Berkunjung ke Baitullah (2)


Waktu di jam tanganku menunjukkan pukul 4 sore, ketika pesawat Garuda Indonesia yang kami tumpangi mendarat mulus di bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Ada perbedaan waktu 3 jam antara Jeddah dan Medan. Berarti, saat itu waktu masih menunjukkan pukul 1 siang. Usai beberes dengan urusan imigrasi, seluruh jamaah kloter 3 di bawa ke satu lapangan yang dipenuhi banyak tenda. Di sana, jemaah di bagi – bagi lagi berdasarkan kelompok kecil. Aku termasuk ke dalam jemaah rombongan Arafah, untuk kloter 3 Medan. Perjalanan kami selanjutnya adalah Medina. Karena waktu haji masih lama, maka kami akan melakukan haji tamatu dimana, para jemaah melakukan umroh terlebih dahulu sebelum melakukan haji.

Begitu tiba di  Medina, aku benar – benar kelelahan. Setelah menempuh 8 jam perjalanan di udara, ditambah 4 jam perjalanan darat, waktu telah menunjukkan pukul 10 malam waktu setempat ketika bis yang membawa jemaah tiba di penginapan. Pembagian kamar pun dimulai. Aku menempati kamar bersama 4 orang ibu – ibu. Aku adalah jemaah nomor dua termuda di rombongan haji Arafah. Kami baru memasuki kamar setelah pukul  1 dini hari. Rasanya badan ini mau remuk. Ingin sekali bisa tidur secepat mungkin. Sepertinya, baru saja aku merebahkan badan, ketika Ibu Dalina, teman sekamarku membangunkan untuk siap – siap sholat shubuh. Waktu masih menunjukkan jam 3 pagi. Masih ada 2 jam lagi sebelum azan Subuh. Namun, kami harus segera bergegas. Jika tidak, akan sulit untuk mendapatkan lokasi sholat di dalam mesjid Nabawi.

Subhanallah. Indah sekali mesjid Nabawi ini. Kukira, ini mesjid terindah yang pernah kulihat seumur hidupku. Dengan design adan arsitektur menawan, didukung dengan material  bangunan kelas satu. Begitu memasuki pekarangan mesjid, kami disambut dengan ratusan payung – payung berjejer yang akan dibuka ketika matahari mulai terik. Setiap payung, dilengkapi oleh tiang dengan ornament cantik dan batu – batu permata. Memasuki ruangan mesjid, suasana adem langsung terasa menyejukkan hati. Padahal, di luar panasnya luar biasa. Kami langsung menncari tempat untuk sholat.

Memasuki mesjid, kami diperiksa oleh petugas sekuriti mesjid. Petugasnya adalah wanita – wanita berpakaian dan bercadar hitam. Mereaka memeriksa setiap tas pengunjung mesjid. Kamera tidak diperbolehkan untuk di bawa masuk ke dalam mesjid. Jika ada yang membawa kamera, bahkan hanya kamera handphone, mereka akan mengambilnya untuk disimpan di ruang penyimpanan. Jika ingin mengambil foto di dalam mesjid, carilah cara untuk menyeludupkan kamera, dan jangan sampai ketahuan oleh petugas sekuriti.

IMG_6695

IMG_6700

IMG_6720

IMG_6740

Mesjid Nabawi, Medina

IMG-20111009-00010

Jika tidak bergegas, maka tidak mendapatkan tempat di dalam mesjid. Begitupun, jemaah masih bisa sholat di teras mesjid, dilindungi payung – payung cantik dari sengatan cahaya matahari.

Di dalam mesjid, banyak terdapat gallon air, yang berisikan air zam zam nan suci. Air zam zam ini didatangkan khusus dari Mekah. Sebagai informasi, air zam zam hanya terdapat di dalam Mesjid Nabawi. Sedangkan beberapa sumber air minum yang terdapat di luar mesjid bukanlah air zam zam. Banyak orang – orang yang tidak mengetahui hal ini. Mereka kira, air minum yang ada di pelataran mesjid adalah air zam zam.

Selama di Medina, kami akan melaksanakan sholat Arba’in. Sholat Arba’in ini adalah sholat wajib sebanyak 40 kali yang dilakukan berturut – turut. Karena itu, kami akan berada di Medina selama 8 hari sebelum berangkat menuju Mekah untuk melakukan Umrah.

Selama di Medina, makan siang dan makan malam ditanggung oleh pihak makhtab. Jadi, kami hanya memikirkan bagaimana untuk mendapatkan sarapan saja. Tapi, jangan khawatir. Di depan penginapan, banyak sekali orang – orang menjajakan makanan untuk sarapan. Bahkan sarapan khas Indonesia seperti nasi goreng juga ada di sana. Sarapan – sarapan tersebut dikemas dalam bungkusan kecil – kecil. Yang menjajakannya pun orang Indonesia yang sudah tinggal lama di Saudi Arabia. Jika ingin yang lebih exclusive, beberapa restaurant Indonesia ada di seputar hotel.

Karena udara yang sangat panas, kami hanya keluar penginapan untuk beribadah dan membeli makanan saja. Selebihnya hanya dihabiskan di dalam  ruangan, mengobrol ringan sambil membaca beberapa buku panduan haji. Selain udara yang panas, jemaah yang sangat ramai juga membuatku malas untuk terlalu banyak berkeliaran di luar penginapan. Antrian elevator bisa mencapai waktu 30 menit. Orang – orang saling berdesakan, berlomba memasuki pintu elevator terlebih dahulu. Benar – benar menguji kesabaran. Jemaah di penginapan bukan hanya berasal dari Indonesia. Namun dari berbagai negara – negara di seluruh dunia. Pada saat itu, kami satu penginapan dengan para jemaah dari Algeria dan Maroko. Ketika sudah berada di dalam elevator, suasanan masih heboh dan ramai. Setelah berjuang untuk masuk, kami juga harus berjuang untuk keluar dari elevator. Tolak – tolakan dan sikut – sikutan bukan hal aneh. Tak hanya sekali, aku terpaksa naik ke lantai 16 karena tak bisa keluar dari elevator. Kamarku sendiri berada di lantai 8. Akhirnya aku bisa keluar  ketika elevator kembali turun.

IMG_0450

IMG_0454

IMG_0509

Bersama teman – teman rombongan haji Arafah

Selama di Medina, kami juga mendapatkan tour ke beberapa tempat bersejarah. Seperti ke Jabal Uhud. Disinilah terjadi perang Uhud yang terjadi ratusan tahun yang silam, dimana pasukan Nabi Muhammad SAW mengalami kekalahan. Ratusan pejuang jihad meninggal. Kami juga mengunjungi makam dari pejuang – pejuang tersebut, termasuk Hamzah, keponakan dari Nabi Muhammad SAW. Mesjid Quba juga salah satu daftar  kunjungan. Jika ingin ke mesjid ini di pagi hari, berwudhu lah sejak dari rumah. Konon, sholat duha di mesjid Quba, pahalanya besar sekali. Sama seperti mendapatkan pahala Umrah. Mesjid Quba adalah mesjid tertua di dunia, yang pertama kali dibangun oleh Nabi Muhammad SAW, setelah beliau hijrah dari kota Mekah.

IMG_6376 copy

Jabal Uhud

jabal uhud 1

IMG_6381 copy

Di sekitar Jabal Uhud, banyak pedagang menawarkan dagangan. Seperti buah kurma, kerudung, dan lain sebagainya

IMG_6337 copy

Mesjid Quba

IMG_0527

Kalau tidak salah, ini adalah stasiun kereta api lama di Medina

IMG_0522

Sebuah bangunan di Medina. Lupa namanya

Jabal Magnet di Medina salah satu keajaiban alam yang pernah aku saksikan. Disini, kendaraan bisa meluncur dengan kencang, dengan posisi jalan menanjak. Bahkan, saat mesin dimatikan, bis yang kami tumpangi masih meluncur dengan kencang. Subhanallah. Di Jabal magnet ini, kami berhenti di sebuah padang pasir.  Mengingatkanku saat aku bertualang ke pelosok – pelosok Mesir. Namun, padang pasir di Jabal Magnet ini sepi sekali. Tak ada manusia, rumah maupun ternak. Yang ada hanya pegunungan dan tebing – tebing terjal. Namun, aku merasa sedikit malu ketika berada di sana. Beberapa tebing, penuh dengan coretan – coretan cat tak berguna. Menuliskan hal – hal tak berguna. Hanya dengan melihat tulisannya, kita sudah tahu siapa pelakunya. Oh bangsaku. Masih banyak tempat untuk mengekspresikan diri. Kenapa harus dengan merusak alam seperti ini?

IMG_6439

IMG_6442

Medina di pagi hari

IMG_6478

IMG_6485

IMG_6518

IMG_6577

Di Jabal Magnet, bersama rombongan haji Arafah

IMG_6516

Coretan – coretan ini begitu memalukan 

Di Mesjid Nabawi, selain beribadah, kita juga bisa ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Makam ini selalu tertutup. Namun pintunya bisa terlihat melalui Raudah. Raudah ini adalah taman di antara rumah dan mimbar nabi. Taman ini juga disebut dengan taman surga. Insya Allah, berdoa di tempat ini akan makbul. Namun, memasuki raudah perlu perjuangan. Pintu Raudah tidak dibuka setiap saat. Ada jam – jam tertentu dengan antrian yang panjang dan berdesak – desakan. Rasanya terharu sekali bisa mengunjungi makam Rasul. Mengingat jasa – jasanya untuk menyelamatkan umat manusia dari kehancuran, membuat banyak jemaah menitikkan air mata ketika mendoakan Beliau. Rasanya ingin berlama – lama  berada di sana. Namun, apa daya, antrian sudah sangat panjang untuk menunggu kami meninggalkan Raudah.  Alhamdulillah, kami bisa melaksanakan shalat sunat dua rakaat di sana.

IMG_6770

Makam Nabi Muhammad SAW. Sayang, kami tidak diperbolehkan masuk.

Tak terasa, 8 hari berlalu dengan cepat. Kami harus bersiap – siap meninggalkan Medina untuk menuju Mekkah. Selamat tinggal Rasulullah. Kuharap, suatu saat aku bisa kembali menemuimu.

2 thoughts on “Berkunjung ke Baitullah (2)

  1. Setelah itu berkali-kali masjid ini direnovasi dan diperluas. Renovasi yang pertama dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab di tahun 17 H, dan yang kedua oleh Khalifah Utsman bin Affan di tahun 29 H. Di jaman modern, Raja Abdul Aziz dari Kerajaan Saudi Arabia meluaskan masjid ini menjadi 6.024 m² di tahun 1372 H. Perluasan ini kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Raja Fahd di tahun 1414 H, sehingga luas bangunan masjidnya hampir mencapai 100.000 m², ditambah dengan lantai atas yang mencapai luas 67.000 m² dan pelataran masjid yang dapat digunakan untuk salat seluas 135.000 m². Masjid Nabawi kini dapat menampung kira-kira 535.000 jemaah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s