Blangkejeren, Pada Suatu Ketika (2)


Hari – hari pertama di Blangkejeren berlalu tanpa kendala. Aku dan teman – teman (Zil, Erna, Fery dan Beny) berhasil mendapatkan kamar kost – kost an di sebuah rumah milik Pak Syamsul. Sebagian besar penghuni kost – kost an tersebut adalah para polisi yang baru saja lulus dari pendidikan, dan bisa dikatakan masih ‘teenager’. Bustami, Alimin  dan Edwin, memilih untuk tetap tinggal di hotel Wahyu.

Ketika kami tiba di Blangkejeren, Konrad sedang tidak berada di sana. Dia tengah di Banda Aceh, mengurus pengiriman mobil untuk kami. Adapun proyek yang akan kami kerjakan di Blangkejeren ini adalah proyek penanganan paska bencana banjir di kecamatan Pining, kabupaten Gayo Luwes. Ada 9 desa yang akan di bantu. Masing – masing engineer akan didampingi oleh satu fasilitator yang akan bertanggung jawab untuk tiga desa.

Di hari kedua bekerja, aku, Fery, Edwin dan Alimin berencana untuk mengunjungi  Kecamatan Pining untuk melakukan observasi. Kami memutuskan untuk pergi naik motor, berhubung saat itu hanya satu mobil saja yang tersedia. Kami meninggalkan Blangkejeren, meluncur menuju Pining.

Pemandangannya, OMG, It was so spectacular.  Kemana mata memandang, yang tampak pegunungan hijau (di beberapa tempat pegunungan gundul karena pohonnya habis ditebangi). Pohon cemara, mata air serta air terjun kecil menghiasi sepanjang jalan yang kami lewati. Saat berada di tempat yang tertinggi, pemandangannya bukan main. Kecamatan Pining ada di balik bukit. Jadi, dari Blangkejeren, kami harus naik dulu ke atas bukit, dan turun lagi untuk mencapai desa – desa.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pemandangan dari Blangkejeren menuju Pining

Desa yang pertama kami lewati adalah desa Gajah. Nggak ngerti juga kenapa bisa dinamakan desa Gajah. Mungkin, dulu banyak gajah – gajah berkeliaran disini. Tapi, ketika aku tiba disana, aku tidak melihat gajah. Yang ada, kuda – kuda kecil liar sedang berlarian. Ditambah kambing – kambing gunung serta beberapa anak kerbau yang baru saja lahir. Selanjutnya, kami mengunjungi desa Uring, Pepelah, Pintu Rime, Pertik, Pining dan desa Ekan.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Di desa Gajah

Jalan menuju desa – desa ini, ngga bisa dikatakan mulus. Jalanan beraspal hanya sekitar 3 kilometer saja dari Blangkejeren. Selebihnya, kami disambut dengan jalanan aspal yang menggerutul, aspal berlobang, hingga tak beraspal sama sekali untuk dua jam ke depan. Sebenarnya, perjalanan ini bisa menjadi perjalanan menakjubkan jika didukung oleh kendaraan yang memadai, paling nggak, mobil 4 WD yang tangguh. Bukan sepeda motor bebek dan GL pro yang suka ngadat, seperti yang  kami gunakan saat itu.

IMG_1002

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kondisi jalan menuju Pining

Motor yang dikendarai oleh Edwin, parah banget. Sejak tiba di desa Gajah,  motor tersebut sudah batuk – batuk. Ketika menuju desa Pertik, kami harus melawan arus sungai, karena jembatan yang seharusnya nongkrong di sana, sudah hanyut terbawa air banjir sebulan yang lalu. Begitu menyentuh air, motornya batuk makin kuat, sampe mengeluarkan asap.  Setelah diengkol berkali – kali, akhirnya hidup juga tuh motor.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Motor nya langsung mati begitu menyentuh air

Kami memutuskan untuk pulang, usai mengunjungi desa Ekan. Berdoa, sambil harap – harap cemas, si motor ngga bermasalah lagi. Namun, malang tak bisa di tolak. Setelah jalan sejauh 500 meter, motor tersebut mati lagi, dibarengi dengan asap yang bikin penumpangnya juga ikutan batuk. Untuk mendinginkan si motor, kami menyiram mesinnya dengan air, berharap si mesin bisa cepat dingin. Beruntung, mata air ada di mana – mana.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Edwin sibuk menengkol motor. Syukur, ada mata air dimana – mana untuk mendinginkan mesin

Hari sudah semakin sore. Matahari pun mulai menghilang di balik rimbun pepohonan yang lebat. Namun, kami masih di tengah jalan Ladia Galaska yang membelah hutan pegungungan Leuser. Suara binatang malam mulai bersahutan, membuat bulu kuduk merinding.

“Nurul. Kalau kamu melihat sesuatu terbang – terbang di atas kita, anggap saja itu ayam atau burung,” kata Alimin dengan suara penuh misteri.

“Kenapa Bang?” tanyaku penasaran.

“Kita di tengah hutan ini. Apapun bisa kejadian. Saya sudah 20 tahun jadi guide di Leuser. Saya tahu banyak. Tapi, saya ngga mau cerita sekarang lah,” paparnya panjang lebar. Masih dengan gaya misterius. Aku dan Fery hanya pandang – pandangan saja. Sementara Edwin masih sibuk mengengkol – engkol motor GL Pro yang makin lama makin berasap.

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Namun, belum ada kemajuan yang berarti. Si motor masih mati setiap berjalan 500 meter. Sekitar 1 kilometer sebelum mencapai puncak jalan tertinggi, si motor mati total. Aku mulai cemas. Tidak ada lampu sama sekali. Sinyal telepon seluler tidak ada. Begitupun, aku masih pura – pura berani, walaupun jantung deg – degan. Sambil menunggu keberuntungan, kami duduk – duduk di atas batu yang ada di pinggir jalan.

“Nurul, Fery. Kalian jangan jauh – jauh dari kami ya,” kata Alimin lagi. Tentu saja Bang Ali. Siapa yang berniat jauh – jauh di tempat seperti ini. Untuk melupakan kesialan kami selama sejenak, aku dan Fery menikmati pemandangan di atas langit. Bintangnya, wuihhhh. Jutaaan, karena ngga ada polusi dari lampu – lampu artifisial.

“Keren ya Buk. Langitnya,” kata si Fery.  “Kayak camping aja”

Aku mulai bersenandung kecil. Menyanyikan lagu – lagu Boys To Men, yang langsung disambung oleh si Fery. For your information, si Fery ini anggota grup koor yang sudah dapat dapat juara hingga di dunia internasional.  Jadilah kami berduet di tengah hutan, mengalahkan suara beruang madu yang mulai bersahut – sahutan. Kelak, kami baru tahu. Ketika beruang madu mulai bersuara, biasanya si raja hutan, alias harimau, ngga jauh dari sana.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Usai lagu yang ketiga, simsalabim. Si motor hidup dengan sukses. Kami tak menunggu waktu lama. Segera tancap gas, meluncur kembali menuju Blangkejeren. Ketika melihat sinar lampu dari kejauhan, aku dan Fery berteriak saking senangnya “YES. WE DID IT.” Melihat lampu – lampu dari kejauhan merupakan kebahagiaan tak terperi. Setelah terombang ambing di tengah hutan, lega rasanya kembali ke peradaban.

bersambung

7 thoughts on “Blangkejeren, Pada Suatu Ketika (2)

  1. Pingback: Blangkejeren, Pada Suatu Ketika (1) « An Ongoing Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s