Mesir, Si Negeri Seribu Menara (1)


Akhirnya bisa juga menarik nafas lega. Setelah hampir tiga bulan menjalani hidup penuh dengan keterbatasan, tiba juga saat yang ditunggu – tunggu. RnR alias Rest and Relax.. Cihuy….. La la la la la. Oh ya, apa itu RnR? RnR itu jatah cuti yang diberikan kepada kepada staff oleh organisasi tempaku bekerja di setiap periode waktu tertentu dengan tujuan untuk menyegarkan dan meluruskan syaraf – syaraf yang hampir meleleh saking tegangnya. Si RnR ini adalah salah satu yang sangat ditunggu – tunggu saat rasa frustasi menjalani kehidupan di misi yang penuh dengan tekanan. Tujuan RnR pertamaku ini adalah sebuah negara di Africa Utara, yang terkenal dengan kisah Nabi Musa, Firaun serta si cantik Cleopatra.

Di Jumat pagi, masih sangat pagi, aku sibuk grasak grusuk menimbulkan keributan yang bisa membangunkan seisi rumah. Bahkan azan subuh dari Onatra, tempat rumah sakit Jordania berdiri belum berkumandang. Dengan tertatih – tatih menuruni anak tangga satu demi satu dari lantai 22 menuju lantai dasar. Tiba di lantai dasar dengan peluh bercucuran, ditambah lagi harus berjalan sejauh 100 meter untuk mencapai camp HQ, dimana dispatch – dispatch sudah menunggu untuk membawa penumpang ke bandara. Perjalanan pun dimulai.

Hanya memakan waktu 30 menit untuk mencapai Bandara Ndjili. Padahal, di siang hari bisa mencapai dua jam kalo pake macet. Dilanjutkan dengan proses check in dan pengecapan passport di bagian imigrasi. Usai sudah. Saatnya memasuki ruang tunggu. Bagus, ada sofa kulit bertengger disana. Aku bisa melanjutkan tidur  yang sempat tertunda. Aku bukan satu – satunya yang tertidur. Bisa dikatakan hampir semua calon penumpang UN Flight sudah dengan posisi uenakkk untuk meneruskan mimpi yang tertunda. Aku dalam keadaan setengah sadar saat seseorang memukul pundakku. Seorang kolega dari Kenya sudah terduduk di sebelahku. Sibuk mengomel mengapa UN flight membuat  jadwal sepagi ini. Hilang sudah kantukku.

Satu jam kemudian, kami mulai memasuki pesawat, terbang menuju Entebbe, Uganda. Sebelum mencapai Entebbe, pesawat akan akan transit  lebih dulu selama satu jam di Kinsangani, salah satu kota besar di bagian timur Congo. Dari Kinshasa ke Kinsangani akan memakan waktu perjalanan kurang lebih dua jam. Ditambah 50 menit untuk mencapai Entebbe.  Pukul 2 siang waktu Entebbe, pesawat mendarat dengan mulus. Tidak ada masalah berarti selama di Entebbe. Disini, aku akan bermalam satu malam sebelum melanjutkan perjalanan ke Cairo.

          Entebbe International Airport

Keesokan hari, pukul satu siang waktu Entebbe, aku check in di counter Kenya Airways. Pesawat yang akan membawaku menuju Cairo. Sekali lagi tidak ada masalah berarti. Untuk mencapai Cairo, aku akan melalui dua kali transit dengan rute: Entebbe (Uganda) – Nairobi (Kenya) – Khortum (Sudan) – Cairo (Egypt).  Dari Entebbe menuju Nairobi  akan memakan waktu satu jam perjalanan. Selama di Nairobi juga tidak ada kendala yang berarti.  Nairobi – Khortum membutuhkan waktu kurang lebih dua jam. Saat di Khortum, penumpang yang menuju Cairo tidak turun. Pesawat hanya berhenti sekitar 45 menit sebelum melanjutkan dua jam perjalanan berikutnya menuju Cairo. Pukul 12 malam waktu setempat, pesawat mendarat dengan mulus di Cairo International Airport.

Cairo International Airport

Aku sudah terkantuk – kantuk saat menuruni pesawat. Tiba di bagian imigrasi. Setelah mengisi kartu kedatangan, dan mempersiapkan passport yang sudah dilengkapi visa. Wah, banyak sekali petugasnya. Kupilih yang paling kiri saja. Petugasnya paling ganteng dan paling segar diantara yang lain. Wajahnya yang bertampang Arab bisa bikin hati meleleh. Pilihan yang sama sekali salah.

Si ganteng itu ternyata hanya menang ganteng. Kerjanya luammbannnya minta ampun. Para penumpang lain sudah mulai berpindahan ke counter imigrasi yang lain, tak sabar menunggu si ganteng mengecap passport satu demi satu. Tiba juga giliranku. Wah, ternyata aku adalah salah satu penumpang yang terakhir. Menarik nafas lega, dengan penuh kepastian, kudatangi si ganteng.

Si  ganteng hanya menatapku dengan pandangan curiga saat aku menyerahkan passport. Dia membolak – balik si passport, mengamati satu demi satu lembarannya , seakan – akan berusaha untuk menemukan sesuatu yang palsu. Lima menit berlalu, sampai akhirnya dia membuka suara.

“Hmmm.. Indonesia. Do you speak English?” tanyanya

“Yes, I do,” jawabku.

Mulailah dia menggercoki dengan berbagai pertanyaan.

Mo ngapain ke Egypt? Tentu saja untuk liburan. Bisa lihat sendiri di keterangan yang tertera di visa.

Tinggal dimana selama di Egypt? Kusebutkan alamat Wisma Nusantara yang telah diberikan seorang teman.

Apakah aku mengenal seseorang di Egypt? Kusebutkan nama teman yang akan menjadi ‘guide’ selama aku berada di Egypt.

Apa pekerjaan sang teman? Penting ngga sih?

Berapa banyak aku membawa uang? Kusebutkan sejumlah dollar.

Dia kembali membolak balik sang passport. 10 menit berlalu sudah. Kembali dia menanyakan hal – hal yang bikin aku makin panik bin kesal. Sekarang aku satu – satunya penumpang yang masih berdiri di depan meja imigrasi. Si ganteng mulai meminta berbagai dokumen. E tiket sudah kuserahkan, untuk membuktikan aku tidak akan jadi pendatang gelap di Egypt dan akan pulang sesuai dengan tanggal yang tertera di atas tiket. Dia masih belum puas. Si passport masih belum di stempel. 15 menit berlalu.

“So. You’re from Uganda. What are you doing there?”

“Just for transit?” jawabku tak sabar.  Dari jauh kulihat petugas mulai mengumpulkan koper – koper yang belum di klaim pemiliknya.

“Hmm. I need to see your national identity card. Ha…. You’re from Congo also. What are you doing there?”

“I work there.”

“As what?”

Hilang sudah kesabaranku. Aku menyebutkan nama organisasi tempatku bekerja, memberikan berbagai macam ID Card yang menjelaskan statusku sebagai staff disana. Si ganteng hanya melihat sekilas ID yang kusodorkan. Tanpa bicara dia meletakkan passportku yang sedari tadi dipegangnya. Memberikan stempel di atasnya tanpa melihat KTP yang kuberikan padanya.

“Welcome to Egypt, Mam,” katanya dibarengi senyum manis. Senyum yang mungkin bisa bikin aku meleleh jika dia tidak menginterograsiku dengan cara menyebalkan.

“Thank you,” jawabku datar. Menyambar passportku sambil setengah berlari menuju tempat pengambilan bagasi. Benar saja. Koper merahku sudah tak ada disana. Seorang petugas mendatangiku dan menunjukkan counter bertuliskan “Claim baggage”. Si koper ada disana. Lega rasanya. Di luar, teman yang akan menemaniku selama di Egypt sudah menunggu. Si teman ini tak mau namanya disebut. Jadi, sebutlah namanya Mr. Rius. “Selamat datang di Mesir, Nurul,” sambut  Rius. Alhamdulillah. Tiba juga di Negeri Seribu Menara.

2 thoughts on “Mesir, Si Negeri Seribu Menara (1)

  1. Alid Abdul

    kesel juga kalau petugas imigrasi kek gitu, tapi tugas mereka memang hanya memastikan keamanan negara. tapi rasa kesel langsung sirna klo pas passport kita dicap “WELCOME…”

  2. Nurul Fitri Lubis

    Bener… Itu memang tugas mereka.. Ngga bisa pipungkirin juga, mkn mereka pernah punya pengalaman buruk dengan pengunjung yg ngakunya turis, tap sampe disana ngelakukan hal yg macam2…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s