Fes Dalam Selayang Pandang (Maroko, Part 3)


Esok harinya, habis sarapan, aku langsung cabut dari Hotel Central. Tujuan hari ini adalah ke Fes. Dari Casa Voyageurs, aku bayar 130 Dirham untuk gerbong Kelas 1. Perjalanan memakan waktu 3,5 jam. Kereta apinya nyaman banget. Trus, ada yang jualan juga pake troli. Yang dijual, makanan – makanan yang ngga terlalu berat. Kayak sandwich, snack, soft drink, air mineral dan permen. Lumayan, bisa isi perut sebelum sampe tujuan.

Nyampe di Fes. Stasiunnya lebih gede dibandingkan dengan Casablanca. Aku keluar dari stasiun, bertampang sok ngerti, dan langsung nyetop taxi. Pas udah di dalam, aku tunjukin alamat Riad Nassim, tempat aku tinggal selama 2 malam di Fes. Supir taxinya agak bingung. Aku, dengan sok yakin, bilang berulang – ulang dalam  bahasa Inggris, “Tempatnya di Medina. Masa ngga tau Pak,”

“Medina itu besar sekali,” katanya lagi. Trus si Bapak nelepon Riad. Angguk – angguk, trus bilang, “OK. Je connaire,” katanya. Artinya, “OK. Aku tahu”

Gare de Fes. Stasiun Kereta Api, Fes
Gare de Fes.
Stasiun Kereta Api, Fes

Si Bapak pun meluncur, membawaku ke riad tujuan. Trus berhenti di depan sebuah bangunan keren, sepertinya hotel. “Nah, kamu sudah sampe” katanya. Aku hanya celingak celinguk bingung. Kalaupun bangunan ini hotel, pasti ini bukan Riad Nassim. Ada tulisan Jamai Palais di depannya. Paling ngga, ini hotel berbintang 5.

“Saya ke Riad Nassim. Bukan ke hotel ini,” kataku lagi.

Somebody will pick you here. Riad Nassim ada di dalam sono tuh,” .katanya lagi. Wadowwwww.

Sambil malas – malasan, akhirnya, aku turun dari taxi. Seorang pemuda berusia dua puluhan awal, mendatangiku dan nyodorin kartu nama Riad Nassim.

“Halo. Saya Omar, dari Riad Nassim. Mari saya bawakan barang – barang Anda, Madam,”

Si Omar langsung jalan di depan, nyuruh saya ngikutin dia menuju jalan yang berkelok – kelok. Aku mulai kecapekan. Dan jujur, mulai khawatir. Dimana hotelnya? Yang ada gang – gang kecil yang ngga bisa dimasukin mobil, kiri kanan bangunan tua dengan cat – cat kusam. Pintu – pintu tertutup. Sunyi senyap. Mulai deg – degaan dan baca ayat kursi. Di salah satu ujung gang (udah ngga ingat gang yang ke berapa), si Omar membuka pintu sebuah bangunan tua. Cat bangunan pun sudah mengelupas. Omar membawaku ke ruang duduk, seperti loby gitu. Ternyata, apa yang aku lihat diluar, berbeda dengan yang ada di dalam.

Medina, Fes
Medina, Fes

Ruang duduk di Riad Nassim, indah banget. Dinding dilapisi keramik yang berwarna warni. Di beberapa sudut, ada lukisan – lukisan. Pintu – pintu berbentuk kubah, dimana pinggirannya dihiasi sama ukiran – ukiran cantik. Beda banget dengan penambilan luarnya. Itulah, never judge a book from the cover.

Riad Nassim, Fes
Riad Nassim, Fes
Riad Nassim, Fes
Riad Nassim, Fes
Aku di Riad Nassim, Fes
Aku di Riad Nassim, Fes

Satu pemuda lagi bernama Khalid, mendatangi dan menanyakan bookinganku. Kutunjukkan koresponden yang kami lakukan melalui email. Si Omar datang lagi, sambil membawa seteko mint tea. Rasanya, segar banget. Setelah selesai proses check in, aku masuk ke kamar.

By the way, Riad itu semacam hotel kecil. Dengan arsitektur bergaya Maroko. Kamarnya biasanya ngga banyak. Berkisar 5 – 15 kamar. Pelayanannya lebih hangat dan bersifat kekeluargaan.

Awalnya, aku ngga terlalu happy sama kamarku. Kecil, dengan perlengkapan seadanya. Karena ngga ada jendela ke ruang terbuka, jadi hawanya agak penat. Satu – satunya ventilasi mengarah ke lobby. Ya sudahlah, lagian aku juga ngga terlalu lama di Fes. Setelah berbenah, dan hari masih siang, aku berniat melihat – lihat area sekeliling Fes. Untuk berkeliling Medina, kuputuskan besok saja. Dan aku berniat menyewa guide, seperti saran para traveler dari TripAdvisor. Si Khalid member petunjuk untuk pergi ke Bab Bou Jeloud atau dikenal sebagai Blue Gate, beserta ongkos taxi yang harus dibayar. Sementara Omar, memberikan sketsa lokasi hotel. Omar juga memberikan nomor telepon selulernya. In case,kalo aku nyasar, aku bisa meneleponnya kapan saja.

Blue Gate ngga terlalu jauh. Ongkos taxinya pun murah. 10 Dirham untuk sekali jalan. Di Maroko, jangan heran, jika kita naik taxi, dan di tengah jalan sang supir mengangkut penumpang lain. Ongkos taxi dibayar per orang. Begitu nyampe di blue gate (sebenarnya, warnanya ngga terlalu biru. Campuran biru dan hijau), aku memotret gerbang dari beberapa sudut dan mengambil beberapa detail ukiran.

Bab Bou Jeloud, atau dikenal juga dengan Blue Gate, Fes
Bab Bou Jeloud, atau dikenal juga dengan Blue Gate, Fes
Bab Bou Jeloud, atau dikenal juga dengan Blue Gate, Fes
Bab Bou Jeloud, atau dikenal juga dengan Blue Gate, Fes

Setelah memasuki gerbang, aku langsung disambut oleh beberapa orang. Mereka menyodorkan buku menu makanan, mengajak masuk untuk menyantap makanan khas Maroko. Karena udah lapar, aku langsung duduk di salah satu kursi yang disodorkan. Ada banyak jenis makanan. Aku memilih chicken tagine. Chicken tagine ini berupa ayam yang dimasak dengan bumbu tertentu, mirip kari. Tapi, bumbunya ngga terlalu menyengat, tidak seperti bumbu kari makanan India. Dilengkapi beberapa sayuran, seperti wortel, labu dan kentang. Semuanya dimasak didalam wadah yang terbuat dari tanah liat, yang disebut  Tagine. Dari sinilah nama tagine itu berasal. Setelah matang, makanan tetap dihidangkan di dalam tagine tersebut.  Ketika makanan tiba di meja, makanan tersebut masih panas, dengan asap mengepul – ngepul. Seperti makanan pake ‘hot plate’ kalo di Indonesia.

Chicken Tagine
Chicken Tagine

Chicken tagine ini lezat juga. Usai makan, aku berkeliling. Selain restoran, kawasan ini juga dipenuhi ‘souk’ atau toko. Yang dijual, bukan barang – barang spesial, lebih barang – barang kebutuhan sehari – hari. Mirip toko kelontong. Jadi, aku ngga beli apa – apa sama sekali.

Salah satu gerbang di sekitar Blue gate
Salah satu gerbang di sekitar Blue gate
Medina, Fes
Medina, Fes
Medina, Fes
Medina, Fes
Medina, Fes
Medina, Fes
Medina, Fes. Pemandangan dari Balkon Teratas di Riad Nassim
Medina, Fes.
Pemandangan dari Balkon Teratas di Riad Nassim

Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore ketika aku memutuskan kembali ke Riad. Menurut review yang kubaca dari website – website traveler, sebaiknya hindari berjalan – jalan sendiri setelah gelap buat solo traveler. Apalagi jika tinggal di Medina. Dan aku setuju dengan mereka. Hari belum gelap, tapi aku mulai bingung mencari Riad Nassim. Gang nya sama semua. Tiba – tiba seorang gadis kecil berusia sekitar 6 tahun meluncur dengan sepedanya.

“Anda mencari apa?” tanyanya dalam bahasa Prancis

“Riad Nassim,” jawabku.

“Satu gang setelah ini,” katanya . Akhirnya, tiba dengan selamat.

Satu hal yang aku suka dri Riad Nassim adalah mereka punya teras di lantai teratas. Dari teras ini, aku bisa memandang Medina sambil menikmati senja. Omar membawakan seteko mint tea, pas banget dinikmati ketika masih panas di dinginnya udara di akhir October. Langit mulai memerah, awan awan perlahan hilang di balik cakrawala. Azan magrib mulai berkumandang. Rasanya begitu damai mendengar suara azan yang saling bersahutan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s