Zanzibar Nan Eksotis


Hooopla..

Akhirnya, bisa terduduk juga di pesawat setelah hampir tiga jam berdesak – desakan di counter check in. Benar – benar melelahkan. Aku tiba di bandara Jomo Kenyatta, Nairobi, sekitar pukul 05.30 pagi. Sebelum tiba, kupikir aku bisa melenggang dengan santai, mengingat hari masih pagi. Namun, aku salah besar. Saat aku tiba, aku melihat barisan antrian bak ular naga panjang bukan kepalang. Seorang wanita kulit hitam berumur sekitar awal tiga puluhan, mengomel tiada henti ketika aku memasuki baris antrian.

“It’s gonna be the last time. It’s gonna be the last time,” katanya berulang – ulang.

“What happened?” tanyaku penasaran.

“Kau tahu?” jawabnya masih mencerocos dengan bahasa Inggris beraksen Africa.

“Aku sudah menunggu hampir dua jam. Ada dua pintu untuk masuk ke gerbang keberangkatan untuk pesawat Kenya Airways. Tapi, mereka hanya membuka satu pintu. Dan kau lihat pesawat yang ituuuu…, “ dia menunjuk sebuah pesawat yang baru saja lepas landas. “Seharusnya aku berada dalam pesawat itu,” katanya dengan kekesalan yang tak ditutup – tutupi.

“Apa? Kau sudah disini hampir dua jam, dan masih belum masuk bandara?” tanyaku mulai panik. Pesawatku akan lepas landas dua setengah jam dari sekarang. ”Apakah kejadian seperti ini sering terjadi?” tanyaku lagi.

“Aku tak tahu. Ini pertama kalinya aku ke Nairobi. And it’s gonna be the last time, “

Setelah 20 menit mengantri di luar, seorang petugas bandara mendatangi antrian. Dia memberitahu bahwa gerbang yang satu lagi telah dibuka. Segera kutarik koper merahku dan berlari menuju gerbang yang ditunjuk. Sebuah antrian tak kalah panjang telah menanti disana. Rasanya tak sabar menunggu jalannya antrian yang super duper lamban. Setelah hampir setengah jam, aku berhasil memasuki bandara. Namun, perjuangan belum selesai. Jika di luar antrian sudah begitu panjang, ketika memasuki ruangan untuk check in, OMG, tak terkatakan panjangnya. Aku turut mengantri bersama sekumpulan remaja.

“Where are you going?” tanyaku basa basi pada satu gadis remaja berambut pirang. Berharap dia satu tujuan denganku. Dengan begitu, aku bukan satu – satunya penumpang yang akan ketinggalan pesawat jika antrian ini tak bergerak.

“I’m going to London,” jawabnya ramah. “And our flight will fly three hours from now,” jawabnya lagi. Oh la la la. Anda cukup beruntung, Miss.

Tiga puluh menit berlalu. Namun aku masih belum mencapai counter check in. Oh. Kenapa lamban sekali orang – orang ini bekerja. Tiga puluh menit dari sekarang, pesawatku akan tinggal landas. Meninggalkanku disini. Aku sudah mencoba untuk pasrah. Seburuk – buruknya keadaan, semoga saja aku masih bisa menemukan tiket untuk penerbangan berikutnya. Aku sedang mengira – ngira sisa uang di dompet (siapa tahu harus beli tiket pesawat baru), saat seorang officer datang sambil berteriak – teriak nyaring.

“Who’s flying to Rome?” teriaknya. Sepasang muda mudi langsung tancap gas melewati antrian.

“And who’s flying to Zanzibar?” teriaknya lagi.

“I’M FLYING TO ZANZIBAR,” jawabku tak kalah nyaring. Segera kuambil koperku dan memotong garis antrian, menuju counter check in. Sepuluh menit berlalu ketika akhirnya sang petugas counter memberikan tiket boarding pass kepadaku. Masih ada satu antrian lagi. Imigrasi. Alhamdulillah tak memakan waktu lama. Sepuluh menit lagi. Aku melihat gerbang keberangkatanku. Akhirnya.

Ternyata gerbang keberangkatan tersebut diperuntukkan untuk beberapa penerbangan. Aku mulai bingung lagi, dikarenakan informasi yang tak jelas. Kelihatannya orang – orang ini akan berangkat ke Daressalam. Tak ada satupun yang menunjukkan gejala – gejala untuk berlibur ke Zanzibar. Aku masih celingak celinguk, mencari petugas yang bisa ditanyai (harap – harap cemas.. siapa tahu pesawatku sudah tinggal landas), ketika seorang cowok ganteng mendatangiku.

“Hi. How are you?” tanyanya sok akrab. Aku sudah mesam mesem kesenangan.

“Oh… I’m uhmm fine,” jawabku gelagapan. Tak menyangka ditegur si ganteng.

”Where are you flying to?” tanyanya lagi.

“Oh. I’m flying to Zanzibar. But I’m just wondering if it’s a right gate since there are some people here will fly to Daressalam,”

“Oh. So do I. I’m going to Zanzibar as well. I think, this gate is supposed for some different flights,”

Dan bercakap – cakaplah kami selama menunggu panggilan untuk memasuki pesawat. Ternyata dia seorang British yang akan melakukan perjalanan bisnis ke Zanzibar (tidak semua orang yang pergi ke Zanzibar ingin berlibur). Dia juga memuji bahasa Inggrisku (pujian standar plus basa basi kalau baru berkenalan dengan orang yang tidak berasal dari negara berbahasa Inggris), dan ingin pergi ke Bunaken dalam waktu dekat. Mendengarnya, aku agak – agak senang. Negeriku ternyata cukup terkenal🙂

Perjalanan dari Nairobi menuju Zanzibar, mulus sekali. Cuaca sangat cerah. Sama sekali tidak ada turbulence. Saking cerahnya, aku sempat menyaksikan indahnya Kilimanjaro, gunung tertinggi di benua Africa, dari dalam pesawat. Saat turun dari peswat, aku bisa merasakan angin laut menerpa wajahku. Segar sekali. Mengingatkanku saat pertama kali aku mendarat di pulau Nias. Saat memasuki airport, seorang wanita tengah baya menanyakan vaksin yellow fever ku. Seperti di Congo, vaksin yellow fever adalah syarat mutlak untuk masuk ke semua bandara di RepublikTanzania.

 

Kilimanjaro, dari Atas Pesawat

Proses imigrasi tidak berlangsung lama. Untuk memasuki negara Republik Tanzania, tidak dibutuhkan visa in advance untuk warga negara Indonesia. Visa on Arrival bisa didapatkan ketika kita tiba, dengan membayar 50 USD untuk 90 hari. Begitu keluar dari post imigrasi, seorang dari Grand Palace Hotel Zanzibar tengah menungguku. Dia pasti Victoria, salah seorang staf hotel yang melakukan korespondensi denganku.

“Njambo, Nurul. Karibu. Welcome to Zanzibar,”

Bandara di Zanzibar

Pelayanan di Hotel Grand Palace Zanzibar benar – benar memuaskan. Petugasnya ramah dan sangat membantu. Bahkan, mereka menolak saat aku mencoba memberikan tips. Aku sempat bingung setengah mati. Baru kali ini kejadian selama aku di Africa, staff hotel menolak tips.

Zanzibar agak sedikit berbeda jika dibandingkan dengan wilayah lain di Tanzania. Hampir semua penduduknya bukanlah penduduk asli. Nenek moyang mereka berasal dari daerah jazirah Arab seperti Oman, Yaman, maupun Sudan. Meskipun beberapa dari mereka masih bisa berbahasa Arab, seperti penduduk di main land, bahasa Swahili adalah bahasa utama. Dengan hampir 95 persent penduduk beragama Islam, tempat ini dipenuhi dengan nuansa dan arsitektur Islami. Hampir semua wanita berpakaian panjang, menutup aurat dan mengenakan hijab.

Situasi di sebuah jalan di Stone Town, Zanzibar

Karena aku akan melakukan perjalanan seorang diri, alias solo traveller, aku memilih untuk tinggal di Stown Town, ibukota Zanzibar. Untuk melihat – lihat kota, aku membayar jasa seorang guide yang membantuku untuk melihat tempat – tempat menarik.

Hampir semua jalan di Stone Town berupa gang sempit. Disebut Stone Town, karena hampir semua bangunan terbuat dari batu. Gang – gang ini lebih menyerupai labirin panjang yang tak jelas dimana ujung pangkalnya. Jika tak familiar, tentu saja bisa tersesat dengan mudah. Hari pertamaku di Stone Town, kuhabiskan dengan berjalan kaki mengelilingi Stone Town (karena jalannya sempit, mobil tidak bisa masuk) dan mengunjungi Former Slave Market atau disebut juga dengan Pasar Budak. Sebelum berhasil diual, para budak dikumpulkan dalam ruangan sempit dan rendah. Mereka diikat dengan rantai besi. Jika air laut sedang pasang, maka seluruh ruangan akan penuh berisi air. Budak – budak tersebut akan tinggal terus di ruangan tersebut, menunggu sampai ada yang berminat membeli mereka.

 Di Sini Para Budak Ditempatkan Sebelum Dijual

Aku di Former Slave Market

Usai mengunjungi Former Slave market, aku melanjutkan perjalanan untuk mengeksplore Stone Town. Di setiap sudut jalan, ada saja orang – orang yang menyapa ramah. Ternyata tidak salah yang dikatakan beberapa teman. Penduduk Zanzibar memang terkenal ramah. Beberapa berusaha menawarkan karya seni dan cendra mata untuk dibeli. Di Stone Town, aku juga sempat melewati Mercury House. Rumah milik keluarga Freddy Mercury, sang vokalis Queen.

 

Seperti Ini Jalan – Jalan di Stone Town

Keesokan harinya aku melanjutkan perjalanan ke Prison Island. Menuju kesana, aku menggunakan jasa kapal nelayan, dengan membayar ongkos 30 USD untuk pulang pergi. Perjalanan tidak memakan waktu lama. Hanya sekitar setengah jam saja. Prison Island ini terkenal dengan kura – kura raksasanya. Pada saat aku tiba, kebetulan bersamaan dengan jam memberi makan kura – kura. Dan aku diizinkan untuk memberi daun slada kepada mereka. Lucu juga bermain dengan kura – kura ini. Sisa hari kuhabiskan dengan berjalan – jalan sepanjang pelabuhan sambil menyaksikan aktifitas sehari – hari para nelayan.

Prison Island

Aku Bersama Kura – Kura di Prison Island

Zanzibar memang terkenal dengan keindahan pantainya. Begitupun, aku lebih memilih untuk melihat – melihat perkampungan penduduk pantainya. Bisa dikatakan, keindahan pantainya tak jauh beda dengan keindahan pantai – pantai di Indonesia yang pernah kusaksikan. Jadi, bukannya bersantai di tepi pantai, aku memilih menyewa mobil untuk mengelilingi seluruh pulau.

Aku meninggalkan Stone Town pukul 9 pagi, menuju Mangapwani untuk melihat Slave Cave. Sayangnya, ketika aku tiba sang penjaga belum tiba. Aku melanjutkan perjalanan ke utara, menuju Nungwi, desa nelayan yang juga terkenal dengan pantainya. Aku tidak terlalu lama menghabiskan waktu di Nungwi. Hujan turun dengan lebatnya. Aku meninggalkan Nungwi, bergerak ke arah timur.

 

Dalam Perjalanan Menuju Mangapwani

 Desa Nungwi

Ada beberapa pantai menarik yang kutemui di bagian timur. Ada pantai Pwani, Pongwe, Uroa, Paje, Jambiani dan masih banyak pantai menarik lainnya. Seperti rumah – rumah di Stone Town, perumahan nelayan di bagian pesisir juga terbuat dari batu. Selama perjalanan, aku tidak mengalami kendala dengan kondisi jalan. Semua jalan mulus, tanpa lubang – lubang mengganggu. Sepanjang jalan, aku juga masih bisa menemukan beberapa orang suku Masai, yang berasal dari mainland. Ketika mengelilingi pulau, aku juga melewati Jozani Forest. Ada satu jenis spesies khusus yang hidup di sana. Namanya Monyet Colobus Merah. Monyet ini asli dari Zanzibar dan hampir mendekati kepunahan.

 Pantai di Jambiani

Sebuah Rumah di Desa Jambiani

Sisa hari di Zanzibar, kuhabiskan untuk bersantai di Stone Town. Masih ada beberapa objek yang belum sempat kukunjungi di hari sebelumnya. Berjalan kaki di sepanjang jalan Kenyatta Road, area water front yang merupakan area turis. StoneTown yang telah di deklarasikan sebagai warisan budaya dunia oleh salah satu badan PBB, UNESCO, merupakan salah satu kota paling unik di dunia. Campuran dari Moorish, Timur Tengah, India serta tradisi Africa dan arsitekturmya, sangat memungkinkan untuk mengeliling Stone Town selama beberapa hari sambil berbelanja, menikmati teh dan mengunjungi tempat – tempat bersejarah. Ada beberapa bangunan bersejarah yang menarik untuk dilihat. Seperti Museum Pallace, House of Wonders, African House, Arab Fort dan masih banyak lagi.

 

Situasi Jalan di Kenyatta Road

 Suasana di Pelabuhan dan Kawasan Waterfront

Pintu salah satu ornament arsitektur yang paling menarik di Zanzibar. Pintu – pintu disana hampir semuanya berbentuk arch (lengkungan). Pintu ini penuh dengan ornament – ornament indah. Kualitas dan ornament di pintu merupakan simbol kesejahteraan dan status sosial si pemilik rumah. Merupakan kebiasan masyarakat Zanzibar untuk membuat pintu terlebih dahulu sebelum memulai pembangunan rumah. Bentuk pintu ini dipengaruhi oleh arsitektur Timur Tengah, India, serta Persia yang banyak mendominasi perkembangan arsitektur di Stone Town.

 House of Wonders

Oh ya. Selama perjalanan di Zanzibar, ada juga kejadian lucu yang menhampiriku. Saat aku tengah menikmati matahari terbenam di ufuk barat, datanglah seorang pria mendekatiku. Si pria ini penduduk setempat. Karena melihatku sendirian, dia mencoba beramah tamah (SKSD). Dan pada akhirnya terjadilah percakapan seperti ini.

Dia: So, are you enjoying Zanzibar?

Aku: Absolutely

Dia: Even without a friend

Aku: Even without a friend.

Dia: Do you want me to find you a friend (sambil memberikan tanda kutip di tangan pas mengatakan kata ‘friend”

Aku: Oh. Terima kasih. Tapi tidak.

Dia: But, you will feel lonely, then

Aku: Yes. And I’m enjoying my loneliness.

Dasar geblek… He he he..

Berburu makanan juga salah satu tujuan travelku ke Zanzibar. Banyak sekali makanan lezat khas daerah setempat yang layak untuk dinikmati. Restaurant berjejer banyak, menawarkan makanan khas di restoran tersebut. Aku juga mengunjungi Forodhani Gardens. Tempat ini merupakan restaurant terbuka, yang terletak di area water front Stone Town. Mungkin, bisa lebih disebut sebagai Food Bazar. Tempat ini menawarkan banyak sekali jenis sea food seperti udang, cumi – cumi, kepiting, ikan segar, berbagai jenis kerang, gurita, barracuda, dan masih banyak lagi. Dan semuanya dengan harga terjangkau, yang rasanya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Lezat bukan kepalang. Aku hampir kalap, setiap kali memesan makanan.

Forodhani Gardens

Jika mengunjungi Stone Town, Zanzibar, Forodhani Gardens wajib untuk dikunjungi. Jika ingin datang ke tempat ini, datanglah saat hari mulai senja, dimana para pedagang mulai melakukan aktifitas. Memandang matahari terbenam sambil menikmati makanan sea food nan lezat adalah cara sempurna untuk mengakhiri hari di StoneTown.

 

13 thoughts on “Zanzibar Nan Eksotis

    1. Nurul Fitri Lubis

      Thanks ya:-)..

      Iya, rumahnya emang rada mirip beberapa rumah pedesaan di Indonesia.. Yang bikin unik, semua rumah terbuat dari batu.. makanya di sebut stone town🙂

  1. Ossy

    Tulisan yang sangat menyenangkan untuk dibaca karena gaya penulisannya mampu membawa pembaca dalam situasi yang dikisahkan.

    Bagus sekali, mudah2an masih ada kisah perjalanan lainnya ….

  2. Shasa Sigit

    Wooowww catpernya luarbiasa!
    Saya sampe terhanyut seperti lagi baca buku. Very detail… saya yg gak kebayang Zanzibar seperti apa (taunya cuma bar yang jaman dulu ada di area blok M aja sih :P) tp membaca catper ini sepertinya bisa membayangkan spt apa ‘wajahnya’.

  3. Benedicta Endang

    salam kenal. Baca catatan perjalananmu it’s very excited. Belum berani solo traveller. Sptnya perlu dicoba tp jarak dekat dulu. Bs sharing tips u solo traveller

  4. ih… jadi pengen kesana, hehehe…
    entah kapan bisax……..
    makasih ya bu atas cerita yang sangat menginspirasi………………………………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s