sejumlah 50 ribu untuk satu kali lompatan.

Anak – anak juga tak kalah aktif. Seperti layaknya sebuah tempat wisata di Indonesia, para pedagang selalu mengikuti pengunjung kemana – mana. Mereka mencoba menawarkan barang dagangan mereka berupa souvenir dan mengikuti langkahku kemanapun aku pergi. Bahkan, mereka cenderung memaksa. Saranku, jika tak ingin membeli, jangan tunjukkan tanda – tanda ketertarikan ketika mereka menawarkan barang dagangannya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s