Berpetualang di Negeri Mr. Nelson Mandela


Hooray. Tiba juga saat untuk meninggalkan Kinshasa, meskipun hanya sementara. Setelah mengalami saat – saat menegangkan dan membosankan, Approval Leave Request itu akhirnya nangkring juga di Inbox. Rasanya seperti dapat undian saja. Bagaimana tidak. Setelah 2 kali skip RnR, datang juga saat untuk melemaskan syaraf – syaraf di kepala. Tujuanku kali ini adalah kembali ke negeri tercinta, Indonesia dan akan transit di South Africa berhubung rute perjalananku adalah Kinshasa – Johannesburg – Dubai – Kuala Lumpur – Medan. Tak kusia – siakan kesempatan untuk stop over di South Africa demi melihat keindahan negeri Mr. Nelson Mandela.

Aku berangkat tanggal 20 Oktober 2010. Sejak pukul 6 pagi aku sudah bersiap – siap mau berangkat. Padahal, bus dari travel unit yang akan mengantarku ke bandara baru datang pukul 9 nanti. Setelah menunggu dengan penuh ketegangan (harap – harap cemas, kali aja driver nya lupa), tibalah bus yang sudah dinanti – nanti itu. Perjalanan ke airport tidak mengalami hambatan yang berarti. Saat itu bukan jam sibuk dan nggak ada yang namanya macet. Tiba di Bandara Ndjili. Saatnya perjuangan dimulai. Well, kenapa aku bilang perjuangan? Bagaimana tidak. Bandara ini masih jauhhhh kualitasnya dari standar Bandara Internasional. Tidak ada Air Conditioning dan tidak ada mesin X Ray. Jadi, setiap melewati pos pemeriksaan bagasi, aku harus mengangkat koperku dengan berat 20 Kg itu ke atas meja. Setelah itu si penjaga akan mengobrak abrik isi koperku (kesel setengah mati. Kuhabiskan semalam suntuk untuk menyusun pakaian – pakaian itu agar rapi di dalam koper), dan akhirnya memintaku untuk menurunkan koper. Kebayang repotnya. Ada tiga pos yang di lewati dan panasnya minta ampun ditambah dengan berbagai macam aroma.

Tapi, rasa lelah itu tergantikan begitu pesawat tinggal landas. Apalagi setelah mendarat di OR Tambo International Airport. Bandara ini lumayan keren. Dan banyak toko – toko duty free untuk cuci mata. Aku tidak menghabiskan banyak waktu di sini. Semua proses berjalan lancar. Mulai dari imigrasi hingga bagasi. Hari sudah mulai gelap ketika seseorang dari penginapan tempatku menginap, menjemputku di bandara. Malam ini aku akan menginap di Johannesburg dan akan melanjutkan tujuan ke Cape Town keesokan harinya. Cape Town adalah kota yang menjadi tujuan utama pesiar kali ini.

               Ini Dia, Kota Cape Town

Wow keren. Cape Town memang keren. Begitu pesawat mendarat, aku sudah disambut dengan pemandangan indah dengan latar belakang lautan Atlantik dan Table Mountain yang terkenal itu. Disebut Table Mountain karena bentuk gunungnya memang menyerupai meja (table). Suasananya benar – benar berbeda dengan negara Africa yang pernah kukunjungi sebelumnya. Semuanya serba teratur, rapi, seperti kota – kota di Eropa. Sebenarnya tidak perlu heran. Di masa kekuasaan apartheid, South Africa di kuasai oleh orang – orang kulit putih yang berasal dari Belanda dan Inggris. Dikarenakan hari sudah terlalu sore, pada hari pertama tiba di Cape Town aku tak terlalu banyak melakukan aktifitas. Hanya melihat – lihat situasi di sekitar Cape Diamond Hotel, tempat aku menginap. Satu lagi keistimewaan di South Africa. Semua air yang mengalir melalui kran atau water tab’, sudah layak minum. Alias tidak perlu dimasak. Mikir, kapan ya Indonesia bisa begitu.

Table Mountain. Gunung yang Bentuknya Seperti Meja

Orang – Orang Menyebut Ini ‘Tiger Head’. Ngga Ada Mirip – Miripnya Sama Singa

Salah Satu Bangunan di Cape Town

Salah Satu Gereja di Cape Town

Rumah dengan Gaya Kolonial

Ada Kincir Angin Juga Lho!

Oh ya. Liburan kali ini aku tidak sendirian. Tapi bersama house mate ku, Sari. Untuk mengelilingi Cape Town, kami akan menggunakan bus sight seeing yang disebut dengan bus Hop On Hop Off. Bus ini akan melewati sebagian besar tempat – tempat menarik. Hanya dengan membayar 30 USD untuk dua hari, kita bebas naik turun bus ini. Tujuan pertama kami adalah Table Mountain. Namun, dikarenakan cuaca yang tidak terlalu bersahabat, hujan gerimis dan agak berangin, maka Table Mountain ditutup untuk sementara waktu. Berdoa – doa dalam hati, semoga besok cuaca akan lebih baik. Cuaca hari itu memang dingin banget. Walaupun sudah masuk musim semi, di beberapa lokasi suhu masih mencapai 10 derajat Celcius. Tentu saja aku yang sudah terbiasa dengan suhu udara nan panas di Congo menggigil tak henti – hentinya, dengan jacket melekat terus – terusan. Bahkan ke pantai pun, tuh jacket tetap aku pakai.

Selama di Cape Town, ada dua pantai yang aku kunjungi. Camps Bay dan Hout Bay / Mariner’s Wharf. Sebenarnya sih, pantai – pantai di Indonesia nggak kalah bagus. Tapi, suasananya memang berbeda dengan pantai – pantai di sepanjang Samudera Hindia yang biasa kusaksikan. Dengan pasir putih dan batu karang besar di sepanjang pantai, Camps Bay adalah tujuan favorit para turis lokal. Terutama di bulan Desember pada saat musim panas tengah berlangsung. Jika beruntung, kita juga bisa melihat paus di pantai ini. Di sepanjang pantai juga terdapat rumah – rumah elit bergaya minimalis dan colonial. Jika di Camps Bay kita bisa melihat pantai dengan rumah – rumah elit di sekelilingnya, maka Mariner’s Wharf atau Hout Bay adalah kebalikannya. Mariner’s Wharf adalah perkampungan nelayan. Jika ingin melihat kehidupan nelayan di Cape Town maka disinilah tempatnya. Kampung ini begitu teratur dengan latar belakang pegunungan. Puluhan kapal layar berlabuh di sepanjang dermaga. Jangan bayangkan kampung ini kumuh seperti kampung nelayan kebanyakan di Indonesia.

 

Camps Bay

Hout Bay atau Mariner’s Wharf

Sisa hari itu ku habiskan dengan mengunjungi Castle of Good Hope dan Iziko, South African Museum. Ketika di museum sempat berfoto dengan anak – anak Africa yang lucu – lucu. Oh ya. Disini anak – anak bertingkah seperti layaknya anak – anak normal lain yang selalu minta difoto jika melihat kita lagi pegang kamera. “Take my picture, Aunty” atau “Let’s have a picture with me, Aunty”. Begitu teriak anak – anak itu. Sangat berbeda dengan anak – anak yang berasal dari negara tempat aku bertugas saat ini. Jangankan bisa berfoto bersama, melihat kita memegang kamera saja, mereka sudah siap – siap melancarkan serangan untuk meminta uang.

Castle of Good Hope

Dengan Replika Kerangka Ikan paus di Iziko South African Museum

Keesokan hari udara agak mendung, namun tak berangin. Semoga bisa mengunjungi Table Mountain. Saat tiba di gerbang masuk, barisan penumpang sudah begitu panjangnya. Setelah berdesak – desakan sampai juga di loket yang menjual tiket untuk cable car. Ada dua cara untuk naik ke puncak Table Mountain. Dengan cable car atau climbing. Yang pertama, jelas jadi pilihanku. Tiba di puncak Table Mountain. Wow. Keren. Meskipun berawan, kami masih bisa menyaksikan keindahan kota Cape Town dari atas puncak gunung. Awan – awan berseliweran. Segera aku mengabadikan keindahan Table Mountain dengan kameraku, si Canoy. Temanya ‘Walk in the Clouds’. Tapi ini ngga ada hubungannya dengan film yang dimainkan si aktor ganteng Keanu Reeves itu lho . Di atas juga terdapat caffe yang menyediakan kopi dan makanan ringan.

 

Kalau Mau Beli Tiket Cable Car, di Sini Tempatnya

Cable Car yang Membawaku ke Puncak Table Mountain

Salah Satu Hasil Jepretan di Puncak Table Mountain

Di Puncak Table Mountai.. Wuih… Dingin….

Walk In The Clouds

Kirstenbosch Botanical Garden dan World of Bird adalah tujuan berikutnya. Di kedua tempat ini, kita bisa menyaksikan bermacam – macam spesies tanaman dan berbagai jenis burung di Africa. Bahkan saat di World of Bird aku sempat melihat Merkat . Tapi, jangan dekat – dekat dengan si Merkat ini. Karena mereka bisa menggigit.

Salah Satu Hasil Jepretan di Kirstenbosch Botanical Garden

Salah Satu Spesies Burung di World of Bird

Ini Dia Si Merkat

Table Mountain sudah dilihat. Sekarang saatnya pergi ke Cape Point. Tempat dimana Samudera Hindia dan Atlantik bersatu. Tempat ini juga lokasi paling selatan benua Africa. Menuju ke tempat ini, kami harus menggunakan jasa biro perjalanan. Tidak terlalu menyenangkan, sebenarnya. Namun apa daya. Tempat ini tak bisa dicapai dengan bus Hop On Hop Off. Bisa dikatakan perjalanan ke Cape Point tak terlalu menyenangkan. Hujan turun dengan derasnya. Sangat deras malah, hingga aku tak bisa mengambil foto – foto menarik. Oh ya, satu lagi. Jika ingin ke Cape Point, jangan mengharapkan melihat garis sebagai batas di antara kedua Samudera itu . Namun kekecewaanku sedikit terobati saat mengunjungi Simon Town. Disana ada pantai yang disebut dengan Boulder Beach. Pantai ini adalah koloni dari burung – burung penguin. Rasanya menyenangkan bisa bermain dengan penguin yang lucu dan imut.

Dalam Perjalanan Menuju Cape Point. Lihat Konstruksinya!!

 

Cape Point.. Anda Bisa Melihat Garis?

Aku dan Penguin

Penguin – Penguin Lucu

Jika mengunjungi Cape Town, ada satu tempat lagi yang hukumnya wajib untuk dikunjungi. Robben Island namanya. Untuk menuju kesana, kita harus menggunakan kapal dan akan memakan waktu perjalanan selama satu jam dari Cape Town. Kita bisa membeli tiketnya di V&A Waterfront. Sedikit cerita tentang V&A Waterfront. Tempat ini adalah pelabuhan. Di sekelilingnya terdapat hotel, pusat perbelanjaan, dan berbagai atraksi menarik lainnya. Clock Tower juga berada disini.

 

V & A Waterfront

Kembali ke Robben Island. Disana ada tempat yang difungsikan sebagai penjara saat masa Apartheid. Bahkan, Mr. Nelson Mandela juga pernah menghabiskan masa hidupnya disana selama 18 tahun, di dalam sel sempit berukuran 2 x 2 meter dengan hanya beralaskan selimut tipis. Bayangkan, bagaimana dinginnya tempat itu saat musim dingin berlangsung.

 

Aku di Robben Island

Aku di Depan Bekas Penjara Politik, Robben Island

Mr. Nelson Mandela Berada di Sel ini Selama 18 Tahun

Ada satu keunikan yang kurasakan saat mengunjungi Cape Town. Orang – orang tampaknya begitu familiar dengan Indonesia. Hal yang agak ganjil kurasakan. Soalnya, tiap kali berpetualang, jika melihat wajah Asia ku, orang – orang akan mengira aku dari Malaysia. Namun disini berbeda. Ketika disebut Indonesia, mereka kelihatan familiar sekali. Selidik punya selidik, ternyata di Cape Town ada perkampungan khusus orang Indonesia. Namanya Bo-Kaap. Konon, zaman dahulu kala mereka di bawa oleh Belanda ke Cape Town untuk dijadikan budak. Sebenarnya mereka tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari Malaysia. Tapi, mungkin kuantitas orang Indonesianya lebih banyak. Kampung ini sangat unik dengan bangunan yang berwarna warni. Konon, saat mereka menjadi budak, mereka dilarang untuk memakai pakaian berwarna warni. Hanya boleh memakai warna hitam dan putih. Saat apartheid jatuh, mereka merayakannya dengan mengecat rumah mereka penuh warna.

Karena itu, wajah – wajah Asia bertampang melayu sangat banyak ditemukan di Cape Town. Dan beberapa bahasa yang digunakan, sebagian masih menyerap bahasa Indonesia, seperti ‘kramat’. Bahkan, aku sempat dikira sebagai penduduk lokal. Saat melakukan transaksi pembayaran, si penjual menggumamkan sesuatu yang tak kumengerti. Baru setelah aku bertanya dalam bahasa Inggris, dia berseru, “Ooo. Sorry. I thought you’re South African.”

Ini Dia, Kampung Bo-Kaap. Tapi, Foto Ini Bukan Hasil Jepretanku. Berasal dari www.vayama.com

Cape Town memang menawan. Dengan suasana yang tenang, tata kota yang rapi, bangunan – bangunan bergaya colonial, tempat ini selalu menjadi lirikan wisatawan asing. Jika melihat suasana kota nan tenang ini, rasanya tak terbayangkan ada orang miskin yang tinggal di dalamnya. Namun, jika kita lebih melihat ke dalam, kita akan melihat sisi lain Cape Town. Ada satu kampung yang disebut dengan Imazemu Yethu, yang artinya Pengorbanan dalam bahasa lokal. Kampung ini adalah kampungnya orang Africa. Sangat kontras, karena terletak berdekatan dengan sebuah kawasan elit. Jika masuk ke kampung ini, kita bisa melihat ‘The Real Africa’, dengan rumah – rumah kumuh bersusun, sanitasi yang seadanya, dan masyarakat yang terpinggirkan. Sebagian besar penduduknya adalah para imigran dari negara – negara Africa lainnya, seperti Somalia, Zambia, bahkan Congo. Di sepanjang jalan tampak anak – anak muda yang tak punya pekerjaan duduk sambil memikirkan nasib. Rasanya miris. Ditengah kota yang cantik dan elegan ini, masih ada orang – orang yang hidup dengan kemiskinan.

 

Imazemu Yethu, Sisi Lain Cape Town

Mama Africa di Imazemu Yethu

Tak cukup enam hari untuk mengelilingi seluruh sudut kota. Namun, cukuplah untuk melihat keindahan kota Cape Town. Kami kembali ke Johannesburg dan menghabiskan waktu selama dua hari disana. Tak banyak yang bisa dilakukan di Johannesburg. Kota ini tak terlalu ramah dengan pengunjung dan rawan akan perampokan bersenjata. Bahkan pusat perbelanjaan pun hanya buka hingga pukul 5 sore saja. Urusan pusat perbelanjaan ini juga terjadi di Cape Town. Jadi, jika ingin berbelanja, datanglah di siang hari. Begitupun, kami masih sempat mengunjungi Pretoria, ibukota Africa Selatan. Jika mengunjungi Africa Selatan pada saat musim semi, Pretoria wajib dikunjungi. Karena di kota ini terdapat pohon Jacaranda, yang pada saat musim semi tidak memiliki daun sehelai pun. Semua daun digantikan oleh bunga berwarna ungu.

Union Building, Pretoria. Di sini Mr. President Bekerja

Pohon Jacaranda, Pretoria

Cukup sudah kunjungan ke Africa Selatan. Sekarang saatnya mengejar pesawat untuk kembali ke tanah air. Indonesia, I’m Coming.

13 thoughts on “Berpetualang di Negeri Mr. Nelson Mandela

  1. desi

    nice experience.. hopelly do like u hve done.. but now.. i’m really like indonesia n hve no money to explore another country…hehhehe…
    Indonesia its very beautiful place.. do u agree with my me?

    1. Nurul Fitri Lubis

      I’m totally agree.. I wish I had chances to explore Indonesia first. That country is sooooo beautiful.

  2. Pingback: Milis Archive : Komunitas Backpacker Indonesia » Berpetualang di Negeri Mr. Nelson Mandela

  3. Sari Tambun

    amazing adventure…soo priceless ….🙂 pics nya keren2 banget… keep writing ya mba, terutama untuk places yg orang banyak ga tau kL didalamnya banyak keindahan2 just like this Cape Town😉

  4. Pingback: Official Website Komunitas Backpacker Indonesia » Blog Archive » Afrika Selatan – Kruger National Park, Cape Town, Johannesburg » Official Website Komunitas Backpacker Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s