Sedikit Cerita Dari DR Congo


Apaaaa? Mau ke Congo? Dimana itu? Mau ngapain disana? Ngerjain apa? Tinggal sama siapa nanti? Makannya gimana? Sehat nggak disana? Pake bahasa apa disana? Waahh .. Hati – hati disana ya. Itu segelintir pertanyaan yang diajukan beberapa teman dan keluarga saat aku menyampaikan maksud hendak hijrah ke DR Congo, salah satu negara di Africa Tengah. Banyak yang mendukung, namun banyak pula yang mengkhawatirkan kepergianku. Wajar saja. Selama ini Africa dikenal sebagai dunia hitam. Dimana banyak perang terjadi di berbagai tempat. Baik perang suku maupun agama. Belum lagi berbagai penyebaran virus yang mengakibatkan terjangkitnya bermacam penyakit. Dari disentri hingga AIDS dan Ebola.

Mau ke Congo? Ya iyalah. That’s what I’ve told. DR Congo adalah sebuah negara di bagian tengah Africa dengan populasi lebih dari 68 juta jiwa. Dengan ibukota negara, Kinshasa, DR Congo berbatasan dengan Republik Africa Tengah dan Sudan di bagian Utara; Uganda, Rwanda dan Burundi di bagian Timur; Zambia dan Angola di bagian Selatan serta Republik of Congo di bagian Barat. Untuk membedakan namanya dari negara tetangga, si Republic of Congo, DR Congo juga sering disebut sebagai Congo – Kinshasa atau DRC. Perang Congo II, dimulai pada tahun 1998, menghancur leburkan negara serta melibatkan tujuh angkatan bersenjata asing, disebut juga sebagai ‘Perang Dunia Africa’. Meskipun perjanjian perdamaian telah ditandatangani sejak tahun 2003, peperangan terus berlangsung di bagian sebelah timur. Pemerkosaan dan kekerasan sexual digambarkan sebagai yang terburuk di dunia. Perang Congo merupakan perang yang paling buruk sejak Perang Dunia ke II, membunuh 5,4 juta jiwa. Saat ini, DRC merupakan salah satu negara termiskin di dunia. DRC terdiri dari 11 propinsi (dan akan menjadi 26 propinsi) dan terdiri dari 300 suku. Ada 4 suku utama di DRC, yakni: Baswahili, Baluba, Bakongo dan Bangala. Sementara untuk bahasa nasional, dikenal 4 bahasa daerah, yakni: Swahili, Ciluba, Kikongo dan Linggala. Secara umum, masyarakat Congo percaya pada Tuhan, dan beberapa di antara mereka masih percaya dengan kekuatan roh nenek moyang atau animisme. Ada beberapa agama yang terdapat di DRC yakni: Kristen (termasuk Kristen Protestan dan Katolik), Islam dan beberapa sekte. Untuk sistem garis keturunan, DRC mengenal dua sistem, yakni patrilineal dan matrilineal. Fufu adalah makanan tradisional di DRC, dibuat dari ubi. Selain fufu juga ada nasi, kentang, sayur – sayuran dan daging sapi.

Trus, disana mau ngapain? Ya kerja dong. Masa jalan – jalan. Dengan situasi kemanan yang nggak kondusif, DR Congo adalah salah satu tujuan paling akhir untuk urusan jalan – jalan. Di DR Congo aku akan bekerja sebagai volunteer di MONUC, salah satu badan PBB untuk misi perdamaian di Congo. Kerjanya ngapain aja? Ikutan perang? Bawa senjata juga? Ya nggak lah. Banyak hal yang bisa dilakukan tanpa harus membawa senjata. Memang, sebagai negara yang baru saja dilanda perang, negara ini dipenuhi dengan tentara perdamaian yang datang dari belahan dunia. Termasuk dari Indonesia. Begitupun, banyak hal yang bisa dilakukan oleh orang – orang sipil yang tidak punya otoritas untuk memanggul senjata. Para ‘civilian’ dapat memberikan kontribusi dengan bekerja di berbagai bidang. Seperti aku, misalanya yang bekerja di engineering section. Untuk saat ini, posisiku adalah Camp Manager. Tugas utamaku memastikan perawatan gedung Head Quarter MONUC.

Selain engineering ,masih banyak terdapat berbagai bidang lainnya. Seperti di bagian medical, aviation, movement control, administrative and finance, public information, sexual violence, child protection dan masih banyak lagi bidang – bidang yang bisa diisi oleh para civilian.

Tinggal sama siapa? Well, untuk urusan tempat tinggal, memang cukup bikin repot. terutama untuk kota besar seperti Kinshasa (ibukota DR Congo). Biaya yang dikeluarkan relatif mahal. Bahkan sangat mahal. Untuk apartement dengan dua kamar tidur, aku harus membayar 1000 USD perbulan. Masih di luar biaya listrik, air, elevator dan sekuriti yang meminta tambahan biaya 250 USD untuk setiap bulannya. Karena itu, mau tak mau, share tempat tinggal aadalah jalan terbaik untuk menghemat si dollar. Di Kinshasa, aku tinggal bersama 4 orang teman. Mereka adalah Sari (seorang teman lama. Kami sudah kenal baik sejak aku bekerja di IOM banda Aceh. Sari bekerja di Aviation Section). Ada Kak Luna (sama seperti Sari, Kak Luna juga bekerja di Aviation Section), Tohir (dia bekerja di Movement Control Section. Kerjaannya ngurusin penumpang dan cargo yang akan menggunakan jasa UN flight) dan Armindo (seorang teman dari Timor Leste. Si Armindo ini web master di MONUC, tepatnya di bagian Publik Information).

 Selain Aku, Sari, Kak Luna dan Tohir, ada satu lagi orang Indonesia yang bekerja di MONUC. Namanya Kak Arny. Beliau ini bekerja di bagian Food and Nutrition. Beliau sudah berkeluarga, dan saat ini tinggal bersama suaminya, yang tengah bekerja di Kinshasa juga, dan satu orang anak. Sebenarnya Congo adalah non family mission. Karena itu, sangat dusarankan untuk tidak membawa keluarga selama disini. Namun, terkadang setiap orang harus bisa fleksibel.

Makannya gimana? Sekali lagi untuk urusan penghematan, aku dan teman – teman serumah memutuskan untuk memasak. Biasanya, kami memasak setelah pulang dari kantor untuk makan malam. Sebagian makanan ditinggalkan untuk sarapan dan bekal makan siang keesokan harinya. Hari Sabtu adalah hari khusus berbelanja untuk kebutuhan selama satu minggu.

Selama di DR Congo pake bahasa apa? Pake Bahasa Inggris kalo di kantor dan Bahasa Indonesia kalau lagi di rumah. Official language di Congo adalah bahasa Prancis. Agak sedikit merepotkan, sebenarnya. Apalagi bagi orang – orang seperti aku, yang tidak pernah belajar bahasa ini. Tapi, disinilah tantangannya. Sambil bekerja, kita juga bisa belajar bahasa. Di MONUC disediakan kursus gratis untuk belajar Bahasa Prancis dan Linggala.

Sehat nggak disana? Well, gimana ya. Seperti layaknya negara yang agak terbelakang dan baru saja dilanda perang, tentu tidak didukung oleh infrastruktur dan sanitasi yang memadai. Karena itu, sebelum berangkat kesini, kita diharuskan melakukan berbagai vaksinasi, seperti thyphoid, hepatitis AB, polio, tetanus, yellow fever dan meningitis. Yellow Fever adalah syarat mutlak. Jika di kartu vaksin tidak tercantum Yellow Fever, jangan harap bisa masuk Kinshasa.

Hati – hati ya disana. Pastilah. Begitu tiba, sudah pasti kita paranoid dengan berbagai kondisi disini. Namun, lambat laun akan terbiasa dengan sendirinya. Begitupun, tetap waspada adalah satu keharusan, karena apapun bisa saja terjadi tanpa bisa diprediksi.

2 thoughts on “Sedikit Cerita Dari DR Congo

  1. waaaaah … bener2 sesuai dengan tagline blog-nya … “An Ongoing Journey” … hebat …🙂
    Sy salut sm mba … sy jd ngerasa belum apa2 nih klo dibanding mba … (jd bikin smangat, hehe). Thx 4 the inspiration …

    smoga sehat slalu ya di sana ^^

    ipul_

  2. Nurul Fitri Lubis

    Thanks Ipul…
    Wah, aku juga belum seberapa kalo liat temen2 lain yg sudah melakukan berbagai macam hal.. Mereka jg jadi inspirasi buat aku. Ya, kta sama2 memberi inspirasi lah..🙂

    Buat kamu juga tetap semangat ya, dalam bekerja dan meningkatkan Inggrisnya…🙂

    salam,
    N

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s