Berkunjung ke Baitullah (6)


Usai Maghrib, kami bersiap – siap meninggalkan Arafah, menuju Musdalifah. Tenda – tenda mulai dibongkar. Esok hari, Arafah kembali menjadi padang sunyi. Menuju Musdalifah, karena kemacetan yang luar biasa, kami harus menunggu hingga pukul 3 dini hari. Tiba di Musdalifah, waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi, satu jam sebelum azan maghrib berkumandang. Seharusnya, disunatkan untuk bermalam di musdalifah. Namun, dengan kemacetan luar biasa, tiba disana sebelum waktu subuh, sudah syukur Alhamdulillah. Disini, kami mengumpulkan batu – batu kecil untuk dibawa ke Mina.

IMG_7488

Para jemaah yang kelelahan, tertidur menunggu untuk diberangkatkan ke Musdalifah

Usai Subuh, kami berangkat ke Mina. Jika tenda di Arafah sudah kecil, tenda di Mina ini luar biasa kecilnya. Jangankan berbaring, untuk duduk saja tidak ada tempat. Jika di Arafah, saat penat, kami bisa keluar tenda, dan masih terdapat ruang kosong. Di Mina, sama sekali tidak ada tempat. Menjelang Zuhur, Pak Yusuf mendapatkan tenda kecil untuk kaum pria, sehingga sebagian dari kami bisa duduk. Usai Ashar, kami berjalan menuju tempat pelontaran batu jumrah. Jaraknya sekitar 5 kilometer dari lokasi tenda. Kami melewati beberapa terowongan sebelum mencapai lokasi. Saat itu, tidak ada kesulitan untuk melontar batu – batu tersebut. Usai melempar jumrah, kami memotong sebagian kecil rambut, sama seperti usai umrah. Dan ihram pun berakhir.

IMG_7600

IMG_7607

IMG_7610

IMG_7628

Mina

Hari ke dua melontar  Jumrah, juga tidak ada kendala yang berarti. Hari kedua di Mina, Pak Yusuf dan teman – teman jemaah mengambil daging kurban untuk di masak dan dinikmati bersama.

Di hari ketiga, kami akan melakukan Jumrah yang terakhir kalinya. Hari itu luar biasa panas dan padat sekali. Dikarenakan tiga hari lagi kami akan kembali ke Indonesia, maka kami melakukan Nafar Awal, yakni meninggalkan Mina setelah melakukan jumrah yang ke tiga sebelum matahri terbenam. Menuju Mina, situasi semakin ramai. Bahkan, petugas Haji dari Indonesia sempat mengumumkan melalui microphone agar Jemaah bisa berfikir ‘sehat’ dan tidak memaksakan diri untuk melontar saat itu juga. Namun, kami harus bergegas. Jika kami tidak bisa meninggalkan Mina sebelum Maghrib, maka kami diwajibkan membayar dam, satu ekor kambing.

Pak Yusuf mencoba mencari jalan, dan akhirnya secara perlahan, kami berhasil memasuki wilayah pelontaran Jumrah. Situasi semakin ramai dan tak terkendali. Aku bersama Bu Dalina, terus bergandengan tangan, berusaha menahan diri agar tidak terjatuh dikarenakan desakan dan dorongan dari jemaah lainnya. Saat mendekati pelontaran batu yang terakhir, batu – batuku berjatuhan. Aku berjongkok, melepaskan diri dari Bu Dalina, berusaha mengutip batu – batu yang berjatuhan.

Ini kesalahan sangat besar. Jika batu – batu itu terjatuh, sebaiknya meminta batu – batu kepada jemaah lain. Karena biasanya setiap jemaah membawa lebih. Berjongkok, bisa membuat aku mati terinjak – injak. Namun, saat aku berjongkok, aku tak bisa melihat, seseorang menarikku cepat, menghindariku dari tubrukan dan desakan  orang – orang. Aku bahkan tak sempat menoleh untuk mengucapkan terima kasih. Semoga Allah membalas jasa – jasanya. Dengan susah payah, aku berhasil mencapai tepian tempat pelontaran batu. Alhamdulillah, batu terakhir telah dilontar. Dengan bersusah payah, mengeluarkan diri dari kerumunan, aku melihat bu Dalina menyodorkan tangannya kepadaku.

IMG_7553

IMG-20111107-00064

IMG_7510

IMG_7561

IMG_7497

Saat melontar jumrah

Perjalanan kembali ke tenda tak kalah melelahkan. Suhu yang panas, jemaah yang begitu ramai, membuat kami tak bisa berjalan cepat. Bahkan bebebrapa jemaah rombongan Arafah terpisah dari rombongan, hilang entah kemana. Mendekati lokasi tenda, aku melihat sebuah kran air. Tak tahan dengan haus yang amat sangat, aku berlari menuju kran air, dan minum langsung dari krannya. Seorang bapak Tua berperawakan Arab, memberikan sebuah jeruk. That was the best orange that I ever tasted.  Jeruk terenak yang pernah kumakan.

Kami beranjak meninggalkan Mina ketika waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Jemaah – jemaah yang terpisah sudah ditemukan. Bus bergerak sangat lamban dengan kemacetan yang luar biasa. Pukul 5 sore, kami keluar dari Mina. Alhamdulillah. Perjalanan menuju Mekkah, yang dalam waktu normal bisa dicapai dalam waktu 45 menit, saat itu harus ditempuh selama empat jam. Kendaraan bisa dikatakan tak bergerak. Macet ini mengalahkan kemacetan di Jakarta. Pukul 09.30 malam, kami tiba di Mekkah. Aku dan Bu Dalina memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu. Kami akan melakukan tawaf dan sya’I esok hari usai Subuh. Pukul 03 pagi, bersama beberapa jemaah, aku dan Bu Dalina berangkat menuju Masjidil Haram.Kami shalat tahajud, sambil menunggu azan Subuh. Usai shalat Subuh, kami melakukan Tawaf.

Tawaf kali ini paling ramai dari tawaf – tawaf sebelumnya. Jangankan mendekati Hajar Aswad, kami tak bisa mendekati Ka’bah. Bahkan Hijri Ismail pun tak terlihat. Begitupun, Alhamdulillah, Tawaf bisa dilakukan tanpa kendala. Usai sholat sunat dua rakaat, kami melakukan Sya’I sebanyak tujuh putaran. Aku menarik nafas lega dan menitikkan air mata ketika putaran ke tujuh berakhir. Alhamdulillah. Aku sudah melaksanakan rukun Islam yang ke lima. Semoga Allah menerima ibadah yang kulakukan.

IMG_6792IMG_6792

IMG_0577Setelah Tawaf Wada’

Tiga hari menjelang kepulangan, aku menghabiskan waktu untuk mengepack barang – barang. Karena tidak membeli banyak barang, aku hanya melakukannya beberapa jam sebelum koper – koper kami di berangkatkan. Sebelum meninggalkan Mekkah, aku melakukan Tawaf Wa’da, bersama Bu Dalina. Selama melaksanakan haji ini, Bu Dalina menjadi teman, sekaligus ibuku. Rasanya ingin sekali berlama –lama di sana. Menatap Ka’bah untuk yang terakhir kalinya, aku berdoa, “Ya Allah, jangan jadikan ini Tawaf terakhirku,”

IMG_0582

Di Jeddah, sebelum pulang ke Indonesia

Sehari sebelum terbang ke Indonesia, kami menginap di Jeddah. Seperti kebanyakan jemaah, aku terserang batuk pilek berat. Hari terakhirku di Jeddah, hanya kuhabiskan di penginapan saja. Keluar dari kamar hanya untuk membeli makan siang dan malam. Pukul 6 pagi keesokan harinya, kami berangkat menuju bandara King Abdul Aziz. Tepat pulul 12 siang, kami, kelompok terbang ke 3 medan, kembali menuju Indonesia. Ya Allah,  terima kasih atas empat puluh hari yang mengesankan. Empat puluh hari penuh kesenangan. Empat puluh hari penuh suka dan duka. Empat puluh hari untuk berada di rumahMu, berada dekat denganMu. Semoga kami menjadi Haji yang Mabrur. Aamiin ya Rabbal Aalamiin.

TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s