Secuil Kisah Seorang Kampret Putih


Yang namanya rasis, memang ngga akan pernah hilang seratus persen. Selama manusia masih berkeliaran di muka bumi ini, yang namanya sikap merasa diri dan bangsanya paling baik di seantero negeri, tidak akan pernah hangus. Orang – orang seperti ini akan tetap eksist. Tidak peduli, dimanapun dia berada, sikap rasis ini selalu dibawanya, di setiap langkah kakinya melangkah. Tidak terkecuali jika dia bekerja di organisasi kemanusiaan yang paling besar, dan katanya selalu menjunjung tinggi persamaan hak bagi setiap umat manusia. Yang katanya akan menindaklanjuti setiap tindakan yang berbau dengan SARA.

Di tempat aku bekerja saat ini, pembagian ras itu juga terlihat nyata meskipun tidak secara langsung. Bisa dilihat dari siapa berteman dengan siapa. Yang putih akan berteman dengan yang putih. Yang hitam merasa lebih diterima dengan sesama hitam. Dan yang bermata sipit akan merasa lebih nyaman dengan sesama mata sipit. Jika pun ada satu kelompok, dimana terlihat ada pembauran antara si putih, hitam maupun si mata sipit itu hanyalah segelintir kecil dari sekian banyak kelompok yang lebih memilih homogenisme ketimbang kemajemukan.

Aku tak kan membahas banyak mengenai masalah pluralisme, homogenisme, mayoritas ataupun minoritas. Adapun yang hendak aku bagi di tulisan ini adalah secuil kisah seorang kampret yang kelihatannya merasa ras nya adalah yang paling baik dan berkualitas di dunia ini.

Alkisah, hiduplah seorang kampret. Si kampret ini masih muda, berkulit putih, berambut pirang, ganteng, dan bodoh. Maafkan jika aku sudah menghakikimi. Jika berjalan, selalu dengan dagu terangkat dan kepala agak dimerengkan ke kiri. Tidak seperti penghuni organisasi lain, yang suka mengucapkan “Good Morning” atau “Bonjour”, si kampret ini selalu merasa terlalu berharga untuk mengucapkan secuil salam. Dia berjalan tegak, tanpa mengindahkan siapapun yang berada di dekatnya, apalagi jika seseorang itu hitam atau bertampang Asia. Semua lewat begitu saja. Namun, tidak begitu adanya jika si Kampret ini bertemu dengan si Putih. Senyum sumringah terpasang otomatis di wajah yang sengaja dibikin seseram dan tak semenarik mungkin.

Aku tak kan membahas banyak kisah si Kampret ini. Bisa saja aku salah menafsirkan. Tidak mau memberi salam bukan berarti sombong. Bisa saja, memang seperti itulah si Kampret itu. Kalo istilah kita, “sudah dari sana – sananya”. Dan aku tidak ambil pusing dengan kelakuan si Kampret. Selama dia tak menggangguku, mau sedingin es, sekeras batu juga sama sekali bukan urusanku. Hingga datanglah kejadian di suatu pagi.

Sudah menjadi garis tangan bagi setiap Camp Manager untuk melakukan semua hal dan menerima keluh kesah dari siapa saja. Salah satu tugas ku adalah reservasi ruang konferensi dan memastikan ruang konfrensi selalu dalam keadaan OK. Baik untuk meeting biasa, konferensi pers ataupun untuk video tele conference ke kantor HQ New York.

Kembali ke masalah si Kampret. Di pagi yang cerah, dan kebetulan suasana hatiku juga lagi cerah, secerah mentari Africa di bulan April. Aku tengah mengecheck dan membalas beberapa email dari berbagai kolega, dan sibuk menelepon kolega yang lain untuk membereskan masalah Central AC yang ngadat serta generator yang kelihatannya sudah sepantasnya diganti. Seorang staff lokal yang bekerja bersamaku, sebutlah namanya Jean Pierre, juga tengah bersamaku sambil mendengarkan dan mencatat hal – hal penting yang harus kami selesaikan hari itu.

“Gubrak”… Pintu kantorku dibuka secara tiba – tiba. Si kampret berdiri disana dengan tampang kesal yang tidak ditutup – tutupi.

“Good morning Sir, May I help you?” sapaku, berusaha untuk ramah.

Jangankan menjawab, melihatpun dia tidak. Dia langsung melihat ke arah Jean Pierre dan mengoceh dalam bahasa Prancis. Kelihatannya bukan sesuatu yang menyenangkan. Dia terus mengoceh. Aku masih berusaha ramah, mencoba bertanya sopan apa duduk perkara yang membuat si kampret naik pitam dan membentakku dan Jean Pierre di pagi yang cerah ini.

“Sir, if you don’t mind, you can tell your problem to me,” kataku. 

 “Sir, this is my supervisor. If you don’t mind, you can speak directly to her,” Jean Pierre turut menimpali.

Kelihatan si Jean Pierre mulai hilang sabar. Si Kampret hanya melirik sinis dan melanjutkan omelannya ke Jean Pierre. Rupanya tak sudi menjawab dalam bahasa Inggris. Kesabaranku pun ada batasnya. Kulanjutkan pekerjaan membalas email yang sempat tertunda. Kudengar dia meninggalkan ruanganku masih dalam keadaan marah.

Setelah si Kampret pergi, Jean Pierre menjelaskan duduk perkara yang menyebabkan si Kampret seperti kebakaran jenggot. Seminggu yang lalu, departemen tempat dia bekerja melakukan meeting di satu ruang konfrensi yang menjadi tanggung jawabku. Meeting usai, si Kampret terlalu sibuk memikirkan long weekend dan meninggalkan ruangan begitu saja, meninggalkan laptopnya begitu saja (berdasarkan menurut pengakuan si Kampret. Kalau menurutku, bisa saja laptop tersebut tertinggal entah dimana). Seminggu kemudian, si Kampret tersadar kalau Laptop nya tak bisa berjalan sendiri untuk kembali ke ruangannya. Mencari alasan dan siapa yang bisa disalahkan, si Kampret ini mendatangi ruanganku tercinta dan berusaha memberikan penegasan bahwa aku dan orang – orangku lah yang bertanggung jawab atas hilangnya laptop seminggu yang lalu. Saat kutanya si Pierre mengapa si Kampret baru complain setelah seminggu berlalu, jawabannya hanya dua kata, “he forgot” kata Jean Pierre.

Mungkin si Kampret ini terlalu kaya, sehingga bisa melupakan laptopnya setelah hilang selama seminggu. Aku mungkin akan sedikit bersimpati, jika dia bersikap lebih ramah, apalagi saat mendengar khabr dari boss si Kampret bahwa si Kampret harus bertanggung jawab atas hilangnya laptop dan harus mengganti dengan uangnya sendiri. Namun, dengan gaya bak pangeran dari kahyangan, rasanya tak ada simpati yang perlu diberikan.

Dua hari setelah kejadian tersebut, Jean Pierre masuk ke ruangan sambil tersenyum tertahan. Penasaran dengan sikapnya, aku menanyakan apa penyebab dia menjadi begitu bahagia.

“Really sorry for this, Nurul. I don’t mean to be cruel. But do you still remember the proud guy who came to our office two days ago? The one who complained that he lost his laptop in our conference room?”tanyanya

“How could I forget?” jawabku.

“He just fell down outside. And all of his clothes are full with the mud now. Can you imagine how shame he was? And nobody helped him. I’m so sorry you missed that accident,” dan dia tertawa terkekeh kekeh.

Sama sekali tak berniat mensyukuri. But, I’m just human. Mengingat tingkah kasarnya dua hari yang lalu kepadaku dan Jean Pierre, mau tak mau aku tersenyum juga. Tuhan memang maha adil. Selalu ada balasan bagi setiap sikap dan perbuatan yang dilakukan makhluk Nya.

20 thoughts on “Secuil Kisah Seorang Kampret Putih

  1. Halo Nurul,

    Salam kenal ya! Wah salut dengan Nurul yg begitu sabar menghadapi orang itu. Kalo aku mungkin akan langsung bilang, “Sir, behave! The whole world doesn’t belong to you!” Tapi jangan diikuti ya saranku🙂

    Salam and take care ya!

  2. Nurul Fitri Lubis

    Halo Tari..
    Salam Kenal juga.. Iya, harusnya orang begitu diteriakin seperti yang kamu bilang…Tapi, biasanya aku suka bingung mo ngomong apa kalau tiba2 di datangin begitu… Jawabannya selalu sok diplomatis.. Abis itu baru nyesel dan mikir, “kenapa orang itu tadi ngga sempat aku maki ya..”.. ha ha ha ha..
    Salam juga, dan take care🙂

  3. Lely Nahari

    Hahahahaha…
    Curhat ne ya kak….
    Seng sbar ya sis.;
    Dpt bozz kek gitu…
    Semangat….semngat….
    …Btw sikampret g berenang2 aja sexlian dilumpur..:)

  4. Luigi Pralangga

    Sing sabar ya, neng… kelakkuan berbagai kampret di mission memang ada yang begitu, sing waras ya ngalah dan kalau memang udah nyebelin bangt ya beranikandiri harus di confront sebab sikap dia itu sama sekali gak profesional. Tentunya secara diplomatis penyampaian-nya dimana saya yakin dirimu memang piawai. Hugs from Kuwait/UNAMI.

  5. Novi Harianti

    seru tulisannya sista, jadi ikutan sebel ma tu manusia (kampret maksudnya), kok bisa ya..lulus sbg pekerja kemanusiaan, padahal dia sendiri belum bisa memanusiakan manusia, hem..one day pasti kena batunya. cayo sis, tetep semangat..masih banyak org baik di sekelilingmu😉

  6. Tirahmah

    Kampreeeet goblooooooooooooookk…syukuriiiin Lo!

    Soooo typhical of those kind of people:
    1. Busy by planning their holiday, by the time one holiday finished they already busy in mind for the next one.
    2. tak bertanggung jawab, bahkan dengan… barang sendiri, they just dont bloody care unless udah kebakaran jenggot (terkesan sok sibuk, alias gabuk jalan kesana kemari, padahal karna gak tau mau ngerjain apa lol)
    3. Mengkambing hitamkan mereka yg tidak sama warna kulitnya.

    Btw i love these words: ‘Laptop nya tak bisa berjalan sendiri untuk kembali ke ruangannya. ‘

    On top of that, juga tetap tidk boleh kita lupa kalau tidak semua orang seperti si kampret dudul itu toh? Sabar ya darl, asshole is everywhere anyway, but great people are also available!🙂

    Ps: ingat gak yang dulu pernah aku kasih julukan ‘hantu’?? si ‘hantu’ tetangga kantor kita?

    Miss you alot!
    *hugsSee More

  7. Sari Siswa Purnama

    betul betul betul betulllll… sebel dengan orang2 yang merasa ras nya paling hebat. ditimpuk ntar benjol juga dia…

  8. Ade Ismaida

    yg penting kita lihat orang dari pribadi orangnya sendiri,jangan rasnya,agamanya dll,dll, karena aku jg pernah krj di lembaga kemanusiaan malah bangsa kita sendiri yg tak beradab & berlaku sangat biadab menurutku padahal sebangsa & seagama,…mungkin karena disana Nurul merupakan minoritas jadi berfikiran seperti itu & kadang kesalahan bangsa kita juga salah menganggap ras lain lebih hebat, mungkin karena kemiskinan & keterbelakangan bangsa kita nasiiiib nasiiiib, tapi aku bangga dengan Nurul bisa beradabtasi dilingkungan seperti itu, apalagi dia bodoh, dari situ aja dah kelihatan bodohnya tak bisa mengurus diri sendiri dah laptopnya hilang jatuh pula karena tak biasa melihat sekelilingnya, apalagi melihat kebawah,& ternyata orang2 juga banyak yg tak suka dengan dia, terlihat dari tak ada orang yg mau menolongnya, jd mungkin aja dia ngumpul2 sama temen2 dia yg kita lihat dekat eeeh ternyata temen2nya itu juga tak suka dengan dia hehehe….

  9. Tavip Kurniadi Mustafa

    gitu lah kalo kampret-kampretan, lupa kalo nggak punya sayap……aku juga pernah menjumpai manusia…eh..kampret yg sejenis waktu kerja dgn ngo di meulaboh.

  10. Elvin Saragih

    @iwan: loe kok bawa2 sambel gw seh ??? entar kerindu-rinduan loh…
    @nurul: kasih ke nyi blorong aja rul… biar di cium trs keracunan ;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s