Mesir, Si Negeri Seribu Menara (TAMAT)


Khan El Khalili

Jalan – jalan tanpa belanja rasanya kurang lengkap. meskipun itu hanya membeli sebuah gantungan kunci, urusan belanja ini adalah agenda tetap tiap kali aku melakukan perjalanan. Di Cairo, ada sebuah pasar tradisional, tempat menjual barang – barang cendramata. Namanya Khan El Khalili market. Pasar Khan El Khalili ini juga berdekatan dengan mesjid  Al Hussein dan mesjid Al Azhar. Pasar ini tidak hanya terkenal di seluruh Egypt, tetapi juga untuk seluruh Timur Tengah.

Nama pasar ini sendiri diambil dari nama Princess Jaharkas Al-Khalili, salah satu putri yang paling berpengaruh di abad ke 14. Atmosfir medieval beserta jalan yang terbentuk seperti labirin memberikan kesenangan tersendiri kepada para pengunjung untuk menikmati saat – saat berbelanja.

Banyak sekali barang – barang cendramata yang dapat ditemukan disini. Yang terkenal tentu lukisan papyrus. Pakaian, jilbab Turki, dompet, tas dan lukisan dengan motif Mesir kuno. Gantungan kunci, buanyak banget. Tak terkecuali parfum, dan berbagai produk kerajinan tangan lainnya. Selain menjual barang – barang cendra mata, pasar ini juga menyediakan restaurant yang menyajikan makanan dan minuman khas Esgypt. Untuk para perokok juga ada Sisha yang layak untuk dicoba.

Aku di pasar Khan El Khalili

Seperti daerah Egypt di bagian lain, Pasar Khan El – Khalili ini juga penuh dengan pengunjung bertampang Asia. Jangan heran, mendengar para pedagang disini bisa berbahasa Indonesia. Saat celingak celinguk tak karuan untuk mencari lukisan papyrus, seorang lelaki Mesir mendekatiku.

“Assalamualaikum, my sister. How are you?” sapa nya ramah. OMG. Cowok ini ganteeeng banget. He’s so perfect. Satu hal lagi. Mesir memang dipenuhi wajah – wajah cantik rupawan dan tampan menawan. Mulai dari bayi hingga kakek nenek.

“Ahhh… I’m fine,” jawabku tak keruan. Sudah terpesona dengan wajah tampan nya.

“Where do you come from my sister? Malaysia? Thailand or Indonesia?”

“Indonesia” jawabku masih terpesona.

“Oooooo.. Indonesia. Selamat datang. Mari, lihat toko saya,” aku makin ternganga mendengar dia cas cis cus dalam bahasa Indonesia meskipun dicampur dengan bahasa Inggris. Tiba – tiba saja aku sudah di dalam toko bersama si ganteng yang sibuk menunjukkan koleksi papirusnya.

“Eh. Rius.. Ini masih bisa ditawar kan?” tanyaku pada Rius yang sejak tadi cuma ngikutin kemana aku pergi.

“Bisa aja. Ngomong – ngomong, lu jangan terperdaya dengan tampang kerennya. Urusan nawar ntar biar aku yang ngurus,”

“So, how?” tanya si ganteng

“I want this,” kataku sambil menunjuk beberapa lukisan yang sudah kupilih. “How much is this?”

Dia menyebutkan sejumlah angka.

“Au.. Rius.. Mahal,” bisikku pada Rius.

“Ohh.. my sister.. It’s not mahal. It’s murah,” rupanya si ganteng mendengar percakapanku dan Rius.

“Ok. Gue yang urus,” saatnya Rius mengambil alih dan mulai cuap –cuap dalam bahasa Arab

“Ohh. You speak Arabic,” seru si ganteng. Dan mereka mulai berargumen. Tak satupun kata bisa kumengerti. Yang kutahu, akhirnya si ganteng setuju dengan kesepakatan kami.

Ngga terasa, waktu sudah menunjukkan waktu pukul 9 malam saat aku sudah mengantongi beberapa tas belanja. Telah tiba saatnya menuju airport. Satu jam lagi aku harus sudah check in untuk mengejar penerbangan ke Entebbe, Uganda. Hari berikutnya aku akan terbang kembali ke Kinshasa, DR Congo. Libur telah usai. Selamat Tinggal negeri Seribu Menara. Saatnya kembali bekerja. SEMANGAT.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s