Meknes (Maroko, Part 5)


Moroccan flag, di kota Meknes
Moroccan flag, di kota Meknes

Meknes adalah kota yang paling aku suka selama kunjungan ke Maroko. Meknes ini trerletak di bagian utara Maroko. Sempat menjadi ibukota  Maroko di bawah kepemimpinan Moulay Ismail  (1672 – 1727). Nama Meknes ini berasal dari nama salh satu suku Berber, yakni Miknasa. Kota kecil, teratur, rapi  dan ngga terlalu banyak turis. Jadi, ngga terlalu hectic. Jaraknya pun tak terlalu jauh dari Fes. Setelah menghabiskan sarapan bersama Sachi, aku meninggalkan Fes menuju Meknes. Masih sempat ketemu sama si kecil Noura. Melihatku pergi membawa koper, dia menghadiahiku dua potong roti (what a girl). Sebagai balasan dan lambang pertemanan kami, kuberikan dia gelang manik – manik yang selalu kupakai.

Menuju Meknes, aku naik kereta api. 30 Dirham, untuk kelas 1. Tak banyak yang bisa dilihat selama perjalanan, karena waktu yang singkat. Begitu nyampe di stasiun Meknes, aku langsung membeli tiket kereta ke Tangier, biar ngga repot – repot pada hari H nya.

Sama seperti Casablanca dan Fes, Meknes juga penuh petite taxi untuk transportasi umum. Taxi – taxi ini memiliki warna yang berbeda. Di Casablanca dan Fes, warnanya merah. Di Meknes dan Tangier, warnanya biru muda. Sementara di Marrakech, warnanya coklat. Supir taxi langsung meluncur membawaku menuju Riad Meknes. Sama seperti di Fes, si supir taxi juga bingung di mana Riad Meknes. Tanya sana, tanya sini. Akhirnya, aku diturunkan di salah satu gang.

Petite Taxi di Meknes
Petite Taxi di Meknes

Seorang Bapak Tua mendatangi, menanyakan aku mau pergi ke mana. Si supir menjelaskan sama si Bapak dalam Bahasa Arab. Habis itu, si supir nyuruh aku masuk mobil lagi, kali ini bareng si Bapak Tua. Aku diantar sampai salah satu mulut gang, tempat pemberhentian terakhir mobil. Kata si pak supir, untuk perjalanan singkat ini, aku tak perlu bayar. Syukron.

Dari mulut gang ke Riad Meknes ngga terlalu jauh. Hanya 5 menit jalan kaki. Riadnya bagus. Aku diberi kamar gede, dengan tempat tidur queen size, lengkap dengan sofa kecil, meja rias dan toilet di dalam kamar. Untuk 45 USD per malam, kamar ini keren. Ditengah – tengah riad ada kolam renang kecil. Tapi, karena aku datang di bulan November, dan suhu sudah mulai dingin, kolam renang tersebut dikosongkan. Dengan alasan, ngga bakal ada tamu yang mau nyemplung di temperature sedingin itu.

Kamarku di Riad Meknes
Kamarku di Riad Meknes

Yang punya Riad Meknes ini, sepertinya pencinta seni. Berbagai lukisan, jam dinding antik hingga topeng menghiasi dinding. Di tengah – tengah riad, yang juga berfungsi sebagai restoran, sebuah taman menghiasi dengan tumbuhan menjalar dan pergola.

Riad Meknes
Riad Meknes
Riad Meknes
Riad Meknes

Dari Riad Meknes, hanya 15 menit jalan kaki menuju Bab Mansour Gate, landmarknya kota Meknes. Kalo ngga mau capek, banyak kereta kuda yang bersedia mengantar menuju kesana. Aku memilih jalan kaki, sekalian melihat –lihat suasana Medina. Medina Meknes tidak terlalu besar. Tidak seperti Fes. Jadi, resiko nyasar juga lebih kecil.

Medina, Meknes, Morocco
Medina, Meknes, Morocco
Medina, Meknes, Morocco
Medina, Meknes, Morocco
Kereta Kuda, mirip dengan kereta kencana. Siap mengantar siapa saja.
Kereta Kuda, mirip dengan kereta kencana. Siap mengantar siapa saja.

Bab Mansour, seperti kebanyakan gerbang yang ada di Maroko, adalah pintu masuk menuju kota. Gerbang ini, konon, katanya paling besar seantero Maroko. Jadi, kalau berkunjung ke Meknes, datang ke gerbang ini, hukumnya wajib. Ngga perlu lama – lama. 15 menit lebih dari cukup buat motret dan mengambil foto diri.

Bab Mansour Gate, Meknes, Morocco
Bab Mansour Gate, Meknes, Morocco
Bagian dari Bab Mansour Gate
Bagian dari Bab Mansour Gate

Tepat di depan Bab Mansour, ada sebuah alun – alun besar. Namanya El Hedim Square. Di tempat ini, banyak berjejer restoran menyajikan menu khas Maroko. Anyway, menurutku, makanan disini ngga terlalu enak. Untuk minum dan melepas lelah, bolehlah. Seperti layaknya alun – alun, tempat ini dipenuhi orang – orang yang menawarkan sesuatu untuk dijual. Mulai dari souvenir, obat, snake charmer dengan musik untuk memikat sang ular, kuda yang bisa digunakan untuk mengitari alun – alun, penarik gerobak hingga pengemis.

El Hedim Square, Meknes, Morocco
El Hedim Square, Meknes, Morocco
El Hedim Square, Meknes, Morocco
El Hedim Square, Meknes, Morocco
El Hedim Square, Meknes, Morocco
El Hedim Square, Meknes, Morocco
Souvenir yang dijual di El Hedim Square, Meknes, Morocco
Souvenir yang dijual di El Hedim Square, Meknes, Morocco
Penjual Obat, El Hedim Square, Meknes, Morocco
Penjual Obat, El Hedim Square, Meknes, Morocco

Ngga jauh dari El Hedim Square, ada sebuah museum. Satu hal yang kusuka di Maroko, tiket – tiket ke museum ini harganya murah sekali. 10 Dirham untuk satu orang. Oh ya, nama Museum ini Dar jamai Museum. Tempat ini, dahulu adalah tempat tinggal Dar Jamai, salah satu pemimpin di Meknes. Ketika memasuki museum, akan ada beberapa guide yang akan mendatangi, menawarkan jasa mereka. Tidak ada patokan atau harga khusus untuk para guide ini. Jika tidak mau, bisa menolak dengan sopan. Well, aku membiarkan salah satu guide mengikutiku, menerangkan berbagai fungsi dan lokasi rumah yang sudah berubah fungsi menjadi museum. Sekalian, membantu mengambilkan foto diri. Jangan lupa memberikan beberapa Dirham kepada mereka jika sudah selesai berkunjung.

Museum Dar Jamai, Meknes, Morocco
Museum Dar Jamai, Meknes, Morocco
Taman di Museum Dar Jamai, Meknes, Morocco
Taman di Museum Dar Jamai, Meknes, Morocco
Living Room, Museum Dar Jamai, Meknes, Morocco
Living Room, Museum Dar Jamai, Meknes, Morocco
Living Room, Museum Dar Jamai, Meknes, Morocco
Living Room, Museum Dar Jamai, Meknes, Morocco

Dalam perjalanan menuju Riad, aku menemukan satu bangunan secara tak sengaja. Ternyata, salah satu dari bangunan terkenal di Meknes. Rupanya bangunan itu adalah Mausoleum of Mouley Ismail, alias makam Mouley Ismail, sang sultan. Pantesan banyak turis ngantri mau masuk ke dalam. Tidak ada entry fee untuk masuk ke dalam. Bebas saja, namun, usahakan jangan mengeluarkan banyak suara. Ketika aku di sana, tampaknya pengurus makam sedang mengadakan satu pertemuan. Begitupun, aku diizinkan masuk (efek dari memakai kerudung) untuk mengambil foto, asal tidak membuat keributan. Seperti bangunan – bangunan penting lainnya, mausoleum ini juga dipenuhi dengan ukiran – ukiran kayu dan keramik yang berwarna warni. Di tengah – tengah ruangan, ada air mancur kecil yang airnya mengalir terus menerus.

Mausoleum of Mouley Ismail
Mausoleum of Mouley Ismail
Mausoleum of Mouley Ismail
Mausoleum of Mouley Ismail
Mausoleum of Mouley Ismail
Mausoleum of Mouley Ismail
Mausoleum of Mouley Ismail
Mausoleum of Mouley Ismail
Mausoleum of Mouley Ismail
Mausoleum of Mouley Ismail

Meknes adalah pusat kebudayaan suku Berber. Satu hal unik yang kusuka adalah pakaiannya. Jubah panjang, dilengkapi dengan topi kerucut yang menyatu dengan jubah. Seperti topi si Harry Potter.

Pakaian Tradisional Suku Berber
Pakaian Tradisional Suku Berber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s