Nias Dalam Selayang Pandang (Bag. 4)


Mengunjungi sekolah, sebagai project utama kami, dengan akses minim selalu menjadi masalah. Tak jarang, dikarenakan hal ini terjadi perseteruan di antara kami. Siapa yang akan mengunjungi sekolah yang mana selalu menjadi perdebatan yang kadang – kadang berakhir dengan sikap diam diantara salah satu dari kami. Beruntunglah aku yang dilahirkan sebagai kaum hawa. Biasanya, dengan pertimbangan jenis kelamin, aku akan diberi lokasi yang tidak terlalu sulit untuk ditempuh. Jika aku bisa mencapai lokasiku dengan bermobil, para pria harus menggunakan sepeda motor. Jika aku harus menggunakan sepeda motor, mereka harus berpuas diri untuk mencapai lokasi sekolah dengan berjalan kaki. Jika aku berjalan sejauh 5 kilometer, mereka harus berjalan 10 kilometer. Ketika kembali mereka akan sesumbar, “Oh… Jauh sekali jarak yang harus kutempuh. 20 kilometer pulang pergi dengan berjalan kaki. Babi hutan ada dimana – mana. Untung saja bukan perempuan yang melewati tempat itu” cerocos mereka sambil melirik ke arahku dengan perasaan setengah kesal. Biasanya, sepulang mengunjungi lokasi project akan dilanjutkan dengan atraksi saling menghina. Menertawakan kelucuan – kelucuan yang kami alami saat melakukan ‘assignment’. Lelucon – lelucon yang hanya bisa ditertawakan pada saat ‘assignment’ telah usai.

Sebuah SD di Lahewa

SD Tugala Lauru

SD Lawindra

Aku di SD Lawindra

Di suatu perjalanan menuju salah satu sekolah

Perjalanan ke Lombuzaua

Sekolah yang kukunjungi sebagian besar memiliki akses minimum. Aku tidak akan membicarakan sekolah yang bisa ditempuh dengan mobil 4WD kami. Sebagian besar jalan hanya dapat dilalui sepeda motor. Itupun harus menggunakan trail. Kondisi jalan berupa jalan tanah dan bebatuan tajam. Jika masih memungkinkan, kami akan mengendarai mobil sejauh mana mobil bisa melintas. Sepeda motor diletak di kabin belakang. Ketika saatnya tiba, sepeda motor harus diturunkan. Ada kalanya, bahkan sepeda motorpun tak bisa melintas. Jika sudah begini, kami akan menitipkan motor di rumah penduduk desa dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Menuju lokasi, biasanya kami dipandu oleh masyarakat kampung yang berbaik hati untuk menunjukkan lokasi. Pemandu kami bermacam – macam. Lelaki dan perempuan. Ibu – ibu yang baru pulang berbelanja dari kota terdekat dan akan kembali ke kampung, bapak – bapak yang baru pulang berburu dengan babi hutan di tangan kiri dan tombak di tangan kanan, hingga anak – anak yang mau meluangkan waktu bermainnya untuk mengantarkan kami. Seruan ‘Yahowuu’ yang artinya apa khabar selalu menyertai perjalanan kami. Macam – macam pula undangan yang kami dapatkan. Dari acara perpisahan murid – murid SD hingga undangan pernikahan.

Perjalanan yang paling berkesan saat aku dan teman – temanku mengunjungi desa Lombuzaua. Desa ini terletek di Kecamatan Lotu, sebelah utara Pulau Nias. Saat itu hujan turun dengan derasnya. Driver mengantar kami ke lokasi terakhir yang bisa dicapai dengan mobil. Menuju ke desa, harus berjalan kaki sekitar 6 kilometer. Masalah pertama datang ketika harus menyebrangi sungai berarus deras. Untuk mencapai sebrang sungai sepanjang 25 meter, ada batang kelapa yang direbahkan. Tanpa pegangan. Hebat orang – orang kampung ini. Mereka seperti pemain sirkus saja. Dengan hujan mengguyur lebat, barang bawaan di atas kepala, mereka melalui batang kelapa tersebut tanpa kesulitan apapun. Tidak demikian dengan aku yang fobia akan ketinggian. Mengantisipasi, aku dan teman – temanku memutuskan langsung melewati sungai berarus deras. Kegiatan ini melibatkan hampir separuh masyarakat kampung. Bersama – sama, mereka memegang tanganku untuk melewati air sungai yang mencapai dada. Akhirnya, sampai juga di seberang dengan selamat.

Perjalanan belum selesai. Jalanan yang hanya berupa tanah liat yang super licin membuatku jatuh bangun tak terhitung jumlahnya. Satu hal, jika bertanya jarak sama penduduk setempat, jangan terlalu percaya. Indikator jauh dan dekatnya bisa berbeda dengan kita, apalagi aku yang tak terlalu menyukai lintas alam. Seorang remaja perempuan selalu memegang tanganku, sejak menyebrang sungai hingga mencapai kampung. Hebat dia. Tangannya jauh lebih kokoh dibandingkan dengan teman pria ku. Apalagi dibandingkan dengan tanganku.

Masuk ke desa Lombuzaua seperti berada di atmosphere lain. Setelah berjalan menyusuri hutan hampir dua jam, dengan hujan mengguyur, mendaki dan menuruni bukit, dari kejauhan aku bisa melihat atap perumahan penduduk. Di kampung inilah aku melihat untuk pertama kalinya babi bukanlah sebagai binatang ternak. Tetapi lebih seperti binatang piaraan. Beberapa anak babi bergeletakan di depan pintu rumah. Rasanya mau pingsan begitu nyampe desa saking capeknya. Penduduk desa membawa kami ke rumah yang minus babi (karena aku muslim) dan menghidangkan secangkir kopi hitam untuk kami. Setelah mengarungi hujan selama dua jam, kopi hitam pun bisa selezat Espresso di Star Buck.

Si gadis yang selalu memegang tanganku membantuku membersihkan lumpur – lumpur yang menempel di celana jeansku. Meskipun aku sudah menolak berulang – ulang, dia tetap ngotot. Alasannya, “aku tidak sekolah karena sekolah jauh dan Bapakku miskin kak. Kalo kakak jadi bikin sekolah disini, adik – adikku tentu bisa sekolah lagi.” Mengharukan. Kuharap organisasiku jadi membangun sekolah disana. Aku resign sebelum proses konstruksi berlangsung.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s