Berkunjung ke Baitullah (1)


Sebenarnya sudah lama aku  ingin menuliskan kisah ini. Namun, karena padatnya aktifitasku sehari – hari, membuat aku lupa untuk meluangkan waktu, berbagi kisah dengan para pembaca (siapa pun itu) tentang pengalaman saat menunaikan ibadah haji di tanah suci.

Hal ini berawal lama sekali, kalau aku tidak salah, hampir empat tahun sebelum tahun keberangkatanku ke tanah suci. Kala itu, aku dekat dengan seorang teman, sebutlah namanya Mina, yang punya keinginan untuk menunaikan rukun Islam yang kelima tersebut. Mina menceritakan keinginannya kepadaku, dan usahanya mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk membayar uang pendaftaran. Begitu dia mendapatkan kursi, dia dengan suka cita memberi tahu kabar gembira tersebut. Kegembiraannya menular, membuat aku juga rindu akan Tanah Haram. Ditambah lagi, aku punya keinginan untuk menghajikan kedua  orang tua yang sudah berpulang. Dimana, untuk itu, aku harus berhaji terlebih dahulu. Alhamdulillah, dengan adanya  rezeki, aku mendaftar menjadi calon jemaah haji.

Seperti yang kita ketahui, tidak gampang untuk mendapatkan kursi bagi setiap jemaah. Aku harus mengantri selama empat tahun. Tahun demi tahun berlalu tanpa terasa. Banyak kejadian – kejadian tak terduga selama empat tahun tersebut. Salah satunya, aku pindah ke Africa, karena adanya tawaran pekerjaan di sana. Aku hampir  saja melupakan masalah haji ini, ketika suatu hari, kakakku menghubungi, memberitahukan bahwa nomor porsi yang kupegang akan berangkat pada tahun itu.

Senang, tentu saja. Naik haji adalah impian setiap umat muslim di dunia. Resah, pasti. Karena, seperti yang aku tuliskan sebelumnya, saat itu aku tengah bermukim di Africa. Sementara, pengurusan haji  berada di Indonesia. Beberapa hal, seperti pelunasan pembayaran (kakakku sempat berselisih paham dan bertengkar dengan pihak bank, dikarenakan pihak bank menginginkan aku berada di tempat ketika pembayaran), pendaftaran ulang, pengambilan tas, dapat diwakilkan kepada kakakku. Namun, untuk pengurusan visa, kakakku tidak mampu berbuat apa – apa, karena passportku ada di Africa. Untuk itu, aku harus segera pulang. Untuk berapa lama? Tidak ada yang tahu, karena jadwal keberangkatan kloter belum ditentukan.

Ini menjadi masalah besar buatku. Setelah melakukan perhitungan kasar, aku mendapatkan gambaran bahwa aku harus mengambil cuti selama tiga bulan. Bukan sesuatu yang gampang untuk dibicarakan. Cutiku sendiri, jika dikumpulkan seluruhnya, hanya bisa menutupi selama satu setengah bulan. Aku perlu satu setengah bulan tambahan. Aku mencoba menghubungi supervisor dan program managerku. Aku pasrah akan keputusan mereka, dengan kemungkinan terburuk, mereka tidak setuju dan aku harus kehilangan pekerjaan. Aku hanya bisa menyerahkan segalanya kepada Allah. Apapun keputusan mereka dan keputusan yang akan kuambil, aku berharap semuanya adalah yang terbaik dari Allah.

Pagi itu, dengan hati berdebar – debar, aku mendatangi sang supervisor. Beliau bukanlah orang yang mudah. Aku sudah pasrah saja, jika dia tidak menyetujui permintaanku. Namun, pagi itu, Allah memudahkan semuanya.  Si supervisor  setuju untuk memberikan cuti tak dibayar atau ‘leave without paid’. Aku pun mendatangi program manager, dengan surat persetujuan dari supervisorku. Alhamdulillah, sang Program Manager setuju, bahkan sangat mendukung keinginanku untuk pergi ke tanah suci. Namun, perjuangan belum selesai. Dua hari sesudahnya, aku  dihubungi, memberitahu bahwa pihak adminsitrasi kantor pusat tidak menyetujui  ‘leave without paid’ ku. Aku mendatangi sang Program Manager. Dia mencarikan jalan lain. Aku memang tidak bisa mendapatkan cuti tanpa dibayar. Tapi, beliau memberikanku  Cuti di depan atau Leave in Advance. Allah Maha Besar. Saya terbang menuju Indonesia.

Begitu tiba di Indonesia, aku langsung disibukkan dengan pengurusan visa. Aku segera mendatangi departemen agama untuk menyerahkan passport. Di hari yang sama, aku mengetahui bahwa aku akan masuk kelompok terbang (kloter) ke tiga. Aku langsung pani. Aku akan berangkat kurang dari waktu 10 hari. Aku  langsung mendatangi rumah sakit untuk test kesehatan. Alhamdulillah, beberapa vaksinasi sudah kulakukan sebelumnya. Aku pun belum sempat latihan menasik akbar untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Informasi menasik selebihnya  hanya aku dapatkan melalui buku yang dipinjamkan oleh pamanku. Pakaian ihram belum dibeli. Bahkan, ketika menasik akbar dilaksanakan, aku menghadirinya dengan kostum yang tidak sepantasnya. Celana jeans, kemeja tangan panjang dan kerudung bermodel casual dan ditemani dengan sepasang sepatu kets. Aku sama sekali tidak bangga dengan hal ini. Dua hari kemudian, aku masuk asrama haji.

IMG_0423

IMG_0432

Sesaat sebelum berangkat menuju tanah suci

Selama di asrama, semua calon jemaah harus melakukan pemeriksaan ulang kesehatan. Tiap – tiap orang juga diberikan gelang tanda pengenal. Di malam hari, setiap orang mendapatkan uang saku dalam mata uang Riyal. Keesokan harinya, pukul 9 pagi, aku terbang menuju Jeddah.

bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s