Madam…Kontrak Saya Kok Tidak Diperpanjang??????


Hari ini melegakan sekaligus menyedihkan bagi sebagian orang di unit tempatku bekerja. Hari ini adalah hari terakhir mereka bekerja, dengan kata lain hari ini kontrak kerja mereka telah habis masa berlakunya. Setelah menyelesaikan pekerjaan terakhir, mereka berbondong – bondong menuju kantor administrasi untuk mengambil gaji terakhir dan mendatangani kontrak baru bagi yang beruntung.

Semenjak pagi, beberapa staff telah mendatangiku. Mencoba menyakan apakah mereka akan tetap bekerja atau akan segera dirumahkan. Aku menjawab dengan jawaban bijaksana, “Saya tidak tahu. Dikarenakan untuk urusan kontrak kerja, semuanya di luar kendali saya. Itu adalah urusan human resources”.

Jawabanku ada benarnya. Namun tidak sepenuhnya benar. Memang benar, untuk urusan kontrak, aku sama sekali tidak dibenarkan untuk turut campur. Sudah ada bagian tersendiri yang menangani hal tersebut. Namun, begitupun, aku sudah bisa menebak hasil akhir mengenai kontrak tiap – tiap orang tersebut. Sebagai supervisor mereka, aku lah yang memberikan penilaian dan evaluasi terhadap pekerjaan yang mereka lakukan. Dan, sebagai supervisor mereka, aku pulalah yang memberikan penilaian akhir. Biarpun keputusan akhir bukan di tanganku, namun tetap hasil evaluasi ku merupakan penentu akan nasib mereka.

Dalam memberi penilaian, aku berusaha menilai seobjektif mungkin. Menjauhkan segala urusan personal. Aku sudah menekankan kepada mereka berulang kali. Nilai bagus bukan datang dariku, namun dari mereka sendiri. Jika mereka bekerja bagus, nilai itu akan melejit dengan sendirinya. Namun, jika tidak? Hanya keberuntunganlah yang membawa mereka untuk tetap bisa bekerja.

Beberapa menanggapi dengan serius. Mereka bekerja giat. Mengerjakan kewajiban mereka dan melaakukan secara suka rela jika aku meminta mereka melakukan satu pekerjaan tambahan. Beberapa menanggapi dengan ogah – ogahan. Seakan – akan yang kukatakan adalah angin lalu. Mereka bekerja seperti biasa. Datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan sebagaimana semestinya, serta menolak dengan jelas jika aku meminta melakukan pekerjaan tambahan (mereka lupa kalau aku mentoleransi saat mereka terlambat bekerja). Namun, semuanya ada di dalam catatanku. Berapa kali mereka terlambat dan berapa kali mereka menolak jika aku meminta mereka melakukan sesuatu.

Hingga tibalah saat itu. Kontrak kerja mereka hampir berakhir. Dan departemenku perlu mengadakan evaluasi untuk meningkatkan kinerja para pekerja, Boss ku mulai mengumpulkan evaluasi pekerja yang kukirim setiap minggu. Dan pada akhirnya memintaku mengirim penilaian akhir. Butuh waktu lama buatku untuk memutuskan hal ini. Well, sebenarnya dengan mata terpejam pun aku sudah bisa mengatakan siapa – siapa saja yang berhak diperpanjang dan siapa – siapa saja yang tidak. Namun, sebagai manusia yang terlalu bertoleransi, aku masih memikirkan nasib mereka sesudahnya. Kepalaku dipenuhi dengan pertanyaan, “Bagaimana kalau kontrak mereka tidak diperpanjang? Apa yang akan terjadi dengan keluarganya? Anaknya masih kecil – kecil?”

Namun, jika aku mempertahankan mereka, akan menjadi tekanan buatku juga. Bagaimana aku bisa bekerja dengan orang yang malas dan tak bisa bekerja sama. Setelah menimbang – nimbang, dan akhirnya memutuskan, ku klik icon send di email ku.

Setelah mereka mendapatkan gaji terakhir, bermacam – macam respon yang kuterima dari para staffku.Ada yang mendatangiku dengan mengucapkan terima kasih atas evaluasi yang kuberikan (meskipun sudah kujelaskan semua hasil evaluasi itu tergantung dari mereka sendiri). Ada yang menerima dengan bijak. Ada yang memandangku dengan sinis, padahal jelas – jelas dia bukan termasuk kelompok staf yang kontraknya tidak diperpanjang. Dan ada yang tidak bisa menerima dan jelas – jelas berteriak, “MADAM. KONTRAK SAYA KOK TIDAK DIPERPANJANG?”

Kejadian ini merupakan pengalaman berharga bagiku. Selama ini aku tak pernah tahu apa yang dirasakan para manajer saat harus menjelaskan kepada para staffnya dimana si staff tidak dibutuhkan lagi. Aku masih ingat dulu sekali, saat kontrak seorang teman tidak diperpanjang oleh manajerku. Untuk memberikan rasa toleransi, aku ikut – ikutan membenci si manajer. Saat itu aku masih sangat muda. Dimana aku hanya melihat si teman dari sisi bahwa dia adalah temanku. Sementara sang manajer tentu tahu sisi – sisi lain si teman yang berhubungan dengan pekerjaan. Dan sekarang aku tahu betul bagaimana perasaan sang manajer saat itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s