Kinshasa, Aku Datang


Selamat tinggal Indonesiaku….  Itulah sepotong kalimat yang kuingat saat Thai Airways yang membawaku menuju Bangkok tinggal landas meninggalkan bandar udara Soekarno Hatta. Tiba – tiba saja perasaan jadi campur aduk. Antara senang, sedih, ragu, takut. Pokoknya macam – macam, mirip gado – gado. Belum lagi rasa nasionalisme yang tiba – tiba muncul di detik – detik terakhir sebelum keberangkatan. Setelah menjalani interview yang dilakukan pada saat tengah malam, disaat orang – orang lebih memilih untuk berada di balik selimut, aku dengan peluh berjatuhan berusaha menjawab pertanyaan – pertanyaan yang diajukan sang penguji. Si penguji pake acara nanya “Jam berapa sekarang disana?” Serangkaian medical test, vaksinasi, penantian visa yang tak kunjung datang, akhirnya di Jumat pagi, dua hari sebelum keberangkatan, tibalah tiket yang sudah dinanti – nanti itu. Tanggal 21 February 2010 Aku berangkat ke DR Congo sebagai volunteer untuk peacekeeping mission pertamaku di MONUC (Mission de l’ Organisation des Nations Unies en R.D Congo / United Nations Mission in DR Congo).

Terjadi sedikit masalah saat check in di Bandara Soekarno Hatta. Bagasiku yang tidak sedikit dan sudah pasti overweight pastilah meminta ekstra cost. Bagaimana mungkin  untuk menuju perjalanan mengelilingi setengah bumi aku hanya membawa bagasi seberat 20 kg? Haloooo? Aku bukan pergi berlibur ke tempat yang dapat menyediakan apa asaja yang kubutuhkan. Setelah sedikit berhaha hihi dengan petugas check in, sedikit cuap – cuap tentang UN dan kegiatan volunteernya, mereka mengizinkanku untuk membawa barangku yang seabrek – abrek, mungkin dikarenakan pesawat tidak fully booked.

Menuju Kinshasa, DR Congo, aku akan menjalani dua kali transit dengan rute perjalanan Jakarta – Bangkok – Nairobi – Kinshasa. Thai Airways keren. Dengan pesawat airbus yang nyaman, pramugari yang cantik, pramugara yang ganteng, makanan yang enak serta udara yang cerah membuat perjalanan menuju Bangkok menjadi super nyaman. Perjalanan selama tiga jam itu berlalu tanpa terasa.

Tiba di bandara Suvarnabhumi. Dibandingkan dengan Bandara Seokarno Hatta, maafkan aku Indonesia, bandara ini super keren. Dengan menggunakan konsep arsitektur modern. Seluruh gedung dipenuhi rangka baja melengkung untuk menyokong bangunan. Di bagian dalam, plafon dibiarkan terbuka, menunjukkan pipa – pipa dan sistem struktur gedung. Selain ruang tunggu yang begitu banyak, bandara juga dilengkapi dengan toko – toko untuk menjual berbagai barang mulai dari parfum, cendra mata, buku dan money changer. Juga tersedia Muslim Prayer Room, sebagai tempat istirahat bagiku sambil menghabiskan waktu 7 jam untuk penerbangan selanjutnya.

Pukul 11.00 malam aku kembali check in, untuk mengkonfirmasi ‘connecting ticket’ ku dari Jakarta menuju Kinshasa. Dari Bangkok menuju Nairobi aku menggunakan pesawat Kenya Airways. Tidak ada masalah sama sekali saat melakukan check in. Pukul 11.30 aku menuju ruang tunggu. Sebahagian besar penumpang adalah orang – orang berkulit hitam, ditambah segelintir penumpang kulit putih dan penumpang – penumpang berwajah Asia. Tepat pukul 12.00 malam aku memasuki pesawat.

Setelah pesawat Thai Airways yang super nyaman, harum, pramugari yang cantik menarik dan pramugara yang tampan rupawan, yang bisa kulakukan saat memasuki pesawat Kenya Airways hanyalah menarik nafas panjang. Saat tiba di pintu pesawat aku disambut dengan pramugari berdarah Asia dengan wajah super masam. Mungkin karena saat itu waktu telah menunjukkan pukul 12 malam waktu setempat dimana semua orang telah tertidur dengan nyaman, sementara dia malah masih harus melewati 10 jam lagi untuk bertugas. Seperti layaknya pesawat airbus, pesawat ini terdiri dari tiga baris untuk kursi pesawat. Ada masing – massing dua buah kursi di bagian sebelah jendela dan  tiga buah kursi di bagian tengah. Yang kutemukan saat memasuki pintu pesawat adalah seorang berkulit hitam tertidur di baris tengah, seakan – akan dua kursi lainnya adalah miliknya sendiri. Lagu – lagu dengan irama Africa mulai berkumandang. Padahal masih di Bangkok, namun aku serasa sudah berada di Africa. Syukurlah, kursi ku berada di sebelah jendela. Akan memudahkan untuk bisa tidur selama perjalanan. Seorang pramugara berwajah agak tua, mungkin usianya sudah empat puluhan, membantuku menyimpan barang di kabin pesawat. Aroma menyengat mulai menusuk hidungku begitu aku mendudukan diri ke kursi pesawat. Entah aroma apa ini, aku tak bisa menggambarkannya. Kelak aku baru tahu kalau aroma ini adalah aroma bau ketek.

Kursi pesawat terlihat usang, bahkan lebih usang dari kursi bus Banda Aceh – Medan dengan tarif paling murah. Di ujung lorong tiga orang kulit hitam saling berteriak, entah dengan menggunakan bahasa apa dan entah apa pula yang diributkan. Padahal jarak mereka tak lebih dari setengah meter. Pramugari / a kesulitan ketika mengatur penumpang. Ada yang tidak duduk di kursinya masing – masing, ada yang memonopoli tempat duduk, memborong tiga kursi lainnya untuk dirinya sendiri padahal dia hanya membayar satu kursi, hingga sulitnya menyuruh penumpang untuk duduk dan memasang seat belt saat pesawat akan lepas landas.

Pukul 12.40 pesawat lepas landas. Saat lepas landas, lampu di bagian dalam pesawat otomatis mati. Tidak mengerti mengapa, sebagian penumpang itu berteriak histeris. Pesawat meninggalkan Bangkok. Pramugari/a mulai membagikan selimut, headset serta makanan. Aku tak terlalu bernafsu untuk makan. Jam ini lebih cocok untuk tidur daripada makan. Belum lagi aroma Kenya Airways yang membuat nafsu makanku hilang. Minyak kayu putih yang selalu kubawa kemanapun aku pergi sangat membantu untuk menghalau bau – bauan tak jelas itu.

Cuaca agak buruk. Lampu yang menerangi tulisan ‘Fasten your Seat Bealt’ terus menyala. Pramugari/a sibuk mengingatkan penumpang untuk mengencangkan seat bealt. Dan sibuk membujuk penumpang yang tak mau duduk. Entah bagaimana tak ada sedikitpun kecemasan di wajah mereka, tertawa terkikik – kikik sambil berdiri di sebelah kursi – kursi teman mereka disaat pesawat tengah terguncang – guncang dikarenakan hujan dan turbulensi.

Pukul 6.00 pagi waktu Indonesia aku terbangun. Pramugari / a kembali menyajikan makanan untuk sarapan. Pukul 8.00 pagi sudah, namun di luar masih gelap. Entah sudah di dunia bagian mana aku saat ini. Saat ini, di Indonesia tentunya teman – teman dan saudara – saudaraku sudah duduk di mejanya masing – masing sibuk dengan komputer dan pekerjaan yang sudah menanti. Tepat pukul 6 pagi waktu Kenya bersamaan dengan pukul 10 pagi waktu Indonesia, pesawat mendarat dengan mulus di Nairobi.

Nairobi masih gelap. Udara dingin menyergap saat melangkah keluar dari pesawat. Di bandara, beberapa orang sudah mulai berkeliaran berasal dari penerbangan – penerbangan sebelumnya untuk menantikan penerbangan selanjutnya. Masih ada dua setengah jam lagi sebelum terbang menuju Kinshasa.

Sudah ada beberapa orang di ruang tunggu. Seorang lelaki kulit putih tengah duduk di sudut, sibuk dengan laptop di pangkuannya. Seorang wanita bertampang Asia duduk di sebelahku. Beberapa saat kemudian, serombongan lelaki dan perempuan kulit hitam memasuki ruang tunggu. Suasana yang tadinya hening menjadi ribut tak terkira. Dari seragam yang mereka kenakan, kelihatannya mereka adalah atlit tim bola tangan DR Congo. Mereka berbicara dengan saling berteriak. Seperti orang Batak di Indonesia. Bedanya adalah satu orang Congo suaranya sepadan dengan sepuluh orang Batak. Ketika pengeras suara memberitahukan agar para penumpang pesawat menuju Kinshasa untuk bersiap – siap menaiki pesawat, para atlit bersorak gembira, seperti baru dapat undian saja.

Jika Kenya Airways dari Bangkok sudah parah, maka pesawat Boeing yang membawaku ke Kinshasa sudah tak dapat terkatakan lagi suasananya. Semua orang berteriak satu sama lain. Sepasang suami istri tengah berdebat dengan pramugari mempertanyakan mengapa bagasi di kabin yang terletak tepat di atas kursi mereka telah terisi dengan barang penumpang lain. Sang pramugari berusaha menenangkan dan membawa barang mereka ke bagasi lain yang masih kosong. Namun sang istri ngotot ingin barang – barang itu tak jauh – jauh dari mereka. Lelaki kulit putih yang kulihat di ruang tunggu duduk di sampingku. Akhirnya setelah hampir satu jam mengatur para penumpang beserta barang bawaannya, pesawat pun lepas landas.

Jangan berharap bisa tidur selama perjalanan. Aroma tak jelas sudah bukan masalah besar lagi. Perjalanan dari Bangkok menuju Nairobi membuat hidungku terbiasa dengan bau khas ini. Suara penumpang tak ada hentinya. Suami istri yang tadinya meributkan bagasi yang penuh kini tengah berdebat, entah memperdebatkan apa. Sang suami sibuk dengan kalkulator super gedenya sementara sang istri tak ada hentinya menjerit, meneriakkan instruksi kepada sang suami.

Jika suami istri tersebut sudah bikin migrain ku mulai kambuh, tingkah para atlit benar – benar membuat migrain di kepalaku hadir dengan sukses. Seorang atlit, sepanjang perjalanan terus duduk menghadap ke belakang, sibuk mengobrol dengan temannya. Seorang perempuan dengan puluhan, mungkin ratusan kepangan rambut yang duduk tepat di depanku, terlibat pembicaraan yang sangat menyenangkan dengan seorang temannya yang duduk sejauh 7 baris dari si wanita seratus kepang. Seorang atlit pria tampaknya kurang puas dengan pertandingan yang telah mereka ikuti, tengah memperagakan gerakan melempar bola tangan untuk temannya. Bahkan, salah seorang pria kulit hitam dengan rambut di plontos habis, mengenakan kaca mata hitam yang tak pernah dilepas sejak di ruang tunggu melompat – lompat tak jelas. Masya Allah. Berada dimana aku ini?

Setelah hampir tiga jam yang penuh keributan, akhirnya pilot mengumumkan bahwa pesawat akan segera mendarat. Lagi – lagi tugas berat bagi para pramugari untuk menyuruh penumpang untuk duduk dan mengenakan seat belt. Bahkan saat pesawat sudah hampir landing, dimana aku bisa melihat mobil – mobil di jalanan, seorang penumpang dan pramugrari saling teriak dikarenakan si penumpang ngotot ingin menggunakan kamar kecil. Saat roda pesawat menyentuh daratan, seorang dari penumpang berteriak keras sekali, hampir membuat jantungku copot, diikuti dengan tepukan dan teriakan keras sekali dari para atlit. Yang bisa kulakukan hanya menarik nafas. Keluar dari pesawat terjadi keanehan lagi. Para penumpang berlarian menuju bus yang akan membawa ke terminal kedatangan, seakan – akan takut ketinggalan. Padahal disana disediakan beberapa bus.

Hhh.. Akhirnya, aku berhasil masik ke gedung terminal kedatangan. Sesuai instruksi dari Sari, seorang teman yang telah tiba lebih dulu di Kinshasa, aku langsung berbaris bersama orang – orang di jalur yang bertuliskan ‘Diplomat’. Saat mengantri, seorang petugas meminta kartu vaksin milikku dan mengecek vaksinasi yang telah kulakukan. Syukurnya, aku datang dengan persiapan penuh. Semua vaksinasi telah kulakukan. Dari Tetanus, Hepatitis AB, Thypoid, Polio, Meningitis hingga Yellow Fever yang menjadi syarat mutlak untuk masuk Kinshasa. Tiba giliranku untuk mengecap passport. Dengan tampang super masam, si petugas membolak balik passportku, mengecapnya dan dengan dengusan tak jelas mengembalikannya kepadaku.

Keluar dari imigrasi. Sekarang saatnya mencari orang yang menjemputku. Dari kejauhan aku melihat seorang wanita, berdiri seperti manekin memegang sebuah papan bertuliskan MONUC. Tak salah memang. Dia petugas yang bertugas untuk menjemput para staff baru. Segera aku mendatangi wanita tersebut, menunjukkan visa letter dan passportku. Si wanita mengambil passport milikku untuk diserahkan ke travel unit MONUC  yang bisa diambil beberapa jam kemudian.

Bertemu orang MONUC bukan berarti perjuangan selesai. Saatnya mengambil bagasi. Hampir satu jam aku menunggu, namun koperku dengan berat 28 kg itu tak kunjung tiba. Aku pun mulai harap – harap cemas. Bisa saja koper itu masih tertinggal di Nairobi, atau di Bangkok. Kuharap aku tak perlu menggunakan pakaian cadangan yang ada dalam hand carry ku. Seorang teman, sebelum keberangkatanku memastikan aku membawa pakaian extra yang tidak disimpan di bagasi untuk menghindari masalah ketinggalan bagasi.

Dengan peluh becucuran, aku menunggu dengan jantung bedebar – debar. Bukan hanya karena rasa cemas koperku tidak muncul, akan tetapi dengan keadaan bandara dan orang – orang yang ada di dalamnya. Bandara international N’djili tak jauh berbeda fasilitasnya dengan bandara Binaka di Nias. Padahal ini bandara international. Orang – orang masih saling menjerit. Beberapa malah memperebutkan satu buah koper. Bau – bauan tak jelas mulai kembali menyengat. Setelah satu jam berlalu, akhirnya koper seberat 28 kg itu tiba dengan sukses.

Seorang porter membantuku membawa barang. Sang porter direkomendasikan oleh si wanita MONUC. Aku sangat berhati – hati akan hal ini, karena banyak sekali orang yang mengambil kesempatan di dalam kesempitan. Sebagai new comer, aku harus melalui proses check in di UNV Office. Letaknya di kantor MONUC, Congo Battiment, yang secara kebetulan satu gedung dengan section tempat Sari bekerja. Sebuah mobil UN, yang disebut dispatch, membawaku dari bandara menuju Congo Bat.

Memasuki Kinshasa rasanya seperti memasuki dunia lain. Meskipun sudah mendapatkan gambaran secara ringkas dari UNV Bonn, cerita seru dari John, seorang kolega yang pernah menghabiskan waktu selama dua tahun di Congo, serta kisah menarik dari Sari, aku masih shock saat melihat keadaan yang sesungguhnya. Jalanan penuh debu dan tidak rata. Orang berjalan lalu lalang, ramai sekali dengan pakaian beraneka warna. Memasuki pusat kota Kinshasa, lebih kelihatan nyata betapa tertinggalnya tempat ini. Rasanya, seperti mundur tiga puluh tahun yang lalu. Sebagian besar jalanan utama penuh debu, menghalangi pandangan. Beberapa gedung pencakar langit terlihat usang, rusak dimakan waktu. Berada disini, seperti berada di Jakarta, tetapi Jakarta pada saat empat puluh tahun yang lalu. Situasinya mirip dengan apa yang ditunjukkan di film – film Indonesia tempo dulu, yang dimainkan oleh Ateng, Benyamin S, dan para artis lawas.

Alhamdulillah, perjalananku sama sekali tidak terkendala. Berkat lindungan dari Allah SWT dan panduan lengkap dari Sari, aku tiba dengan selamat di UNV Office. Sari memperkenalkanku dengan volunteer – volunteer lain dari Indonesia. Ada Kak Arny dan Kak Luna. Ternyata, aku dan Kak Luna pernah bertemu sebelumnya saat misi recovery Aceh – Nias di pulau Nias. Yah, dunia memang hanya selebar daun kelor. Selain para volunteer, banyak juga tentara Indonesia di Kinshasa untuk misi perdamaian. Bahkan, ada rumah yang disebut dengan Indo House tempat para tentara tinggal, dan orang – orang Indonesia lainnya yang berminat untuk tinggal disana. Senangnya, bisa ketemu orang – orang sebangsa. Rasanya, segala beban, resah gelisah berkurang setengahnya begitu mengetahui ada saudara – saudara setanah air.

Usai pembuatan ID Card, aku, Sari dan Kak Luna pulang ke apartment kami (lebih cocok disebut rumah susun.. Maafkan). Apartment kami berada di lantai 22. Naik ke atas, harus menggunakan lift satu – satunya dengan ukuran 1 x 2 m. Benar – benar bukan ukuran standar, pikirku. Selain lift dengan ukuran tak standar, sebagian besar plafon juga telah hancur, menunjukkan berbagai instalasi yang ada di dalamnya. Mulai dari pipa untuk air kotor, air bersih, hingga instalasi listrik. Tidak jarang, listrik mati secara tiba – tiba. Jika sudah begini, sebaiknya berdoa semoga listrik segera menyala. Atau siap – siap turun naik tangga setinggi 22 lantai. Bukan main tempat ini.

Begitupun, saat memasuki apartment, rasa khawatirku sedikit berkurang. Meskipun dari luar apartment ini terlihat ‘hancur’ tidak demikian dengan bagian dalamnya. Apartment ini cukup nyaman, meskipun tak bisa dibandingkan dengan apartment – apartment di Indonesia. Letaknya tepat di tengah kota Kinshasa (kalo di Jakarta ibaratnya aku tinggal di kawasan Bunderan HI) dengan view menghadap Congo River. Jika cuaca sedang bagus dan tak berawan, aku bisa menyaksikan indahnya sunset dan mengabadikannya bersama si Canoy, kameraku tersayang. Satu – satunya cara yang bisa membuatku sedikit berdamai dengan segala kekurangan Kinshasa.

13 thoughts on “Kinshasa, Aku Datang

  1. Sonya

    Wah syukur so far so good ( tergantung terminator good yang dimaksud di sini). Paling nggak masih idup dan bernafas ( biarpun harus berjuangdi tengah kepulan debu).
    Btw deskripsi loe hidup banget, dah pantas untuk dijual ke media yang cck deh.
    Wait for youe nest step.

  2. Nurul Fitri Lubis

    he he he.. syukur deh, ada peningkatan sedikit… ntar baru berani ngejual kalo dah nemu kejadian2 mendebarkan lainnya…

  3. alid abdul

    seruuu… dunia lain… duh penasaran pengen ke daerah2 yang aneh2 hahaha…
    diroll ye blognya tante… tengkyu

  4. Tari

    Halo Nurul,

    Baguuuuusss banget…… penggambarannya begitu hidup!!

    Ah gak cocok buat media komersil, cocoknya bikin buku sendiri pengalaman menjadi volunteer UN🙂

    Salam kenal ya! Suka banget bacanya🙂

  5. Nurul Fitri Lubis

    @ Dewi: Salam kenal juga Dewi..Makasi ya..
    @ Musthofa: Ayo.. Ikutan jadi volunteer.. Biar makin banyak orang Indonesia nya….
    @ Alid: He he he… tempat aneh2 kadang2 jg bs kasi pengalaman yang ngga kalah seru… Boleh2..
    @ Tari: Makasi tari…. Bikin buku? Ide bagus juga…. Meskipun belum kepikiran.. Skrg mah pikirannya cuma numpahin unek2 doang.. Salam kenal juga yah..🙂

  6. dhora

    Waaah, stelah baca critamu, rasanya aq kayak udah pernah aj ngalaminnya jg…
    Punya bakat jg trnyata kamu, cerita deskripsi yg sangaaat baguuus…..
    Kutunggu ya crita2 brikutnya…. Ati2 ya… Benar kata Sonya tuh, yg penting lu msh bernapas aj dsana….hehehhe… Lebay bangeeet… Sampe kapan toh kamu di Congo…. Gaungnya WC2010 nyampe ga Ke Congo????/

  7. Nurul Fitri Lubis

    @Kak Dhora: Mungkin sampe desember kak.. Mudah2 an aku tahan.. He he he.. Gaungnya?? Nyampe kok.. Lagi nyari cara nih, gmana caranya bikin kalian jealous… Aku yakin, kemanapun aku pergi, kelen ngga bakal cemburu… Tapi, kalo aku nonton World Cup… pastilah kelen cemburu abizzzz…. Ha ha ha… Jadi ingat pembicaraan ‘alien’ pas kita masih kuliah dulu…

  8. dhora

    Owen mu ga bakal ikut WC 2010 kok….. Mas Becky jg cedera….
    Aq ga bakal jealous lah… Temen senang, aq pun psti ikut senang…
    Udah jauh2 nyampe afrika, sempatin lah nnton WC…kpn lg ksempatan itu ada????
    Dr Kongo naek Mr.X aja Rul, pasti cepet nyampe Afselnya….

  9. Nurul Fitri Lubis

    @ Kak Dhora: Iya kak.. aku kan becanda.. ngga mknlah kelen jealous sama aku… Kayaknya ngga bisa ke afsel pas WC.. Jatah cutiku ngga pas tanggal segitu… Lagian tgl segitu pasti muahaallllnya mintaa ampuunnn…
    Ha ha ha.. Naik MR X?? kayak ada aja disini.. Btw, Mr X yang jelek itu pun kalo disini jadi angkot mewah lho… he he he..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s