Mesir, Si Negeri Seribu Menara (6)


Suez, Old Cairo dan Nile

“Hari ini mo kemana Non?” Tanya si Rius. Saat itu sudah jam sembilan pagi waktu setempat. Aku baru saja menghabiskan sepiring lontong sayur lezat ditambah 3 buah tahu isi. Tapi, aku masih saja belum memutuskan kemana kami akan berpesiar hari ini.

“Mau ke Sinai tidak?” Rius mengusulkan

“Ogah ah… Aku ngga suka hiking. Itu bagian sebelah mana?” tanyaku

“Ke arah St. Chaterine. Ntar ngelewatin Suez,”

“Ya udah… Kita ke Suez aja. Aku mo liat terowongan yang membelah laut merah,”

Maka meluncurlah kami menuju Suez. Perjalanan menuju Suez memakan waktu selama 2 – 3 jam perjalanan, dengan jarak 125 km. Sebenarnya dengan jarak seperti ini, bisa ditempuh lebih cepat. Namun, dikarenakan di beberapa ruas jalan, tidak diperkenankan membawa kendaraan dengan laju lebih dari 60 km per jam.

Perjalanan Menuju Suez

Perjalanan menuju Suez benar – benar fantastik. Di sebelah kiri dan kanan jalan hanya ada padang pasir. Tidak ada bangunan, apalagi pepohonan. Paling – paling hanya sekumpulan semak belukar. Rasanya seperti in the middle of nowhere. Cuaca sangat terik. Tidak mengherankan, karena saat itu sedang musim panas. Bahkan, dalam perjalanan menuju Suez kami sempat disambut oleh angin kencang yang menerbangkan debu dan pasir. Menurut Rius, terkadang malah lebih parah. Di saat musim panas, sering terjadi badai gurun.

Terowongan yang membelah Laut Merah

Kota Suez memiliki nuansa tersendiri, sedikit berbeda jika dibandingkan dengan Cairo. Jika Cairo memiliki Nile, maka Suez punya laut merah. Kondisi kota nya tidak terlalu ramai. Jika kita berjalan agak ke dalam, maka kita akan menemukan suasana pedesaan, dengan bangunan – bangunan tanah liat, keledai menarik kereta yang dipenuhi jerami. Kondisi yang hampir mirip saat aku mengunjungi Memphis. Tidak banyak yang kulakukan disini. Setelah melihat Laut Merah, aku dan Rius memutuskan kembali ke Cairo.

Laut Merah, Suez

 

 

Suasana pedesaan di Suez

Hari masih belum terlalu sore saat kembali ke Cairo. Masih ada waktu untuk mengunjungi kawasan kota tua Cairo, yang biasa disebut dengan Old Cairo. Tujuan pertama ku adalah The Citadel of Saladdin. Pembangunan benteng ini dimulai pada tahun 1170 M oleh King Saladin dan diselesaikan oleh saudaranya, King El Addel. Lokasinya berada di atas bukit yang dapat memperlihatkan kota tua Cairo. Saladdin membangun benteng ini untuk melindungi kota tua Cairo, Arsitektur bangunan ini sendiri menyerupai banyak pangunan yang dibangun di Siria dan Palestina pada saat perang Salib berlangsung. Selanjutnya, Citadel menjadi pusat pelatihan bagi tentara Mesir.

The Citadel of Saladdin

Selain benteng, yang terkenal di Citadel Saladdin adalah Mesjid Mohammed Ali. Mesjid ini adalah mesjid paling menarik di Mesir. Terletak di titik tertinggi kawasan Citadel Saladin, yang dikenal juga dengan sebutan Mesjid Alabaster. Mesjid ini dibangun oleh Yusuf Boushnaq, arsitek yang khusus datang dari Turki untuk membangun mesjid besar ini untuk Mohammed Ali, pemimpin Mesir dari tahun 1805 – 1849.

Mesjid Mohammed Ali, Old Cairo, Egypt

Usai mengunjungi Citadel, aku menyempatkan diri mengunjungi Mesjid Amr Ibn Al – As, masih di seputaran kota tua Cairo. Mesjid ini adalah mesjid pertama yang di bangun di Mesir dan diseluruh Africa. Dibangun oleh Amr Ibn Al –As di tahun 642 M. Mesjid ini juga dikenal dengan sebutan “The Crown of The Mosques”. Mesjid ini dibangun dengan bentuk persegi panjang, disokong oleh sejumlah kolom, batu dan bata lumpur, dengan lantai yang ditutupi oleh kerikil. Mesjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah tetapi menjadi universitas selama 600 tahun sebelum didirikannya Universitas Al Azhar di Cairo. Mesjid ini menjadi tempat dimana ibadah dan pengajaran dilakukan secara bersamaan.

Mesjid Amr Ibn Al – As, Old Cairo, Egypt

Satu tempat lagi yang tak bisa dilewatkan adalah Hanging Church, atau Gereja Gantung. Gereja ini adalah tempat para umat Kristen Koptik beribadah. Dalam perjalanan menuju Gereja gantung, aku menyempatkan diri menikmati Tamar, minuman yang dibuat dari sari buah kurma. Rasanya nikmat sekali, saat musim panas seperti ini menikmati segelas Tamar dingin. Tidak banyak yang bisa kusaksikan di seputar Gereja Gantung. Karena hari sudah menjelang sore, dan banyak tempat yang sudah tidak menerima pengunjung.

Hanging Church, Old Cairo, Egypt

Hari sudah menunjukkan pukul 6 sore, saat aku dan Rius meninggalkan kawasan kota tua Cairo. Begitupun, hari masih terang benderang. Karena saat ini lagi musim panas, maka siang hari memiliki waktu lebih lama dibanding malam. Azan maghrib baru berkumandang dua jam kemudian. Menanti bedug maghrib, aku dan Rius memutuskan menyusuri kawasan Sungai Nile. Saat kami tiba, kawasan tersebut sudah ramai oleh pengunjung. Bukan hanya pengunjung mancanegara, tetapi pengunjung lokal juga banyak menghabiskan sore disana. Beberapa dari mereka, membawa anak – anak untuk bermain. Tempat ini sering digunakan sebagai tempat bermain anak – anak. Di Cairo, agak sulit menemukan rumah dengan halaman luas, dikarenakan hampir di semua titik kota, masyarakat menggunakan apartment sebagai tempat tinggal. Jadi, tempat umum seperti taman kota dan pinggiran sungai, selalu ramai dikunjungi para keluarga untuk membawa anak – anak bermain.

Sungai Nile, Cairo, Egypt

Jika ingin pesiar juga bisa. Ada kapal – kapal kecil yang menyediakan jasa untuk membawa pengunjung untuk menyusuri sungai Nile. Dan bagi penggemar tari perut, disinilah kesempatan untuk menyaksikannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s