Blangkejeren, Pada Suatu Ketika (1)


Siang bolong, panas terik, dan peluh bercucuran. Bukan saat yang tepat untuk keluar rumah. Saat seperti ini, lebih menggoda untuk dihabiskan di dalam ruangan tertutup. Bersembunyi di dalam kamar, sambil membaca Harry Potter dan mendengar alunan lagu Boys 2 Men. Hhhh. Sampai juga di lobby hotel. Tenang. Tarik nafas dulu. Duduk manis. Oh, segarnya berada di lobi hotel nan indah ini. Sofanya pun empuk pula. Kalau tak ingat aku ada janji wawancara, tentunya aku akan berlama – lama duduk di kursi nyaman ini. Mana orang yang akan mewawancaraiku? Berdasarkan perjanjian semula, kami akan bertemu di lobi tepat pukul 2 siang. Sekarang sudah pukul 1 lebih 58 menit. Dari balik meja resepsionis, seorang pria bule berjalan cepat, celingak celinguk, seperti mencari seseorang. Dengan PD yang luar biasa, aku berjalan mendekati si bule.

“Are you Konrad?” tanyaku dengan penuh kepastian.

“Hey. You must be Nurul. Nice to meet you,” syukurlah. Dia benar – benar si Konrad, calon bos ku kalau aku berhasil mendapatkan posisi ini. “Anyway, just call me Koni,”

Interview itu berjalan mulus. Di akhir interview, aku dengan sukses keterima. Ngga tahu, apakah aku sangat pintar sekali menjawab semua pertanyaan yang diajukan Koni, atau Koni sudah setengah putus asa untuk menemukan engineer untuk project yang tengah di pegangnya.

“My engineer run away after signing his contract and knew the work location,”katanya. “I hope you don’t mind to work in Blangkejeren,”

“No problem,” jawabku sok pede. “I’ve been in Nias for two years. Blangkejeren can’t get worse than it,”

“I hope so. Welcome to Blangkejeren Nurul,” kata Koni lega.

Tiga hari kemudian, aku berangkat ke Banda Aceh. Baru tiga hari lagi aku berangkat ke Blangkejeren. Selama 3 hari ini, kegiatanku adalah menandatangani kontrak dan menyelesaikan Security Training. Saat aku tiba, seorang cowok berambut keriting sudah ada disana.

“Halo,” sapanya. “Tim Blanggkejeren juga ya?” sapanya ramah.

“Iya. Kenalin. Aku Nurul,” jawabku langsung sok kenal sok dekat. Entah memang sudah ditakdirkan, aku langsung akrab aja sama si cowok keriting ini. Namanya Fery. Apalagi setelah tahu kalau kami lulusan almamater yang sama.

“Eh. Kau udah ngerjain security training? Aku duluan ngerjain ya. Nanti jawabanya ko catat ya buk,” usul si Fery setelah gagal berulang – ulang.  Aku pun dengan senang hati berkolaborasi. Dimulailah test berbasis computer tersebut untuk kesekian kalinya. Jika tidak mencapai skpor yang sudah ditentukan, maka kami diharuskan mengulang, hingga mencapai skor minimal. Aduh. Susah amat sih pertanyaannya. Seperti bagaimana menghadapi tentara anak – anak (ada juga ya anak – anak jadi tentara).  Apakah kita boleh berfoto dengan tentara anak – anak (dalam fikiranku sih, boleh – boleh aja.keren juga untuk dimasukin ke Friendster atau Facebook). Dan pertanyaan – pertanyaan sejenis itu. Kelak, ketika aku telah bekerja di negara konflik tingkat tinggi, aku baru menyadari betapa pentingnya security training ini.

Di test yang ke 5 kalinya, aku dan Fery lulus dengan sukses.

Selain aku dan Fery, akan ada satu orang lagi yang berangkat bersama kami ke Blangkejeren. Seorang cowok kurus, berambut cepak ala Keanu reeves, yang akan bertugas menjadi interpereter dan ngurusin urusan logistic. Di Jumat siang, aku, Fery, Beny dan Bukhari yang bertugas sebagai supir, meninggalkan Banda Aceh menuju Blangkejeren.

IMG_7335

IMG_7349

IMG_7353

IMG_7358

Dalam perjalanan Banda Aceh – Takengon

Butuh 11 jam perjalanan dengan mobil untuk mencapai Blangkejeren. Karena hari mulai gelap, dan sangat tidak disarankan untuk berkendaraan di malam hari, kami pun menginap di sebuah hotel kecil di Takengon. Menghabiskan malam, kami duduk  di sebuah warung kopi sambil menikmati dinginnya kota Takengon di malam hari. Keesokan harinya, usai sarapan, kami melanjutkan perjalanan menuju Blangkejeren.

Pemandangannya begitu menakjubkan. Jalanan yang berkelok, melewati kaki pegunungan Leuser. Monyet – monyet berkeliaran bebas. Jalanan sunyi sekali. Terkadang, mobil kami adalah satu – satunya mobil yang melintas. Sempat terjadi insiden kecil. Karena jalan yang berkelok- kelok, Beni berhasil memuntahkan seluruh makanan yang disantapnya saat sarapan. Bang Bukhari memutuskan untuk berhenti. Menunggu Beni tenang, aku dan Fery memanfaatkan waktu untuk berfoto.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Aku di Takengon

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Salah satu pemandangan di Takengon

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pemandangan dari Takengon to Blangkejeren

Kami melanjutkan perjalanan setelah Beni berhasil membersihkan hasil muntahannya di dalam mobil. Tak sampai satu jam melaju, di tengah hutan lebat, mobil kami diberhentikan oleh seorang perempuan berkerudung.

“Tolonglah Bang. Saya tersesat. Bolehlah saya ikut menumpang,” kata si perempuan tersebut penuh iba. Tak tega meninggalkan perempuan seorang diri di tengah hutan, kami memutuskan membawanya ke perkampungan terdekat. Di dalam mobil, bang Bukhari mengobrol dengan si cewek. Bahasa nya campur – campur. Kadang – kadang pakai bahasa Indonesia, dicampur dengan bahasa Aceh dan Gayo.

“Apa yang di pegang itu dek?” Tanya Beni sok usil.

“Oh… Ini teman saya bang,”  jawab si cewek dengan suara sedih. Dia membuka balutan kain, dan sebuah golok ada disana. “Tapi, kawan saya ini sedang sakit. Saya mau cari tabib untuk ngobatin dia,” katanya.

“Teman yang mana?” tanyaku bingung. Kalaun ngga salah, kami hanya membawa satu orang saja.

“Ini, “ kata si cewek sambil mengacungkan si golok. Kontan jantung ku deg – degan. “Dia sakit. Sudah sepuluh hari. Saya sedih sekali. Ini kawan yang selalu melindungi saya. Diberi oleh kakek saya. Teman saya ini umurnya sudah tua. Dia sudah ada sejak zaman Cut Nyak Dhien,” ujarnya panjang lebar. Kontan, aku saling bertukar pandang dengan Fery. Beni yang  sedari tadi sibuk mengoceh mendadak diam seribu bahasa. Sementara Bang Bukhari menekan gas, mencoba meraih kampung terdekat secepat mungkin.

Di kampung pertama, Bang Bukhari segera berhenti dan berbicara dengan si cewek dalam bahasa Aceh.

“Makasi ya Bang. Doakan semoga kawan saya cepat sembuh,” katanya sebelum turun dari mobil. Bang Bukhari tancap gas lagi. Aku pucat setengah mati.

“Sumpah. Siapa perempuan itu?” kataku masih deg -degan.

“Semoga bukan jadi – jadian,” kata Fery bikin aku makin seram. Kami tak banyak bicara hingga tiba di Blangkejeren.

Setiba di Blangkejeren, sudah ada teman – teman lain yang menyambut kami. Mereka sudah tiba lebih dulu. Ada Erna, Zil, Bustami, Alimin dan Edwin. Edwin seorang engineer, sama seperti aku dan Fery. Sementara Zil, Erna, Bustami dan Alimin akan bertugas sebagai fasilitator.

Malam itu, kami semua menginap di hotel Wahyu, satu-satunya hotel di Blangkejeren. Jika memungkinkan, besok kami akan bersama – sama mencari tempat kos. Udara dingin Blangkejeren membuatku tidur nyenyak malam itu.

bersambung ke Blangkejeren, Pada Suatu Ketika (2)

5 thoughts on “Blangkejeren, Pada Suatu Ketika (1)

  1. giani

    Hay mba nurul, apa kabar ?🙂 kenalin, saya gia. mau tanya dong mba, sekarang mba nurul masih di blangkejeren ga yah ? aku mau tau bamyak soal blangkejeren🙂 . Thank youu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s