Nias Dalam Selayang Pandang (Bag. 5)


Kepulauan Batu memiliki kenangan tersendiri buatku. Bukan hanya dikarenakan aku harus berlayar selama dua puluh empat jam mengarungi Samudera Indonesia, tetapi, di tempat ini aku hampir saja kehilangan nyawa.

Di suatu siang, di bulan Februari yang panas, bosku menyampaikan khabar bahwa aku harus segera melakukan ‘assignment’ di Kepulauan Batu. Khabar yang ditambahi dengan senyum lebar sang atasan seolah – olah dia sudah memberikan hadiah paling indah dalam hidupku. Sebenarnya, perintah ini bisa menjadi sebuah hadiah yang menyenangkan, jika saat itu bukan musim badai. Kemanapun aku melangkah, aku selalu mendengar cerita para nelayan yang membatalkan niat melaut dikarenakan angin yang tidak dapat diprediksi arahnya.

Jika cuaca sedang normal, ada dua cara yang bisa ditempuh untuk mencapai kepulauan Batu. Dengan pesawat SMACK dari bandara Binaka Nias, yang kebetulan sedang tidak beroperasi dikarenakan subsidi yang diberhentikan pemerintah dan dengan kapal kayu yang berangkat dari Teluk Dalam dan bersesak – sesak dengan berbagai makhluk seperti babi, anjing dan hewan ternak lainnya. Saat itu aku sedikit beruntung. Aku tidak harus ke Teluk Dalam. Kapal World Food Programme (WFP) juga berniat ke sana untuk memberikan bantuan makanan pada waktu yang bersamaan. Kapal akan berangkat dari Gunung Sitoli dengan konsekuensi memakan perjalanan 4 kali lebih lama. Tak apa, setidaknya lebih aman karena kapal ini kapal besi yang besar.

Aku tidak sendiri. Ada seorang teman lagi yang menjadi partnerku. Saat aku berangkat, seperti akan naik haji saja. Semua teman – temanku mengantar ke pelabuhan, memberikan berbagai saran untuk mengatasi mabuk laut. Kapten kapal ternganga begitu tahu yang berangkat hanya dua orang melihat banyaknya rombongan yang mengantar.

Perjalanan memakan waktu dua puluh dua jam. Syukur, laut sedang bersahabat. Tidak ada badai, atau aku tidak sadar sama sekali karena banyak menghabiskan waktu di dalam sebuah kamar yang disediakan untukku. Menuju kepulauan Batu harus melalui Samudera Indonesia. Kepulauan ini terletak di Selatan pulau Nias, sudah berdekatan dengan kepulauan Mentawai. Begitu mendekati pulau Tello (ibukota kecamatan kepulauan batu) aku disambut dengan pulau – pulau kecil yang bersusun seperti batu. Karena itulah kepulauan ini disebut kepulauan batu karena pulau – pulaunya menyerupai batu jika dilihat dari atas. Tiba di Pulau Tello keesokan harinya, sudah menjelang sore. Aku menghabiskan waktu untuk mencari penginapan. Beberapa pendukuk menunjukkan sebuah hotel kecil yang dihuni beberapa peselancar dari berbagai negeri. Kondisi hotel tersebut tidak terlalu baik. Aku memilih tinggal di rumah penduduk yang bersedia menyediakan sebuah kamar untukku.

Aku di Pulau Tello

Pulau ini sangat kecil. Kelilingnya hanya 13 kilometer saja. Menggunakan sepeda motor, dalam setengah jam aku sudah mengelilingi seluruh pulau. Hanya ada dua mobil di pulau ini. Dua buah pick up dengan merk chevrolet yang selalu berkeliaran kesana kemari. Di siang hari, pihak PLN akan mematikan listrik. Dimulai dari pukul 7 pagi hingga pukul lima sore. Dan mulai pukul 12 siang hingga pukul 7 malam sinyal telepon seluler juga hilang. Pulau ini masih asri dengan nyiur melambai dan pasir putih berkeliaran. Suasana pantainya sangat terasa, dengan nelayan – nelayan di atas perahu membawa hasil tangkapan mereka.

Esoknya aku ke Hibala. Pulau lain yang dapat ditempuh selama lima jam perjalanan. Masih dengan kapal WFP. Perjalanan masih sama indah dan spektakulernya. Pulau – pulau kecil berjejer dengan nyiur di atasnya. Tiba di Hibala. Jika di Pulau Telo hanya memiliki dua buah mobil, maka pulau ini tak memiliki apapun. Listrik juga tidak ada. Beberapa penduduk menawarkan rumah mereka untuk tempat menginap. Kutolak dengan sopan. Tak kuasa meninggalkan kamarku di kapal, dengan fan dan penerangan yang cukup.

Pulau – Pulau di Kepulauan Batu

Malam di Hibala luar biasa. Meskipun tidak ada listrik, saat itu cuaca sedang cerah dan purnama tengah bersinar. Bintang – bintang yang tak terhitung banyaknya. The most beautiful stars ever. Bintang paling banyak yang pernah kusaksikan. Seakan – akan langit tidak punya cukup tempat untuk ditaburi sang bintang. Aku harus berterima kasih pada atasanku yang sudah memberikan ‘hadiah’ ini. Menikmati malam, aku menonton para awak kapal menangkap cumi – cumi. Berhubung aku satu – satunya wanita di kapal tersebut, aku kembali mendapatkan hak – hak istimewa. Membiarkan mereka menangkap, memasak hingga menyediakan cumi – cumi goreng untukku. Jika tidak diingatkan, aku tidak sadar jika waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Keesokan hari kapal berlayar menuju pulau tello, meninggalkan kami sementara mereka kembali ke Gunung Sitoli.

Sebuah Pantai di Hibala

Pulau Kecil di Sekitar Hibala

Aku di Hibala Bersama Kapal WFP

Tujuan berikutnya pulau Pini. Memakan waktu selama empat jam menuju kesana. Tidak mudah menemukan kapal yang mau berlayar kesana dikarenakan karang – karang yang suka bermunculan di tempat – tempat yang tidak dapat diprediksi. Kami menemukan kapal dengan harga melambung untuk membawa kami ke pulau tersebut. Aku tidak terlalu menikmati 3 jam perjalanan yang membawa kami. Kapal kayu kecil itu terus bergoyang – goyang membuatku ingin muntah. Pada saat ombak bergejolak, air memasuki sebagian kapal kami. Yang ada dalam fikiranku kapan aku akan tiba di pulau Pini.

Tidak ada dermaga. Kapal kami berhenti di satu tempat, dua ratus meter dari bibir pantai. Menuju pantai, kami harus menggunakan perahu kecil nelayan. Pulau tersebut hanya dihuni beberapa keluarga. Mereka berdiam di rumah panggung, seperti layaknya rumah – rumah yang ada di tepi pantai. Berdinding dan berlantai kayu serta ditutupi dengan rumbia sebagai penutup atapnya. Mata pencaharian mereka adalah nelayan. Beberapa membuat usaha pengeringan ikan. Ada satu rumah yang berbeda dari rumah lainnya. Rumah tersebut terbuat dari batu, seperti rumah di perkotaan, bercat merah jambu yang mengingatkanku akan rumah boneka barbie. Si empunya adalah yang terkaya di pulau ini. Berulang – ulang aku memikirkan, bagaimana cara orang ini membawa material bangunan ke tempat terpencil seperti ini.

Pulau Pini

Perjalanan ke Pulau Pini

Pengeringan Ikan di Pulau Pini

Aku di Pulau Pini

Pulau Tanah Bala

Pulau selanjutnya adalah Pulau Tanah Bala. Pulau ini tidak sejauh pulau Pini jika ditempuh dengan perahu kecil kami. Hanya memakan waktu satu jam. Di pulau ini juga bandar udara berdiri jika kami ingin menggunakan pesawat terbang. Meskipun pulau ini memiliki bandara, jangan harap lebih maju dari pada pulau Tello. Pulau Tello is the best untuk fasilitas. Pulau ini tidak jauh berbeda dari Hibala dan pulau Pini. Aku tidak terlalu mengingat pulau ini kecuali satu kejadian dimana aku hampir kehilangan nyawa. Seperti Pulau Pini, pulau ini juga tidak memiliki dermaga. Menuju pantai, kami menggunakan perahu kecil. Kurang persiapan, begitu turun dari kapal menuju perahu aku hilang keseimbangan. Life Jacket yang biasanya selalu kukenakan terlepas, dan aku jatuh begitu saja ke laut. Rasa panik membuat aku lupa bagaimana rasanya berenang. Yang kurasakan hanyalah aliran air yang terus membawaku ke bawah kapal. Jika kapten kapal kurang cepat menarik kerah bajuku, mungkin aku sudah terdampar di salah satu perairan di India.

Dua minggu lamanya aku di Pulau Tello. Tidak banyak yang bisa dilakukan di siang hari dikarenakan keterbatasan listrik. Maka, aku kebanyakan menghabiskan waktu di luar, menikmati laut, berkeliling pulau, mengobrol dengan peselancar dari Brazil yang kutemui di warung makan. Kembali ke Gunung Sitoli, kami menggunakan pesawat. SMACK sudah kembali beroperasi. Pesawat yang digunakan adalah pesawat kecil dengan menggunakan baling – baling. Penumpangnya sebanyak 15 orang. Lebih cocok disebut bus ketimbang pesawat. Orang – orang penuh sesak. Barang bawaan bergelatak di sepanjang lorong. Empat puluh lima menit perjalanan aku terus berdoa semoga pesawat ini tidak jatuh.

21 thoughts on “Nias Dalam Selayang Pandang (Bag. 5)

  1. syawal

    Selamat sore mbak NuR…

    Mbak sangat beruntung bisa menikmati indahnya pulau-pulau batu, dengan segala keterbatasannya…
    saya saja yang dilahirkan disalah satu pulau besar di pulau-pulau batu belum pernah merasakan seperti mbak NuR.
    Saya dilahirkan di Pulau SIMUK namanya, 4 pulau besar di pulau-pulau batu Tanah Masa,Tanah Bala,Pulau Pini,dan pulau Sinmuk…
    Pulau simuk terkenal sebagai penghasil KOPRA (Isi buah Kelapa yang sudah di Keringkan)

    Udah sore mbak nur…. mau pulang dulu Jakarta Muacet

    Salam

    Syawal

    1. Nurul Fitri Lubis

      Hi Syawal.. Terima kasih karena telah singgah di blog saya. Waktu saya ke kepulauan batu, saya tidak sempat ke Pulau Sinmuk. Karena waktu itu cuaca sedang tidak bisa diprediksi. Tidak ada kapal yang mau pergi ke sana. Akhirnya, kita hanya ke 3 pulau saja. Tanah Masa, Tanah Bala dan Pulau Pini. Indah banget semuanya….

    2. papang

      hai bang syawa apa kabar…….iya mbak nur saya juga lahir di pasar pulau tello tapi hampir 25tahun ngk pulang , tapi melihat foto2 diblog mbak nur jadi terharu hmmmm luarbisa indahnya

  2. W-O-W….

    Keren banget nih pulau. Kebayang kterbatasan penduduk juga pulau-pulaunya sendiri, yg pasti bakal bikin pengalaman lebih seru.

    Blh tnya ? dr bandara polian jd hrs ke nias dlu ya ? ke niasnya naik apa ya ? Detail info please.

    Menggiurkan untuk dikunjungi nih pulau-pulaunya..

    1. Nurul Fitri Lubis

      Hi Nando. Dari Bandara Polonia Medan, kamu bisa naik Merpati Airlines atau Riau Airlines (mungkin masih beroperasi) ke Gunungsitoli. Dan dari Nias, kemarin ada pesawat SMACK yang beroperasi ke Pulau Telo. Tapi, kalau pesawat ngga ada, ada alternatif lain.
      Setelah tiba di GunungSitoli, kamu bisa pergi ke Teluk Dalam. Dari sana, biasanya selalu ada kapal yang menyebrang ke pulau Tello. Selamat mengunjungi kepulauan batu. Pulau – pulaunya benar – benar masih asri…

  3. mira chania

    hai mbak nur,,,
    sneng bngt deh dngr crita mbak, kbetulan saya orang pulau pini, kampung saya nama nya lambak, itu tuch tempat a mbak berfoto itu lho,, o ya,,, gmn prasaan mbak slama d kmpung saya itu…?
    enaaak??? tp org nya sdikit y mbak,hehehe,,,

    1. Nurul Fitri Lubis

      Hi Mira.
      Wah, kamu orang Lambak ya?
      Aku ke kampungnya kamu waktu ke pulau Pini. Pantainya kereeeen banget. Sumpah. Kalo aja ngga sedang bertugas, mkn aku aku akan menyempatkan diri untuk stay lebih lama disana. Keren abis deh tempatnya….

  4. Hendra

    Pulau Batu Memang menawan, sayang semuanya terkendala transportasi dan penginapan,, 2 hari sudah di Pulau Tello menunggu transportasi ke Pulau Hibala untuk memasang Jaringan E-KTP…

  5. Nurul Fitri Lubis

    Benar, Hendra. Kmarin, saya juga menumpang kapal UN WFP waktu ke sana. Transport selalu menjadi kendala di kepulauan Batu..

  6. Henky ( palu-sulawesi tengah )

    hai………..
    senang sekali saya membaca perjalana saudari di p.Tello. tanah kelahiran ku.
    sudah 30 tahun saya tidak pernah pulang. jadi rindu ingin pulang kampung aja.

  7. Feri

    Hi… Bu Nurul,
    terima kasih tulisan ibu tentang Pulau-pulau batu, andai banyak yang seperti ibu menulis dan bercerita betapa indah dan terisolirnya gugusan pulau-pulau itu mungkin bisa lebih banyak perhatian pihak pihak terkait kesana.
    Thanks ya bu. GBU

  8. Tulisan Ibu Nurul Fitri Lubis tentang pulau-pulau batu, Nias Selatan sangat memberikan kesan dan pesan kepada saya.Walaupun saya termasuk orang Nias tapi dengan membaca tulisan serta melihat foto2 ttg pulau2 batu sangat mengundang perhatian saya untuk ke sana. Makasih Bu, Nurul

  9. Halo mbak Nur,

    Saya baru saja balik liburan ke pulau telo. Sayangnya cuaca kurang baik dan tak bisa diprediksi, saya hanya ke pulau sifika dan sibaranun serta keliling pulau telo 3x mengejar sunset.
    Akan kembali lagi suatu hari nanti untuk benar benar bisa ke banyak pulau lainnya

  10. Yamonaha Zendrato

    Hallo Kak… Saya Yamo. Saya rencana liburan ke Tello dan sekitarnya akhir bulan ini. Saya minta advices sekaligus tips persiapan sebelum berangkat.
    Terimakasih..🙂

    1. Halo Yamo.
      Wah, saya sudah lama sekali ke Pulau Tello itu. Waktu pergi, saya menumpang kembali kapal UN WFP. Kembali ke Gunungsitoli, saya menggunakan pesamat SMAC. Saya kurang tau, apakah saat ini pesawat tersebut masih beroperasi. Jika sudah tidak beroperasi, dari Gunungsitoli, kamu bisa ke Teluk Dalam. dari Teluk Dalam, ada kapal yang berlayar ke sana secara regular. Jarak tempuhnya kurang lebih 6 jam. Persiapannya, aku kira, persiapkan mental saja, karena laut menuju kesana, ombaknya cukup besar. Kalau bisa, kamu bawa pelampung (life jacket) sendiri. Aku tidak yakin kapal-kapal itu menyediakan pelampung untuk setiap penumpang. Selamat berlibur ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s