Berkunjung ke Baitullah (5)


Hari Arafah tinggal sehari lagi. Seluruh jemaah sudah bersiap – siap untuk mendatangi padang Arafah. Kami berangkat sehari sebelumnya, untuk menghindari macet. Sebelum meninggalkan hotel, kami berihram, shalat ihram dua  rakaat dan mengambil niat untuk Haji. Sama seperti Umrah, menuju Padang Arafah, kami tak henti – hentinya bertalbiyah, bertasbih, beristighfar dan memuji kebesaran Allah. Tiba di Arafah, kami mendapatkan 2 tenda untuk rombongan Arafah. Satu tenda digunakan untuk pria, dan satunya lagi untuk wanita. Luas tenda sangat terbatas, karena kawasan Arafah pun tidak terlalu luas. Bayangkan empat juta orang berkumpul di sana di hari yang sama. Bahkan untuk tidur pun, kami harus berdesak – desakan. Lokasi tenda ditentukan per  negara, ditandai dengan bendera yang terpancang di depan lokasi tenda. Selama di Arafah, makanan ditanggung oleh makhtab.

Tak banyak yang dilakukan selama di Arafah. Pak Yusuf menyarankan agar kami beristirahat cukup, sehingga pada hari Arafah, kami tidak kecapekan, dan yang terburuk, jatuh sakit. Meskipun tim medis selalu berkeliling, sakit ketika hari Arafah sebaiknya dihindari.

IMG_7442

IMG_7444

IMG_7450

IMG_7474

IMG_7452Suasana di Arafah

IMG_7481Bersama Mida, jemaah termuda di rombongan Arafah, sekaligus anak pak Yusuf

IMG_7484Suasana menjelang hari Arafah

Hari itu pun tiba. Ini adalah puncak dari segala rukun Haji. Tidak sah haji seseorang jika dia tidak wakaf di Arafah. Karena itu, sesakit apapun jemaah, tetap diusahakan untuk berada di Arafah. Ambulance ada di mana – mana, mengantisipasi jika ada jemaah yang sakit.

Usai shalat Dzuhur, kami mulai wukuf. Waktu wukuf adalah setelah masuk waktu Zuhur dan berakhir ketika matahari terbenam. Tidak ada bacaan khusus ketika wakaf. Begitupun, Pak Yusuf memimpin kami, membca doa bersama – sama. Tidak ada keharusan untuk mengikuti Beliau. Setiap orang bisa berdoa sesuai dengan keinginand an keyakinannya.

Tak cukup banyak waktu untuk memohon ampunan. TTak cukup banyak waktu untuk mendoakan orang tua, sanak family dan saudara – saudara seiman yang telah mendahuluiku. Tak cukup banyak waktu untuk menyampaikan harapan agar selamat di dunia dan akhirat. Tak cukup banyak waktu untuk menyampaikan doa – doa bagi saudara – saudara di tanah air dan dimanapun mereka berada. Doa mereka yang saat ini tidak bisa berada di Arafah, berdoa, memohon ampun kepada sang Khalik.

Tidak cukup kata untuk menggambarkan perasaanku saat itu. Aku merasa kotor. Aku merasa bergelimang dosa. Aku malu pada diriku sendiri. Aku merasa tidak ada apa – apanya. Aku merasa kecil. Tak ada yang lebih kuinginkan daripada ampunan dari Allah. Namun, di balik semua perasaan kotor dan berdosa, aku merasa dekat sekali dengan Allah. Sangat dekat. Aku tak bisa menggambarkan seberapa dekatnya. Namun, saat itu aku yakin seyakin – yakinnya, Allah ada di dekatku.

Allah Maha Besar. Di hari yang suci ini, Allah turun ke bumi. Melihat seluruh umuatnya. Berkumpul di satu padang, dengan pakaian lusuh. Rambut kusut masai. Dengan satu tujuan. Memohon ampunan dariNYa. Ya Allah. Ampunilah kami.

bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s