Pesiar Eksklusif ke Sungai Congo


“Kalo di Congo, pas wiken ngapain aja?”

Satu pertanyaan yang pernah dilontarkan seorang rekan dari tanah air. Saat itu sudah menunjukkan pukul 1 pagi waktu Indonesia, dan pukul 7 malam waktu DRC. Temanku ini tampaknya kena insomnia sesaat, setelah menghabiskan malam di salah satu tempat nongkrong paling diminati di Jakarta. Untuk mendatangkan rasa kantuk, segeralah dia ber online ria, dan menemukan aku satu – satu nya yang masih online.

Sambil cengar cengir ngga jelas (untung si teman ngga lihat karena aku tidak mengaktifkan web cam), aku menjawab dengan sangat terus terang, “Ngga kemana – mana. Alias di rumah seharian,”

“Masa sih?” Kelihatannya si teman tak percaya, jika mengingat selama ini aku adalah salah satu orang yang selalu menggerecokinya untuk selalu keluar pada saat wiken.

“Ya gitu deh. Kalo lu mau tau, sekarang juga gue sudah siap dengan piyama.”

Bisa dibayangkan, si teman di sana cuma melongo makin tak percaya.

Tak banyak yang bisa dilakukan di Kinsaha. Dengan situasi keamanan yang tak kondusif, curfew serta transportasi yang sulit,  membatasi para volunteer yang tak punya kendaraan untuk mengekspresikan diri di Sabtu malam. Transportasi umum, jelas – jelas tidak aman. Jalan kaki, lebih tidak memungkinkan lagi. Baru beberapa langkah, seghei – seghei (sebutan untuk anak jalanan) akan mendekat, menyodorkan tangan dan berkata, “Mama Indonesia. Give me some money,” dengan tampang memaksa dan jelas – jelas menyebalkan. Sebenarnya, kasihan juga sih ngelihat para seghei. Mereka kehilangan masa kecilnya. Di usia muda harus berjuang menaklukkan kejamnya kehidupan di Kinshasa. Seghei – seghei itu masih sangat muda. Bahkan ada yang mungkin masih berusia lima tahun atau kurang, sudah berusaha meminta – minta. Begitu kita melewati mereka, mereka akan menengadahkan tangan untuk meminta uang. Di tempat ini, untuk pertama kali aku menemukan seorang anak sudah tidak memiliki sisi kekanakan dan kelucuan nya.

Tapi, minggu kemarin agak berbeda dari minggu – minggu sebelumnya. Bukan pekerjaan saja yang jadwalnya padat. Jadwal wiken juga padat. Menghabiskan Jumat malam dengan ber Happy Hour bersama Kak Luna dan Tohir (sampe lupa kalo besoknya, di Sabtu pagi tepat pukul 6.30 pagi, aku sudah harus duduk manis di kantor). Sabtu sore dilanjutkan dengan mengunjungi teman – teman TNI yang baru pindah rumah, sampe berpesiar ke Sungai Congo di Minggu pagi. Nah, yang terakhir ini yang paling seru. Akhirnya, setelah Sari mengerahkan segala daya upaya untuk membujuk dua marinir Indonesia, Pak Amrin dan Bang Lusy (maaf ada tambahan: yang selalu ngaku – ngaku ganteng) dua marinir ini pun setuju untuk membawa kami berpesiar.

Tepat pukul 9 pagi, kita dijemput sama dua marinir, ngga tanggung – tanggung. Lengkap dengan seragam. Wah. Serasa jadi tamu kehormatan. Civiliannya ada tiga orang. Aku, Sari dan Pak Erfan. Dimulailah pesiar hari itu. Dengan mulus Bang Lusy membawa kami meluncur menuju Onatra Beach, tempat kapal – kapal UN berlabuh. Onatra Beach ini juga salah satu UN camp di Kinshasa. Tempatnya tidak begitu luas, hanya terdiri dari satu container saja. Untuk kegiatan berpesiar hari itu, kami akan menggunakan speed boat, yang menurut para marinir lebih asyik dari pada naik kapal gede. Setelah pelambung dibagikan, kita segera menuju speed boat yang sudah siap menanti. Seorang Papa Congo yang akan menjadi nakhoda selama kita berpesiar, telah siap menyambut kedatangan kita.

Speed boat mulai berjalan. Aku segera mengeluarkan si Canoy, yang sudah terlalu lama beristirahat. Sari juga sudah siap dengan Nikon D60 nya. Pak Erfan juga sibuk dengan kamera pocketnya. Mulai deh kita jepret sana jepret sini. Pak Amrin sudah mengeluarkan suara andalannya, nyanyi ngikutin lagu dari IPOD. Bang Lusy sibuk melamun sambil melihat – lihat ke dalam air. Mungkin sedang menikmati bayangannya di dalam air, sambil tak henti – hentinya memuji diri, “Aihh… gue ganteng banget ya,” Aku sempat khawatir juga dan berdoa semoga beliau tak bernasib seperti Narcissus, nyebur ke dalam sungai Congo.

Sungai Congo ini ternyata panjang dan lebar. Dengan panjang 2.900 miles, sungai ini menjadi sungai terpanjang kelima di dunia dan kedua di Africa setelah sungai Nile. Lebarnya sendiri bervariasi. Mulai dari 0,5 miles sampai 10 miles, tergantung lokasi dan waktu. Sungai Congo mengalir melewati hutan tropis di Congo, yang merupakan hutan hujan terbesar kedua di dunia setelah Amazon, dan merupakan sungai terdalam di dunia dengan kedalaman lebih dari 230 meter.

Meskipun sudah pernah melihat sungai Congo, baik dari dekat maupun dari ex apartment kami di Old Gallery Presidential, menyusurinya secara langsung memberikan pengalaman yang sama sekali berbeda. Langsung deh aku sibuk dengan si Canoy. Papa Congo yang menjadi nakhoda kami juga sangat cooperpatif. Setiap ada objek menarik, beliau selalu memelankan laju speed boat sehingga memudahkan kami untuk mengambil objek foto. Selama berpesiar, aku bisa melihat langsung kehidupan masyarakat yang hidup di pinggiran sungai Congo. Para nelayan yang masih menggunakan perahu tradisional untuk menangkap ikan. Bahkan di tengah jalan, kami sempat ditawarin untuk membeli ikan berbentuk aneh.

“Bonjour Papa,” sapa si nelayan sok akrab. Aku langsung memasukkan si Canoy. Bukan apa –apa. Orang – orang di sini pada sensitif sama yang namanya kamera. Coba aja kelihatan kita pegang kamera. Siap – siap deh jadi korban pemerasan. Sampe ancaman mau dilaporkan ke polisi.

“Bonjour,” jawab Pak Erfan sebagai satu – satunya orang yang bahasa Prancisnya bisa dibanggakan. “Comment Ca va?” tanya Pak Erfan.

“Ca va bien, Papa..” mulai lah si nelayan cuap – cuap tak jelas. Selain Pak Erfan dan nakhoda kapal, para penumpang hanya melongo tak mengerti mendengarkan si nelayan mencoba menjual hasil tangkapannya.

“Cinq dollars Papa. No beaucoup.” Kata si nelayan memelas.

“Apanya Pak yang lima dollar?” tanyaku penasaran.

“Itu. Ikannya.”

“Ha?? Gila aja. Seekor kecil begitu lima dollar. Bentuknya aneh lagi,”

“Iya. Kayaknya sih ikan sapu kaca,”

“Wah. Itu kan ikan yang ngerbersihin aquarium.”

Khawatir dengan bentuk si ikan yang tak keruan dan harga yang tak masuk akal, kami tak jadi melanjutkan transaksi jual beli. Perjalanan pun dilanjut.

Dari jauh, Brazaville sudah terlihat. Brazaville (ibukota Negara tetangga, Republic of Congo) memang tak terlalu jauh dari Kinshasa, ibukota DRC. Hanya berjarak sekitar 8 hingga 9 kilometer saja. Jika naik speed boat tak akan memakan waktu lama. Menurut teman – teman yang telah menjejakkan kaki ke sana, hanya sekitar 45 menit perjalanan. Kami juga melewati dermaga – dermaga tempat kapal – kapal menaikkan dan menurunkan barang. Speed boat mulai melambat. Ada apa di depan sana? Ternyata ada perkampungan nelayan. Papa Nakhoda kembali memberikan kesempatan kepada kami untuk mengabadikannya ke dalam kamera. Kalau dilihat – lihat hampir mirip dengan suasana pesisir di Indonesia.

Setelah menyusuri sungai selama hampir satu jam, tibalah kami di sebuah pulau kecil. Sebenarnya ini bukan pulau. Daratan ini hanya terbentuk saat musim kemarau. Jika musim hujan kembali tiba, maka daratan akan tertutup. Sebenarnya Pak Amrin sudah ke tempat ini sehari sebelumnya, membawa rombongan MONUSCO di salah satu acara yang diselenggarakan Welfare Unit. Sempat kecewa karena tidak bisa ikut berpesiar dikarenakan harus tetap masuk kantor di hari Sabtu. Tapi, karena kebaikan abang – abang yang selalu ngaku ganteng ini, bisa juga menikmati pesiar ekslusif di sungai Congo.

 

Koleksi gambar bisa dilihat di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s