Mesjid Hasan II (Maroko, Part 2)


Karena hari masih terang, aku memutuskan untuk berjalan – jalan sore ke Mesjid Hasan II. Mesjid yang paling terkenal seantero Casablanca. Dan bahkan, mesjid ini konon, adalah mesjid terbesar di dunia setelah Masjidil Haram di Mecca dan Mesjid Nabawi di Medina. Karena kubahnya sudah kelihatan, aku memilih jalan kaki saja untuk menuju ke sana. Ternyata, cukup jauh. Bahkan sempat nyasar juga.  Sampe akhirnya, aku melihat dua orang turis. Yang satu pegang kamera DSLR. Yang satu, pegang tablet, tampaknya membaca peta.

“Dua jalan dari sini,” kata salah satu turis dalam bahasa Prancis. Aku menajamkan pendengaran untuk menguping. Berusaha sekuat tenaga untuk mengerti apa yang mereka bicarakan.

“Ya sudah,” jawab yang satunya. Tapi, kalau mendengar suara ‘praying call’ tadi, sepertinya ada di dekat sini,” jawab satunya lagi. Pasti mereka juga mencari Mesjid Hasan II. Aku pun jalan, mengikuti mereka.

Benar ternyata. Lima menit kemudian, bangunan mesjid mulai terlihat. Kalau ngga pake acara nyasar, sudah dari tadi aku nyampe di sana. Namun, itulah seninya travelling. Nyasar. Kalau ngga nyasar, bukan traveler namanya.

Mesjidnya ternyata, emang gede banget. Lantainya terbuat dari marbel. Seluruh pekarangan, juga ditutupin lantai marbel. Banyak anak – anak berlarian. Sebagian berkejaran menggunakan roller blade. Ternyata, mesjid ini juga menjadi tempat wisata bagi warga Casablanca. Halamannya yang luas, serta letaknya yang berada di pinggir laut, membuat orang – orang nyaman untuk bersantai.

Mesjid Hasan II, Casablanca, Morocco
Mesjid Hasan II, Casablanca, Morocco
Pekarangan Mesjid Hasan II
Pekarangan Mesjid Hasan II
Pekarangan Mesjid Hasan II. Lantainya ditutupi batu marbel.
Pekarangan Mesjid Hasan II. Lantainya ditutupi batu marbel.
Aku, di Mesjid Hasan II
Aku, di Mesjid Hasan II
Kubah, Mesjid Hasan II. Bentuk kubah kebanyakan mesjid - mesjid di Maroko.
Kubah, Mesjid Hasan II. Bentuk kubah kebanyakan mesjid – mesjid di Maroko.

Aku mulai ngeluarin si Canon 600D, yang ternyata lebih canggih dari pendahulunya, Canon 1000D. Motret sana sini. Aku suka banget liat koridor – koridor dan pintunya. Semua koridor, dilengkapi dengan kubah – kubah melengkung. Di beberapa tempat, dinding – dinding dihiasi dengan keramik berwarna. Semarak gitu warnanya.

Corridor, Mesjid Hasan II
Corridor, Mesjid Hasan II
Corridor, Mesjid Hasan II
Corridor, Mesjid Hasan II
Corridor, Mesjid Hasan II
Corridor, Mesjid Hasan II
Corridor, Mesjid Hasan II
Corridor, Mesjid Hasan II
Pintu - pintu melengkung di Mesjid Hasan II
Pintu – pintu melengkung di Mesjid Hasan II

door 2b

Pintu - pintu melengkung di Mesjid Hasan II
Pintu – pintu melengkung di Mesjid Hasan II
Ubin warna warni, menghiasi dinding - dinding Mesjid hasan II
Ubin warna warni, menghiasi dinding – dinding Mesjid hasan II

Pas lagi melihat – lihat pintu mesjid, ada bapak tua mendatangi aku.

Are you muslim?” tanyanya.

Yes,” jawabku.

“Silahkan masuk. Pintunya sebelah  sana untuk perempuan, “kata si bapak ramah.

Interior ruangan Mesjid Hasan II juga bagus banget. Dengan kolom – kolom berukir, dan dihiasi lukisan dan ukiran yang berwarna warni. Sebagai pembatas antara pria dan wanita, ada pembatas dari kayu berukir.

Interior Mesjid Hasan II
Interior Mesjid Hasan II
Interior Mesjid Hasan II
Interior Mesjid Hasan II
Interior Mesjid Hasan II
Interior Mesjid Hasan II
Interior Mesjid Hasan II
Interior Mesjid Hasan II

Aku tak terlalu lama menghabiskan waktu di Mesjid Hasan II. Karena ini hari pertama, aku ngga mau berkeliaran pas hari sudah benar – benar gelap. Setelah azan Maghrib, aku menyetop petite taxi, kembali ke Hotel Central.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s