“Aku Bukan Apa – Apa”


Pada suatu Sabtu malam, di negeri antah berantah saat aku tengah bertugas, seorang teman yang berasal dari sebuah negara di Eropa, sebutlah namanya Mike, mengundangku untuk menghadiri sebuah pesta perpisahan salah seorang temannya. Kesempatan yang terlalu baik untuk dilewatkan, mengingat tak banyak yang dapat dilakukan untuk menghabiskan akhir pekan. Setelah bertelepon dan saling menanyakan khabar, aku setuju untuk menghadiri pesta dan Mike setuju untuk menjemputku.

Si pemilik pesta adalah teman senegara Mike, yang kebetulan bekerja di organisasi yang mirip (serupa namun tak sama) dengan tempatku bekerja. Dikarenakan kontrak kerja yang sudah berakhir dan seribu alasan lainnya, si teman memutuskan pulang ke negaranya setelah beberapa waktu mengabdikan diri di negeri ini. Aku tidak akan membahas banyak hal tentang pesta ini. Karena bukan itu hal yang ingin kuungkapkan disini. Adapun yang akan kutuliskan adalah sekelumit percakapanku dengan Mike.

Aku belum lama mengenal Mike. Si Mike ini ceritanya begitu tergila – gila dengan Indonesia dikarenakan selama beberapa tahun sebelumnya pernah tinggal di Indonesia dan mengalami saat – saat indah di sana. Prustasi karena tak menemukan Indonesian Embassy di Kinshasa, akhirnya dia menggunakan kecanggihan teknologi untuk mencari komunitas Indonesia yang tinggal di Kinshasa dan menemukan namaku di salah satu situs. Setelah saling mengirim email, kami bertemu, dan akhirnya berteman.

Si Mike ini personal yang baik, ramah dan selalu menghargai pendapat orang lain. Di tengah pesta, kami pun terlibat perbincangan seru, tentang lika liku hidup di Kinshasa. Bagaimana repotnya mengatur orang – orang disini, bagaimana susahnya merubah pola pikir sebagian besar orang yang selalu menganggap uang di atas segalanya, dan akhirnya tibalah di suatu perbincangan dimana kami membahas tentang hidup. Tentang rencana – rencana ke depan, dan sebagainya. Di tengah – tengah perbincangan tentang hidup ini, si Mike begitu antusiasnya bercerita bagaimana dia sudah tak sabar untuk liburan. Betapa tak sabarnya dia untuk kembali ke negaranya untuk merayakan natal bersama keluarga. Betapa natal adalah waktu yang begitu berharga baginya. Betapa dia takut akan melewatkan Natal bersama keluarga dikarenakan cuaca di Eropa sedang tak bersahabat dan badai salju bisa datang kapan saja.

Hingga tibalah aku di satu pertanyaan, “Mike, tenang. Natal akan tiba sebentar lagi. Kamu pasti bisa tiba dengan selamat. You’re not gonna miss it. So, tell me. Kamu Khatolik atau protestan” tanyaku.

“Aku bukan apa – apa Nurul,” jawab si Mike tenang. Seakan ingin meyakinkanku, si Mike kembali mempertegas penyataannya, “Aku bukan apa – apa. Aku bukan Katolik dan bukan Protestan. Aku bukan apa – apa. Agama menurutku hanya sebagai identitas. Dan aku tak mau memusingkan masalah identitas ini. At this moment, I’m just trying to be good, trying to be nice person and not put religion on it”

Aku tidak akan menghakimi pernyataan si Mike. Tulisan ini kutuliskan hanya pengungkapan rasa penasaran betapa semakin berkembangnya paham yang tidak mempercayai Dia yang di atas. Salah seorang teman baik juga baru mengungkapkan bahwa dalam lima tahun terakhir bisa dihitung dengan jari tangan berapa kali dia mengunjungi gereja. Sementara salah seorang kolega, Jason, begitu aku memanggilnya, begitu mengagumi kekuatanku saat menjalani puasa di bulan Ramadhan, dan setuju seratus persen bahwa kegiatan berpuasa sangat baik bagi kesehatan. Begitupun, saat kutanya bagaimana puasa yang dijalankan berdasarkan agamanya (aku tahu pasti dalam agama yang dianut sebagian besar warga di negara tempat dia berasal, ditemukan juga ritual berpuasa), dia menjawab dengan pasti, “Kadang aku berpuasa. Tapi bukan karena agama. Aku Atheis.”

Sekali lagi, tulisan ini bukan untuk menghakimi siapapun. Ini hanyalah pengungkapan rasa penasaran yang ada di di dalam hati. Sudah begitu menurunkah rasa percaya manusia kepada Tuhan? Agama bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Selama rasa saling menghormati dan toleransi masih ada di antara manusia itu sendiri. Sebagai umat muslim, aku diharuskan menghargai perbedaan – perbedaan yang menyangkut agama. Bagimu agamamu, bagiku agamaku.

2 thoughts on ““Aku Bukan Apa – Apa”

  1. hai, tulisanmu ini cerita yang menarik, mudah-mudahan lebih banyak orang Indonesia lagi yang berpadangan seperti dirimu. Bicara soal agama dan keyakinan, aku percaya Tuhan tapi aku tidak percaya agama (sebagai lembaga) karena selama ini agama digunakan untuk mengatasnamakan TUHAN dan digunakan untuk legalisasi tindak kekerasan..

    Salam damai sejahtera,..

    G

  2. Nurul Fitri Lubis

    Hi Gentry.. Terima kasih sudah menyempatkan diri membaca tulisan saya…
    Tidak masalah seseorang menganut agama apa.. Selama saling menghargai dan menghormati…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s