Mesir, Si Negeri Seribu Menara (2)


“Egypt is fantastic,”

Kukira bukan hanya aku yang berpendapat begitu. Egypt benar – benar menawan dan sangat layak untuk dikunjungi. Selama disana, aku menginap di Wisma Nusantara. Wisma ini dikelola oleh para mahasiswa Al Azhar asal Indonesia. Hari pertama tidak banyak yang kulakukan. Aku hanya mengelilingi Cairo bersama Rius sambil mendengarkan lagu – lagu Indonesia koleksi si Rius. Aku ikut bersenandung, sementara si Rius nyetir sambil menunjukkan ini  dan itu. Sejauh mata memandang, tampak berbagai macam menara dan kubah. Tak heran, jika Egypt (Mesir) disebut dengan negeri seribu menara dikarenakan banyaknya menara – menara mesjid menjulang.

Mesjid – Mesjid Yang Bertebaran di Setiap Sudut Kota

Usai berkeliling, kami mendatangi tujuan pertama.

Egyptian Museum

Ini adalah museum utama di Egypt, dan sangat wajib hukumnya untuk dikunjungi. Dari jauh saja sudah terlihat orang berbondong – bondong memasuki museum.

“Apa memang seramai ini. Atau apa karena hari ini hari Minggu?” tanyaku takjub melihat jumlah pengunjung.

“Mo datang hari apa juga sama aja. Tetep serame ini,” kata Rius menerangkan.

                         Egyptian Museum

Dimulailah perjalanan menelusuri museum. Mulai dari antri untuk beli tiket, sampai pengecekan tas. Di museum ini dilarang keras membawa kamera. Jadi, siapa saja yang membawa kamera, wajib menitipkan si kamera di tempat penitipan kamera. Sayang sekali, sama sekali tidak bisa mengabadikan apapun. Benar – benar ketat peraturan tentang kamera ini. Tas ransel dengan ukuran lumayan gede yang selalu kubawa kemana – mana, harus melalui X Ray berulang – ulang. Seakan – akan mereka takut aku menyeludupkan sesuatu disana. Setelah melalui berbagai pengecheckan, akhirnya berhasil masuk ke Egyptian Museum.

Di Egyptian Museum ini banyak sekali peninggalan sejarah Mesir kuno. Bangunannya sendiri, terdiri dari dua lantai. Di lantai dasar, terdapat koleksi papirus dan koin yang digunakan di zaman Mesir Kuno. Pada umumnya, papirus – pairus ini berukuran kecil, karena telah mengalami pembusukan selama dua milenium terakhir. Beberapa bahasa ditemukan dalam lembaran – lembaran ini, termasuk Yunani, Latin, Arab serta bahasa mesir Kuno yang dikenal dengan nama Hieroglyphs. Koin – koin yang dipamerkan juga terbuat dari berbagai bahan. Ada yang dari emas, perak maupun perunggu. Koin – koin ini tidak hanya berasal dari Mesir, tetapi juga Yunani, Romawi dan juga Islamik. 

Di lantai dua, barang – barang yang dipamerkan semakin menegangkan. Ada makam Tutankhamon, salah seorang pharaoh di Mesir yang lahir di tahun 1341 SM. Makam ini terbuat dari kayu yang dilapis emas (1361 – 1352 SM), miniatur para pharaoh, kalung, gelang, tempat tidur para pharaobh yang dihiasi dengan kepala binatang di setiap ujungnya, dan masih banyak lagi. Tapi, yang paling menegangkan adalah Ruang Mumi.

Untuk masuk ke ruang Mumi ini, para pengunjung harus membayar lagi. Tapi, ini benar – benar wajib untuk dilihat. Harganya yang sedikit mahal, sebanding dengan apa yang disaksikan. Begitu memasuki ruang mumi, hawa dingin semakin terasa. Sepertinya temperatur di ruangan ini memang lebih dingin dibandingkan ruangan – ruangan lain. Yang unik dari mumi – mumi ini adalah hampir semua tangan menyilang dada.

Terletak di tengah, dalam pajangan kaca dengan ukuran paling besar, tergeletaklah jasad dari King Ramses II. Beliau memerintah Mesir selama 67 tahun. Sebelum meninggal, beliau menderita banyak masalah kesehatan di usia tuanya.

King Merenptah. Anak ketigabelas dari King Ramses II. Meninggal di usia enam puluh tahun dan mengalami masalah arthritis dan masalah gigi.

Amenhotep II. Meninggal pada usia 45 tahun. Seorang pejuang dan pecinta olahraga dengan tinggi 1,83 meter. Pharaoh paling tinggi untuk masa New Kingdom. Ditemukan di dalam sarchopagus nya sendiri.

Tuthmosis IV. Anak dan pengganti dari Amenhotep II. Meninggal di usia 30 tahun. Raja yang satu ini terkenal suka memperhatikan keindahan kuku nya dengan ber manicure. Hingga saat ini, kuku – kuku itu masih rapi. Kuku ku sendiri kelihatan berantakan jika dibandingkan dengan kuku Tuthmosis yang sudah berumur ribuan tahun itu,

King Seti I. Anak dan penerus dari King Ramses I. Menjadi pharaoh selama 13 tahunn dan meninggal di usia 40 tahun.

Queen Hatshepsut. Paharaoh wanita dan terkenal sebagai salah satu pharaoh paling sukses di masa Mesir Kuno di dinasti ke 18. Beliau dikenal sebagai wanita yang gemuk dan memiliki gigi yang jelek. Meninggal di usia 45 – 60 tahun.

King Tuthmosis II. Memerintah selama 14 tahun dan meninggal di usia 30 tahun. Menikahi adik tirinya, Hatshepsut yang kemudian menjadi ratu dan pharaoh.

King Tuthmosis I. Yang unik dari mumi ini adalah, tangannya tidak menyilang seperti kebanyakan mumi lainnya.

King Amenhotep I. Meninggal dalam usia empat puluhan. Dilengkapi dengan topeng dan bunga – bunga.

Princes Meritamun. Beliau meninggal di usia tua.

King Seqenenre Tao II. Meninggal  dalam usia 40 tahun. Gigi dan rambutnya masih utuh.

King Tuthmosis III. Penguasa Mesir selama 55 tahun. Meninggal di usia enam puluhan.

Aku di depan Egyptian Museum

Tidak terasa, waktu sudah menjelang sore. Si Rius juga sudah tidak keliahatan. Mungkin dia istirahat di satu tempat. Tidak cukup setengah hari untuk menikmati seluruh isi Egyptian Museum. Tapi, apa daya. Objek – objek menarik lainnya sudah menunggu untuk dikunjungi. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s