Blangkejeren Pada Suatu Ketika (3)


Tiga hari kemudian, seluruh tim, kecuali Beni, memutuskan pergi ke Pining untuk memulai assesment lebih lanjut. Beni masih harus tinggal di Blangkejeren untuk mengurus pemindahan kantor. Untuk assesment kali ini, kami akan menggunakan mobil, bukan sepeda motor seperti sebelumnya. Tapi, mobil double cabin itu hanya muat untuk lima orang saja. Para pria, berbaik hati untuk duduk di bak mobil.

otw to pasir putih

Perjalanan menuju desa

Karena hanya satu mobil yang tersedia, maka assesment harus dilakukan secara bersama – sama. Assesment dimulai dari desa Gajah. Edwin dan Erna segera beraksi. Oh ya, untuk proyek ini, desa Gajah, Uring dan Pepelah akan di handle oleh Erna sebagai fasilitator dan Edwin sebagai engineer. Sementara aku, mendapatkan desa Pintu Rime, Pining dan Pertik. Bustami menjadi partner fasilitator ku untuk empat bulan ke depan. Fery dan Bang Alimin mendapatkan desa Pasir Putih, Ekan dan Lesten. Yang terakhir ini musibah buat Fery. Untuk mencapai desa Lesten, harus berjalan kaki selama 10 jam. Tidak ada kendaraan, baik roda empat maupun roda dua yang bisa melintas. Desa ini ada di balik gunung.  Khusus untuk desa Lesten, kami tidak melakukan assesment bersama – sama.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Di desa Pasir Putih

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Desa Pepelah habis diterjang banjir. Mereka menggunakan tenda bantuan sebagai tempat tinggal

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Di Desa Uring

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Desa Pintu Rime, dilihat dari atas bukit

Selama di desa, kami memberikan sosialisasi untuk program respon banjir yang akan kami berikan di sembilan desa ini. Para fasilitator akan mgumpulkan data – data desa, berhubungan dengan mata pencaharian dan pendapatan penduduk. Data ini berperan dalam penentuan beneficiaries yang akan menerima bantuan livelihood. Sementara para engineer, kami mendata fasilitas – fasilitas umum yang rusak di terjang banjir dan membuat proposal pengajuan untuk memperbaiki infrastruktur yang sudah tersedia dan membangun infrastruktur baru.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Assessment di desa Pintu Rime

Dalam melakukan pendataan ini, diperlukan pertemuan antara kami (sebagai wakil dari organisasi), kepala desa (keuchik) serta penduduk desa itu sendiri. Tidak mudah untuk menentukan jadwal pertemuan, karena di siang hari sebagian besar penduduk desa sibuk untuk mencari nafkah. Dari bercocok tanam hingga berburu rusa. Kendala lainnya, sulit untuk menemukan tempat pertemuan yang bisa menampung banyak orang. Biasanya, jika ada pertemuan, penduduk desa akan melakukan pertemuan di balai desa atau mesjid (meunasah). Namun, tempat – tempat ini telah habis diterjang banjir.

pepelah 1

Meunasah (mesjid) tempat untuk melakukan pertemuan

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Di desa Uring

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Para penduduk desa tengah berburu rusa

Untuk menghemat waktu perjalanan, kami memutuskan untuk menginap di desa selama tiga malam, empat hari. Penginapan, tentu saja menjadi kendala. Hotel, jelas tidak ada. Sebagian besar penduduk, masih tinggal di tenda penampungan. Rumah – rumah yang selamat diterjang banjir, tidak memiliki akses air bersih. Untuk mendapatkan air bersih, mereka harus berjalan beberapa kilometer, dari sebuah sumber air.

Kami menemukan sebuah penginapan di desa Pining. Penginapan ini sangat sederhana sekali. Hanya memiliki penerangan berupa lampu neon yang redup, bak hidup segan mati tak mau. Kamar – kamar yang disewakan, berada di lantai dua, dimana lantai – lantai kayunya selalu berderik dan mengeluarkan bunyi misterius setiap kali diinjak. Hanya ada tiga kamar saja yang disewakan. Kami menyewa dua kamar. Satu kamar untuk aku, Erna dan Zil. Kamar yang satu lagi untuk kaum cowok.

Kamarnya pun tidak mewah. Hanya ada satu tempat tidur berukuran queen yang akan digunakan untuk kami bertiga. Kamar tersebut diterangi oleh sebuah lampu pijar berukuran 5 watt. Sepanjang siang, biasanya tidak ada listrik. Jadi, menjelang malam, kami selalu bergantian mengisi baterai handphone, meskipun tidak ditemukan satu sinyal pun untuk telepon seluler.

Urusan toilet dan kamar mandi, itu cerita lain. Penginapan ini memiliki  toilet, namun tak punya air bersih. Begitupun, seember besar air berwarna coklat tua ada disana. Aku menahan diri untuk tidak buang air besar selama tiga hari. Dua hari pertama, aku, Zil dan Erna tidak mandi sama sekali. Di hari yang ke tiga, kami menyerah. Di sore hari sepulang melakukan survey, bersama – sama penduduk desa lainnya, kami mandi di pancuran desa.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Anak – anak ini baru saja pulang dari pancuran desa

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pancuran desa, tempat kami mandi

Ada satu warung yang menjual makanan sederhana. Biasanya, seusai maghrib, kami pergi ke sana. Memesan sepiring nasi putih, indomie  rebus dan sepotong ikan sambal. Cukuplah untuk mengganti energi yang terbuang hari itu. Tak banyak yang bisa dilakukan di malam hari. Tidak ada televisi yang bisa ditonton. Usai makan, kami kembali ke penginapan. Menunggu mata mengantuk, kami mengobrol ringan sambil mendengar nyanyian jangkrik malam.

bersambung

3 thoughts on “Blangkejeren Pada Suatu Ketika (3)

  1. Pingback: Blangkejeren, Pada Suatu Ketika (2) | An Ongoing Journey

  2. Dinna

    Assalamualaikum bu nurul. Iseng-iseng mencari kata blangkejeren di google, langsung ketemu judul cerita yg bu nurul tulis di blog ini, setelah membaca part pertama saya langsung terkejut, karena ibu bilang menginap di hotel wahyu. Perkenalkan bu saya dinna, saya cucu dari pemilik hotel wahyu, dan saya juga adalah putri dari bapak syamsul. Lucu sekali rasanya bagaimana dunia terasa sangat kecil sekecil telfon selular saya, saya senang sekali membaca pengalaman ibu sewaktu berada di gayo lues dan benar-benar terkesan dengan kejadian-kejadian yg ibu alami. Ibu bahkan sudah mendatangi daerah-daerah yang baru ini saya dengar namanya, ibu benar2 luar biasa😀.
    adakah rencana untuk kembali ke gayo lues, bu? Kota blangkejeren kini benar-benar sudah berkembang dan gayo lues juga semakin membaik, pemandangannya juga masih sama bu, hehe. Salam kenal dari saya bu, terima kasih sudah berbagi pengalaman dan menunjukkan keindahan blangkejeren. Semoga bisa bertemu dan mendengar cerita ibu secara langsung suatu saat nanti🙂

    1. Halo Dina. Pertama-tama, terima kasih sudah berkunjung ke blog saya. Wah, saya benar – benar surprise. Ternyata dunia memang kecil. Alam semesta berhubungan satu sama lain. Saya dengar, Gayo lues sudah sangat berkembang. Tentunya pasti semakin bagus dibandingkan kala saya pertama kali ke sana. Ada sih, rencana kembali ke Gayo Lues untuk jalan – jalan. Namun, belum tau pastinya kapan, karena saat ini saya juga tengah tidak menetap di Indonesia. Semoga suatu saat bisa bertemu langsung ya.
      Salam kenal juga Dinna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s