Ayo.. Berdamai Dengan Diri Sendiri


Berdamai itu memang susah. Berdamai dengan orang yang kita ngga suka. Berdamai dengan pekerjaan yang jauh dari harapan. Berdamai dengan situasi yang tidak kondusif. Berdamai dengan lingkungan yang serba kekurangan. Dan yang tersulit dari yang paling sulit, berdamai dengan diri sendiri.

Itulah yang kualami saat ini. Selama di negara antah berantah ini, rasanya tiada hari tanpa mengeluh. Meskipun hanya mengeluh kepada diri sendiri dan Tuhan. Kenapa aku begini, kenapa aku begitu? Kenapa orang – orang ini luar biasa menyebalkan? Kenapa dia tidak bersusaha sedikit saja bersikap lebih manis ketika minta tolong kepadaku untuk sesuatu yang di luar tanggung jawabku? Kenapa orang ini harus marah – marah untuk sesuatu yang tidak kulakukan, bahkan sama sekali tidak kuketahui? Kenapa harus pekerjaan ini yang diberikan kepadaku, bukankah mereka menawarkan sesuatu yang lain pada saat interview? Sesuatu yang benar – benar aku. Kenapa mereka merubahnya begitu aku tiba disini? Kenapa aku harus bekerja di hari Sabtu, bahkan di hari Minggu atau di hari – hari libur lainnya. Mengapa aku tak bisa sedikit bersenang – senang?

Di saat long weekend, ketika semua orang sibuk merencanakan liburan, aku malah berkutat dengan pekerjaan, sibuk menyediakan tempat untuk delegasi yang akan berkunjung. Tugasku adalah memuaskan orang lain, menjamin ruangan mereka senyaman mungkin, namun kenapa aku diberikan ruangan yang tampak seperti KANDANG? Kenapa seghei – seghei selalu berkeliaran sehingga tidak memungkinkan bagiku untuk berjalan seorang diri? Kenapa apartement semahal ini memiliki fasilitas yang begitu minim? Kenapa listrik sering mati? Kenapa saluran air sering diputus sehingga aku sama sekali tidak bisa mandi dua kali sehari? Kenapa elevator sialan ini selalu rusak sehingga aku harus mendaki tangga – tangga menjulang setinggi 22 lantai? KENAPA? KENAPA?

Itulah sekelumit keluhan yang selalu muncul, baik muncul melalui mulut maupun hanya di dalam hati. Mengapa aku harus selalu mengeluh? Jawabannya hanya satu. Aku belum bisa deal dengan diri sendiri. Jika berdamai dengan diri sendiri saja belum bisa, bagaimana mungkin aku bisa berdamai dengan sekelumit masalah di hadapanku. Tak jarang aku bangun pagi dengan kepala berdenyut – denyut membayangkan hari yang bakal kuhadapi. Melihat atap kantor dari balik jendela apartmentku saja sudah bisa membuatku ingin memuntahkan semua isi perut. Apalagi hari ini? Kuharap para daily workers ku tak bertingkah macam – macam. Mudah – mudahan air conditioning yang makin lama makin butut itu bisa diajak kerja sama untuk menghalau cuaca Kinshasa yang panasnya bikin ubun – ubun serasa meleleh. Mudah – mudahan cewek Inggris berambut kriting, dengan gaya bak putri dari Buckingham yang selalu menggerecoki, hari ini tak banyak tingkah dengan mengirimkanku email konyol dan mengirim CC nya ke bosku. Kuharap hari ini lebih bersahabat terhadapku.

Disaat aku menggerutu tak jelas, muncullah sebuah email dari seorang sahabat. Email singkat yang hanya menanyakan khabarku setelah beberapa lama tak bertegur sapa. Email singkat itu kujawab dengan ratapan sepanjang hampir dua halaman kertas A4. Sumpah serapah tentang lingkungan dan keadaanku saat ini. Tak menunggu lama, sang teman membalas emailku dengan jawaban yang tak kalah panjang. Intinya, menjawab segala keluh kesahku.

”Kenapa kamu begini, kenapa kamu begitu?” tulis si sahabat. ”Kalau tidak salah, sebelumnya aku yang selalu mengeluh kenapa begini dan kenapa begitu. Dan kamu selalu bilang, itu adalah jalan hidup yang dikaruniakan Tuhan kepadaku. Jadi, selalulah bersyukur dengan menikmatinya. Sekarang, nasihat itu kukembalikan kepadamu. Mengenai orang yang selalu marah – marah, anggap saja latihan untuk anger management. Siapa tahu sepulang dari sana, kamu jadi lebih cool dan lebih bisa mengendalikan emosi yang meledak – ledak.

Kenapa orang – orang itu tidak bisa lebih manis ketika meminta sesuatu? Kasihanilah orang – orang ini. Tuhan tak memberikan anugrah kepada mereka untuk bertutur kata dan bersikap dengan baik. Doakan saja mereka diberikan petunjuk oleh yang Kuasa. Kamu membenci pekerjaanmu saat ini? Mengapa? Bukannya itu sangat menantang. Pekerjaan ini baru dan akan memberikan pengalaman berbeda dari pekerjaan – pekerjaan kamu sebelumnya yang menurut kamu ’sangat kamu banget’. Bersyukur Nurul. Banyak orang yang mendambakan pekerjaan ini. Dan kaget setengah mati waktu tahu kamu dengan pengalaman minim di bidang ini bisa diterima begitu saja. Harus bekerja di saat weekend atau di hari Minggu? Bersyukur. Karena mereka menganggap kamu orang yang bisa diandalkan. Mengenai ruanganmu yang seperti KANDANG, pelan – pelan tentu bisa diatur untuk menjadi ruangan yang lebih menyenangkan. Apa gunanya ijazah arsitekturmu? Ayo manfaatkan. Seghei? Di Jakarta juga banyak, walaupun tak seagresif anak – anak disana. Pintar – pintar kamu saja melihat situasi.

Fasilitas yang tak memadai? C’MON Nurul. Bukannya ini yang kamu inginkan? Rasanya entah sudah berapa kali kudengar dari mulutmu, betapa inginnya kamu bekerja di Africa. Kamu tidak sedang pergi berlibur, seperti yang pernah kamu tuliskan di dalam blogmu. Kamu pergi ke negara yang baru selesai berperang. Jika melihat infrastruktur yang tidak menyenangkan, ingatlah saat – saat bahagia ketika kamu menerima email yang menyatakan kamu diterima oleh organisasi yang namanya paling terkenal di seluruh dunia (hingga saat ini pun aku tak pernah mendapatkan panggilan untuk bekerja disana) untuk bekerja di benua tertua di dunia. Aku masih ingat bagaimana kamu tak henti – hentinya tersenyum sepanjang hari, dan kalau tak salah kamu pernah bilang sudah siap tidur di dalam rumah tanah liat, seperti yang digambarkan novel – novel karya penulis Africa yang pernah kamu baca. Dan sekarang? Kamu tinggal di apartment, meskipun kamu bilang fasilitasnya rumah susun? Tetap Alhamdulillah.

Mengenai elevator yang selalu mati, angap saja olah raga. Kamu kan ngga pernah punya waktu buat olahraga. Elevator mati adalah alasan bagus buat olag raga. Segala sesuatu yang kamu hadapi akan terasa lebih berat jika kamu hanya memandangnya dari sisi negatif. Cobalah melihat dari sisi positifnya. Insya Allah, kamu bisa menjalani. Yang bisa kamu lakukan hanya satu. Ikhlas, dan berdamailah dengan diri sendiri.”

Mau tak mau, terhenyak juga membaca balasan email si sahabat. Membuka mata dan fikiranku, betapa tak bersyukurnya aku selama ini. Betapa tak ikhlasnya aku menjalani kehidupan. Betapa aku selalu melihat segala sesuatu dari kacamata negatif. Menganggap segala sesuatu yang kudapatkan selama disini adalah musibah. Padahal itu semua adalah anugrah. Aku khilaf. Maafkan aku ya Allah. Mudah – mudahan di kemudian hari aku bisa menjaalani semuanya dengan ikhlas.

4 thoughts on “Ayo.. Berdamai Dengan Diri Sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s