Medina, Fes (Maroko, Part 4)


Medina Fes adalah satu hal yang wajib dikunjungi di Fes.  Medina Fes ini besar banget, medina paling besar seantero Maroko, bahkan mungkin terbesar di dunia. Seperti yang disarankan para traveler, hari ini aku menyewa guide yang bisa membawaku jalan – jalan di Medina. Si guide, yang bernama Ismail, pake telat segala. Dalam hati berujar, nih guide, udah telat, harus hebat, kalo bisa ganteng juga (nilai plus). Welll, saudara-saudara, guide nya ternyata adalah bapak – bapak yang kelihatannya sudah tua.

Meskipun sudah tua, si bapak ini masih kuat jalan. Fes ini, wilayahnya berbukit – bukit. Jalanan turun naik. Bikin napas ngos – ngosan. Napas dah satu – satu saja. Tapi, si Bapak jalan terus, kayak ngga ngerasain capek sama sekali.

Medina Fes ini, keren dan menakjubkan. Jalanannya kecil – kecil, bak labirin tak berujung. Jumlahnya ratusan, mungkin ribuan. Pedati ada dimana – mana untuk mengangkat berbgai barang. Masuk ke medina seperti  mundur beberapa abad yang lampau. Seperti Riad Nassim, rumah – rumah di Medina ini kelihatan kotor dan kusam dari luar. Namun, di dalam rumah tersebut, dipenuhi hiasan keramik – keramik indah berwarna warni. Sepanjang jalan, aku sibuk lihat ke kiri dan ke kanan sampe hampir saja nabrak keledai yang lagi nongkrong dengan nyantainya.

Medina, Fes
Medina, Fes
Medina, Fes
Medina, Fes
Keledai yang hampir tertabrak
Keledai yang hampir tertabrak

Ibarat sebuah kota, Medina juga dilengkapi pasar, berisi toko – toko dengan berbagai keperluan. Mulai dari woll, barang – barang tembaga dan penyamakan kulit binatang atau tanneries, Ada juga hotel caravan, tempat kuda –kuda ditambatkan. Ketika para suku nomadic datang ke kota, membawa sesuatu untuk dijual, mereka akan menitipkan kuda – kuda penarik caravan di hotel ini. Pemiliknya sendiri, akan pergi ke pasar untuk melakukan jual beli.

Hotel Caravan, Fes, Morocco
Hotel Caravan, Fes, Morocco
Hotel Caravan, Fes, Morocco
Hotel Caravan, Fes, Morocco
Metal market, Fes, Morocco
Metal market, Fes, Morocco

Selain pasar, ada juga mesjid, medersa, dan craft museum. Aku ngga sempat masuk ke mesjid, namun menyempatkan diri mengunjungi Attarine Medersa (madrasah). Medersa ini, seperti layaknya madrasah, sekolah dan juga rumah bagi pelajar yang datang dari luar kota. Visitor bisa masuk dengan membayar 10 Dirham. Bagus medersa ini, tapi saat itu terlalu banyak orang. Jadinya aku ngga terlalu menikmati. Aku juga sempat ke Museum kayu, yang memamerkan berbagai kerajinan tangan yang terbuat dari kayu. Sayang, di dalam ruang ekshibisi ngga diizinkan mootret.

Attatrine Medersa, Fes, Morocco
Attatrine Medersa, Fes, Morocco
Qaraouiyine Mosque, Fes, Morocco
View dari luar, Qaraouiyine Mosque, Fes, Morocco

Tanneries adalah salah satu yang tak boleh dilewatkan. Ismail membawaku ke tempat penyamakan kulit ini. Pemandangannya menakjubkan, dengan ember warna warni, untuk mewarnai kulit – kulit yang sudah dibersihkan. Prosesnya ada empat tahap. Mula – mula, kulit binatang tersebut dicuci dan dibersihkan. Setelah itu, kulit – kulit tersebut dipisahkan dari bulu – bulu yang menempel. Setelah itu, baru mengalami proses pewarnaan, yang kemudian bisa menghasilkan berbagai produk. Mulai dari jacket, sepatu, sandal, tas, dompet dan lain sebagainya.

Tanneries, Fes, Morocco
Tanneries, Fes, Morocco
Tanneries, Fes, Morocco
Tanneries, Fes, Morocco
Sepatu dari kulit
Sepatu dari kulit

Setelah berkeliling selama 3 jam, Ismail undur diri. Aku membayar 250 Dirham untuk servisnya membawaku berkeliling Medina selama 3 jam. Aku tidak langsung kembali ke Riad. Mau makan siang di salah satu restoran, dekat dengan Blue Gate. Aku memesan cous cous. Cous cous ini bisa kubilang adalah cous cous terenak yang pernah kucicipi selama di Maroko

Cous Cous
Cous Cous

Saat kembali ke Riad, Aku bertemu gadis kecil yang kemarin membantuku menunjukkan jalan menuju Riad Nassim. Gadis kecil ini bernama Noura. Dia tengah bermain sepeda ketika meihatku. Si Noura ini bukan hanya ramah menyapa. Setiap melihatku, dia juga memeluk dan mencium pipiku sebelum mengucapkan “Sampai Jumpa lagi”.

Sisa hari, kuhabiskan di Riad saja. Mulai terasa dampaknya setelah lebih dari tiga jam berjalan kaki, dengan kondisi jalan menanjak dan menurun. Ada tamu baru, seorang cewek dari Jepang. Karena kecapekan dan malas keluar malam, aku memesan makan malam di Riad. Cewek Jepang, yang bernama Sachi ini, menjadi teman makan malam. Kami mengobrolm ringan. Si Sachi ini tergila – gila sekali dengan Maroko. Ini adalah kunjungannya yang ketiga kalinya.

Bersama Sachi
Bersama Sachi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s