Ibu Kami Telah Berpulang


Empat tahun sudah berlalu. Namun, kenangan itu masih cukup jelas terpatri di ingatanku. Hari itu panas terik. Matahari menyengat menusuk kulit. Setelah terbiasa dengan hawa dingin Blangkejeren, Banda Aceh bagaikan gurun pasir. Aku sudah menghabiskan waktu sepanjang siang, ditemani oleh tiga orang temanku. Berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari kamar kost. Namun, tak ada satu tempat pun yang tersedia. Aku hampir setengah berputus asa, ketika akhirnya kami tiba di sebuah rumah.

Rumah itu terlihat sederhana, namun terlihat sangat nyaman dan teduh. Berbagai macam bunga dan tanaman hias menghiasi halaman rumah membuatnya semakin semerbak. Pintu pagarnya tidak terkunci. Aku memberanikan diri untuk masuk. Menurut temanku, kemungkinan rumah ini menerima kost – kost an. “Ada banyak sandal di luar rumah. Itu ciri rumah kost,” kata temanku dengan penuh keyakinan.

“Assalamualaikum,” aku mengucapkan salam. Namun, tidak ada jawaban. Begitupun, aku yakin ada orang di dalam rumah. Setelah mengucapkan salam yang ketiga, seorang ibu datang tergopoh – gopoh menyambut kedatangan kami.

“Waalaikumsalam. Cari siapa ya Nak?” tanya sang Ibu ramah.

”Nyari kamar kost, Bu, ” jawabku langsung ke pokok permasalahan. ”Ibu tahu informasi kamar kost di sekitar sini?”

”Wah, siapa yang mau kost?” tanya sang Ibu lagi.

”Saya Bu,” jawabku terang – terangan.

”Wah. Gimana ya. Sebenarnya Ibu terima kost – kost an. Tapi, Ibu kira, anak yang disana itu yang mau kost,” kata Ibu sambil menunjuk satu orang temanku, yang kebetulan seorang pria. ”Karena kebetulan saat ini, semua anak kost disini laki – laki. Tidak ada yang perempuan,”

”Oh gitu ya Bu,” kataku agak kecewa sambil membayangkan harus melawan terik matahari untuk mencari kamar,”

”Hm…. Tapi, kalau Anak mau, saya tidak keberatan Anak tinggal di rumah saya,”

“Bener nih Bu?”tanyaku girang. “Saya mau banget,”

“Kamu tidak keberatan tinggal dengan penghuni kost yang lain? Mereka laki – laki semua?”

“Ngga masalah Bu. Lagian, kan ada Ibu juga. Saya bukan satu – satunya perempuan,”

Dua hari kemudian, aku pindah ke rumah tersebut, di antar oleh teman baik yang sudah menyediakan rumahnya sebagai akomodasi sementara selama aku berada di Banda Aceh. Begitu tiba, aku disambut oleh seorang cowok, yang ternyata juga salah satu penghuni kost. Bang Hiro, begitu aku memanggilnya. Ternyata, Ibu sudah bersiap – siap menyambut kedatanganku. Beliau sudah menyiapkan makan siang istimewa untuk kami semua. Aku langsung jatuh hati pada Beliau.

Ibu benar – benar sosok yang istimewa. Meskipun sudah berusia lanjut, Beliau masih mengikuti berita terkini. Dari kasus Aulia Pohan hingga kematian sang superstar Michael Jackson. Sering, jika aku tengah malas menonton berita, sepulang kerja, aku cukup bertanya kepada Ibu, “Ibu, apa berita terhangat saat ini?” Ibu akan membeberkan semua berita yang dilihatnya di televisi hari itu.

Ibulah yang menyatukan kami menjadi sebuah keluarga. Selama tinggal bersama beliau, aku sudah menganggapnya sebagai Ibu dan anak kost yang lain sebagai abang – abangku. Sepulang kerja atau setelah melakukan aktifitas di luar, kami akan menyempatkan diri untuk menonton bersama di ruang keluarga. Tontonan apapun itu. Mulai dari sinetron  (hanya untuk mengomentari betapa bodohnya sang tokoh), Indonesian Idol, hingga berita terkini. Hanya untuk bersosialisasi. Atau jika tak sempat bertatap muka di malam hari, dapur menjadi tempat sosialisasi kami sebelum berangkat ke tempat kerja.

Ibu juga sangat toleran dengan tingkah anak – anak kost yang sudah menganggap rumah Ibu seperti rumah kami sendiri. Mulai dari menguasai televisi di ruang keluarga, hingga membuat dapur berantakan. Beliau begitu perhatian kepada semua anak kost nya. Jika tengah memasak makanan spesial, Beliau akan memastikan kami semua mendapat bagian yang sama. Tak terhitung jumlahnya, ketika pulang kerja, beberapa piring berisi makanan sudah tersedia di atas meja. Begitu melihatku pulang, Ibu akan langsung berteriak, “Nurul. Ibu bikin kolak pisang dan risoles. Itu yang di atas meja, bagian kamu. Yang lain sudah kebagian. Jangan lupa dimakan ya,”

Jika ada penghuni kost yang sakit, Ibu menjadi orang yang paling repot. Mulai dari memaksa untuk pergi ke rumah sakit sampai memasak bubur untuk si sakit. Aku ingat kejadian di satu hari. Saat itu aku kena flu berat. Namun, aku tak memberi tahu Ibu, karena tahu pasti, hal ini akan membuatnya repot. Di pagi hari, setelah semalaman menahan hidung yang tersumbat, aku pergi ke rumah sakit, yang tak jauh dari tempat kami tinggal. Ketika kembali dan mengetahui aku sakit, Ibu langsung mengomel karena aku tak memberitahunya. Sudah bisa dipastikan kelanjutannya. Ibu sibuk memasak untukku.

Ibu tidak hanya perhatian terhadap kebutuhan kami selama di rumah. Namun, juga perhatian terhadap kehidupan sosialku. Meskipun aku sering pulang malam, dikarenakan bekerja atau sekedar berkumpul dengan para sohib, Ibu tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Sangat berbeda dengan ibu – ibu kostku sebelumnya. Di satu malam minggu, Ibu pernah berkata, “Nurul, kok kamu tidak keluar malam ini? Ayo keluar. Supaya tidak suntuk di rumah. Kan ini malam minggu?” Yang kujawab dengan candaan, “Iya Bu. Belum ada ‘panggilan’ nih,”

Saking perhatiannya Beliau dengan anak – anak kost, salah satu putri nya pernah bercanda, “Wah. Mama benar – benar sayang sama anak – anak kost nya. Kita sekarang bingung. Siapa anak Mama yang sebenarnya,”. Di jawab oleh Beliau, “Kalian semua anak – anakku,”

Ibu juga wanita solehah yang taat beribadah. Hampir setiap pagi dan maghrib, Beliau akan sholat di mesjid di depan rumah. Di pagi hari biasanya akan dilanjutkan dengan sholat dhuha. Ketika malam, Ibu selalu membaca ayat suci Al Quran membuat yang mendengarnya merasa tentram.

Kenangan Bersama Ibu

Ada pertemuan, dan ada pula perpisahan. Setelah menghabiskan waktu dua setengah tahun di Banda Aceh, kontrak kerjaku selesai. Aku harus meninggalkan Banda Aceh menuju Jakarta sebagai pelabuhanku berikutnya. Hari – hari terakhirku di Banda Aceh tak banyak kuhabiskan bersama Ibu. Aku harus membuat jadwal pertemuan berbeda dengan teman – teman yang sudah menemaniku dalam suka dan duka selama di Aceh. Saat itu bulan Ramdhan. Setiap malam, ada saja acara buka puasa bersama. Di hari terakhirku, aku membatalkan acara buka puasa dengan beberapa teman. Aku ingin berbuka puasa bersama Ibu.

Malam itu hujan deras. Ibu menemaniku makan malam sambil berkata, “Ini akan jadi makan malam terakhir kamu bersama Ibu,”. Dan ternyata benar.

Mobil yang menjemputku tiba tak lama kemudian. Semua barang – barang telah selesai di pack. Aku akan meninggalkan rumah yang nyaman ini. Rumah yang benar – benar kuanggap sebagai rumah keduaku. Berbagai kenangan melintas dalam fikiranku saat akan meninggalkan Ibu. Saat pertama kali bertemu Ibu, saat bercanda bersama Ibu, menonton bersama di kamar Ibu, melihat Ibu berkebun, memasak bersama Ibu dan anak – anak kost, bercanda dengan anak – anak kost dan masih banyak lagi. Semuanya akan menjadi memori indah yang akan selalu tersimpan di dalam hati. Kupeluk Ibu, sebelum aku pergi. Ibu menangis dan mengikutiku hingga aku masuk ke dalam mobil. Hujan semakin deras. Aku ingin meminta ibu masuk ke dalam rumah, tak ingin Ibu basah karena hujan. Namun Ibu tak menangkap isyarat yang kuberikan. Kubuka pintu mobil, dan Ibu memelukku dan menangis kembali. Itu adalah pelukan terakhir darinya.

Setelah meninggalkan Banda Aceh, meskipun tak sering, aku masih berkomunikasi dengan Ibu. Sekedar bercerita dan bertukar khabar. Namun, ketika aku meninggalkan Indonesia, komunikasi menjadi semakin jarang. Sambungan telepon jarak jauh yang sering tak menentu juga menjadi kendala. Terakhir kali, empat bulan yang lalu aku menelepon Ibu. Suaranya masih sama. Ceria dan penuh canda. Ternyata, itu adalah obrolan terakhirku bersama Ibu.

Pagi ini aku mendapat email singkat dari seorang teman,  salah seorang mantan anak kost Ibu. Ibu telah berpulang dan meninggalkan kami untuk selama – lamanya. Selamat jalan Ibu. Engkau begitu tulus dan penuh kasih kepada kami, anak – anakmu. Pulanglah dengan tenang. Semoga engkau tentram di sisiNya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s