Mesir, Si Negeri Seribu Menara (3)


The Pyramids

Bukan ke Mesir namanya jika tidak mengunjungi Pyramid. Seperti yang dibilang orang, kalo belum lihat Monas, berarti belum lihat Jakarta. Hari kedua tujuan utama adalah mengunjungi Pyramid. Tujuan pertama, tentu saja Pyramid Giza yang paling terkenal itu. Setelah makan pagi, lontong sayur dan tahu isi (selama di Mesir aku melahap makanan Indonesia terus. Bosan dengan Sawarma dan  jenis makanan Arab lainnya), aku dan Rius segera meluncur menuju Giza. Hari masih pagi saat Rius membawaku meluncur menuju Giza. Seperti layaknya kota besar, Cairo juga tak lepas dari yang namanya macet. Meskipun masih kalah macet sama Jakarta.

Jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh. Hanya memakan waktu satu jam saja. Itu karena hari masih pagi. Jika jam sibuk telah tiba, akan dibutuhkan waktu hampir dua jam untuk mencapai Giza. Dari jauh aku sudah melihat tiga buah pyramid berdiri menjulang. Wah. Megah sekali. Bahagianya. One of my dream to see one of seven wonders is now coming true.

3 Pyramid di Giza

Untuk masuk ke dalam, kami harus membayar tiket masuk sebesar 60 LE. Di Giza, ada tiga buah pyramid. Piramid Cheops, Piramid Khafre dan Piramid Menkaure. Piramid Cheops adalah yang terbesar dan tertinggi dan paling terkenal di Egypt. Usai pelaksanaan konstruksinya, pyramid ini menjadi bangunan tertinggi di dunia selama 4300 tahun, sampai akhirnya dikalahkan oleh Menara Eiffel di Paris di tahun 1889. Saat pertama kali dibangun, tinggi pyramid ini mencapai 146 meter. Namun, saat ini tingginya hanya mencapai 137 meter. Pyramid ini diperuntukkan bagi Raja Egypt, Raja Khufu.

Pyramid Khafre adalah pyramid kedua. Pyramid ini mudah dikenali dengan lapisan yang menutupi puncak pyramid, dengan tinggi 136 meter. Pyramid ini diperuntukkan bagi putra Raja Khufu, Khafre, darimana namanya berasal. Yang terakhir adalah Pyramid Menkaure. Piramid ini adalah yang paling kecil dibandingkan dengan 2 saudaranya. Tingginya hanya mencapai 65 meter. Persamaan dari ketiga pyramid ini adalah sama – sama memiliki jalan masuk menghadap Utara.

Pyramid Cheops

Piramyd Cheops dan Khafre

Aku juga tidak melewatkan kesempatan untuk melihat Sphinx, si penjaga pyramid. Oh ya, kawasan ini juga dipenuhi oleh pedangan yang menawarkan cendra mata. Bahkan menawarkan jasa menyewakan unta. Baik untuk dibawa berkeliling maupun hanya untuk sekedar berfoto. Hati – hati jika menawar. Tak jarang mereka memberikan tarif tinggi untuk wisatawan bertampang asing.

Sphinx, si Penjaga Pyramids

Selanjutnya aku dan Rius Meluncur menuju Sakkara. Satu lagi kawasan necropolis yang terkenal di masa kejayaan Mesir Kuno. Jaraknya masih tidak terlalu jauh. Sekitar satu jam dari Giza. Tiba di Sakkara sudah sekitar pukul 1 siang. Kami tak menyia – nyiakan waktu. Semua kawasan pyramid akan tutup pada pukul 4 sore. Sebelum memasuki kawasan necropolis, kami singgah di Imhotep Museum. Imhotep adalah arsitek yang membangun Step Pyramid yang diperuntukkan bagi King Djoser, firaun yang berkuasa pada saat itu.  Awalnya makam para raja hanya berupa tumpukan batu , yang disebut dengan mastaba dimana mumi para raja tersimpan di dalamnya. Dengan idenya, Imhotep mengembangkan idenya untuk merubah tumpukan batu menjadi pyramid yang monumental.

Patung – Patung Yang Dipahat di Dalam Makam – Makam Kuno

Salah Satu Lukisan di Makam Kuno, Sakkara

Di museum ini, kita bisa melihat bagaimana Imhotep membangun sebuah pyramid. Sebuah televisi dengan layar lebar menunjukkan cara pembuatan pyramid di masa lampau. Selain itu, terdapat juga batu – batu yang dipahat pada masa Imhotep, beton lengkung pertama di dunia yang menunjukkan kehebatan arsitektur pada zaman itu.

Imhotep Museum

Kawasan Necropolis di Sakkara

Perjalanan terakhir dilanjutkan ke pyramid bertingkat. Piramid ini memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dari pyramid – pyramid lainnya, pyramid ini berbentuk bangunan bertingkat yang mengecil di bagian puncak. Pyramid ini memiliki tinggi 60 meter, 6 anak tangga serta 330.400 meter kunik tanah liat dan batu.  Berbeda dengan kompleks pyramid di Giza, Sakkara masih dilengkapi dengan reruntuhan necropolis. Beberapa kolom, dinding penahan masih berdiri kokoh. Makam – makam kuno berupa mastaba dengan lukisan mesir kuno juga masih terawat. Untuk memasuki komplek pyramid, kita akan melewati main entrance berupa gerbang besar. Begitu melewati pintu, aku disambut dengan jalan kecil yang dilengkapi dengan kolom – kolom kokoh berjejer rapi. Si Rius kelihatannya sudah setengah capek. Merasa tak enak, karena energiku masih dalam stamina puncak, aku memintanya menungguku di gerbang masuk, dari pada masuk ke dalam komplek yang sudah pasti akan panas banget. Apalagi saat itu lagi musim panas. Awalnya si Rius menolak, tapi karena aku ngotot pengen sendirian, akhirnya dia mengalah.

Pyramid Bertingkat di Sakkara

Seperti di Giza, di dalam kompleks pyramid juga banyak para penjual jasa menyewakan unta dan keledai. Hati – hati jika menghadapi orang – orang ini. Aku punya pengalaman ketipu dari salah satu mereka. Saat itu aku tengah mengamati seekor keledai yang dilengkapi dengan pelana berwarna – warni. Tiba – tiba datanglah seorang lelaki tua.

“Asslamulaikum,” sapanya

“Waalaikum salam,” jawabku masih terpana dengankeledai.

“Where do you come from?” tanyanya lagi

“Indonesia.”

“Ohh… Indonesia.. I love people from Indonesia. They are so kind. I will let you to take some picture with my donkey. It’s free for you, from me,”

Aku mulai ragu. Kok bisa nih Bapak jadi baik begini. Jangan – jangan ada udang di balik batu. Melihatku masih ragu, si Bapak pantang menyerah.

“Cmon. I’m serious. You don’t have to pay me. It’s free. Because I love Indonesian. Let me take your camera,”

Dia mengambil kameraku begitu saja dan mulai mengambil photo. Usai mengambil photo, aku meminta kameraku dan beranjak pergi. Eh, si Bapak manggil lagi.

“Madam. Where’s the money for donkey?” tanyanya

“WHAT?” tanyaku kaget plus kesal. “You told me it’s free.”

“yeah. It was free for me, but not for the donkey. Donkey needs food. He needs grass. That’s why he needs money. I represent my donkey for the money”

Unta – Unta yang Disewakan di Sakkara

Keledai yang Sempat Bikin Heboh

Sialan nih Bapak. Mo minta duit aja pake alasan jadi wakil buat si keledai. Sambil mendengus kesal, kuberikan beberapa pound untuknya. Saat pulang, kuceritakan kejadian menyebalkan itu sama si Rius. “Makanya,tadi aku ngga mau kamu kesana sendirian,” nasihat si Rius sok tua. Sejak itu, aku harus membiarkan si Rius mengikutiku kemanapun aku pergi.

2 thoughts on “Mesir, Si Negeri Seribu Menara (3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s