Nias Dalam Selayang Pandang (Bag. 6) – Tamat


Jika ditanya, tempat – tempat yang paling berkesan saat aku berada di Nias, maka aku akan menjawab dengan lantang. Museum Nias. Yah. Jika dihitung secara matematika, periode aku tinggal disini hanya sepertiga dari total kehidupanku di Nias. Namun, sepertiga waktu itu cukup memberi kesan yang tak tergantikan. Aku tinggal di ‘guest house’ Museum Pusaka Nias. Tempat ini adalah salah satu tujuan wisata di Gunung Sitoli. Pada hari Minggu, museum akan dipenuhi manusia. Mulai dari anak – anak hingga kakek – nenek. Namun, di hari biasa kami lah penguasanya. Di hari Minggu, orang akan berbondong – bondong mendatangi tempat kami. Kami, sebaliknya meninggalkan tempat tersebut mencari tempat yang lebih sepi.

Museum ini bagian dari Yayasan Pusaka Nias, terletak di tepi pantai dan dekat dengan Pelabuhan Angin. Dari sini kami bisa melihat kapal – kapal merapat dan meninggalkan Nias. Yayasan ini didirikan atas prakarsa anggota hierarki gereja Khatolik. Begitupun, peruntukannya bukan hanya untuk masyarakat yang beragama Khatolik, tetapi untuk masyarakat umum. Jika butuh informasi akan budaya Nias, datanglah ke tempat ini. Anda akan mendapatkan pelayanan yang ramah dari staf – stafnya.

Museum Pusaka Nias

Memasuki kawasan museum kita akan disambut oleh berbagai patung replika Raja – raja di Nias pada masa lampau. Taman – taman yang terawat rapi, gedung museum, pendopo tempat melakukan kegiatan di luar gedung serta kebun binatang kecil berupa sumbangan dari masyarakat. Ada beberapa binatang yang dipelihara, beberapa jenis burung, seperti burung beo, musang, kancil, penyu hingga buaya. Selain museum, yayasan juga menyediakan perpustakaan yang menyajikan informasi tentang Nias. Beberapa pohon pinus dan cemara juga turut meramaikan kawasan museum.

Kebun Binatang Museum Pusaka Nias

Museum Pusaka Nias memiliki ‘guest house’ yang bisanya disewakan bagi para tamu yang ingin menginap. Namun, selama enam bulan, organisasi kami menyewanya sebagai tempat tinggal staff yang tidak berasal dari Nias. Di ‘guest house’ inilah sebagian besar kami menghabiskan waktu. Dari bermain playstation dan menikmati film – film dari sebuah laptop di kamar seorang teman hingga bertukar gosip di dapur. Dapur merupakan tempat istimewa bagi kami. Kukira teman – temanku yang lain akan setuju dengan apa yang kukatakan. Di dapur ini kami melakukan apapun. Dari hanya sekedar menyeduh teh hingga berbagi gosip.

Guest House Museum Pusaka Nias

Biasanya aktifitas kami akan dimulai pukul 5.30 pagi, saat azan subuh mulai berkumandang. Beberapa dari kami akan bangun untuk melaksanakan shalat subuh. Dilanjutkan dengan kegiatan bertelepon (saat itu orang – orang masih bertelepon dari pukul 11 malam – pukul 7 pagi, dengan alasan bebas roaming). Kegiatan bertelepon akan berlangsung di dalam kamar, di teras ‘guest house’, hingga di tepi pantai. Menjelang pukul 7, satu persatu akan mendatangi dapur. Membuat teh, kopi dan bergosip sambil menonton Ibu Sinar, juru masak kami, menyiapkan sarapan untuk kami semua. Menjelang pukul delapan satu persatu akan meninggalkan dapur menuju kantor yang hanya berjarak 80 meter dari ‘guest house’.

Dapur akan kembali ramai di pukul 12 siang, saat kami makan siang, dan kembali berbagi cerita. Usai kerja melakukan sedikit refreshing dengan berenang atau sekedar duduk – duduk di pinggir laut menunggu maghrib tiba. Aku punya tempat favorit untuk menghabiskan sore. Ada sebuah bangku batu, berbentuk seperti ‘stonehenge’ yang menghadap ke laut. Disini, aku akan memandang laut dan menyaksikan kapal – kapal yang akan meninggalkan pelabuhan. Usai maghrib, dapur kembali penuh dengan berbagai aktifitas. Dari curhat hingga aktivitas saling menghina di antara kami. Oh ya. Dapur ini tidak selalu berisi percakapan yang menyenangkan. berbagai perseteruan juga terjadi disini. Ketidakadilan jatah survey, kecemburuan, wanita, kemarahan, bahkan aku pernah mengalami perang dingin dengan salah seorang teman selama berada disini. Hingga kini aku tak pernah paham apa yang membuat kami saling diam selama beberapa minggu. Terjadi begitu saja. Dan kami berbaikan begitu saja, tanpa membahas penyebab perang dingin kami dan bersikap seolah – olah perang dingin itu tak pernah terjadi.

Stonehenge ku di Museum Pusaka Nias

Dikarenakan saat itu kami tidak memiliki televisi sebagai hiburan, kami memiliki banyak waktu untuk dihabiskan bersama. Biasanya perbincangan akan berlanjut ke kantin museum yang kami sebut dengan ‘warung Nesta’. Nesta adalah nama anak si pengelola kantin. Hanya memesan minuman sekedarnya dan mengobrol dengan pengelola kantin sambil mendengarkan ombak dan menikmati angin laut menerpa wajah. Jika masih belum mengantuk, aktifitas akan dilanjutkan di kamar seorang teman yang memiliki apa saja yang kami butuhkan.

Warung Nesta

Setelah bekerja selama tujuh bulan bekerja di organisasi ini, aku mengundurkan diri untuk beberapa alasan. Namun aku tidak pernah berniat melupakan hari – hariku selama tinggal di Museum Nias. Tak sedetikpun aku berusaha untuk melupakan semua memori yang pernah kualami saatku berada disana. Meskipun itu adalah memori buruk sekalipun. Semuanya sangat berharga untuk dilupakan. Terlalu manis. Aku mendapat warna kehidupan yang sama sekali berbeda dari kehidupanku sebelumnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s